Mauza tampak tengah bimbang. Ia berdiri didepan rumah dengan ponsel yang digenggamnya. Tampak menimang haruskah ia menghubungi dahulu atau bagaimana.
Ia mendesah kasar, kemudian duduk dikursi depan. Menghusap wajahnya lalu membuka ponsel. Disana telah terpampang nomor yang ingin ia hubungi.
Tapi ia ragu, karna terlalu berharap. Tapi bagaimana, sebagai seorang ayah ia harus bertinak dengan tegas.
"Abi."
Mauza menoleh, "Umi."
Nazia berjalan kemudian duduk disamping Mauza, "Kenapa diluar? Hari sudah malam, udara malam tidak baik. Ayo masuk."
Mauza terdiam. Nazia melirik ponsel yang menyala ditangan suaminya. "Abi mau hubungi dia?"
"Tapi abi ragu."
"Kenapa?"
"Entahlah, hanya ragu dan merasa tidak enak saja."
Nazia tersenyum, "Ya sudah begini saja. Jika memang laki-laki itu mau mengkhitbah Zaina, pasti dia nanti datang lagi. Mugkin dia sibuk atau semacamnya."
Mauza menghela nafas, "Mungkin, tapi abi ngerasa aneh. Semenjak dia keluar rumah sakit untuk beli makanan, setelahnya dia gak kembali. Abi lihat ada kresek didepan pintu."
"Abi, jangan terlalu dipikirkan nanti stres. Biarkan saja, nanti dia akan kembali. Ayo masuk."
***
Malam ini, hujan deras mengguyur kota Jakarta. Suasana yang tepat untuk bergelung di kasur ditemani dengan selimut, nonton film dan juga minuman hangat.
Tapi tidak untuk Zaina. Sesuatu mnegganjal di hatinya. Pernyataan dosen tampan itu dan juga sesuatu yang masih membelengi didirinya.
'Jika pak Azzam tahu masa lalu ku, akankah dia mempertahankanku atau malah sebaliknya. Melepaskanku?'
Zaina menghela nafas. Beranjak menuju kursi dekat jendela. Menatap taman kecil didepan rumahnya yang mulai tergenangi air.
Kedua kakinya ia lipat sebagai tumpuan kepalanya. Pikirannya kembali pada pertemuannya yang pertama dengan Azzam setelah keluar rumah sakit.
Wajah laki-laki itu melingkupi pikirannya, perhatian yang diberikannya sangat menyentuh hati kecil nya. Tanpa sadar bibirnya tersenyum kecil.
Malam ini, entah kenapa ia merasa takut untuk tidur. Ia menoleh pada kasur. Ingatannya berkelana dimana waktu itu.
DREET DREET
Ponsel yang ia letakkan diatas meja belajar, bergetar. Ia berjalan mendekati meja belajar kemudian meraih ponselnya.
"Nomor gak dikenal?"gumamnya.
0812xxxxxxxx
Assalamualaikum. Maaf kan saya.
Zaina mengerutkan dahi. "Maafkan apa?."
Zaina..
Maaf ini siapa?
0812xxxxxxxx
Saya Azzam.
Zaina membelalakkan matanya, "Dapat dari mana nomorku?"
Zaina..
Maaf pak, saya gak tahu. Boleh saya tahu dari mana bapak mendapatkan nomor saya?.
0812xxxxxxxx
Rahasia. Maafkan saya.
Zaina..
Maaf untuk apa?
0812xxxxxxxx
Lupakan. Bilang pada ayahmu. Besok malam, saya dan keluarga saya akan kerumah.
"Ngapain pak Azzam kerumah? Jangan-jangan...."
Zaina..
Mau ngapain pak?
0812xxxxxxxx
Sampaikan saja. Saya harus pulang kerumah. Assalamualaikum.
Zaina
"Waalaikumsalam."
"Huaa, pak Azzam mau ngapain besok kerumah? Jangan-jangan soal itu?. Aduh bagaimana ini?"ucap Zaina gelagapan.
***
"Na, kantin yuk. Laperrr."rengek Arum.
"Iya iya."
Keduanya berjalan menuju kantin. Memesan makanan kemudian mencari tempat duduk. Suasana kantin yang ramai ini, membuat keduanya cukup sulitmenemukan tempat duduk yang kosong.
"Mana nih, gak ada yang kosong."
Zaina tak menghiaukannya, ia mengedarkan pandangannya mencoba mencari tempat duduk.
"Eh itu ada."
Zaina bejalan terlebih dahulu, kemudian diikuti Arum.
"Permisi, boleh numpang duduk?"
Laki-laki itu menoleh, "Pak Azzam?"
Azzam tersenyum, "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Silahkan, kebetulan saya sendirian."
Arum menatap Azzam dan Zaina bergiliran dengan dahi yang mengkerut. "Ayo."
"Eh.. em gak apa pak?"
"Iya."
Zaina dengan canggung duduk tepat dihadapan Azzam. Sementara Azzam tak lepas pengamatan dari Zaina yang tampak kaku.
"Saya tidak akan memakanmu. Jadi santai saja."
Zaina tersentak, "Maaf pak."
Ketiganya terdiam, Azzam dan Arum sibuk dengan ponsel ditangannya. Sementara Zaina hanya memandangi suasana kantin.
"Sudah disampaikan?"
"Su..sudah pak."
Arum mendekati Zaina, kemudian membisikkanya. "Apa?"
Zaina hanya menggeleng dengan menunduk menghindari tatap Azzam yang sedari tadi tidak lepas.
"Em pak, saya boleh tanya."ucap Arum.
"Ya, silahkan saja."
"Em.. bapak serius dengan ucapan yang dilapangan waktu itu?"
Azzam tersenyum kecil, "Harusnya kamu tanyakan ke temah disampingmu. Maukah dia menerima saya? Tapi, saya akan mendapati jawabannya nanti malam."
"APA? NANTI MALAM?!"
Zaina meringis sembari menutupi kupingnya, Azzam yang melihat itu hanya terkekeh.
"Dirumah Zaina kan pak? Wah saya gak nyangka ya Zaina."
Pipi Zaina memerah, ia menunduk sembari menggelengkan kepala.
"Kayaknya banyak hal yang anda simpan dari saya Zaina."ucap Arum dengan kesal.
"Iya nanti aku ceritain."
"Permisi, ini pesanannya."
"Oh ya, Terimakasih bu."ujar Arum.
Arum yang kelaparan langsung meraihnya, "Makan pak."tawarnya.
Azzam hanya mengangguk kemudian memperhatikan Zaina yang makan dengan canggung.
"Bapak, jangan lihatin saya."
"Kenapa?"
Zaina hanya menggeleng, pipinya makin terasa panas. Kemudian meraih minum dan meminumnya dengan cepat.
Azzam terkkeh, "Baikah, saya tidak akan memperhatikanmu. Jadi makanlah dengan tenang."
***
"Yaampun, capek banget."keluh Arum.
Kini mereka berada digedung S2, dan yang membuat mereka kesal adalah ruangannya ada dilantai 4. Bayangkan betapa capek nya itu.
"Alhamdulillah."ujar Arum yang terduduk di lantai dengan kedua kakinya yang diluruskan. Zaina terkekeh.
"Si Pak Malik gak ada kasihan banget. Masa kita disuruh kesini, sudah tahu S1 dengan S2 jaraknya lumayan."
"Sudah, nanti bapaknya ada tiba-tiba gimana?"
"Ya, kalau bapaknya muncu tiba-tiba berarti hantu."Arum terbahak keras.
Zaina hanya menggelengkan kepalanya, "Kamu harus jelasin keaku soal tadi."
"Apa lagi yang mau aku jelasin?"
"Ya semua."
"Enggak ada Rum, dia cuma bilang mau kerumah nanti malam sama keluarganya."
"Huaaa, temen gue sudah mau nikah aja. Gue kapan?"ujar Arum dengan drama.
Zaina terkekeh. "Lebay."
"Kan ada aku..."
Keduanya mendongak. "Dana?"
"Hai. Jadi...?"
"Apa?"
"Siapa yang mau dinikahkan?"
"Apa deh, gak jelas."
"Aku serius. Kamu?"tanya Dana pada Arum.
Arum gelagapan, "Enggak, siapa bilang?"
Zaina mentap Arum dengan geli, temannya itu pintar menyimpan semuanya.
"Iya Dan, dia mau nikah."
"Zaina..."Desis Arum.
"Kan bener. Besok aku kerumah."
"Ngapain?"tanya Arum syok.
"Cabut rumput. Ya lamar kamu lah."
"APAA?! Gila kamu ya?"
"Rum, aku beneran serius. Ini beneran dari hati aku yang terdalam."
"Gak usah aneh-aneh ya."
"Ck gak percayaan. Tunggu aja." Dana mengacir masuk keruangan meninggalkanArum yang tenganga lebar.
"Cie yang mau nikah."guda Zaina menudian mengikuti Dana.
"Dia...dia beneran mau nikahi aku? Ini gak bohong kan? Yaampun jantungku."
***
D ❤ @Dn_Ardian
Zaina terkekeh saat sebuah status yang Arum unggah. Dugaanya bahkwa laki-laki itu tidak main-main. Buktinya Arum sudah berani mengunggah sesuatu yang seperti ini.
"Nak. Ayo keluar, keluarga Azzam sudah datang."
"Iya mi."
Zaina menarik nafas, ini gilirannya yang akan mendapatkan gelar yang sama seperti Arum. Calon istri.
"Masyaa Allah, anak umi cantik banget."
"Makasih mi."
"Ya sudah, nanti gak seleai-seleai. Ayo kedepan."
Zaina mengangguk. Berjalan menuju ruang tamu terasa sangat berat. Kakinya terasa seperti jelly. Drees muslimah berwarna biru itu sangat cantik melekat ditubuh Zaina.
Azzam yang tengah menunggu kedatangan Zaina langsung mendongak. Ia tersenyum lebar, saat wanita yang menjadi calon istrinya itu sangat cantik.
"Nah, Zaina sudah datang. Silahkan nak Azzam langsung saja."ujar Mauza.
Azzam berdeham, "Begini, kedatangan saya dan keluarga saya adalah untuk mengajar Anak bapak, Zaina. Untuk saya nikahkan. Jika Zaina tidak keberatan, maukah kamu menerima lamaran saya?"
Zaina terdiam, ia mentap Azzam tepat dikedua matanya. Tidak ada keraguan dimata itu, walau dirinya ragu dan merasa benarkah ini.
"Em.. bisa kasih saya waktu untuk menjawab?"ucap Zaina dengan suara kecil tapi dapat didengar.
Azzam tersenyum, "Saya tidak keberatan dengan itu. Saya akan kasih waktu sebanyak yang kamu mau."
Zaina mengangguk, kedua keluarga itu akhirnya berbincang ringan sebelum akhirnya Mauza mengajak mereka untuk makan malam.
Kedua orang tua mereka telah pergi, kini tinggal Zaina dan Azzam yang berada disana. Sama-sama terdiam, bahkan Zaina tidak leluasa bergerak.
"Saya tidak akan mempermasalahkan apapun itu Zaina."
Zaina mendongak, menatap Azzam yang juga tengah menatapnya. "Jika saya sudah mengambil keputusan besar ini. Maka saya tidak akan salah. Saya sudah meminta kepda Allah, dan jawabannya satu.... Kamu."
Azzam berdiri, kemudian berjalan keruang makan, untuk bergabung dengan yang lainnya. Sementara Zaina terdiam.
Ucapan itu seseolah menyentil hati kecil nya. Kata-kata itu begitu menyentuh, sejujurnya jika ia langsung menerima maka semua akan bahagia.
Tapi ia butuh waktu untuk memikirkan nya, apa resiko kedepannya jika ia menerimanya dan apa penyesalan yang jika ia tolak.
Zaina mengehla nafas gusar. Menyandarkan tubuhnya dengan lesu.
"Nak, ayo sini."
Zaina mengangguk, "Iya bu."