Perlahan, mata itu terbuka. Ia mengernyit saat cahaya menusuk mata nya. Mengedipkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan nya.
Pertama kali yang ia lihat adalah langit-langit yang berwarna putih serta bau obat-obatan. Ia menatap sekitar. Sepi, hanya dirinya seorang disana.
Berusaha untuk bangun dari ranjang, memejangi kplanya yang terasa pusing. Ia haus, kemudian menoleh pada nakas disampingnya.
Air putih. Ia mencoba untuk meraih sebelum sebuah suara mengintrupsinya untuk diam. Ia menatap dengan bingung.
Dahinya membentuk lipatan halus. Laki=laki itu menyerahkan segelas air pada nya dan ia mnerimanya walau bingung.
"Terimakasih."cicitnya.
Laki-laki itu hanya mengangguk sekilas, merarik bangku kemudian duduk disamping ranjang. Ia menatap waita yang tengah menatapnya juga.
"Kenapa bapak bisa disini?"
"Saya..."laki-laki itu menjeda ucapannya, ia bingung menjawab apa.
"Saya?"
"Bagaimana keadaanmu?"
Wanita itu hanya mengangguk sekilas, "Lumayan baik."
Laki-laki itu mengangguk, "Mau makan?"
"Tidak, nanti saja."
"Tapi, dokter mengatakan kamu harus minum obat."
"Obat apa?"tanya nya bingung.
Laki-laki itu menghendikan bahu, "Saya tidak tahu. yang dokter itu katakan kamu harus minum obat."
"Nanti saja."jawab wanita itu. "Bapak kenapa bisa disini? Dan.. dan juga kenapa saya ada disini?"
"Kamu tidak ingat sama sekali?"
Wanita itu menggeleng, "Yang saya ingat, terakhir saya ada ditoilet.. dan..."ia terdiam. "Bapak yang memanggil saya waktu itu?"
"Tidak, teman wanita mu yang memanggilmu."
Zaina menghela nafas lega. Azzam hendak menanyakan sesuatu tetapi ia ragu. Haruskah ia menanyakan sesuatu yang mengganjal ini.
Tapi setelah melihat Zaina meringis memegangi kepalanya, ia pun terpaksa menelan mentah-mentah pertanyaan nya tanpa tahu jawaban.
"Berbaring lah, saya akan panggilkan dokter."
***
"Sampai disini, baik-baik saja. Tapi, pak. Saya harus mengingatkan anda untuk mengikuti aturan yang aya berikan."ucap dokter laki-laki itu.
Mauza menatap Zaina yang tengah menatapnya juga, menunggu maksud dari sang dokter katakan.
"Kalau begitu saya permisi dulu ya."
Dokter telah meninggalkan ruangan. Disana tinggal Zaina, Mauza dan Nazia. Mauza menghampiri Zaina dan menggenggam tangannya.
"Nak, ini demi kebaikan mu. Abi mohon."
Zaina mengerutkan dahi, "Ada apa bi?"
"Ikut kata dokter waktu itu. Kamu harus memperbaiki psikis mu nak. Kmau sungguh khawatir."lirih Mauza.
Zaina menggeleng keras. "Enggak, aku gak gangguan mental bi. Zaina gak mau."
"Nak..."
"ENGGAK!."bentak Zaina. "Zaina gak gila bi. Zaina baik-baik aja."
"APA YANG BAIK-BAIK SAJA ZAINA?! Apa abi tanya? kamu selalu seperti ini semenjak 5 tahun lalu. Kamu pikir kami gak khawatir? Pagi tadi kamu pergi bahkan sebelum kami bangun. Dan sekarang..."
Semuanya tediam. Zaina menunduk dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak ingin ke psikiater. Ia tidak ingin membuka kenangan itu. Tidak.
Sementara itu, Azzam yang hendak masuk kedalam runagan Zaina setelah membeli makanan terdiam didepan pintu.
Ia terkejut saat suara bentakan Zaina terdengar. Ia mengerutkan dahi bingung. Siapa sangka ternyata pertanyaan nya tadi terjawab sudah.
Azzam terdiam kaku, tidak tahuharus melakukan apa. Benarkah langah yang ia ambil ini? Ia mulai merasa bimbang.
Dengan berat hati, ia meninggalkan kantong belanjaan didepan pintu dan pergi meninggalkan rumah sakit dengan d**a yang terasa sesak.
Membanting pintu mobil, kemudian menghantam kepalanya distir mobil. Menremas rambutnya dengan kasar.
"AAARGH.!"
BUG
Nafasnya berhembus tidak teratur, ia menatap tajam kedepan. 'Ada apa denganku, kenapa ini. Kenapa ini terasa menyakitkan.'batinnya.
Dengan segera, ia menghidupkan mobil dan meninggalkan rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Ia butuh menenangkan diri.
***
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Arum muncul dengan senyum manisnya. Meletakkan barang bawaannya diatas nakas. Ia menraik kursi untuk duduk disebelah umi.
"Gimana keadaannya?"
"Lebih baik."jawab Zaina.
Arum mengangguk, "Oh ya..." ia meraih ponselnya kemudian memberikannya pada Zaina. "Kamu belum lihatkan? pasti kamu syok."sambungnya sembari tersenyum menggoda Zaina.
"Apa?"
"Lihat aja."
Zaina mengambil ponsel itu. Sebuah video dimana waktu Arum memberitahukannya dikantin dan terpaksa tertunda karna jadwal kelas.
Ia masih terus memperhatikan saat dosen yang digemari par mahasiswi kamus itu tengah membuka suara.
Hingga ia terkejut saat, Azzam mengklain dirinya sebagai calon istri. Ia meletakkan ponsel itu dengan cepat.
"Apaan sih itu."
"Nak, sebenarnya beberapa hari yang lalu, dosenmu itu datang kerumah."
"Untuk apa?"
"Dia... melamarmu. Tapi tertunda karna kamu masuk rumah sakit. Ingatkan kamu waktu umi bilang untuk langsung pulang kerumah. Malam nya keluarga dosenmu akan datang untuk melamarmu."
"Umi kalau bercanda jangan begini."ujar Zaina masih tak percaya.
"Umi serius nak, dia datang dan berbicara pada abi. Waktu itu kita masih diluar."
"Umi, Zaina gak mau. Enggak."tolaknya dengan tegas.
"Kenapa?"
"Mi, ini gak akan berhasil."
"Nak, jangan berbicara seperti itu. Satu-satunya yang bisa umi katakan adalah meminta petunjuk pada Allah."
Zaina menoleh pada Arum. Wanita itu tersenyum manis sembari mengangguk. Zaina bimbang. Kemudian membaringkah diri.
"Istirahatlah, umi mau makan dulu kebawah ya."
***
Setelah dua hari terkurung di rumah sakit. Kini Zaina bisa kmbai menikmati udara luar. Kmebali pada rutinitasnya yaitu kuliah.
"Sini helm nya."
Zainamemberikan helm nya pada Arum, Terimakasih."
"Sama-sama.. eh itu pak Azzam."tunjuk Arum sembari menyenggol lengan Zaina.
Wanita itu menoleh. Dari parkiran dosen. Azzam keluar sembari membawa tas kesayangannya. Tampak sangat tampan dengan kemeja hitam.
Mata keduanya beradu pandang. Sesaat keduanya terdiam membisu. Suara-suara disekitar tidak dihiraukan.
Azzam menatap Zaina dengan sesuatu yang sulit dijelaskan. Sementara Zaina menatap Azzam dengan tatapan kosong, pikirannya melayang pada video dan ucapan umi waktu itu.
Tapi, selama ia dirumah sakit. Hanya sekali ia melihat laki-laki itu disana. Setelahnya tidak ada lagi.
Azzam memutuskan pandangannya lebih dulu, kemudian berjalan dengan cepat menuju ruangannya.
"Kok pak Azzam gak nyapa."ujar Arum.
"Gak penting juga buat nyapa Rum."
"Alah, gak penting tapi tadi tatap-tatapan."
Zaina mencibir kemudian berlalu meninggalkan Arum yang tertawa lebar.
"Eh tunggu bu dosen." pekik Arum membuat Zaina menambah kecepatan jalannya.
"Punya sahabat kok begini amat."gumam Zaina.
"Aku tahu kamu ngomongi aku Na.."
Zaina menoleh kebelakang, melihat Arum yang masih berlari mengejarnya. "Diam Rum."
***
"Baiklah, kali ini saya akan lebih sedikit membahas materi. Tapi saya akan banyak mempraktekkan kekalian."
Semua mahasiswa tampak serius menatap Azzam yang tampak tegas didepan sana. Begitu juga Zaina, entah kenapa ia merasa kedua pipinya terasa panas saat beberapa kali matanya bertubrukan dengan mata Azzam.
"Ck, sudah jangan dilihatin mulu. Gak hilang kok."
Zaina melotot pada Arum. Wania itu terkekeh. Kemudian keduanya kembali memusatkan pada Azzam yang tampak serius menjelaskan powerpoint yang ditampilkan melalui infocus.
"Nah, sampai disini mengerti?"
Semuanya tampak mengangguk, "Baik, silahkan buka Aplikasinya."
Dana tampak grogi, kemudian ia maju dan berdiri disamping dosen ganteng itu. "Nah saya disini mempunyai contoh Aplikasi yang biasa banyak digunakan orang. Baik itu di rumah sakit ataupun di situs web. Kalian bisa mencobanya sekarang."
Kali ini kelas mereka berada di lab komputer. Setelah pak Azzam memberikan sebuah contoh melalui infocus. Semuanya juga melakukan apa yang dosen itu katakan.
"Kalian bisa menggunakan Ractangle untuk membuat bentuknya. Jika ada yang bisa mengerjakannya dalam waktu 10 menit maka saya akan memberikan nilai plus."
Mahasiswa yang lainnya pada semenagat unutk mengejar nilai plus hingga ada babarapa orang yang selesai tapi program mereka tidak dapat berjalan.
Suasana kelas yang ramai dengan gelak tawa dan sorakan membuat Zaina merasa nyaman. Sementara.
***
Begitu kelas bubuar. Kini tinggal Zaina yang masih di lab. Ia ibing mengatakan terimakasih dan mungkin akan menanyakan maksud dari video itu.
"Pak Azzam."
Azzam tersentak kaget, ia pikir hanya dirinya yang ada diruangan itu. "Ya?"
Zaina berjalan mendekat. "Saya, mau mengucapkan terimakasih."
"Untuk?"
"Em.. yang dirumah sakit."
Azzam terdiam, kemudian mengangguk singkat. "Sama-sama."
Keduanya kembali terdiam. Azzam mengerutkan dahi saat Zaina masih ada disana. Ia menatap Zaian dengan tanda tanya.
"Pak, boleh saya bertanya sesuatu?"
"Ya. Perihal apa?"
"Perihal..."
"Zaina, Ayo!."
Zaina menghela nafas, "Tidak jadi pak. Permisi." ia baerjalan meninggalkan Azzam yang terkaku.
"Ayo Rum."
Azzam bingung, "Ada apa?"gumamnya.
Dengan segera ia mengambil tasnya dan keluar meninggalkan kelas untuk segera menyusul Zaina. Ia masih ingin tahu apa yang wanita itu ingin katakan.
Sesampainya dilantai bawah, ia mendesah kecewa. Zaina telah menghilang. Mungkin sudah pulang bersama temannya itu.
"Telat."gumam Azzam. Ia pun akhirnya kembali keruangannya dengan lesu.
***
Sebenarnya Zaina masih kesal dengan Arum yang datang diwaktu tidak tepat. Tapi ia mencoba untuk menutupinya dengan senyuman dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.
"Na, pengen deh punya jodoh."ujar Arum tiba-tiba.
"Tumben ngomong begitu?"
"Gak tau, kayaknya enak aja gitu."
"Ya sudh nikah aja sama Dana."
"Ish, gak dia juga kali."
Zaina terkekeh, "Lah, maunya sama siapa? Ingat ya Rum, Allah tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi apa yang kita butuhkan."
Arum terdiam. "Iya sih, tapi gak mau aku tuh sama dia. Orang gak jelas gitu. Aku ngerasa digantungin."
"HAH?!"
Arum tergagap, "Eh.. Em.. Enggak, maksud aku.. itu... anu..."
Zaina tertawa, "Ternyata kamu diam-diam menerimanya nih?"
"Ish gak tahu deh, males.."rajuk Arum membuat Zaina tertawa.