"Ma, tante-tante dan om-om yang waktu itu siapa?"
Wanita itu hanya tersenyum sembari mengelus puncak kepala sang anak dengan sayang.
"Kenapa memangnya,? itu teman mama."
Anak itu menggeleng, kmeudian berusaha untuk maik kepangukuan sang ibunda.
"Enggak, Kia cuma kangen papa."
Ya, itu Kia, anak kecil yang bertemu Azzam dan Zaina direstoran. Gadis kecil itu memeluk Nanda.
"Kia kangen papa. Kia mau mau main sama papa, mau jalan-jalan, mau dengerin papa dongein Kia waktu tidur. Terus Kia juga mau tidru bareng mama dan papa."
Nanda terdiam, pandangannya lurus kedepan tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca.
"Kia pernah diejek teman kia waktu main di taman. Kata mereka, Kia gak punya papa. Kan Kia punya papa. Terus Kia lawan mereka, seperti yang mama bilang. Tapi mereka malah ejek Kia. Kia nangis ditaman, mereka malah pergi ninggalin Kia."
Tanpa bisa di tahan, air mata tu meluncur dengan cepat menyentuh kedua pipi mulus Nanda. Bibirnya bergetar menahan isak tangis.
Kia mendongak. "Kok mama nangis? Mama juga kangen papa ya? Sama, Kia juga."
Nanda terisak kecil, ia menatap Kia dengan sayu. Air matanya tidak dapat berhenti. Wajah sang anak yang tengah menatap nya dengan sejuta kerindua pada ayah nya.
"Mama jangan nangis, nanti Kia juga ikut nangsi. Kia sayang mama, jadi jangan tinggalin Kia ya."ujar gadis kecil itu sembari memeluk Nanda dengan erat.
Nanda tidak dapat menjawab, pikiran nya langsung berkelana. Bagaimana jika ia mati, dengan siapa Kia. Ia tidak dapat menjanjikan apapun.
"Mama janji kan sama Kia, buat terus-terus sama Kia? Nanti kalau papa pulang, kita bisa main bareng, jalan-jalan bareng."
Nanda terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk kaku, kemudian kembali mendekap anak nya dengan sayang. Sesekali ia mencium puncak kepala itu.
"Mama juga sayang Kia. Jadi anak yang pemberani ya, buat mama dan papa bangga sama Kia."
Kia mengangguk dalam pelukan Nanda, ia memejamkan mata kemudian tertidur. Nanda menggendong Kia kedalam kamar mereka, membaringkannya dengan perlahan.
"Mama gak bisa janji sama kamu nak, tapi mama akan berusaha untuk selau ada bersama kamu."
Hancur sudah usaha yang ia lakukan selama beberapa tahun ini. Ia selalu memberikan kebahagiaan pada gadis kecil nya.
Tapi ternyata bukan itu yang sang anak inginkan. Ia hanya ingin kedua orang taunya berad disamping nya, memberikan dukungan disetiap langkah nya.
"Mas, kamu gak lihat bagaimana anak kita? Tindakan yang kmau ambil berujung hal fatal pada anak kita."lirih Nanda.
***
"Ada apa lagi sih, kamu."
"Mas, dengarin aku dulu. Aku gak minta banyak waktu sama kamu."
"Apa lagi?"tanya laki-laki itu dengan malas.
"Kamu mau pesan apa?"
"Sudah, cepat katakan saja, jangan banyak basa-basi."
Wanita itu mengehla nafas kasar. "Mas, gak bisa kamu luangkan aktumu untuk bertemu dengan Kia? Dia merindukan mu?"
"Aku sibuk, lagian kita sudah gak ada hubungan apapu."
"Kita memang sudah gak ada hubungan appaun. Tapi kamu masih ada hubungan dengan anak kita."
"Aku sudah berikan kalian uang kan? Kenapa kamu gak bawa di jalan.."
"Sudah mas. Tapi dia gak butuh itu. Dia hanya butuh kamu. Tollong mas. Ini bukan untuk aku. Tapi untuk anak kita."
"Aku gak bisa, istriku juga butuh aku."
"Mas, apa aku harus sujud dulu baru kamu mau? jika iya aku akan lakukan sekarang."
Nanda beranjak dari kursinya kemudian siap bersimpuh, "Hentikan."desis Ramond.
Nanda menatap Ramond dengan mata berkaca-kaca. Laki-laki yang kini menjadi mantan suami nya itu tidak menatap nya. Seolah-olah ia jijik.
"Kembali ketempat dudukmu."
Nanda mengangguk, "Aku tetap gak bisa. Istriku sedang hamil, dia butuh aku."
Nanda menatap Ramond dengan kecewa. Tiba-tiba ia teringat ketika ia tengah mengandung Kia. Laki-laki itu tidak pernah perduli dengan dirinya.
Setiap kali ia butuh bantuan, laki-laki itu menolak dengan kasar dan meninggalkannya.
"Kamu gak mesti datang setiap hari mas, sesekali saja."
"Maaf, aku harus pergi."
"Mas..."
Nanda menatap punggung lebar itu yang kian menjauh. Air matanya kembali tumpah. Ia terduduk dengan lesu. Ia ingin membuat Kia bahagia dengan kehadiran ayahnya walah sesaat. Kini hancur sudah.
"Nanda."
Sang empunya nama menoleh, ia terkejut menatap seseorang dimasa lalunya. "Azzam."
***
"Loh nak, belum dijemput?"
Zaina menoleh, "Belum bi, mungkin masih dijalan."
Mauza mengangguk, "Abi temani ya."
Zaina tersenyum kemudian mengangguk. Mauza duduk disamping Zaina menatap sang anak yang tengah menunduk.
"Abi akan dukung kamu. Apapun keputusan yang kamu ambil."
"Terimakasih bi. Zaina saya abi."kemudian ia mendekap Mauza dengan erat.
"Abi juga sayang kamu."
Keduanya tengah berbincang ringan. Hingga tak sadar, jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Azzam belum kunjung datang.
"Kenapa Azzam belum datang ya. Sebentar abi telfon dulu."
Mauza beranjak mengambil ponselnya yang berada didalam kamar. Kemudian menghubungi Azzam. Hingga panggilan ke 5, laki-laki itu tak kunjung mengangkatnya.
Mauza merasa marah. Ia kecewa pada Azzam yang telah membuat anaknya menunggu begitu lama.
"Nak, kamu masuk saja. Sepertinya Azzam memang tak bisa datang."
"Abi sudah telfon?"
Mauza tediam, "Abi...abi sudah telfon tapi tidak diangkat."
Zaina terdiam sesaat. Akhirnya mengangguk. Berjalan dengan tidak semangat menuju kamarnya. Didalam kamar, ia termenung.
Menatap ponsel nya yang tidak menampilkan pesan dari Azzam. Laki-laki itu membatalkan acara yang bahkan dia sendiri yang membuat dan parahnya tidak memberi tahu dirinya sama sekali.
Zaina membuka aplikasi berwarna hijau, kemudian mengirimkan pesan pada Azzam.
Zaina...
Mas dimana? kenapa gak bilang kalau gak jadi?.
Zaina meletakkan ponselnya diatas nakas, kemudian membuka jilbab dan berganti pakaian. Ia duduk dimeja rias, membersihkan bedak yang sengaja ia poles walau tipis.
Kemudian kembali kedalam kamar mandi untuk mencuci wajah. Setelah nya mengambil ponsel yang bahkan tidak ada balasan apapun dari laki-laki itu.
Hanya conteng dua yang tidak berubah menjadi biru. Zaina menghela nafas. Mencoba berpikir positif.
***
"Abi, Zaina sudah siap."
Mauza dan nazia mngerutkan dahi bingung, "Siap? Mau kemana nak?"
"Ke psikiater, mau kemana lagi?"
"Tapi... kamu masih boleh kok istirahat dengan dokter."
Zaina menggeleng, "Zaina mau cepat sembuh bi."
Mauza dan Nazia saling pandang sebelum akhirnya mnegangguk. Mereka bersiap-siap berganti pakaian sementara Zaina duduk diruang tamu.
Ia kembali membuka aplikasi berwarna hijau itu. Conteng dua yang berubah menjadi biru. Tapi tidak ada balasan apapun dari laki-laki itu.
Zaina mengerutkan dahinya kemudian membuka nya. Disana terdapat kapan terkahir dilihat yang ternyata tadi pagi. Jam tujuh dan tidak ada balasan apapun.
Dada nya terasa sakit. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ia meringis sembari mencengkram nya.
"Astaghfirullah."gumamnya.
Ia mencoba mengambil nafas, mengatur tempo setak jantungnya. Akhirnya kembali walau tidak secepat yang tadi.
Zaina terpaksa mengirim pesan lagi, siapa tahu dibalas. Mungkin saja semalam laki-laki itu kelelahan. Dan lupa membalas nya.
Zaina...
Mas?
"Ayo nak."
Zaina mengangguk, mereka meninggalkan rumah menuju rumah sakit tempat Zaina akan melakukan pemulihan.
Selama perjalanan Mauza tanpa sengaja menatap Zaina melalui kaca kecil diatas mobil. Ia mengerutkan dahi.
Zaina tampak melamun sembari menatap jalanan. Sesekali menatap ponsel dan menghela nafas.
Kerutan dahi Mauza semakin dalam. Akhirnya ia mencoba untuk fokus terlebih dahulu pada jalanan didepannya.
Mobil mereka berhenti disaat lampu merah berwarna merah. Zaina merasa mengenal mobil hitam disamping mobil mereka.
Ia duduk dengan tegap dan menajamkan matanya. Kaca mobil disampingnya sedikit gelap tapi ia masih dapat melihat bayangan.
Zaina terkaku. Wanita, anak kecil dan.... Azzam.
***
"Zaina, untuk kali ini. Tolong dengarkan saya. Jangn paksakan semuanya. Jika saya mnyuruhmu untuk membuka mata, maka lakukan ya."
Zaina mengangguk dengan pandangan kosong. Dokte wanita itu mengintrupsikan Zaina untuk memejamkan mata.
Zaina menurut. Kilasan kejadian tadi kembali terngiang dikepalanya. Kedua matanya memanas. Sedari tadi ia mencoba menahannya. Rasa sesak kembali menghampiri.
"Ceritakan perlahan saja ya. Apa yang membuat kamu takut?"
Bibir Zaina bergetar. "Dia...dia mencoba mengejar saya dengan tertawa lebar."
Dokter itu mengangguk kemudian ia sibuk dengan kertas ditangannya.
"Lalu?"
"Dia, juga membawa botol kaca. Dia berkata bahwa saya harus menjadi milik nya. Jika tidak, maka yang lain tidak akan bisa mendapatkan saya."
Nazia maupun Mauza terkejut. Ia tidak tahu akan hal itu. Keduanya saling menatap dengn cemas. Kemudian kembali menatap Zaina yang tampak sedikit pucat.
"Lalu apakah dia mendapatkanmu?"
"Awalnya tidak, sebelum saya terjatuh menginjak batu."
Nafas Zaina mulai sesak. Dokter wanita itu tersadar, "Buka saja matamu Zaina. Saya mohon dengarkan saya."
Zaina membuka matanya dengan perlahan. Air matanya menetes. Pandangannyalurus kedepan. Matanya memerah.
"Kamu baik-baik saja?"tanya dokter itu.
Zaina mengangguk. "Kenapa kamu menangis? Kamu takut?"
Zaina mengangguk. "Ini minum dulu."ucapnya sembari menyodorkan air putih. "Jika kamu tidak sanggup maka kamu bisa lanjutkan dipertemuan kita selanjutnya."
Zaina mengangguk masih dengan pandangan kosongnya. Nazia, Mauza dan dokter itu saling menatap bingung.