Angin malam menyusup tanpa permisi, membawa dingin yang menggigit hingga ke tulang.
Di atas kasur busa yang menipis, yang tak lagi memberi rasa aman. Lea terbangun dengan tubuh menggigil. Hawa itu merambat pelan, menyentuh kulitnya seperti sesuatu yang berniat menguliti kesadarannya sedikit demi sedikit.
Ia menarik selimut lebih erat, namun sia-sia.
Ada sesuatu yang lain. Bukan hanya dingin.
Dari arah ruang tamu, terdengar suara samar. Bukan suara tawa. Bukan pula percakapan yang bisa dikenali. Hanya napas terputus-putus, berat, seakan ditahan lalu dilepaskan kembali dengan susah payah. Suara yang tak seharusnya hadir di tengah malam sunyi.
“Suara apa itu…?” gumam Lea lirih, nyaris hanya bergerak di dalam kepalanya sendiri.
Hatinya berdebar tidak teratur. Ada dorongan untuk tetap diam, berpura-pura tidak mendengar apa pun. Namun rasa penasaran atau mungkin firasat memaksanya bangkit. Dengan langkah pelan, ia meninggalkan kamar, telapak kakinya bersentuhan dengan lantai dingin yang membuat tubuhnya kian menegang.
Suara semakin terdengar jelas, kala kakinya terarah menuju ke ruang tengah.
"Ouugghh.. terus sayang lebih dalam.. eeehhmm .. Aaahh... nikmat punyamu.."
Suara itu—tak salah lagi—adalah suara ibunya.
Melinda.
Pandangan Lea membeku...
Di atas sofa ruang tengah, seorang pria bertubuh kekar, kulitnya dipenuhi tato, tengah merengkuh ibunya tanpa sekat malu. Tubuh mereka saling melekat dalam gerak yang tak perlu dijelaskan untuk dipahami. Malam dingin itu menjadi saksi, begitu terang-terangan, seolah rumah ini bukan lagi tempat berlindung, melainkan panggung bagi hasrat yang dibiarkan lepas kendali.
Desahan terlepas dari bibir Melinda—berantakan, kehilangan bentuk. Matanya terpejam, napasnya memburu, sementara jemarinya mencengkeram ujung sofa erat-erat, seakan di sanalah seluruh kesadarannya bertahan. Tidak ada ragu. Tidak ada penyesalan.
"Kau menyukainya… sebut namaku, sayang,” Dengan begitu liar miliknya menghujam bagian inti Melinda. Ritmenya cepat, nyaris tergesa, seolah mereka sedang berlomba melawan waktu atau mungkin melarikan diri darinya.
Jantung Lea berdegup tak karuan. Dunia seolah menyempit menjadi detik itu saja.
“Cepat, Anton… aku tak sanggup lagi,” ucap Melinda terengah, napasnya terputus-putus oleh gelora yang kian sulit ia kendalikan.
Pria itu geraknya kasar dan terburu, seperti pengakuan sunyi atas hasrat yang ingin ia buktikan pada Melinda.
"Aaahhh... "
Desahan itu perlahan mereda, menutup pergulatan yang barusan terjadi. Napas Melinda kembali tersusun, satu tarikan demi satu, seakan malam menelan semuanya tanpa sisa.
"“Kau tak berubah,” ucapnya pelan, nada suaranya penuh kepemilikan. Bibir Melinda direngkuh tanpa jeda, ciuman yang menutup segalanya dengan rasa yang menyisakan jejak.
“Sudah,” ucap Melinda pelan, berusaha menata napasnya. “Hentikan dulu… nanti putriku terbangun.”
Ia menarik jarak, suaranya merendah namun tegas. “Sebaiknya kau pulang sekarang. Aku tak ingin Lea melihatku dalam keadaan seperti ini.”
Lea mundur perlahan dari tempatnya berdiri, seolah setiap langkah menjauhkannya dari sesuatu yang tak sanggup ia terima. Ia tak pernah menyangka, tak pernah membayangkan ibunya akan melakukan hal seperti itu, di rumah ini.
Di ruang yang seharusnya menyimpan kenangan, bukan pengkhianatan.
Ia berbalik dan bergegas menuju kamarnya. Pintu ditutup pelan, namun rasa sesak itu terlanjur pecah. Lea menangis tanpa suara, tanpa sisa tenaga, membiarkan air mata mengalir sepuasnya, meluapkan beban yang tiba-tiba menindih dadanya.
“Ibu…” bisiknya lirih, suaranya retak.
“Apakah Ibu sudah melupakan Ayah? Mengapa Ibu melakukan semua itu… di rumah ini?”
Pagi datang dengan cahaya yang pucat.
Lea terjaga dalam tubuh yang masih menyimpan sisa malam. Mata sembap, d**a berat, dan hati yang belum menemukan bentuknya kembali. Tangis semalam tak benar-benar pergi, ia hanya berdiam, menunggu kesempatan untuk pecah lagi.
Perlahan Lea menarik tasnya, menyampirkannya di bahu, lalu meraih jaket hoodie yang tergeletak di atas kursi. Ia melangkah keluar dari kamar menuju ruang tengah. Langkahnya terhenti sejenak saat matanya menyapu setiap sudut ruangan itu rapi, nyaris steril, tak menyisakan jejak apa pun. Segalanya tampak begitu bersih, begitu tertata, seolah malam kelam yang sempat terjadi tak pernah ada.
Kenyataan itu terasa ironis. Sangat berbanding terbalik dengan kekacauan semalam yang masih berbekas jelas di dadanya. Lea hanya mampu menarik sudut bibirnya, tersenyum simpul, senyum yang tak pernah benar-benar sampai ke matanya.
Tanpa menunda lagi, ia melangkah menuju ruang tamu. Namun langkahnya terhenti begitu saja. Di sana, ibunya telah duduk dengan anggun, wajahnya tenang, seolah tak tersentuh apa pun. Secangkir kopi mengepulkan asap tipis di atas meja, sementara sebatang rokok menyala di sela jemari, asapnya melayang malas di udara.
“Kau mau pergi?” suara Melinda memecah keheningan pagi itu, tajam seperti bilah yang sengaja digesekkan pada sunyi.
“Ya.”
Jawaban itu keluar singkat dari bibir Lea, dingin, datar. Ia tak menoleh. Tak ada senyum. Bahkan tak ada usaha untuk menyamarkan jarak yang menganga di antara mereka.
Melinda mengernyit. Raut kesal mengeras di wajahnya. “Tatap ibumu saat menjawab,” ucapnya dengan nada menekan. “Apa kau tidak tahu etika berbicara dengan ibumu sendiri?”
Lea tetap berdiri membelakangi. Bahunya tegak, namun ada sesuatu yang rapuh bergetar di balik sikap tenangnya.
“Etika?” ulang Lea pelan, suaranya nyaris datar, seolah kata itu asing di lidahnya. “Etika seperti apa yang Ibu mau dariku?”
Ia terdiam sejenak. d**a Lea naik turun, napasnya tertahan di tenggorokan, bukan karena ragu, melainkan karena luka lama yang kembali menganga.
“Bahkan Ibu sendiri,” lanjutnya akhirnya, dingin dan terukur, “Tidak pernah menunjukkan etika di rumah ini.”
Kalimat itu melayang di udara, berat dan tak bisa ditarik kembali. Keheningan pun menegang, seolah dinding-dinding rumah ikut menyaksikan retakan yang selama ini disembunyikan.
Melinda menatap Lea dengan sorot tajam yang tak berusaha disamarkan. Ia beranjak dari kursinya, gerakan tubuhnya tenang namun sarat ancaman. Rokok di sela jarinya dihisap dalam-dalam, lalu dihembuskan perlahan, asapnya menggantung di udara seperti tirai tipis yang menyesakkan.
“Apa maksud ucapanmu?” tanyanya dingin, suaranya mengeras. “Etika apa yang kau harapkan dariku?”
Sudut bibirnya terangkat tipis, bukan senyum, lebih mirip peringatan.
“Di rumah ini,” lanjutnya, “akulah aturannya.”
Lea menoleh. Untuk pertama kalinya, ia menatap Melinda. Senyum simpul terbit di wajahnya pucat, pahit, nyaris tak layak disebut senyum.
“Aku melihat,” ucapnya lirih. Suaranya rendah, namun cukup jelas untuk mengusik pendengaran Melinda.
“Aku melihat semuanya.”
Tangannya terangkat, jari telunjuknya menunjuk ke arah sofa di ruang tengah.
“Aku melihat Ibu… di sofa itu.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas pendek. Tatapannya tak goyah sedikit pun.
“Dan aku juga mendengarnya,” lanjut Lea. “Desahan Ibu tadi malam.”
Nada suaranya dingin, menusuk.
“Suara yang… menjijikkan.”
Asap rokok Melinda terhenti di paru-parunya. Untuk sesaat, ruang itu membeku dipenuhi bau tembakau, kata-kata yang tak bisa ditarik kembali, dan kebenaran yang akhirnya diucapkan tanpa belas kasihan.
Wajah Melinda menegang. Sepersekian detik, hanya sesaat ada kilat sesuatu di matanya. Bukan rasa bersalah. Melainkan kalkulasi. Ia kembali menghisap rokoknya, kali ini lebih lama, lalu tertawa kecil, pelan namun tajam.
“Kau benar-benar tidak tahu diri,” katanya sambil menghembuskan asap tepat ke arah Lea. “Berani-beraninya kau menuduh ibumu dengan khayalan kotor seperti itu.”
Ia melangkah mendekat. Sepatunya berdetak pelan di lantai, setiap langkah terasa seperti tekanan yang disengaja.
“Apa yang kau lihat? Apa yang kau dengar?” Melinda menggeleng pelan. “Anak sepertimu mudah sekali salah paham. Terlalu banyak berkhayal. Terlalu cepat menilai.”
Lea tak mundur. Tapi rahangnya mengeras.
“Kau lupa satu hal,” lanjut Melinda, nadanya kini lebih rendah, lebih licin. “Rumah ini milikku. Hidupmu.. sejauh ini.. juga karena aku.”
Ia menyipitkan mata. “Kalau ada suara, kalau ada sesuatu yang tidak kau mengerti, itu bukan urusanmu. Kau tidak punya hak untuk menghakimi.”
Ia berhenti tepat di depan Lea. Terlalu dekat.
"Dan satu hal lagi, Jika kau terus membawa cerita menjijikkan itu ke luar rumah ini, orang-orang tidak akan melihatku sebagai ibu yang salah.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Mereka akan melihatmu sebagai anak yang bermasalah.”
Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat dari sebelumnya.
Lea berdiri di sana, menelan kenyataan pahit: Melinda tidak menyangkal untuk membersihkan diri. Ia menyangkal untuk menguasai.
Melinda tersenyum, lalu menepuk bahu Lea sekali—ringan, hampir lembut.
“Jangan membuatku malu,” katanya pelan.
Ia pergi begitu saja, seolah percakapan itu tak pernah berarti apa pun.
Namun sentuhan singkat itu justru membuat Lea membeku.
Karena saat pintu tertutup,
Lea tahu satu hal pasti:
ibu yang sama sekali tak merasa bersalah
adalah orang yang paling tahu cara menyakiti.