Sakit

1291 Kata
Update setiap dua hari sekali. Betah-betah, ya. *** Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, pening langsung menderanya, berebutan dengan bau cairan antiseptik yang ingin menyapa hidungnya. Ketika matanya terbuka, tampak langit-langit yang bercat putih menyatroni retinanya. Ia hapal bau dan tempat ini. Rumah sakit. “Rain,” lirih Astri saat melihat mata sahabatnya sudah sempurna terbuka. Rainy mengarahkan pandangannya ke arah Astri, serasa amat pusing kepalanya saat ini. Sekarang yang tampak di hadapannya adalah muka sahabatnya yang sangat pucat dengan mata yang membengkak dan merah. Tampak bahwa Astri menangis untuknya. “Ada yang sakit?” tanya Astri yang berebutan dengan tetes air matanya yang jatuh. Rainy hanya menatapnya seperti orang linglung, tidak mengerti apa yang terjadi. “Kamu pingsan.” Astri mengelap tetes air matanya yang luruh. “Kamu pingsan saat keluar dari kamar mandi, setelah kamu mandi di malam kita hujan-hujanan. Badanmu tiba-tiba saja panas tinggi, aku khawatir dan aku berteriak. Seluruh isi asrama kaget,” terangnya, ia berusaha tertawa, tetapi ia khawatir. Rainy mencoba tersenyum, meski yang kelihatan lebih ke meringis. “Kenapa harus teriak?” “Khawatir.” Astri menghambur ke pelukan Rainy, “Kamu enggak apa-apa, ‘kan? Enggak bakal mati, ‘kan?” “Hush!” Rainy tertawa. “Kalau saya mati ‘kan nanti kamu menangis, saya sakit saja kamu menangis sampai bengkak seperti ini,” hiburnya. “Kamu sudah pingsan dua puluh empat jam, Rain!” seru Astri, ia sebal saat temannya ini justru meremehkan sakitnya sendiri. “Wow! Rekor baru!” seru Rainy. “Ternyata you sangklek juga, Rain.” “Eh?” ujar Rainy kaget, itu suara Ardan. Ia menatap ke arah Astri, menuntut penjelasan. Astri mendekatkan mulutnya ke telinga Rainy, “Iya, itu Ardan. Dia juga menunggui kamu dalam dua puluh empat jam ini, kita bergantian. Jadi, aku hanya bolos dua kelas dan dia juga bolos dua kelas,” bisiknya menerangkan. Rainy mengernyit, “Kok bisa?” Kedikkan bahu dari Astri yang ia dapatkan sebagai jawaban, “Kentara banget anaknya naksir sama kamu, Rain,” goda Astri. “Ish!” sungut Rainy. Mana mungkin anak semuda dia bisa naksir sama Ibun anak dua seperti saya? batinnya.   “Astri, saya ke kelas dulu, ya?” ujar Ardan yang tiba-tiba muncul dari balik tirai. “Eh, Rain sudah sadar, aku pikir tadi suaramu hanya halusinasiku saja karena sudah terlalu rindu,” ujarnya lagi seraya menatap Rainy lama. Laki-laki itu mendekat ke arah Rainy sambil tersenyum, senyum yang hangat. Ia menyentuh kening Rainy, “Panasnya sudah turun, get well soon, ya! Jangan sakit terlalu lama, masih banyak jenis tawamu yang belum terekam di ingatanku,” ujarnya, lalu mengelus kepala Rainy. Perbuatan yang sukses membuat gadis itu sedikit menghangat. Ardan sedikit menjauh dari ranjang Rainy, lalu berbicara dengan Astri. “Tri, aku titip Rain, ya?” ujarnya. Astri mengangguk, “Tanpa kamu titip juga aku sudah pasti jaga Rain, Ar!” seru Rainy. Ardan tertawa, lalu dia diam sebentar, menatap ke arah Rainy. “Saya pergi dulu, ya, Rain. Jangan rindu dulu, nanti saya pasti akan ke sini lagi,” ujarnya, yang masih saja diiringi dengan senyum hangat. “Assalamualaykum.” “Waalaykumussalam.” “Waalaykumussalam.” Hati-hati, sambung Rainy di batinnya. Lalu dia diam dan tersenyum. “Itu bocah belajar romantis dari mana, sih?” ujar Astri yang mengejutkan Rainy. “Kok bisa gitu kata-katanya enggak ketebak, tapi aku yakin banget deh, Rain, kalau dia itu naksir sama kamu. Mungkin belum bisa dikategorikan naksir, sih, cuma lebih ke tertarik.” Rainy menahan tawanya, “Aduh, kepala saya pusing!” serunya, seraya berpura-pura meringis dan memijat kepala. “Ih, yang sudah dielus sama Mas Ardan, kayaknya udah mendingan nih!” sindir Astri, lalu mereka sama-sama tertawa. *** Terekam di layar telpon genggam itu dua balita yang sedang tertawa. Satu di antara keduanya sudah lancar memanggil, satunya lagi mungkin akan lebih pendiam. Tangan mereka dengan lincah menggapai layar telpon, berharap orang di dalam sana bisa memeluk mereka segera. Rainy tersenyum, lalu menengadahkan kepalanya ke langit-langit kamar. Berusaha agar air matanya tidak luruh dulu, nanti saja, sekarang ia ingin bercengkerama dengan kembar yang sudah dua minggu lebih tidak dia peluk. Rindu yang sudah menggunung, makin meninggi saat melihat tawa dua balita itu. “Ibun,” panggil Marun, yang laki-laki, yang nampaknya akan lebih cerewet. Rainy mengangguk, “Iya, Sayang?” jawabnya. Senja menangis, karena pipinya kena sikut sang Abang, Marun. “Cup cup cup.” Itu suara ibunya yang sedang mendiamkan Senja. Ingin rasanya ia meneriakkan: Ibu, Uya rindu sekali! Bahkan rindu pada rumah kita yang dulunya hangat. Namun, suara itu tercekat, ia tidak mau merusak suasana. “Hayo, Marun apain Senja?” tanya Rainy pada Marun yang saat ini memenuhi layar telponnya. Ia ciumi wajah balita itu, menyalurkan rasa rindu, meski tak kunjung menguap. “Ibun ... pu ... lang ....,” ujar Marun lagi, terbata-bata. Sukses untuk membuat d**a Rainy sesak. Ia ingin menangis sekarang juga, sudah tidak bisa ditahan. “I … bun … jang … an … nang … is ….” Rainy menyeka air matanya, “Ibun kangen kalian, Marun dan Senja,” jawabnya. “Marun sudah lancar berbicara, ya?” “Siapa, Bu?” Rainy terdiam, itu suara Ayahnya, suara yang hangatnya selalu ia rindukan. “Uya, Mas,” jawab Ibunya. “Dia baik-baik saja?” Sukses, air mata Rainy sukses luruh tanpa henti. Pertanyaan Ayahnya sukses menyentil egonya, menarik rasa hangat yang sudah lama menghilang dari hatinya. Ia sudah rindu sekali pada pertanyaan-pertanyaan kabar penuh kasih sayang dari ayahnya. Lalu, sepintas mata ayahnya melirik ke arah kamera. Rainy tersenyum seraya menyeka air matanya dan dibalas dengan senyum tipis oleh sang Ayah. “Dia tambah cengeng,” kelakar Ibunya. Ayahnya tidak tertawa, hanya tersenyum tipis lalu menghilang dari tangkapan kamera. *** Seorang pria separuh baya sedang sesenggukan di atas kasurnya, mengambil sekotak tisu dan mencoba menghapus air matanya yang menganak sungai. Ia menyesal atas perbuatannya tempo lalu dan dalam kurun waktu tiga tahun ini, mendiamkan gadisnya, membiarkan anaknya tidak berbicara dengannya selama tiga tahun. Padahal ia tahu, gadisnya saat itu sangat membutuhkan dukungan penuh dari mereka, keluarganya. “Maafin Ayah, Nak,” lirih Pak Muham. “Maaf karena Ayah sudah terlalu egois selama ini terhadapmu. Maaf karena rasa kecewa Ayah justru berkuasa dan menepis rasa sayang untukmu. Maaf kalau kamu merasa hidup sendiri selama tiga tahun ini,” ujarnya penuh penyesalan. *** Rainy mematikan telpon genggamnya, lalu melanjutkan tangis yang sudah ia tahan sekuat mungkin. “Maaf … maaf … maaf …,” ujarnya berulang kali. Astri baru saja pamit sebelum ia melakukan panggilan dengan keluarganya. Gadis itu akan mengikuti kelas Mr. Noah, bergantian dengan Ardan untuk menemaninya. Artinya, sebentar lagi ia akan bertemu dengan laki-laki itu. “Jangan menangis.” Itu suara Ardan. Rainy bingung, kenapa Ardan bisa mengetahui bahwa ia sedang menangis? Padahal saat ini ia sedang menundukkan kepalanya. “Suara sesenggukan kamu sampai keluar, tidak malu didengar orang lain?” ujar Ardan lagi. Laki-laki itu mendekat ke arah ranjang Rainy, menarik kursi penunggu dan mendekat ke arah gadis yang akhir-akhir ini menarik atensinya. Menggenggam tangan gadis itu dan menggosoknya, berusaha memberikan ketenangan. Ia tidak tahu masalah seberat apa yang sedang menimpa Rainy, tapi yang ia tahu ialah ia harus ada untuk Rainy saat gadis itu membutuhkannya maupun tidak. “Aku tidak memintamu berbicara, tenang saja, tapi biarkan aku menggenggam tanganmu. Aku ingin berbagi energi yang aku punya untukmu. Kamu tidak perlu bercerita, karena ada beberapa hal yang memang tidak harus diceritakan, karena hal tersebut akan membuat sakit ketika terdengarkan dan juga akan memancing luka ketika terucapkan. Sabar saja, kalau aku bilang ada aku di sini, mungkin tidak ada pengaruh apa-apa untuk lukamu. Namun, yang ingin aku pastikan denganmu bahwa hal itu memang nyata. Rain, aku ada di sini,” ujar Ardan panjang. Kalimat itu memiliki energi yang cukup untuk sedikit menenangkan perasaan Rainy saat ini. Rainy mengangguk dan buru-buru menyeka air matanya dengan satu tangan yang tidak digenggam Ardan, “Terima … ka … sih …,” ujarnya terbata. Ardan hanya tersenyum, ia mungkin tidak berhasil menyembuhkan luka di hati atau berhasil memulihkan masalah yang ditimpa Rainy, tetapi ia berhasil untuk membuat gadis yang ada di hadapannya ini untuk menyeka air matanya. Itu cukup menjadi bukti bahwa Rainy sudah memperhitungkan hadirnya dirinya. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN