Hujan pertama yang saya rasakan saat berada di Pare
Hujan pertama yang dinikmati di malam hari yang dingin, mendinginkan.
Hujan pula terjadi pada mata yang sudah lama tak mengeluarkan rintiknya. Rindu itu akhirnya hadir dalam sisipan pelu dan seru yang selalu datang bersisian. Rindu pada rumah yang akhir-akhir ini menjadi diam yang senyap dan penuh kesakitan. Rindu pada dua tawa yang selalu menemani hari-hari pahit yang terjadi pada akhir-akhir ini.
Ayah, di kejauhan jarak kita, Uya rindu pada nasihat-nasihat logis yang selama ini Ayah berikan. Uya juga rindu pada pelukan Ayah yang menenangkan, apalagi pada suara hangat yang selama ini Ayah hadiahkan untuk Uya. Maaf, karena Uya sudah mengecewakan Ayah. Bahkan, hingga sampai sekarangpun Uya tidak menemukan cara bagaimana menyembuhkan kecewa itu.
Ibu, terima kasih masih tetap menerima Uya dengan semua salah yang Uya lakukan selama hidup. Terima kasih sudah tetap mau berbicara dengan Uya, meskipun isi dunia berhenti mengeluarkan kata-katanya untuk Uya. Berhenti setelah kalimat-kalimat tajam yang menusuk hati itu membuat rusak mental yang dengan susah payah Ibu dan Ayah bangun untuk Uya. Maaf, sebagai anak, Uya sudah amat membuat Ibu dan Ayah kecewa.
Ina dan Ola, Adik-adik Mbak Uya yang sangat Mbak Uya sayangi. Maaf sudah membuat kalian malu karena memiliki Mbak yang mengecewakan dan menjijikkan seperti Mbak Uya. Namun, Mbak Uya sangat berterima kasih karena kalian masih bisa tersenyum dan menawarkan makan untuk Mbak yang sudah membuat kepercayaan kalian hilang. Terima kasih juga sudah mau bermain dan menerima hadirnya Marun dan Senja di rumah kita. Rumah yang sangat Mbak harapkan untuk kembali hangat seperti sebelum Mbak mendinginkannya.
Marun dan Senja, anak-anak Ibun yang luar biasa. Maaf karena kehadiran kalian justru banyak menerima penolakan dari orang-orang di dunia, Nak. Maaf karena Ibun tidak bisa menjaga kalian agar bisa lahir di saat semestinya, saat yang baik, saat semua orang akan bergembira menyambut tangis kalian berdua. Dan, terima kasih juga sudah membuat Ibun bisa bertahan hingga sekarang, bertahan karena senyuman dan harapan yang tersirat di wajah-wajah manis kalian. Maaf karena Ibun harus meninggalkan kalian sementara. Ibun akan cepat pulang.
Dan terakhir, untuk Semesta: terima kasih karena sudah menemukan saya dengan Astri kembali. Menemukan semangat masa SMA yang akhirnya berkobar lagi. Terima kasih, Semesta, karena tetap berbaik hati.
-Rainy
Bahu gadis itu bergetar, akhirnya lagi dan lagi, kenangan masa lalu itu terlonjak dan berhasil mengetuk hatinya yang seharusnya sudah bisa tenang dan lapang menerima. Namun, pengkhiatan itu sangat sukar untuk berdamai dengan hatinya yang sudah kadung terluka. Kekecewaan itu tak juga bisa berteman baik dengan dirinya di masa sekarang, karena sudah terlanjur rusak kepercayaan orang-orang di sekelilingnya untuk dirinya. Sayangnya, dia sama sekali belum menemukan jalan keluar bisa membuatnya menerima dengan sangat baik semua kejadian masa lalu yang mengerikan.
Rainy menangis sesenggukan, ia sedikit tercekat, berusaha menahan suara tangisnya agar tidak membangunkan Astri yang sudah tertidur pulas. “Hhhhh, ssshhh,” gumamnya untuk suara tangis yang hampir saja tidak bisa dia kendalikan. “Sakit,” lirihnya.
Hujan di luar sana semakin deras, menabrak seng-seng rumah yang menghadirkan konsonan yang inda, menghasilkan partitur yang menyedapkan telinga. Rainy berusaha menghapus air matanya, selama ini juga ia berusaha menghapus cerita pahit yang sudah permanen lengket di hidupnya. Dan, ia tidak pernah bisa menghilangkan jejak-jejak luka itu.
Rainy memejamkan matanya, lalu berdiri dan membuka pintu kamar mereka. Dengan langkah kaki yang bergetar ia keluar dan menuju atap asrama. Tidak peduli pada derasnya hujan dan ancaman sakit yang akan menimpanya.
“Jika kau suka dengan hujan, maka bermainlah di bawahnya. Jika nanti atau esok kau jatuh sakit, maka jangan salahkan dirimu atau hujan. Bukankah di setiap perbuatan selalu ada akibatnya?” lirih Rainy. Lalu, gadis itu berlari menembus hujan di atap asrama.
Ia menengadah, membiarkan rintik hujan menabrak wajahnya, seperti sedang menikmati akupuntur. Membiarkan derasnya hujan menghujam tubuhnya, membiarkan semuanya ia nikmati seorang diri. Benar-benar seorang diri. Sekarang, dirinya sudah basah kuyup.
Rainy terduduk dan ia menangis lagi. Benar kata orang-orang: menangislah di bawah hujan agar tak ada yang tahu bahwa kamu sedang menangis. Ia mengangguk kencang, tidak ada yang tahu berapa sering ia menangis. Juga tidak ada yang tahu betapa rapuh dan hancur dirinya selama tiga tahun ini.
“ARGH!!!!!!!!!!!!!!!!!” Tiba-tiba Rainy berteriak dan meraung panjang, tidak takut orang-orang akan bangun karena nyanyian hujan lebih kencang dan suhu yang dingin.
CTAR!
“Argh!” teriakan Rainy lebih melengking karena dia kaget bukan main. “Semesta ataupun hujan, saya enggak marah sama kalian! Sama cuma ingin mengeluarkan keluh kesah yang selama ini hinggap di hati saya. Kata orang, berteriaklah, maka kamu akan menerima sedikit rasa tenang!” serunya setelah berteriak. “Apakah saya mengganggu kalian? Kalau iya, sungguh saya meminta maaf!” sambungnya, lalu ia menangis lagi.
Rainy menarik napasnya dalam-dalam, ia sudah mulai menggigil. Hujan malam ini berhasil menusuk tulangnya. Sekarang kepalanya justru pusing. Tidak tahu pusing karena hujan atau karena masalah yang iapun tidak tahu masalah itu masih menjadi masalah atau sudah menjadi sahabat baginya. Tiba-tiba ia merasakan tangan menyentuh pundaknya dan saat ini dua tangan itu berhasil memeluknya. Apakah ini malaikat maut?
“Rain.” Untunglah bukan malaikat maut, itu suara Astri. Ia keberuntungan, bukan? “Maaf karena aku hilang selama tiga tahun ini.”
***
Dua orang gadis yang sedang duduk berisisan di bangku tunggu Bandara Fatmawati Soekarno itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dua hari yang lalu mereka baru saja menerima pengumuman bahwa mereka lulus Sekolah Menengah Atas dengan nilai yang masuk di antara sepuluh besar di sekolah mereka.
“Astri, nanti kamu akan pulang ke Bengkulu, ‘kan?” tanya Rainy tiba-tiba.
“Memangnya ada alasan aku untuk tidak pulang, Rain?” tanya Astri. Rainy hanya memajukan bibir bawahnya, cemberut. “Aku pasti pulang kok! Tenang saja, kamu kayak mau pisah sama Bayu aja!” serunya.
Rainy memukul pelan tangan sahabatnya, “Ish, apaan, sih! Kenapa jadinya ke Bayu?” sungutnya. Namun, setelah bersungut ia justru senyum-senyum sendiri.
“Nah, malah senyum-senyum sendiri,” ujar Astri, lalu mereka sama-sama tertawa.
***
“Maaf tidak berusaha mencarimu selama tiga tahun ini, Tri,” ujar Rainy. Ia merasakan anggukan di pundaknya. Hujan sudah tidak seganas saat ia berteriak tadi.
“Rain, aku bisa sakit kalau lama-lama pada posisi seperti ini,” keluh Rainy, lalu mereka sama-sama tertawa dan berlari berkejaran untuk kembali ke kamar mereka.
Persahabatan itu adalah salah satu jalan untuk membuat luka yang dirasakan hati bisa berdamai pada pilu yang sudah terbiasa membersamai. Menemukan seseorang yang mampu mengerti apa yang kita rasakan, juga memahami jalan cerita yang kita maksudkan merupakan sebuah keberuntungan yang tidak bisa ditampikkan kemustajabannya. Rainy sudah menemukan itu pada Astri.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.