Raka dan Mayang berjalan sambil bergandengan tangan karena jalanan yang licin dan Mayang takut terpeleset. Baju mereka sudah basah kuyub.
"Raka, aku nggak pernah lho ngrasain yang namanya hujan-hujanan," kata Mayang membuka pembicaraan. Dia terlihat sangat senang bisa merasakan guyuran hujan.
"Lalu waktu kamu kecil kamu ngapain aja?" tanya Raka sambil memeluk tubuhnya sendiri karena kedinginan.
"Belajar," jawab Mayang singkat.
"Menyedihkan banget. Masa kecil kurang bahagia," ledek Raka.
Mayang tertunduk lesu, "Bukan cuma pas kecil. Sekarang pun aku nggak bahagia."
Melihat ekspresi Mayang, Raka menjadi merasa bersalah.
"Ma-Maafin aku, Mayang!" Raka merasa menyesal.
"No problem! Don't think about it! (Tidak masalah! Jangan pikirkan tentang ini!)"
Karena kebasahan, kening Mayang yang luka mulai terasa perih. Namun, dia tahan karena ia tidak mau terlihat lemah.
Dua puluh menit kemudian mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Rumah Raka, rumah yang sederhana. Rumah yang kecilnya sepuluh kali lipat dari rumah Mayang.
"Silahkan masuk! Ini adalah gubugku! Jangan dihina ya!" kata Raka sambil membukakan pintu rumahnya untuk Mayang.
"Gubug apa? Rumahmu nyaman," sahut Mayang, "Apa aku boleh menumpang di kamar mandi? Aku mau ganti baju."
"Boleh dong. Masuklah di kamar itu! Itu kamar ibuku. Ada kamar mandi dalamnya kok. Ibuku lagi jenguk adikku di rumah Paman," ucap Raka mempersilahkan Mayang dengan senang hati.
Raka menunjukkan ruangan yang pintunya terbuka. Di sebelahnya ada ruangan lagi dan itu kamar Raka.
"Thank you," kata Mayang.
"You're wellcome," balas Raka.
Mayang membawa tas ranselnya ke dalam kamar yang dimaksud Raka. Untung tasnya waterproof jadi baju-bajunya tidak basah. Sesegera mungkin dia mandi dan mengganti bajunya.
Selepas mandi, Mayang menemui Raka yang termenung di ruang tamu. Raka juga sudah mandi dan berganti baju.
"Maaf. Apa aku boleh minta obat merah buat ngobatin luka aku?" tanya Mayang dengan pelan agar tidak mengagetkan Raka yang sedang melamun.
"Oh ... Iya. Tunggu sebentar!"
Raka mengambilkan kotak P3K untuk Mayang.
Mayang mengambil kapas dan meneteskan obat merah di atasnya. Dia menempelkan kapas itu tepat di lukanya.
"Aoow," keluh Mayang yang sudah meringis menahan sakit.
"Sini aku bantu pasang plesternya!" kata Raka sedangkan Mayang masih memegangi kapas yang menempel di dahinya.
Dengan telaten Raka membantu Mayang.
"Maafin aku ya! Aku udah banyak ngrepotin kamu." Mayang merasa sangat sungkan.
"Nggak masalah," sahut Raka, "Kenapa kaki dan dahimu bisa luka?" tanya Raka sangat penasaran.
"Ini ... ini .... " Mayang menunduk seraya meremas jemari tangannya yang berkeringat.
"Kenapa?" Raka mengulang pertanyaannya.
"Mommy-ku yang mukul aku," jawab Mayang dengan mata berkaca-kaca.
"I-Ibumu?" Raka seolah tidak percaya dengan jawaban Mayang.
Mayang mengangguk.
"Bagaimana bisa? Harusnya dia yang nglindungi kamu kan? Apa dia ibu tirimu?" Raka semakin tertarik dengan kisah hidup Mayang.
"Daddy bilang dia ibu kandungku, tapi entahlah aku merasa dia ibu tiri yang kejam."
"Ckckck ... ada juga ibu kayak gitu ya? Aku pikir cuma di sinetron. Terus siapa laki-laki yang ngejar kamu tadi?"
"Dia pengawal Mommyku."
"Kamu anak orang kaya?"
"Yes, seperti itulah."
"O ... seharusnya kamu bisa hidup enak dengan banyak uang kan?"
"Siapa bilang? Aku justru nggak bahagia. Hanya daddy dan Opa yang sayang sama aku."
"Berapa umurmu? Kayaknya kamu masih abege."
"Enam belas tahun."
"Anak abege. Kamu seusia adikku," kata Raka sambil tersenyum sinis.
"Memang berapa usiamu?" tanya Mayang sembari mengerutkan keningnya dan memajukan bibirnya.
"Dua puluh tiga tahun," jawab Raka singkat.
"Hahaha, tua." Mayang tertawa kemudian mengejek Raka.
"Enak aja. Dasar anak kecil!" Raka membalas ejekkan Mayang.
"Karena kamu lebih tua dari aku jadi aku mau manggil kamu Om Raka aja dech. Hahaha."
"Enak aja. Memang aku om-om?"
"Hahaha. Kalau gitu aku panggil Mas aja ya?"
"Terserah kamu anak orang kaya!" sungut Raka.
"Kenapa Mas Raka tadi melamun? Patah hati ya?"
"Anak kecil mana tahu patah hati?"
"Nggak tahu sich. Aku nggak pernah jatuh cinta. Di otakku hanyalah belajar, belajar dan belajar."
"Sepi banget hidupmu."
"Maka dari itu aku melarikan diri dari Ibuku."
"Hei! Nggak baik anak perempuan lari dari rumah. Gimana kalau kamu ketemu sama orang jahat? Kamu kan cantik anak orang kaya pula."
Mayang merasa tersanjung saat Raka memujinya cantik.
"Terima kasih ya. Mas Raka orang ke seratus juta yang bilang aku cantik." Mayang kegeeran.
"Idiih ... aku bohong tadi. Jangan besar kepala!" Raka menegur Mayang dengan kesal.
"Ah yang benar? Tadi Mas sampai nggak kedip pas pertama lihat wajahku. Ayo ngaku! Ciye ... itu namanya cinta pandangan pertama," goda Mayang.
"Anak kecil! Jangan main cinta-cintaan, Ya!" tegur Raka.
"Mas!" seru Mayang seraya mengelus-elus perutnya.
"Hmm?"
"Aku lapar," keluh Mayang.
"Emang anak orang kaya doyan makan nasi?" tanya Raka sambil menaik-naikkan alisnya.
"Nggak! Aku makan bunga," jawab Mayang dengan kesal.
"Hahaha, situ orang apa kuntilanak?"
"Wewe gombel."
"Mana ada wewe gombel bule begini? Kamu keturunan orang mana?"
"Orang gila, Mas."
"Serius aku."
"Omaku orang Inggris, namanya Evelyn Caroline Smith," jawab Mayang. "Mas, aku benar-benar lapar." Mayang merengek saat Raka tak juga mengajaknya makan, tapi malah sibuk mengintrogasinya.
"Tapi di sini nggak ada bunga, Ya."
"Aku mau makan apa aja, Mas."
"Makanan orang kaya beda dengan makanan orang pribumi kayak aku."
"Terserah, Mas. Apapun aku makan kok."
"Ibuku masak ayam goreng sambal petai. Apa kamu mau?"
"Petai? Apa itu petai?"
Kening Mayang sudah berkerut-kerut, dia merasa asing dengan nama makanan yang disebutkan Raka.
"Kamu nggak tahu petai?"
Mayang menggeleng.
"Ayo ikut aku!" Raka menggandeng Mayang agar ikut ke meja makan.
Raka membuka tudung saji. Mayang melihat ayam goreng di atas piring dan di sampingnya ada sambal dengan biji-biji bulat berwarna hijau berhambur di dalam satu mangkuk.
"Mas, ini apa yang hijau-hijau?" Mayang bertanya sambil mengaduk-aduk sambal itu dengan sendok.
"Ini yang namanya petai, Yang."
"Ciye.. Yang. Belum-belum udah sayang aja. Baru beberapa jam doang." Mayang menggoda Raka.
"Idiih ... ngarep banget. Aku nggak akan manggil kamu dengan penggalan kata yang ada di belakang nama kamu lagi mulai sekarang. Biar nggak am-bi-gu."
"Hahaha, ambigu segala dibawa-bawa." Mayang terkekeh geli.
"Ayo makan!" perintah Raka.
Raka mengambilkan nasi juga ayam plus sambal dengan banyak petai untuk Mayang.
Mayang telihat ragu-ragu saat akan memakannya.
"Mas, ini bukan racun kan?" tanya Mayang memastikan.
"Kalau ini racun ... kita bakalan mati bareng," jawab Raka sambil memasukkan sebutir petai dalam mulutnya.
Raka makan menggunakan tangan, tapi dia sudah mencuci tangannya terlebih dahulu. Dia benar-benar lahap memakan makanan itu hingga Mayang malah sibuk memperhatikannya.
"Ayo makan! Pakai tangan! Dasar anak orang kaya. Anak kecil." Raka menghujani Mayang dengan ejekan.
Mayang mencuci tangannya di wastafel kemudian kembali duduk di sebelah Raka. Dia mengamati Raka yang makan dengan sangat santai dan terlihat mengasyikan.
Perlahan-lahan Mayang meletakkan tangannya di atas nasi yang ada di hadapannya. Dia mencuil paha ayam lalu ia cocolkan ke sambal dan menjadikannya satu dengan nasi yang masih panas. Mayang terlihat kesusahan menggunakan tangan telanjang untuk makan. Ini pengalaman pertama juga untuknya.
Mayang memasukkan nasi ke dalam mulut meski tidak semuanya berhasil dia makan karena banyak nasi yang luput dari cengkraman tangannya.
Raka menahan geli melihat cara anak abege ini makan dengan kesusahan.
"Kenapa petainya nggak dimakan?" tegur Raka.
"Mas, ini nggak racun kan?" tanya Mayang lagi di sela aksinya mengunyah.
"Coba lihat! Gue baik-baik aja kan?" Raka balik bertanya.
Raka mengambil sebuah petai yang ada di atas piring Mayang.
"Ayo aaak!" Raka memerintah seperti hendak menyuapi anaknya.
Mayang memundurkan wajahnya dan menutup mulut dengan rapat. Dia memicingkan mata seolah takut Raka akan menyuapinya dengan sianida.
"Mayang, pilih buka mulutmu atau aku kembalikan kamu ke pengawal mamamu yang garang?" Raka memberi pilihan saat Mayang tidak juga mau membuka mulutnya.
"Iya-iya, oke." Mayang mengikuti perintah Raka untuk membuka mulut.
"Anak pintar." Raka memasukkan petai itu ke dalam mulut Mayang.
Mayang tidak langsung mengunyah makanan asing itu. Petai itu justru berlari-lari ke sana kemari dalam mulutnya.
"Anak kecil, ayo dikunyah!" Raka memerintah.
Mayang mulai menggigit buah hijau itu. Dan..
"Wuek."
Mayang berlari dan memuntahkan petai itu ke wastafel.
"Hahahahaha." Raka terpingkal dengan reaksi Mayang.
"Kenapa rasanya begini sich? Perasaan bau banget di mulut aku."
Mayang menjulurkan lidah berusaha untuk membuang rasa aneh di mulutnya.
"Mas Raka ngerjain aku ya?"
"Siapa yang ngerjain? Hahaha."
"Sumpah ini nggak enak banget rasanya, Mas." Mayang mengelap lidahnya dengan jari-jari tangan.
"Ini diminumin air putih dulu!"
Raka menuangkan air putih di dalam gelas dan memberikannya pada Mayang. Dengan cepat Mayang meraih gelas itu dan meneguk airnya hingga habis, dia berharap setelah minum rasa aneh dan baunya bisa hilang.
"Mas, kok masih bau sich?" Mayang merasakan tidak ada yang berubah setelah minum air.
"Hahaha, memang nggak ngaruh." Raka hanya mengerjai Mayang.
Mayang memukul-mukul bahu Raka dengan kesal.
"Kalau nggak ngaruh kenapa kamu nyuruh aku minum Bambang? Aaarrrrggggggghh ... ngeselin banget ini orang." Mayang protes.
"Makanya aku bilang tadi, makanan orang kaya itu nggak sama kayak makanan orang pribumi."
"Eh, kenapa kesannya benci banget sama anak orang kaya sich, Mas?"
"Karena anak orang kaya itu manja kayak kamu."
"Aku enggak manja, Mas."
"Coba cuci piring bisa nggak?"
"Hah? Cuci piring?"
"Nggak bisa pasti ya?? Ngaku lu!" Raka meledek Mayang.
"Gue bisa Bambang." Mayang sewot, "Tapi kasih aku makan dulu sama makanan yang biasa manusia normal makan. Aku masih lapar."
"Aje gile! Emang kamu pikir aku bukan manusia normal? Ckckck ... ada aja yang diomongin anak abege jaman sekarang."
"Maaf kalau meyinggung ya, Om. Bukan maksud begitu juga. Hahahaha."
Anak ini udah cantik, lucu juga. Aku juga jadi lupa kalau lagi patah hati. Batin Raka.
"Iya, nanti aku beliin nasi goreng di seberang jalan dech," kata Raka.
"Asyiik ... nasi goreng seafood ya, Mas." Mayang meminta dengan mudahnya. Meski baru kenal mereka sudah sangat akrab.
"Mahal!" sahut Raka nyolot.
"Wait!" pinta Mayang sambil mengangkat kedua telapak tangannya memberi kode Raka untuk menunggu.
Mayang melenggang pergi dan mengambil dompet dari dalam tasnya.
Ngapain lagi itu anak? Raka.
Mayang sudah kembali dan berdiri di dekat Raka.
"Ini, Mas. Pakai kartu atm," kata Mayang sambil menyodorkan sebuah kartu pada Raka.
"Buat apaan?" tanya Raka kebingungan.
"Buat beli nasi goreng lah," jawab Mayang santai kayak di pantai.
"Memang kamu pikir warung nasi goreng Pak Basri bisa dibayar pakai beginian? Aduh Sri ... Sri ... mau digesekkin dimana ini kartu? Ckckck ... memang konslet ini anak, beli nasgor di warung seberang jalan pakai kartu atm. Uwooo, pingin salto gulung-gulung di tanah gue maah." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak habis pikir.
"Ya mana aku tahu Bambang? Ngegas mulu dari tadi. Gue tampol lu." Mayang melengos kesal.
"Berani nampol gue lu anak kecil?" Raka memeloti Mayang.
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman!" sahut Mayang menirukan kalimat ajaib di sebuah kartun india.
"Yach ... tontonanmu aja Siva," cela Raka.
"Betul-betul-betul," oceh Mayang masih menirukan gaya bicara kartun anak-anak.
"Lhah. Gantian Upin Ipin dibawa-bawa."
"Mama-mama." Mayang menirukan Shincan.
"Eh, diem nggak lu, Sri! Segala macam kartun lu bawa ke rumah gue," omel Raka.
"Nggak usah ngegas, Bambang! Biasa aje nape?"
Sedang asyik berdebat tiba-tiba ...
"Tok-tok-tok." Suara ketukkan pintu membuat perdebatan Mayang dan Raka terhenti.
"Mas, ada siapa itu?" tanya Mayang dengan takut-takut. Takut kalau pengawal Mommy-nya yang datang.
"Aku buka dulu biar tahu siapa yang datang," jawab Raka.
Raka beranjak dan membukakan pintu untuk tamu yang malam-malam datang tidak tahu sopan santun.
Seorang wanita usianya sepantaran dengan Raka berdiri tepat di depan pintu.
"Mau apalagi lu?" tanya Raka ketus.
Dia adalah Fenna, kekasih yang beberapa jam lalu sudah dia putuskan.
"Sayang, maafin aku! Aku khilaf," kata Fenna yang berlinangan air mata. Dia berusaha memegang tangan Raka, tapi ditepis Raka dengan kasar.
"Gue udah jijik sama lu. Selama kita berpacaran gue nggak pernah nyentuh lu apalagi nyium lu, itu karena gue menghargai lu sebagai perempuan, eh ternyata di belakang gue, lu main nyosor sama laki-laki lain! Gatel amat lu jadi cewek," hardik Raka habis-habisan.
Mayang mendengar pertengkaran itu. Namun, dia hanya diam dan berdiri di dekat meja makan.
Pacarnya Mas Raka ya? Tanya Mayang dalam hati.
"Maafin aku, Raka! Aku nyesel banget." Fenna masih terus berusaha memohon pengampunan Raka.
"Pergi sana!" Raka mengusir Fenna, tapi Fenna berontak. Dia membuka pintu rumah Raka yang tadi hanya terbuka separuh menjadi melebar. Saat itu juga dia melihat Mayang yang berjalan hendak masuk ke kamar ibunya Raka.
"Siapa dia, Yang?" tanya Fenna dengan marah.
Mayang tertegun seolah baru saja ketahuan menguntit barang di minimarket.
Mayang bengong.
Bingung juga.
Takut sich tidak.
Padahal Fenna menatapnya dengan tajam seolah ingin mencabik-cabik tubuhnya.
Fenna nyelonong masuk dan menghampiri Mayang. Raka berusaha menarik lengan Fenna agar berhenti, tapi ternyata lusut dan Fenna bisa lolos begitu saja.
"Siapa kamu?" tanya Fenna dengan galak. Dia meletakkan kedua tangannya di pinggang.
"Aku?" Mayang menunjuk ke dirinya sendiri, "Mayang," jawabnya.
"Kamu siapanya Raka? Selingkuhannya ya?" tanya Fenna dengan nada menuduh.
"Eee ... sembarangan. Mana mau aku jadi selingkuhan om-om kayak mas Raka?" sahut Mayang berusaha sesantai mungkin menghadapi Fenna.
Dasar usil. Anak kecil ini bilang aku om-om lagi. Omel Raka.