Chapt. 12

1247 Kata
"Bisa kita mulai hari ini?" Zaina menatap uminya dengan takut, Nazia memberikan senyum terbaiknya unutk menenangkan Zaina.  Perlahan, Zaina mengangguk. Zaina diarahkan menuju sofa yang tampak nyaman. Zaina diarahkan untuk memejamkan mata. "Zaina, rilex saja.", Zaina megangguk, "Konsentrasi ya. Jika kamu merasa tidak sanggup, buka mata saja." "Ceritakan apa yang menjadi permasalahanmu. Perlahan saja." Zaina mulai merasa bahwa dirinya berada didalam keadaan dulu. Berlari dan terus berlari ditempat gelap dan sepi. Laki-laki itu terus mengejarnya dengan menyuruhnya untuk berhenti. Dadanya kembalimerasa sesak. Tapi ia mencoba menahannya. "Dia mengejar saya. Dia kata, saya hanya miliknya seorang, jika dia...dia tidak bisa mendapatkan saya maka...maka orang lain juga tidak bisa." Dokter itu mengangguk, "Lanjutkan jika kamu masih mampu, Zaina." Dahi Zaina mengernyit, ia menahan sesuatu yang sakit didirinya. "Jangan dipaksa Zaina."ucap dokter itu dengan khawatir. "Dia, sempat mendekat tapi saya mencoba untuk berlari lebih kencang...." Nazia menoleh pada dokter cantik itu dengan takut. Meminta aina untuk berhenti saat melihat wajah anaknya tampak pucat, bibir yang bahkan hampir membiru. "Zaina, cukup. Jangan dipaksakan." Zaina mengeleng, "Dia menarik ujung hijab saya... kemudian saya jatuh tersungkur dan dia....dia tertawa.... Umi..." "Nak, cukup nak, umi mohon." "Zaina buka matamu."Dokter itu bergerak untuk menepuk pipi Zaina dan mencoba membuka matanya. "Zaina dengarkan saya. Jangan dipaksakan, cukup." "Umi...", Kemudian gelap. "Panggil ambulan sus!."pekik dokter itu *** "Apa anak saya bisa sembuh dok?"tanya Nazia dengan lirih. "Bisa bu, tapi tidak dengan cara seperti tadi. Jika saja Zaina mendengarkan kata saya. Ini tidak akan terjadi." "Abi..."lirih Nazia. Mauza mendekap Nazia, ia menatap pintu putih yang tengah tertutup. Didalam sana, anaknya tengah ditangani dua dokter. "Bagaimana ini dok? Apa tindakan selanjutnya?"tanya Mauza pada dokter psikiater. "Kita akan lakukan hal ini lagi tapi nanti satu sampai dua minggu yang akan datang. Setelah kondisi Zaina kembali membaik." Mauza mengangguk. Dookter itu pamit undur diri kemudian meninggalkan mereka beruda. Tak lama setelah kepergian dokter itu. Pintu itu terbuka. "Dok, bagaimana anak saya?" "Sudah baik-baik saja. Dia hanya butuh oksigen tapi hanya unutk semnetara saja kok. Setelahnya bisa kembali pulih." "Lalu apa yang sebenarnya terjadi?" "Boleh saya bertanya sesuatu?" Mauza maupun Nazia mengangguk, "Maaf sbelumnya. Apa anak bapak dan ibu sedang bermasalah dalam psikis nya?" Mauza mengangguk, "Iya dok, kenapa?" "Saya bisa katakan ini, tapi ada baiknya lebih tanyakan pada dokter psikiater." "Iya dok." "Tapi kalau menurut saya, anak bapak dan ibu seperti nya psikis nya bisa dikatakan parah. Sudh berapa lama?" "Sekitar limat tahun yang lalu dok." "Sudah dibawa ke psikiater?" "Sudah tapi baru beberapa hari." Dokter itu terdiam, "Saya sedikit kurang paham akan hal ini. Tapi ada baiknya tanyakan saja pada dokter psikiater nya, saya takut menyampakikan sesuatu yang salah." Dokter itu pergi, tak lama pintu terbuka lebar. Bankar yang Zaina tempati tengah didorong menuju ruang rawat inap. "Kita kabari Azzam, bi?" MAuza tampak berpikir. "Jangan sekarang mi, biarkan Zaina istirahat dulu." *** Azzam tengah menunggu dikursi luar, sesekali ia bergerak melihat jam yang melingkar ditangannya.  Ini sudah seminggu, dan Zaina tidak ada kabar apapun. Seolah hilang ditelan bumi. Sosok yang ia rindukan kini entah kemana. Pintu terbuka, ia berdiri memperhatikan satu persatu mahasiswi yang keluar. "Arum." Arum menoleh dan terkejut, "Pak Azzam." Dana tampak bingung kemudian ikut mendekat, "Maaf saya menganggu waktu kmau, Saya mau tanya sesuatu. Kamu tahu dimana Zaina?" Arum terdiam, matanya bergerak gelisah membuat Azzam mengira ada suatu hal yang disembunyikan. "Saya...saya gak tahu."gagap Arum. 'Kamu membohongi saya?" "Maaf pak Azzam. Arum gak mungkin bohong. "Celetuk Dana. "Saya sedang tidak ada urusan apapun denganmu."ujar Azzam dengan tatapan tajam nya. "Pak, saya beneran tidak tahu." "Kamu berani membohongi saya? Mau kamu tidak saya luluskan?" "Lah, pak gak bisa..." "Bisa. Saya berhak apapun itu kepada mahasiswa."potong Azzam. *** Laki-laki itu berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia menatap nomor yanga da diatas pintu, setelah ketemu ia mengetuknya dan masuk kedalam setelah mendapat ucapan masuk. "Zaina." "Pak Azzam." Zaina terkejut, pasalnya ia ataupun kedua orang tuanya tidak memberi tahu apapun. Tapi laki-laki itu datang dengan wajah khawatir. "Na, kamu baik-baik saja kan? Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit apa? Sudah makan? Obatnya juga sudah diminumkan?" Zaina terdiam, "Na, jawab saya." "Mau jawab gimana kalau bapak aja nyerocos terus." Azzam terdiam, "Okey, tanyakan satu per satu." "Kamu kenapa?" Kini giliran Zaina yang terdiam. "Kamu pingsan lagi, seperti yang kemarin. Na, kamu menghlang seminggu ini. Suatu hal yang berat buat saya." Zaina mengerutkan dahi, "Maksudnya?" "Saya rindu kamu." "Apa?!" "Kenapa? Tidak boleh kah?" "Okey, lupakan itu, sekarang saya yang tanya. Bapak tahu saya ada disini, dari siapa?" "Na, Maafin aku." Mereka menoleh karah pintu, Arum tengah berdiri dengan raut sesal. Zaina mendengus kesal kemudian kembali menatap Azzam. "Saya, baik-baik aja pak, hanya kelelahan." "Tapi waktu itu, saya tidak lihat kamu kelelahan. Bahkan baik-baik saja." SKAKMAT "Arum, masuk sini. Kamu mau jadi satpam?"ucap Zaina. Arum mengangguk kemudian duduk dipinggir ranjang. "Bagaimana keadaan mu?" "Baik-aku gak sakit parah Rum." "Na, saya tanya kamu, kok kamu gini sih."ucap Azzam dengan cemberut. "Kan saya sudah bilang, kalau say baik-baik aja." Azzam mendengus, "Kamu sudah makan?Eh iya umi sam abi mana?" "Lagi pulang, nanti kesini lagi." "Ya sudah aku temani ya?"ucap Arum dan Azzam berbarengan. Keduanya menoleh, dengan tatapan tajam mereka, "Saya yang disini." "Enggak saya yang disini." "Apa sih, orang saya duluan yang datang." "Lah, kan saya yang kasih tau." "Enggak. Kamu pulang." "Bapak aja yang pulang. " "Kamu" "Bapak." "Kamu." "Bapak." "STOOP!" Azzam dan Arum menoleh, "Kalian kalau mau ribut, mending keluar. Berisik." Keduanya langsung terdiam, kemudian terduduk dipinggir ranjang. "Ambil kursi sana jangan duduk disini." MEreka menurut, merarik kursi untuk duduk dipinggir ranjang. Masih dengan tatapan tajam mereka membuat Zaina menggeleng. *** "Nak, kamu mau katakan hal ini pada Azzam atau tidak? Atau mau umi dan abi saja yang katakan?" Azzam dan Arum telah pulang beberapa jam yang lalu. Kini tinggal mereka bertiga. Zaina tampak terdiam. "Tapi Zaina takut kalau nati pak Azzam kecea dan merasa minder dengan Zaina mi." "Nak, kalau memang jodoh, itu gak akan kemana. Mau sejauh apapun dia berlari, nanti tujuan utamanya hanya kamu." Zaina terdiam. "Umi hanya bertanya saja, jangan dipikirkan ya." "Kamu mau makan buah? biar cepet keluar rumah sakit." Zana mengangguk, "Apel ya mi." Nazia mengangguk, kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci buah. "Anak abi sudah hebat." Zaina terkekeh. "Belum hebat, kalau Zaina membanggakan umi dan abi." "Kamu lakir dikehiduan kmau, sudah membuat kami bangga. Tumbuh menjadi wanita yang cantik dah sholehah kami bersyukur." Senyum Zaina luntur, "Zaina belum sholehah bi. Zaina itu kotor." Mauza tersentauk kaget. Ia salah bicara. "Enggak sayang, kamu gak begitu. Jangan nangsi nanti abi nangis kan gak jadi keren. Apa kata dunia kalau abi nangis." Zaina terkekeh kemudian menghapus air matanya. "Abi.. Zaina sayang abi dan umi." "kamu juga sayang kamu." *** "Na, kamu gak marahkan soal yang kemarin?" "Marah. Akumarah sama kamu yang gak bisa simpan rahasia. Kamu tahu kan Rum, ini itu rahasia terbesar aku. Aku gak mungkin langsung kasih tau kalau aku ini...." "Assalamualaikum." Keduanya menoleh karah pintu, Azzam tengah berdiri dengan senyum yang tampannya. "Saya ganggu ya." "Enggak." "Iya."ujar Zaina dan Arum berbarengan. Arum menatap tajam Azzam, "Bapak ngapain sih kesini." "Lah, kenapa? emang kamu yang sakit. Orang yang sakit calon istri saya. Kok kamu yang marah. "Sudah ya, aku gak mau dengar keributan disini." Arum mencibir Azzam kemudian duduk dengan kesal. "Dasar gak tahu waktu."gumam Arum. "Apa katamu?" "Berisik."ucap Arum sinis. "dih, aneh." Azzam menatap Zaina dengan senyum nya, "Kamu sudah makan?" Zaina menggeleng,"Mau makan?" "Nyamuk nyamuk."celetk Arum kemudian berjalan keluar."Secepat sembuh Na." Azzam menatap pintu, "Temen kamu kenama sinis banget ke aku." Zaina menghedikan bahu sembari terkekeh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN