"Na, kamu gak ngerasa kalau dikampus ini orang-orangnya pada aneh?"
Zaina menatap sekitar, kantin memang ramai, tapi semua berbeda. entah apa itu. Bahkan yang biasanya kakak tingkat berdatangan padanya.
Bukan merasa sombong, sebenarnya lebih baik begini. Tapi suasana yang ia rasakan sangat jauh berbeda sekali.
"Aku tahu itu dari awal aku masuk kuliah setelah keluar rumah sakit."
Arum mengangguk, mencoba tidak perduli ia pun melanjutkan makannya. Begitupun Zaina, walau merasa aneh tapi ia mencoba untuk tak ambil pusing.
"Assalamualaikum."
Kedua wanita itu mendongak dan terkejut secara bersamaan. Mereka saling padang sebelum memutuskan untuk kembali tenang.
"Waalaikumsalam."
"Boleh saya gabung?"
Arum dan Zaina hanya mengangguk kaku. Laki-laki itu duduk tepat disamping Zaina. Para penghuni kantin tampak melirik mereka diam-diam.
"Kenapa tidak makan? apa saya mengganggu?"
Zaina dan Arum tampak gelagapan. "Enggak pak, mari makan."
Azzam tampak terkekeh kecil, kemudian melanjutkan makannya dengan tenang. Sesekali ia melirik Zaina yang tampak kaku.
"Saya tidak akan makan orang, jadi santai saja."'
Arum dan Zaina menganggu saja. Pasalnya mereka sungguh bingung. Banyak meja kosong tapi dosen mereka malah gabung.
Azzam lebih dulu menghabiskan makannanya, ia memiringkan tubuhnya menghadap Zaina. Zaina yang merasa diperhatikan lantas menoleh.
"Ada apa pak?"
Azzam tersenyum."Boleh saya minta nomor orang tuamu?"
"Untuk apa?"
"Saya ada keperluan dengan ayahmu."
"Tapi..."
"Ini, tulis nomornya."Potong azzam sembari memberikan ponselnya pada Zaina.
Akhirnya Zaina memberikan nomor Maua yang ia hapal diluar kepala. Kemudian mengembalikan ponsel itu.
"Terimakasih. Kalau begitu saya kembali keruangan dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arum langsung menoleh pada Zaina yang masih menatap kepergian pak Azzam dengan dahi yang mengkerut.
"Ceritain ke aku, ada apa?"
Zaina tersentak kaget, "Apa? aku gak tahu apapun."
"Bohong nih, kalau gak ada apapun gak mungkin pak Azzam begitu."
"Demi Allah, aku gak tahu Rum. Aku bahkan bingung ada apa dengan pak Azzam."
Arum menatap Zaina lama. Pikirannya melayang pada sebuah grup chat yang dibuat kampus untuk pak Azzam.
Arum menepuk dahinya keras, "Aku lupa sesuatu."
"Apa?"
Arum tampak sibuk dengan ponselnya. Mencari sesuatu kemudian menyerahkannya pada Zaina.
"Tonton sampai habis."
Zaina mengangguk, dalam video itu Azzam tengah berdiri di podium dilapangan. Suasana ramai anak kampus yang berdiri menunggu apa yang akan di sampaikan oleh dosen ganteng itu.
"Woi, masuk. Gila kalian mau kena semprot pak Joni? Buru."
Ranu mengejutkan mereka yang tengah fokus. MEreka teringat jam kuliah pak Joni, dengan segera Zaina mengembalikan ponsel Arum.
"Nanti aku lihat lagi. Kamu belum lihat?"
Arum menggeleng, "Enggak, kamu tahu, waktu aku buka ponsel, peuh dengan grup ini. Bahkan hampir 1000 chat dari grup, tiba-tiba ponsel aku error makanya langsung aku skip aja."
Zaina mengangguk, mereka melangkah menuju ruang kelas.
***
Azzam tampak sumringah karnatelah mendpatkan nomor yang dia inginkan. Ia harap dapat berjalan lancar nantinya.
Azzam duduk di ruangannya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Ponsel nya masih ia genggam. Ingin menghubungin ayah Zaina tapi ia grogi.
Kembali melihat lagi nomor yang ada dilayar ponselnya. Menarik nafas lalu menghembuskannya dengan perlahan.
"Bismillah."
Menunggu seseorang disebrang sana mengangkatnya. HIngga dering ke lima tak kunjung diangkat akhirnya ia mematikan nya.
"Apa sedang sibuk?"
Akhirnyaia memutuskan untuk nanti sore saja ia kembali menghubungi ayah Zaina. Ia ada jadwal mengajar, akhirnya ia bersiap untuk mengajar.
Langkahnya yang tegap dan tegas tampak sekali membuat mahasiswi menahan nafas. Sejujurnya jika boleh, ia ingin segera membuat Zaina menjadi istrinya.
Hidup berdua diatap yang sama, memakan masakan sang istri, tidur berpelukan dan terbangun menatap wajah itu.
Azammeggeleng, mengenyahkan pemikiran itu. Begitu sampai dikelas ia melihat mahasiswa yang telah berkumpul.
"Selamat siang."
"Siang pak."
"Baik, kita mulai pembelajaran kita sekarang."
***
"Abi, Zaina mau tanya deh."
"Apa?"
"Ada yang telfon abi gak sih?"
Mauza tampak berpikir, "Gak tahu nak, abi lupa. Kenapa?"
Zaina langsung menggeleng, "Enggak."
"Kamu aneh deh nak, nanya tapi giliran di tanya baik malah gitu."ucap Nazia tiba-tiba.
Zaina menyengir, "Enggak apa sih mi, kan tanya aja."
"Ya sudah, ini dimakan."
Kue kering yang dibuat Nazia tampak menggiurkan. Dengan cepat, Zaina meaihnya satu dan memakannya.
"Enak seprti biasa."ucapnya.
"Besok kamu bantu umi bikin cemilan."
Zaina mengacungkan jempolnya sembari menagngguk.
"Kamu besok masuk jam berapa?"tanya Mauza.
"Em.. Jam setengah satu kayaknya bi. Kenapa?"
"Enggak, nanaya aja." Mauza dan Nazia tertawa.
Zaina tampak cemberut kemudian memakan kue kring dengan kesal.
***
Dua hari kemudian...
Malam ini Azzam telah bersiap denan pakaian formal nya. Begitu juga dengen kedua orang tua dan adiknya.
"Sudah siap?"
Mereka semua mengangguk, Azzam menjalankan mobil nya menuju rumah seseorang yang telah seminggu lebih ini mengisi pikirannya.
Seminggu yang lalu, begitu ibunya mengatakan untuk shalat isitiqoroh. Malamnya langsung ia melaksanakannya.
Dan betapa kagetnya tiga hari kemudian, ia bermimpi mempunyai keluarga kecil dengan jagoan mereka bersama Zaina.
Mengingat mimpi itu, ia tersenyum sendiri. Rasanya tidak sabar lagi.
"Kamu tahu dimana rumahnya?"
Azzam mengangguk, "Tahu, aku lihat data nya. Terus aku juga pernah membuntutinya ketika pulang kampus."
Mereka terkekeh, "Begitu yakin nya kamu."
"Sama seperti ayahmu. Dulu dia juga begitu."ucap Ghania.
"Jangan membongkarnya, aku malu."ucap Abrisam.
"Karna yakinnya, dia pernah menaruh bunga mawar didepan pintu rumah ibu. Lalu ngacir."
"Bu, sudah."tegur Abrisam dengan malu.
Ghania dan yang lainnya tertawa. Selama perjalanan, mereka semua membuat suasana yang nyaman. Hingga Azzam tidak sadar jika sudah sampai dirumah sang pujaan hati.
"Sudah siap? Tarik nafas dan tenangkan dirimu."
Azzam mengangguk, mereka turun dari mobil, berjalan masuk dan mengetuk pintu bberapa kali. HIngga terdengae suara seseorang yang mengatakan untuk tunggu.
CEKLEK
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Cari siapa ya?"
"Pak Mauza nya ada bi?"
Sari - pembantu rumah tangga itu mengangguk, mempersilahkan untuk masuk. MEreka duduk sembari menunggu kedatangan orang yang menurut Azzam penting.
"Siapa ya?"
Mereka semua menoleh ke asal suara. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Duduk duduk. Bi buatkan minum ya."
"Baik pak."
***
"Besok kamu kalau pulang kampus, langsung pulang ya."
Zaina mengerutkan dahinya. "Kenapa mi?"
"Pokoknya ikut saja kata umi."
Zaina tampak bingung, tak lantas mengangguk juga. "Ya umi iya."
Zaina kembali kekamarnya setelah membereskan urusan dapur. Ia duduk i tepi ranjang, mengambil ponselnya. Kemudian membuka aplikasi sosial media.
"Kok followers aku nambah sih."gumamnya.
Tanpa mau ribet, ia membaca informasi yang menurutnya penting. Berjalan menuju meja belajar, menulis beberapa kata penting.
Setelahnya ia mematikan ponsel, membuka buku novel yang ia miliki dan membaca nya. Zaina menyukai novel yang berbau romance.
Senyum kecil terbit saat merasa kalimat menyentuh dan terasa romantis. Tampa ingat waktu jika ia harus tidur.
***
"Aku mohon, jangan lakukan itu."
"Kenapa? bukankah dengan begini kamu tetap disisiku?"
Wanita itu menggeleng kencang, berangsut unuk menjauhi laki-laki didepannya.
"Jangan menjauh sayang, Aku akan menjamin ini akan nikmat."
"Tidak kumohon, jangan lakukan itu."
"Ucapkan selamat tinggal dengan masa lajangmu."
"TIDAAAAK...."
***
Wajah nya tampak pucat sekali. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia tampak menatap sekitar dengan was-was.
Banyak pasang mata menatapnya dengan bingung. Ia semakin ketakutan. Dengan langkah lebar ia pun mempercepat jalannya.
Suasana yang ramai, membuatnya ketakutan setenagh mati. Ia terpaksa pergi kuliah sendirian. Kakinya sepert jelly, tidak dapat menopang tubuhnya.
Begitu sampai di toilet, ia terduduk. memeluk kedua lututnya. Kedua matanya memanas yang siap mengeluarkan air mata.
Beberapa kali ia mengucapkan istghfar, menenangkan diri. Tapi itu tidak mampu. Kepalaya mulai terasa berat.
Pandangannya tidak jelas dan bergoyang. Ia meringis kemudian mengetuknya untuk menghilangkan asa sakit.
Tapi hal itu sia-sia, sesaat ia mnedengar suara jeritan yang memanggil namanya sebelum bayangan hitam menghampiri.
***
"Saya tidak bisa melakukan apapun. Saya hanya tetap pada perkataan saya waktu itu. Kita harus melakukannya. Ini demi dirinya."
"Tapi saya tidak bisa melihat anak saya menjerit ketakutan."
"Hal itu wajar. Jangan biarkan ia terbelengu seperti ini pak. Saya sungguh khawatir dengan mentalnya nanti."
Laki-laki paruh baya itu menghela nafas lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dokter itu menepuk bahu laki-laki itu sebelum pamit.
Laki-laki paruh baya itu kembal masuk keruangan dimana sang anak terbaring. Ia tidak sanggup menatap nya.
Sang istri menatapnya. Mengisyaratkan hal apa yang harus mereka lakukan untuk sang anak. Ia hanya dapat menggeleng.
Sang istri menangis sembari menggengam tangan sang anak yang terpejam. Menangis dalam diam.