Setelah tiga hari berdiam idalam rumah sakit, kini Zaina boleh dipersilahkan untuk pulang. Azzam dan keluarganya turut hadir dirumah sakit.
Mereka yang awalnya begitu cemas karna Azzam mengatakan bahwa Zaina masuk rumah sakit. Mereka langsung datang dan mendengarkan kabar yang membuat mereka lega.
"Bisa jalan kan?"
"Bisa."
"Atau mau saya ambil kursi roda."
"Pak, saya gak sakit parah."
"Tapi wajah kamu masih pucat."
"Saya yang tahu bagaimana kondisi saya."ujar Zaina dengan tegas.
Azzam terdiam. Sementara yang lain tertawa saat Azzam dapat bertekuk lutut hanya karna ucapan Zaina.
Mereka menunggu Mauza yang tengah mengambil mobil. Sesekali Zaina ikut nimbrung dalam percakapan mereka.
"Nah itu abi."tunjuk Nazia.
Azzam membukakan pintu belakang kemudian mempersilahkan Zaina untuk masuk.
"Terimakasih."
"Sama-sama."
"kalau begitu kami pamit dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian mobil yag ditumpangi Zaina. Abrisaam merangkul Azzam.
"Ternyata anak ayah bisa ditaklukan wanita."
Ghania tertawa, kemudian mereka berjalan menuju parkiran sementara Azzam cemberu kesal terlah merasa terhina.
***
"Nak, kamu gak sebaiknya terbuka dengan Azzam sebelum melanjutkan pernikahan kalian?"
"Zaina mau bi, tapi takut. Kayaknya Zaina masih butuh banyak waktu."
"Boleh saja, tapi yang harus kamu ingat adalah semakin lama kamu memberitahu hal ini, maka semakin jauh juga kalian berdua."
"Maksud abi, kalian akan semakin jauh mengenal dan Azzam semakin dalam mencintaimu. Kemudian kalian menikah, bisa kamu bayangkan bagaimana nanti kalian dalam menjalin rumah tangga?"sambung Nazia.
Zaina tediam, "Sayang, jika kamu menjalan rumah tangga dengan sebuah kebohongan, maka tidak akan baik."
"Benar kata umi mu. Ayah hanya takut nanti setelah kalian menikah, Azzam merasa kecewa dan terbohongi. Lebih baik katakan sekarang, jikapun Azzam tidak menerimamu dia tidak akan terjerumus oleh cintanya yang semakin dalam."
Zaina terpaku, membenakan ucapan abi dan umi nya. Tapi ada hal yang ia pikirkan saat ini. Ketakutan. Menceritakan pengalaman buruknya pada psikiater saja sampai masuk rumah sakit.
Apa lagi ini yang tengah meminangnya, bisa kalian bayangkan bagaimana posisi Zaina saat ini. Berada ditengah entah harus memilih kiri atau kanan.
"Kamu takut? Kalau kamu takut, umi bisa ikut membantu kamu."
"Enggak mi, Zaina.... in syaa Allah bisa sendiri. Tapi Zaina butuh waktu."
Nazia mengangguk, kemudian hening hingga perjalanan sampai dirumah mereka. Zaina turun lebih dulu kemudian masuk kedalam kamarnya.
Ia terbaring diatas ranjang dengan kaki yang masih menyentuh lantai. Pikiran nya berkelana menentukan bagaimana cara nya untuk berbicara.
Zaina meringis, memegangi kepalanya yang terasa sakit. Kemudian ia memijat pangkal hidung nya dengan mata terpejam.
Tanpa sadar ia pun akhirnya hanyut dalam mimpi indah nya. Dengan posisi yang masih sama.
***
"Bang, kata ibu , abang mau nikah? Sama siapa? kok gak kenalin Ara?"taya Amara.
"Kamu kemarin diajak gak mau, alasannya mau jalan-jalan."
"Ya biarpun Ara gak ikut, Ara mau juga dengar gimana semuanya."
"Buat apa? Kamu itu masih kecil."
"Ish abang, Ara sudah 20 tahun ya."ujar Amara tak terima.
"Tetap saja itu masih keil, belum waktunya kamu tahu."
"Eh bang, denger ya, kalau Ara itu sudah besar. Ara juga mau nikah."
"APA?!"
Amara terkaku, ia menepuk bibirnya dengan pelan kemudian menatap Azzam dengancengiran lebarnya.
"Bisa kamu ulangi?"
"Apa? Ara ngomong apa emangnya?"
"Amara, saya gak sedang main-main."
"Yah abang, diam-diam dulu ya, jangan kasih tau ayah sama ibu dulu."
Azzam mengerutkan dahinya, "Kenapa?"
Amara tampak berpikir. "Belum tahu juga sih ini beneran ata enggak. Soalnya si ini masih agak aku ragu."
"Lah, kamu saj ragu tapi kamu sudah begitu."
"Yah, kan mana tau emang benaran. Menyombongkan diri ulu gak apa lah."
Azzam mendengus, ia menatap Amara dengan sesuatu yang Amara sendiri tidak mengerti maksud nya.
"A..Abang ngapain lihat aku begitu."
"Enggak."setelahnya Azzam langsung berjalan menuju kamarnya meninggalkan Amara yang melongo.
"Lah, aneh."gumam Amara.
***
"Azzam..."
"Ya, ayah sebentar."
CEKLEK
"Ada apa yah?"
"BIsa ikut ayah keruangan kerja sebentar?"
Azzam mengangguk dengan perlaha, wajahnya tak menutupi bahwa ia tengah bingung.
"Duduk dulu Zam."
Abrisam berjalan menuju lemari diman berisi data penting perusahaan. Laki-laki paruh baya itu tengah mencari sesuatu.
"Ayah cari apa?"
"Sebentar."
Abrisam telah menemukan apa yang ia cari, kemudian berjalan menuju meja kejanya yang dimana berhadapan dengan Azzam.
"Ini."
"Apa?"tanya Azzam bingung sembari menatap map merah didepannya.
"Baca saja."
Dengan ragu, ia pun meraihnya dan membacanya dengan perlahan. Ia menatap Abrisam dengan bingung.
"Apa sih yah, Azzam gak ngerti."
Abrisam berdecak malas, "Itu data penting perusahaan."
"Lalu?"
"Astaga nak, ya dibaca. Sebentar lagi kamu itu sudah mau menggantikan ayah."
Azzam ber-O ria, "Ngomong dong yah dari tadi, Azzam mana ngerti ayah tiba-tiba begini."
"Yasudah, Azzam bawa kekamar aja."
"Enggak. Kamu baca disini. Nanti hilang ayah bisa mati berdiri."
"Ck, yah Azzam masih harus mendata semua nilai mahasiswa."
"Baca disini atau besok ayah akan memberikan surat ke kampusmu."
"Hah? surat apa?"
"PENGUNDURAN DIRI."
Azzam tersentak kaget. Ia menenelan ludah dengan kaku, kemudian mengangguk. Membaca dengan seksama walau sebenarnya ia sedikit kesulitan.
"Ck, sudah sana kembali kekamar mu."ujar Abrisam jengan sembari menarik berkas itu.
"Lah, kenapa?"
"Males lihat muka kamu."
"Lah, yah aku ganteng gini loh, mahasiswi dikampus saja sampai tercengang."
"Berari mata mahasiswimu itu bermasalah. Sudah sana."usir Abrisam.
"Ayah gak jelas deh."
"AZZAM!."pekik Abrisam kesal.
Azza langsung ngacir dengan tawa yang meledak, membuat Ghania yang saat itu tengah mengantarkan minum ada suaminya sampai terhenti karna bingung.
"Ada apa yah?"
"Anak mu itu. Bikin kesel. Males lihat wajahnya."
"Lah, kamu kenapa sih?"
"Enggak, cuma kesal."
"Ya sudah nih, minum."
***
"Abang.. abang buka pintu, pliss cepet."
DOK DOK DOK.
"Apa sih? kamu ganggu abang tahu gak."
"Ish abang plis lah, bantu Ara."
"Kenapa?"
Amara menyodorkan ponsel nya pada Azzam. "Kenapa?"
Raka callings...
"Angkat bang, dia mau ngomong."
"Lah, kamu lah kenapa abang."
"Ish, gak bisa. Angkat aja sih."
Azzam mendengud kasar, "Halo."
"Eh, bang Azzam. Amaranya ada."
Azzam menatap Amara yang tengah menatapnya dengan cemas. "Ada kenapa?"
"Mana bang?"
"Nih, didepan abang, kenapa?"
"Emm... bisa kasih aja gak hp nya."
"Dia gak mau, dia nyuruh abang yang angkat."
"Lah..."
Amara merebut ponselnya dengan geram, "Gak bisa banget diandali, dasar tua."
Azzam menatap Amara yang berjalan menjauh dengan menghentakkan kaki. "Lah kok malah aku yang dimarahi. Dasar perempuan, sulit dimengerti."
***
"Na, datang ya."ujar Arum sembari memberikan selebaran undangan berwarna cream yang sangat cantik.
"Kamu sudah mau nikah aja Rum yaAllah aku bahagia banget."Zaina memeluk Arum dengan bahagia.
"Hihi, aku juga gak tahu kalau ternyata aku bisa cepet nikah."
Zaina mengangguk dalam pelukan merek, kemudian ia melepaskannya dan membuka undangan itu. "Wah gila, aku gak bisa bayangi semuanya. Cepat banget."
"Yah, mau bagaiman lagi. Kata nya, dia gak bisa nunggu lama-lama, gak ngerti deh."ujar Aum dengan malu.
Zaina terkekeh, kemudian memandangi undangan cantik iu dengan senyum kecilnya. Arum yang seolah mengerti dengan pikiran Zaina tersenyum.
"Na, kalau memang kamu yakin, jawab saja secepatnya. Aku merasa kalu cocok kok sama pak Azzam."
"Bukan itu yang menjadi permasalahan aku."
"Masalalu mu?"
Zaina mengangguk kecil, "Na, aku ngelihat kalau pak Azzam sungguh-sungguh kok. Kalaupun emang dia gak bisa nerima kamu, pasti bakalan ada sesorang yang mau jadi pendamping kamu."
Zaina diam tanpa menjawab pertanyaan Arum. "Jodoh gak akan kemana kok Na. Aku yakin."sambung Arum.
***
"Selamat pagi sayang."
"Pagi mas."
"Masak apa ini?"tanya sang suami sembari mengeratkan pelukannya.
"Masak nasi goreng aja gak apa ya mas. Aku bangun telat."
Sang suami terkekeh, "Karna semalam?"
pipi sang isti memerah, ia menyikut perut suaminya dengan gemas. "Lah, kok malu? Semalam bahkan kamu memekik nama mas dengan keras."
"Mas, stop."desis istrinya dengan geram.
Sang suami tertawa lepas. "Kalau nanti malam kamu kuat gak?"
"AZZAAAAAAAM!"
BYUUUR
Azzam terkejut saat air dingin mnegetani hampir seluruh tubuhnya. Ia melotot kaget saat ibundanya berdiri dengan gayung dan berkacak pinggang.
"Kamu ini, dibanguni gak bangun-bangun. Mana sambil tertawa sendiri. Pergi mandi, kamu gak kekampus hari ini?"ujar Gahnia dengan marah.
Azzam melirik jam diatas nakas, "Astaga terlambat!."
Laki-laki itu berlari melinct menuju kamar mandi, membuat Ghania menggelengkan kepala.
"Anak itu. Mimpi apa dia sambil tertawa seperti itu. Yaampun, belum menikah saja sudah gila. Mampus aku."