Chapt. 11

1174 Kata
"Na, kita sudah sampai..." Azzam menoleh dan mendapati Zaina yang terdiam. "Na... YaAllah pingsan." Dengan cepat, Azzam menuruni mobil, berlari embuka pagar dan mengetuk pintu. "Assalamualaikum umi." Dengan tidak sabaran, ia mengetuk pintu itu. "Iya, iya sebentar." "Loh Azam, Zaina.." "Umi tolong bukakan pintu ya, Zaina pingsan." Setelahnya Azzam berlari mendektai mobil membiarkan Nazia yang kaget. "Na, maaf ya."ucapnya kemudian menyalipkan tangan kirinya di belakang paha dan tangan kirinya di tengkuk Zaina. "Ya Allah, ayo nak masuk." Azzam mengangguk, membiarkan Nazia menuntun jalannya. "Ini kamar nya Zaina. Baringkan dia dikasur." Azzam dengan perlahan meletakkan tuhun itu diatas kasur. Nazia mendekat, kemudian menyentuh dahinya. "Panas. Nak tolong telfon abinya ya." Nazia meninggalkan mereka untuk kedaput mengambil air dan sapu tangan. Sementara Azzam menelfon Mauza dengan tidak sabaran. "Ayo angkat pak." Hingga panggilan ketiga barulah Mauza mengangkat. "Assalamualaikum pak." "Waalaikumsalam. Nak ada apa." "Pak, bisa pulang sebentar. Zaina pingsan." "Apa? Iya saya pulang sekarang." Nazia datang dengan baskom ditangannya. "Zaina kenapa nak? Kok bisa begini?" Azzam menggeleng, "Enggak tahu bu, padahal tadi dia masih baik-baik saja tapi setelah perjalanan pulang dia tiba-tiba pucat." "Ya Allah nak, kenapa kamu?" Nazia dengan telaten membasuh wajah Zaina dengan air dingin. Matanya berkaca-kaca tetapi ia tahan. Beberapamenit menunggu Mauza pilang akhirnya laki-laki paruh baya itu datang. Ia menatap Zaina dengan cemas. "Ada apa ini?" Nazia langsung memeluk Mauza, menumpahka air mata yang ia tahan sedari tadi. "Zaina bi." "Umi tenang dulu ya. Katakan ini ada apa?" "Ini salah saya pak." Mauza menoleh, ia menatap Azza dengan ahi yang mengkerut. "Maksudnya?" "Tadi sebelum pulang Zaina baik-baik saja pak. Tapi waktu perjalanan pulang dia pucat. Maaf pak." Mauza menggeleng, "Enggak nak, ini bukan salah kamu. KIta tunggu Zaina bangun ya. Terimakasih nak." Azzam mengangguk, kemudian menatap Zaina yang tampak masih nyaman dengan tidurnya. Akhirnya Azzam pergi keluar, duduk diruang tamu. *** "Nak, tidak kah kamu mau berobat? Untuk kesembuhanmu." Zaina tampak melamun, pandangannya tampak kosong. Tapi pikirannya berkelanan dengan ucapan Mauza. "Zaina cuma takut bi. " Mauza mendekat, duduk disamping sang anak kmeudian meraih tangan itu. "Apa yang kamu takutkan, katakan pada abi." "Zaina takut membuka itu." "Gak ada yang perlu kamu takuti nak. Kamu akan di bimbing nanti." "Lalu bagaimana dengan kuliah Zaina." "Kamu bisa cuti sementara untuk berobatmu. Nanti abi yang katakan." Zaina terdiam, tampak menimang hal ini. "Boleh Zaina pikir dulu? Besok Zaina kasih jawabannya." Mauza dan Nazia mengangguk, "Iya nak. Oh ya, Azzam masih menunggudibawah, dia idak mau pulang sebelum berbicara padamu." "Kenapa masih disini? Ini sudah malam."ucap Zaina bingung. "Temui dulu." Zaina menganggu, meraih hijabnya kemudian berjalan menuju ruang tamu. Disana, laki-laki itu tamoak kusut.  Kedua lengannya telah digulung keatas, satu kancing baju atasnya sudah terlepas. Zaina menggelengkan kepala. Ia berjalan mendekati nya, "Pa..." ucapan Zaina terjeda, "Lah tertidur." *** "Abi, Umi." Mauza dan Nazia menoleh. Di dinding pembatas ruangan, Zaina berdiri. "Kemari nak." Zaina berjalan perlahan. Ia tampak mengenakan pakain rumah. "Ada apa?" "Zaina mau jawab yang tadi mlam." Mauza dan Nazia mengangguk, "Zaina mau berobat." "Alhamdulillah." "Mau hari ini aau besok kita temui dokter? kita buat janji?" "Zaina ikut kalian saja." Mauza dan Nazia tampak sangat bahagia. Terurama Nazia, wanita yang telah melahirkan Zaina itu berjalan menghampirinya. Memeluk erat dam mencium kedua pipi Zaina. "Umi doakan kmau ceopat sembuh dan menjalaniharimu tanpa halangan apapun." Zaina mengangguk. "Abi siap-siap mau kekampus mu." Laki-laki paruh baya otu melenggang menuju kamarnya, bersiap untuk meminta izin pada puhakkampus Zaina. Sementara wanita itu termenung di meja makan. "Jangan khawatir nak. Semua akan baik-baik saja." Zaina hanya mengangguk saja. *** "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, ada apa Na? Saya nanti kesana." 'Enggak pak, gak perlu, hari ini dan mungkin beberapa hari kedepan saya tidak akan masuk." "Loh, kenapa?" Zaina terdiam, haruskah ia memberitahunya.  "Na, kamu masih disana kan?"  "Iya pak saya masih disini." "Lantas kenapa diam? Kamu mau kemana?" Zaina mnggeleng, "Saya gak bisa jelasin pak, tapi saya gak akan lama." "Iya, tapi jawab dulu." "Urusan keluarga pak." Hening disebrang sana. Zaina menggigit bibir bawahnya. "Baiklah, hati-hati sampaikan salam saya untuk keluarga mu." Zaina mengangguk. "Iya pak. Kalau begitu saya tutup telfonnya." "Baiklah." "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam." Zaina mengehla nafas kasar, kemudian terduduk dipinggir kasur dengan lemas. "Astaghfirullah, maafkan hamba ya Allah." *** "Silahkan masuk." Mereka beriga masuk kedalam ruangan yang terlihat nyaman. Coklat dan putih. Zaina tampak tangat tegang. Nazia menggenggam tangan anaknya itu sembari tesenyum menenangkan. "Silahkan duduk."ucap wanita iu dengan ramah. "Baiklah, ada yang bisa saya bantu?" Mauza mengangguk, "Iya dok. Saya ayah dari Zaina.."sembari menunjuk Zaina yang ada disampingnya. "Saya kesini mau buat janji dok." "Oh, bisa kok. Sebentar saya ambil catatan saya dulu ya." Mauza mengangguk, mereka menunggu sebentar tak lama dokter wanita itu kembali dengan catatan kecil. "Baik, siapa yang mau saya bantu?" "Anak saya." "Siapa namanya?" "Ayskaa Zaina Ardiningrum." "Usia?" "22 tahun." "Baik, Zaina bisa ikut saya?" Zaina tampak takut, kemudian menatap orang tuanya secara bergantian. Mereka mengangguk. Zaina mengikuti dokter itu kemudian duduk disebuah sofa besar.  "Bisa kamu jelaskan ada hal apa yang mengganggumu?" Zaina menghembuskan nafasnya untuk menteralkan detak jantungnya yang lebih cepat. "Saya... saya ada trauma dimasalalu." "Iya, lalu?" Nafas Zaina mulai tak beraturan. Tangannya mendingin dan wajahnya pucat pasi. Dokter wanita itu mulai mengetahui dari raut wajah Zaina akhirnya mengangguk. "Baiklah Zaina, saya tidak kan paksa kamu untuk mengatakan semuanya sekarang. Kita bisa lakukan nanti dipertemuan berikutnya. Jangan paksakan semua sekarang." Zaina menganggung. Dokter itu meraih air mineral kemudian memberikannya pada Zaina. Kemudian mereka kembali mendekati Mauza dan Nazia yang tampak cemas. "Saya sudah datakan Zaina. Kita kan melakukannya setia hari sabtu. Bagaimana?" Mereka mengangguk, kecuali Zaina yang tampak memejamkan mata sembari menyender pada Nazia. "Saya akan mencatat semua yang Zaina katakan disetiap kali pertemuan. Mungkin sampai disini dulu. Saya gak akan memaksakan Zaina nya." Mauza mengangguk, "Terimakasih dok. Kalau begitu kami pulang dulu. Permisi." *** Zaina tampak terlelap dalam tidurnya. Selama perjalanan dari psikiater, wanita itu terdiam dengan pandangan kosong. Beberapa kali Mauza menangkap nya. Mereka cukup khawatir dengan keadaan Zaina. Bahkan mereka sempat berpikir apah Zaina dapat sembuh. Mauza menutup pintu kamar Zaina dengan perlahan, kemudian berjalan menuju runag keluarga. "Apa tidak sebaiknya kita katakan saja dengan Azzam?"ujar Nazia. "Abi mau, tapi mungkin baiknya Zaina sendiri yang katakan." "Tapi kapan? umi hanya takut nanti pernikahan mereka akan batal." "Doakan saja semoga tidak mi." "Tapi bi...." "Abi juga berpikiran seperti umi. tapi abi takut Zaina ataupun Azzam tidak siap. Abi takut Zaina malah marah jika abi yang mengatakannya." Nazia menunduk, "tapi umi malah takut semua hancur. Umi takut nanti Azzam kecewa." Mauza menarik Nazia dalam pelukannya, "In syaa Allah tidak mi." *** Azzam tampak melamun menghadap jendela dikamarnya. Ia memikirkan Zaina. Sudah tiga hari ia tidak mendengar ataupun melihat Zaina. Ingin rasanya ia menghubungi Zaina, tapi takut akan mengganggu. Tapi jika boleh ia katakan. ia merindukan suara Zaina yang memanggilnya mas. Azzam menghel nafas. Kemudian berjalan mendekati nakas. Meraih ponsel nya. membuka kontak dan mencari nomor Zaina yang ia namakan My future wife. Entah lah ia sangat menyukai kata-kata itu. Tampak menimang untuk menghubungi atau tidak. Jempolnya bergerak untuk menekan nomor itu ternyata terasa berat. Seperti ada sesuatu yang menahanya. "Argh... Aku rindu dia."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN