Pagi ini, Zaina tampak sedikit berbeda. Pikirannya tengah berkelana. Ini sesuatu yang tak terduga dan bahkan terjadi karna Azzam mengumumkannya didepan semua mahasiswa.
Zaina duduk diruangan tamu, menunggu jemputan Azzam. Hal ini juga tiak ia duga, kemarinmalam sebelum keluarga itu pamit. Azzam mengatakan akan mengantar jemputnya kemanapun. Sekaligus pendekatan.
Semalaman juga Zaina bahkan tidur tidak nyenyak memikirkan hal ini. Ia sungguh bingung. Butuh waktu banyak untuk semua ini.
TIN TIN.
"TUh, Azzam sudah datang.'ujar Nazia.
Zaina mengangguk, kemudian mencium punggung tangan umi, "Assalamualaiku, Zaina pergi dulu mi."
"Waalaikumsalam, bilang Azzam hai-hati."
Zaina tak menjawab, ia hanya menganggukkan kepalanya. Berjalan membuka gerbang. Disamping mobil itu, Azzam tengah berdiri dengan snyum tampannya.
"Assalamualikum."
"Waalaikumsalam."
"Mana umi?"
"Didalam, gak pakai jilbab soalnya."
"Oh, ya sudah."
Azzam membukakan pintu mobil nya membuat Zaina mengerutkan dahi. "Kenapa?"tanya Azzam.
"Duduk depan?"
"Iya, kamu mau duduk dibelakang dan anggap aku supir?"
Zaina terkekeh kecil, "Enggak pak. Maaf."
"Oh ya, saya mau buat peraturan."
Zaina mengerutkan dHI, "Peraturan apa?"
"Kamu, gak boleh panggil saya bapak saat kita berada diluar area kampus."
"Lalu saya harus panggil apa?"
Azzam tampak berpikir membuat Zaina terkekeh, "Bagaimana dengan Mas, kelihatannya romantis dan cocok jika kmau yang panggil."
Zaina mengernyit, "Enggak yang lain aja?"
"Yang lain nanti, kalau kita sudah punya anak."
Zaina tesentak kemudian masuk kedalam mobil dan menutupnya. Sementara Azzam terbahak keras diluar.
'Seperinya menggoda kamu bakalan menjadi hal favorit saya.' batin Azzam.
***
"Saya kekelas duluan pak."
"Eh tunggu."
Zaina mengerutkan dahi. "Kenapa pak?"
"Eits.. Kamu panggil saya bapak?"
"Lah kan diarea kampus."
'Lah iya juga ya,', "Okey, kita ralat. Saat sedang berdua."
Zaina terkekeh, "Iya. Lalu kenapa?"
"Kamu kekelas bareng saya."
"Lah?"
"Ayo, mau didalam mobil aja?"
Zaina menggeleng cepat, kemudian dengan terburu-buru membuka seatbelt lalau keluar. Banyak pasang mata menatap mereka membuat Zaina tak nyaman.
Azzam yang mengetahui itu, tersenyum. "Santai saja, mereka sudah tahu."
"Tahu apa?"
"Kalau kamu itu milik saya. Dan apapun yang sudah menjadi milik saya, tidak ada yang boleh mengganggunya."
BLUSH
Pipi Zaina langsung memerah, ia menunduk sembari membenarkan tas nya.
"Zaina..."
Arum, wanita itu tengah berlari kearahnya, "Assalamualaikum pak dosen ganteng."
Zaina menyikut Arum membuat wanita itu terkekeh, "Eh maaf-maaf, Zaina nya marah pak."
Ucapa itu membuat Zaina melotot kaget. Ia menatap Arum yang tersenyum tanpa dosa. Akhirnya ia berjalan meninggalkan mereka yang tertawa renyah.
"Elah, ngambek tu pak dosen, kejar gih."
Azzam menatap Arum dengan tajam, "Kamu memerintah saya?"
"Eh.. enggak pak enggak. Maaf."ucap Arum gelagapan.
"Terimakasih idenya." Azzam langsung berlari mengejar Zaina.
"Lah? ini aku yang b**o atau gimana. Dasar si dosen ganteng tapi... gak jadi deh takut si pembaca malah hina aku."
***
Mata kuliah hari ini selesai. Zaina beisa pulang lebih awal karna mata kuliah selanjutnya gak ada. Dosennya sedang berhalangan hadir.
"Akhirnya tuh dosen gak masuk. Bayangin kita sudah semester lima dan selama itu pula gak pernah gak masuk uh dosen."celetuk Arum.
Zaina hanya tertawa. "Eh kamu belum cerita ke aku loh."
"Apa?"
"D love."ucap Zaina.
Arum tersenyum malu, "aduh aku jadi malu nih."
"Hai."
mereka berdua menoleh, "Hai."
"Baiklah, si pangeran sudah datang. Nanti malam aku gak mau tahu kamu harus cerita ke aku. Aku duluan pulang kalau begitu."
"Lah senetar, kamu pulang sama siapa?" tanya Arum
"Asslamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Oh, iya deh iya. Gih sana sudah dijemput pangeran."goda Arum.
"Aku duluan ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Azzam dan Zaina berjalan beriringan menuju parkiran. Sementara itu Dana menatap Arum dengan tanda tanya.
"Kenapa?"tanya Arum.
"Mereka beneran?"
"Ya beneran lah. Gak kaya kamu."
"Lah kok aku?"
"Kalau cowok serius itu kayak gitu, bukannya kayak kamu yang mainin hati cewek."setelah mengatakan itu, Arum langsung pergi meninggalkan Dana yang ternganga.
"Kok malah gue yang kena?"
"Sabar bro."
Dana menoleh, Ranu. "Gue tahu itu berat."
"s****n lo."
***
"Mau langsung pulang?"
Zaina mengangguk, "Iya, mau kemana lagi."
Azzam mengangguk, kemudian sesuatu terlintas dipikirannya. "Nanti malam, aku mau ajak kamu keluar, mau?"
"Kemana?"
"Rahasia. Tapi yang pasti, kamu bakalan suka ini."
"Tapi..."
"Aku yang minta izin sam abi mu."ujar Azzam yang seolah tahu apa yang dipikirkan Zaina.
Zaina terkekeh, "Iya."
"Aku mau makan dulu, mau ikut?"
"Kalaupun aku gak ikut gak bisa, kan kamu yang bawa mobil."
"Oh iya ya." Yaampun Azzam kok jadi begini sih.
Mobil yang Azzam kendarai akhirnya berhenti disalah satu tempat makan yang mmang sejala dengan rumah mereka.
Keduanya berjalan masuk, kemudian mengambil tempat duduk didepat jendela. Yang menampakan bagaimana suasana jalanan di pukul sebelas ini.
"Tunggu sebentar, aku pesan ya. Kamu mau apa?"
"Sama kan saja."
Azzam mengangguk kemudian melenggang. Sementara Zaina menatap jalanan. Sebelum akhirnya suasana nyamannya terganggu dengan kedatangan seseorang.
"Tante..."
Zaina menoleh, ia mengerutkan dahi, "Hai sayang. Ada apa?"
Mata anak perempuan itu berkaca-kaca. "Mama Kia gak ada tan, bantu Kia."
Zaina mengerutkan dahi. "Kamu, maksudnya tadi kamu lihat dimana?"
"Tadi kia main disana.tunjuk anak itu pada area bermain anak-anak. "Terus Kia haus, mau ketempat mama tapi mama gak ada."
"Mama mu duduk dimana?"
"Disana."tunjuknya dimeja yang berjarak 3 meja darinya.
"Yasudah ayo tante bantu cari."
Anak itu mengangguk, Zaina menggendong anakkecil cantik itu. "Mau kemana? Ini siapa?"
"Aku gak tau juga maa, tapi dia cari mama nya."
"Apa? Mas? Wah hatiku bergetar."
"Pak. Ada anak kecil."
"Oh ya, maaf. Lalu dimana mama nya?"
Zaina menggeleng, "Aku juga gak tahu mas, kalau aku tahu juga gak begini."
"Yasudah, kita tanya dengan yang disana. Mana tahu mereka melihatnya."
Zaina mengangguk, ketiganya berjalan mendekati meja itu. Mereka tampak sepertikeluarga kecil membuat Azzam tersenyum sendiri.
"Pak, gak kemasukan kan? Kok senyum-senyum sendiri."
"Kamu gak lihat, kita kayak apa?"
Zaina mengerutkan dahinya bingung, "Keluarga kecil."ucap Azzam.
BLUSH
"Sudah pak, kita mau cari mamanya anak ini."
Azzam terkekeh, "Permisi bu, saya mau tanya. Ada yang lihat ibu anak ini?"
Ibu itu menatap anak kecil itu dengan dahi yang mengkerut. "Lah, ammanya di toilet mas, dia yang titip anaknya kesaya."
Azzam dan Zaina saling pandang kemudian menghembuskan nafas lega.
"MAMA!."
Anak kecil itu memberontak dalam gendongan Zaina, terpaksa Zaina menurunkannya. Anak itu belari menghampiri ibunya.
"Mama kemana? Kia cari mama."
"Maaf sayang, mama ketoilet."
"Kia haus ma."
"Ayo kita minum ya."
Ibu dan Anak itu masih belum menyadari kehadiran Azzam dan Zaina. Mata perempuan itu terbelalak saat seseorang yang begitu ia kenal.
"Azzam."
"Nanda. Jadi.. ini anak kamu?"
Wanita yang dipanggil Azzam dengan nama Nanda itu mengangguk, "Iya, anak pertamaku."
Azzam menatap anak keil itu yang memang tampak mirip dengan Nanda. Sementara Zaina menatap Azzam yang tampak berbeda.
"Terimakasih sudah mau membantu anak saya dan juga maf merepotkan."ujar Nanda.
Azzam menoleh, "Enggak, kami sama sekali tidak keberatan."
"Iya mbak. Gak masalah kok. Anak mbak cantik Siapa namanya?"
"Namanya Zaskia."ujar Nanda sembari menatap Kia yang tengah minum.
"Cantik."
"Terimakasih."
Zaina hanya tersenyum, "Yasudah kammi kembali ketempat duduk kalau begitu."
"Kenapa gak gabung saja?"
"Iya mas, kenapa gak gabung?"
Azzam tampak gelagapan. Tapi saat mendengar Zaina yang ikut mendukung ucapan Nanda akhirnya dengan pasrah menurutinya.
Kedua wanita itu tampak sibuk dengan dunianya hingga melupakan Azzam yang tampak sangat tidak nyaman dengan situasi ini.
***
Selama perjalanan pulang, suasana hening. Sesekali Zaina melirik Azzam yang tampak terdiam fokus pada jalanan.
Tapi jika dilihat lebih detail, rahang laki-laki itu tampak menggeras. Teihta juga ada bagian tangan yang memegang stir.
Tampak seperti mencengkram. Zaina tidak tahu harus melakukan apa. Jika situasinya seperti ini. Ia teringat dahulu.
Ketakutan mulai melingkupi Zaina. Wanita itu duduk kepinggir mendekati pintu mobil. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat ini.
Tangannya mencengkram ujung pakaian, keringat mulai bermuculan didahinya. Mobil yang Azzam kemdarai berhenti saat lampu merah.
Ia menoleh pada Zaina dan terlonjak kaget. "Na, kamu... Kamu kenapa?"
Nafas Zaina mulai memberat. Ia menggeleng menjauhi tangan Azzam yang hendak menyentuhnya.
"Na, jangan buat aku khawatir, katanya ada apa?"
TIN TIN.
Azzam langsung menancapkan gas nya saat kalkson dari pengndara dibelakangnya. Sesekali ia menoleh menatap Zaina yang tampak pucat.
"Na jawab aku, kamu kenapa?"
"Aku..Aku mau..pulang."
Azzam mengangguk, "Okey okey tunggu sebentar."
Azzam langsung mengendari mobil nya dengan cepat. Sesekali ia masih menoleh pada Zaina yang tampak pucat pasi.