Bab 1
“Kamu pulang malam lagi?”
Suara Amara terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tertahan di sana. Ia berdiri di dekat dapur, sambil memegang gelas yang berisi air minum. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Penthouse itu terlalu sunyi untuk ukuran pasangan suami istri.
Dion meletakkan kunci mobil di meja. Jas kerjanya disampirkan asal di kursi. “Tadi ada rapat mendadak.”
Amara mengangguk kecil. “Aku tadi masak, untuk makan malam kita..”
Dion menoleh. “Aku udah sering bilang jangan masak, kalo aku balik malam."
“Aku tahu.” Amara melangkah ke meja makan, menarik kursi. “Tapi aku mau.”
Dion duduk berhadapan dengannya. Sup di mangkuk sudah hangat, tapi tak satu pun dari mereka langsung menyentuh sendok. Ada jeda yang terlalu akrab bagi mereka berdua. Jeda yang sering muncul akhir-akhir ini.
“Kafenya gimana?” tanya Dion akhirnya.
“Lumayan. Hari ini rame.”
“Syukurlah.”
Amara mengaduk supnya pelan. “Kamu ke kantor besok pagi?”
“Iya.”
“Weekend ini juga?”
Dion menghela napas. “Amara.”
Nada itu. Nada yang membuat Amara langsung paham bahwa percakapan ini seharusnya berhenti.
“Aku cuma nanya,” ucap Amara cepat. “Aku pengin tahu jadwal kamu.”
“Aku lagi kejar target,” jawab Dion. “Kamu tahu sendiri, belakangan ini kerjaan banyak.”
Amara tersenyum kecil, lebih mirip refleks. “Iya. Aku tahu.”
Ia diam beberapa detik sebelum akhirnya berkata, “Kita sudah menikah lima tahun, Dion.”
Dion mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.
“Aku ingat, Mara. Tiga bulan lalu, kita baru merayakan anniversary kita." katanya.
“Kadang aku ngerasa, kita cuma hidup berdampingan.” Amara memainkan ujung sendoknya. “Bukan benar-benar bersama.”
Dion mengusap kening. “Kamu capek? Aneh banget ngomongnya."
“Capek ngerasa sendirian.”
Dion terdiam. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menatap lampu kota dari lantai apartemen mereka. “Aku bukan sengaja gak ada waktu buat kamu, tapi aku emang sibuk."
“Tapi emang gak ada waktu, kan?"
Dion berbalik. “Aku kerja buat kita.”
“Untuk keluarga kamu,” potong Amara pelan.
Kalimat itu jatuh di antara mereka. Dion tahu, Amara tidak sedang menyalahkan. Ia hanya jujur.
“Amara, bicaranya jangan kemana-mana," kata Dion. “Aku capek.”
“Aku juga,” jawab Amara lirih. “Setiap datang ke rumah orang tua kamu, aku selalu ngerasa salah. Salah karena belum hamil. Salah karena latar belakangku. Salah karena aku bukan siapa-siapa.”
Dion melangkah mendekat. “Jangan ngomong gitu.”
“Tapi itu yang mereka lihat.” Mata Amara mulai berkaca. “Gadis panti yang nggak bisa kasih penerus.”
Dion memeluknya. “Aku nggak pernah mikir kamu kayak gitu.”
“Tapi kamu juga nggak pernah bilang ke mereka.”
Dion mengusap lembut punggung Amara. “Aku nggak mau nambah tekanan kamu.”
“Apa kamu pikir diam itu nggak menyakiti?”
Sunyi kembali mengisi ruang makan.
Amara menarik napas panjang. “Aku cuma pengin kamu ada. Dengerin aku. Pegang aku. Bukan cuma pulang bawa badan.”
Dion menatapnya lama. “Aku sayang kamu.”
“Aku tahu.” Amara berdiri. “Tapi kadang cinta doang nggak cukup.”
Ia berjalan menuju kamar. Dion tidak menahannya.
Di dalam kamar, Amara duduk di tepi ranjang. Ia membuka ponsel, melihat kalender haid yang kembali mundur. Tangannya gemetar sebentar sebelum akhirnya ia mengunci layar.
Di ruang tamu, Dion berdiri sendiri. Ponselnya bergetar di meja.
Nama yang muncul membuat bahunya langsung menegang.
Mama.
Dion mengangkat panggilan itu.
“Kamu di mana?” suara di seberang terdengar tegas.
“Di rumah.”
“Kapan kalian mau main ke rumah mama?”
Dion menghela napas. “Kami sibuk.”
“Kamu terus bilang sibuk.” Nada ibunya mengeras. “Kamu ingat umur kamu berapa? Papa kamu nanya terus soal cucu.”
Dion memejamkan mata. “Ma, jangan mulai lagi.”
“Bukan mama yang mulai. Ini tanggung jawab kamu.” Suara itu sedikit diturunkan. “Kalau Amara belum bisa hamil, kamu harus pikirkan masa depan kamu.”
Dion mengepalkan tangan. “Aku nggak akan nikah lagi.”
“Kamu terlalu lunak.”
“Dia istri aku.”
“Hanya karena cinta, kamu mau korbankan garis keluarga?”
Dion membuka mata. Rahangnya mengeras. “Cukup.”
“Pikirkan baik-baik,” lanjut ibunya. “Jangan sampai kamu menyesal.”
Panggilan ditutup sepihak.
Dion berdiri kaku. Dadanya terasa berat. Ia menoleh ke arah pintu kamar, tempat Amara berada di balik dinding itu, tidak tahu apa yang baru saja ia dengar.
Dion menekan layar ponsel hingga mati.
Dion berdiri cukup lama di ruang tamu setelah panggilan itu berakhir. Tangannya masih menggenggam ponsel, seolah benda itu akan berbunyi lagi dan memaksanya mendengar kalimat yang sama untuk kesekian kali.
Ia melangkah ke dapur, membuka kulkas, lalu menutupnya kembali tanpa mengambil apa pun. Matanya tertumbuk pada dua mangkuk sup di meja makan. Sup Amara belum tersentuh sama sekali.
Dion menarik kursi, duduk, lalu menyendok sedikit supnya. Rasanya hambar. Atau mungkin lidahnya saja yang mati rasa.
Ia berdiri lagi dan berjalan menuju kamar.
Pintu kamar tidak terkunci. Dion mendorongnya pelan.
Amara duduk bersandar di kepala ranjang, lututnya ditarik ke d**a. Ia tidak terkejut saat melihat Dion masuk. Seolah sudah menduga.
“Kamu belum tidur,” kata Dion.
“Belum.”
Dion mendekat, duduk di sisi ranjang dengan jarak aman. Terlalu aman.
“Aku dapat telepon dari Mama,” ucapnya.
Amara menegang. Ia tidak menoleh, tapi napasnya berubah. “Ngapain telpon malam-malam?”
Dion ragu sejenak. “Cuma nanya, kapan bisa main ke rumah mama.”
Amara tertawa kecil. "Paling cuma mau tanya, kapan aku bisa hamil."
Dion menoleh. “Amara, kamu tidur aja. Kayaknya kamu lebih capek dari aku, hari ini."
“Iya! Aku capek dengarnya, tapi lebih capek lagi ngerasainnya.”
Dion mengangguk. “Aku minta maaf.”
Amara akhirnya menatapnya. “Untuk apa?”
“Untuk banyak hal.”
“Maaf itu nggak bikin aku hamil, Dion.”
Kalimat itu keluar tanpa nada tinggi, tanpa emosi meledak. Justru itu yang membuat Dion terpukul.
“Aku nggak pernah nyalahin kamu,” katanya cepat.
“Tapi mereka iya.” Amara mengusap wajahnya. “Dan kamu diam.”
“Aku bingung harus gimana, Mar? Mereka orang tua aku, wajar kan mereka berharap punya cucu."
“Aku juga bingung,” balas Amara. “Setiap bulan aku berharap. Setiap bulan aku kecewa. Tapi aku nggak pernah berani cerita ke kamu karena kamu kelihatan lebih capek.”
Dion menunduk. “Aku cuma nggak mau kamu makin tertekan.”
“Padahal aku sudah tertekan, Dion.”
Dion memejamkan mata. “Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi kamu masih aja diem di depan mama kamu, gak ada niat buat jelasin keadaan aku. Dan kamu cuma sibuk terus sama kerjaan kamu..”
“Maafin aku." Dion mengaku lirih.
Pengakuan itu menggantung di udara.
Amara menghela napas panjang. “Aku cuma pengin kamu jujur. Kalau kamu kecewa sama aku, bilang.”
“Aku nggak kecewa sama kamu.”
“Terus kenapa belakangan ini, kamu kayak ngehindar dari aku?”
Dion terdiam. Tangannya mengepal di atas sprei.
“Aku enggak ngehindarin kamu, Amara!" Sahut Dion sedikit merasa kesal, karena Amara sedari tadi seperti terus mencari keributan.
Amara menatap Dion lebih lama dari sebelumnya. “Kamu pernah kepikiran untuk menikah lagi?”
Pertanyaan itu membuat Dion langsung mengangkat kepala. “Nggak.”
“Bohong.”
“Aku bersumpah, nggak.”
“Terus kenapa keluarga kamu terus ngomongin itu?”
“Karena mereka nggak hidup sama kamu,” jawab Dion cepat. “Mereka nggak tahu kamu seperti apa.”
“Terus kamu?”
“Aku tahu.” Dion mendekat sedikit. “Dan aku pilih kamu.”
Amara tersenyum tipis, tapi matanya basah. “Kalau kamu benar-benar pilih aku, kenapa aku ngerasa sendirian?”
Dion menghela napasnya sejenak. "Aku janji akan luangkan waktu buat kamu."
"Aku gak perlu janji, aku perlu bukti."
Amara bangkit dari tempat tidur. “Aku mau ke kamar mandi.”
Dion mengangguk. Ia berdiri, lalu keluar kamar. Kali ini pintu kamar ditutup pelan dari dalam.
Dion kembali ke ruang tamu. Ia duduk di sofa, menatap layar ponsel yang gelap. Jarinya bergerak tanpa sadar, membuka galeri lama. Foto-foto mereka saat awal menikah. Senyum Amara waktu itu masih penuh, belum ada lelah di matanya.
Ponsel itu kembali bergetar.
Nomor tak dikenal.
Dion mengernyit, lalu mengangkatnya.
“Halo?”
“Ini Bapak Dion Kaivan, wali pasien atas nama Amara Putri Lestari?”
“Iya, saya sendiri.”
“Saya dari pihak rumah sakit.” Suara perempuan di seberang terdengar profesional. “Kami ingin mengonfirmasi jadwal kontrol Ibu Amara Putri Lestari. Apakah besok pagi pukul sembilan bisa? Kami sudah menghubungi ponsel nyonya Amara, tapi tidak bisa terhubung."
Dion menegang. “Kontrol apa?”
“Kontrol rutin hasil pemeriksaan sebelumnya, Pak.”
Dion berdiri. “Pemeriksaan apa?”
Di seberang sana terdengar suara kertas dibuka. “Pemeriksaan fertilitas, Pak.”
Dion memejamkan mata.
“Pak Dion?” suara itu memanggil lagi.
“Iya,” jawab Dion pelan. “Bisa, besok saya yanga antar.”
Panggilan ditutup.
Dion berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya melangkah ke arah kamar mandi. Ia mengetuk pintu.
“Mar.”
Tidak ada jawaban.
“Amara.”
Suara air berhenti. Pintu dibuka sedikit. Wajah Amara terlihat pucat.
“Ada apa?”
Dion menatapnya, ragu antara ingin jujur atau kembali diam.
“Kamu ke rumah sakit kapan terakhir kali?” tanya Dion.
Amara terdiam. “Kenapa tanya itu?”
“Jawab aku.”
Amara menunduk. “Beberapa minggu lalu.”
“Kenapa kamu nggak bilang?”
“Aku mau bilang,” jawab Amara lirih. “Tapi kamu selalu sibuk.”
Dion menelan ludah. “Besok kamu kontrol lagi? Pihak rumah sakit hubungin aku, katanya ponsel kamu enggak bisa dihubungi."
Amara mengangguk pelan. "Ponselku low batterainya."
“Memangnya pemeriksaan sebelumnya, hasilnya apa?"
Amara mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Dion. Ada ketakutan dan harapan bercampur di sana.
“Kalau aku bilang hasilnya nggak baik,” ucap Amara pelan, “kamu masih mau tetap sama aku, Dion?”