Update setiap dua hari sekali. Betah-betah, ya.
***
Matahari tetap bersinar dengan baik-baik saja. Memancarkan cahaya ke seluruh pelosok dunia, menyapa sang pekerja, maupun yang memberi kerja. Memberikan hangatnya kepada semesta, hangat untuk yang berusaha, maupun untuk yang berdoa. Matahari, simbol kekuatan yang mampu berdiri sendiri. Matahari, simbol kebijaksanaan tanpa terusik oleh yang lainnya.
Rumah sakit cukup lengang di siang ini, mungkin beberapa pasien sedang tidur siang. Begitu pula dengan orang-orang yang menunggu pasien, istirahat karena semalam berkorban untuk begadang. Lengang yang tenang, kombinasi yang paling baik untuk diri yang ingin mengenang.
Rainy sendiri di kamarnya, Astri belum kembali, sementara Ardan izin untuk pergi ke masjid, menunaikan ibadah. Tiba-tiba saja ia ingin membuka telpon genggamnya, mengamati video-video Marun dan Senja yang dikirimkan oleh adik-adiknya, meskipun tanpa kata-kata. Ia rindu pada kedua semangatnya tersebut. Ia juga rindu pada kata-kata semangat yang selalu diucapkan adiknya, sebelum mereka irit berbicara kepadanya.
Betapa kepercayaan adalah pemberian seseorang yang paling berharga. Kita rusak kepercayaan mereka, maka kita harus siap menerima akibatnya. Rainy ingin menangis lagi, ia sudah menutup mukanya.
“Rain, kalau gerakanmu menutup muka adalah sebagai tanda kamu ingin menangis lagi. Lebih baik jangan kamu lakukan, aku sudah ada di sini, kamu tidak perlu rindu lagi.” Itu suara Ardan, Rainy mengurungkan tangisnya.
Gadis itu mendongak, menatap Ardan yang masih mengenakan baju kokoh dan peci. Ternyata bocah yang selalu dikata-katakan Astri naksir dengannya ini cukup tampan dan menarik. Menyadari bahwa pemikirannya mengakui bahwa laki-laki di hadapannya ini tampan dan menarik, Rainy tiba-tiba membelalakkan mata dan menggeleng. Kenapa bisa dia justru berpikiran seperti itu?
Ardan tertawa, “Kenapa justru menjelitkan mata, lalu menggeleng?” tanyanya seraya menaikkan salah satu alisnya. “Apa kamu baru menyadari if I ini tampan dan menarik?” terkanya.
Gadis yang sedang duduk di atas ranjang itu memasang wajah heran sekaligus menjijikkan miliknya. Bagaimana Ardan bisa membaca pikirannya? Dan, bagaimana pula laki-laki itu berbicara dengan sepercaya diri itu? “Astri mana?” tanya Rainy, demi menyelamatkan dirinya dari pertanyaan-pertanyaan aneh yang selalu diucapkan laki-laki di depannya ini.
Ardan mengedikkan bahunya, “Mana aku tahu, kamu pikir aku ini selalu nempel sama dia?” tanyanya. Lalu, ia mengambil kursi dan duduk di dekat ranjang rainy. “Kamu gimana? Sudah feel better?” tanyanya lagi.
Rainy hanya diam dan memainkan jemarinya, bingung mau membalas apa, padahal pertanyaan itu adalah pertanyaan sederhana. Apakah dia sedang tidak mengerti apa mau dirinya? “Kalau saya pulang besok, apa boleh?” celetuknya, setelah sekian lama terdiam.
“Kalau maunya aku, ya, you pulang sekarang juga. Atau, you sembuh saat ini juga. But, aku ‘kan bukan dokternya,” balas Ardan. Rainy malu sendiri dibuatnya, ia justru menutup muka dengan kedua tangannya. Hal yang dilakukan ini berhasil membuat Ardan tersenyum, gadis di depannya ini bisa jadi menggemaskan juga. “Atau, aku tanya sama dokternya, gimana?” tanyanya. Namun, tidak ada respon dari gadis itu.
Ardan berdiri dari duduknya setelah sekian lama Rainy terdiam dengan posisi menutup mukanya. Ia mengelus kepala gadis yang mungkin sedang malu-malu itu, lalu ia berjalan keluar ruang rawat Rainy. Ia ingin membeli makan, sekaligus menemui dokter yang ditugaskan untuk merawat Rainy.
Gadis yang masih bertahan dengan menutup wajahnya itu tiba-tiba memegang puncak kepalanya. Tepat pada tempat yang tadi baru saja menerima elusan dari Ardan. Elusan yang hanya sebentar, tetapi cukup untuk memberikan rasa hangat. Rainy mengernyit, kenapa laki-laki itu selalu melakukan hal-hal yang spontan seperti ini? Sudah dua kali Ardan mengelus kepalanya, dan rasa hangatnya bertambah.
Rainy menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak, Rain, kamu enggak boleh kasih atensi untuk dia. Dia masih kecil, masa depannya masih panjang. Lagi pula, dia pasti akan menemukan banyak orang baru, yang lebih seru dan pastinya bukan kamu,” gumamnya. “Diah hanya penasaran sama kamu, Rain, jangan terkecoh. Kamu sudah cukup puas dengan patah hatimu selama ini, jangan ditambah lagi,” sambungnya.
Rainy bergerak dari ranjangnya dan turun, berjalan seraya menggeret tiang infusnya menuju ke jendela ruangan. Sudah lama ia tak melihat dunia luar, tiga hari baginya begitu lama. Menyibak tirai yang berwarna putih transparan yang menghalangi matanya memandang ke luar. Setelahnya Rainy tahu, pemandangan di luar ruangannya ini sangat indah: langsung ke taman rumah sakit yang di sekitarnya banyak pohon-pohon yang tumbuh.
Pohon akasia dengan tinggi di antara lima belas sampai dua puluh meter menjadi penguasa yang tumbuh di taman rumah sakit. Bunganya yang berwarna kuning atau putih berangkai-rangkai, memamerkan paduan warna yang indah dan membuat terpesona. Pohon akasia juga menjadi tempat favorit para pasien untuk menghirup udara segar. Buktinya, banyak bangku-bangku taman yang diduduki oleh orang yang menggunakan baju pasian.
“Rain, kamu mau ke sana?” Tiba-tiba suara Ardan masuk ke indera pendengarnya. Ia sudah menerima dan hapal akan suara tiba-tiba yang selalu laki-laki itu munculkan.
Rainy memutar tubuhnya, melihat ke arah Ardan yang tampak sedang memakan sesuatu. Mungkin laki-laki itu lapar. Untuk pasien, ia sudah makan saat Ardan pergi ke masjid untuk solat. Ia makan dengan lahap dan habis. Menjadikan makan adalah salah satu cara agar ia bisa segera sembuh, segera pulang ke asrama. Ia sudah amat bosan berada di rumah sakit.
“Memangnya boleh?”
Ardan mengangguk, “Yampphh, bomplehmplahmp,” ujarnya belepotan karena mulutnya masih asyik mengunyah.
Rainy mengernyit, “Kamu cukup untuk membalas pertanyaan saya dengan anggukan, Ardan. Makananmu kau kunya saja dulu, nanti kesedak,” ingatnya.
“Iya, a- UHUK!”
“Saya sudah bilang, kalau makan, ya, makan dulu!” seru Rainy, lalu dia berjalan kembali ke ranjangnya, duduk. Ia memandangi Ardan yang masih asyik dengan nasi dan lauknya. Laki-laki itu makan lahap sekali, tampaknya dia memang begitu lapar.
Ardan menyelesaikan makannya dengan cepat, sudah tidak tahan untuk mengobrol dengan Rainy. Setelah selesai makan, ia membereskan bungkusan nasinya yang sudah menjadi licin kembali. Lalu, ia menenggak habis air yang tersisa di botolnya. Terakhir, ia tersenyum manis ke arah Rainy.
“Aku sudah makan, Rain. Sekarang kamu mau apa?”
Rainy menunjuk ke dirinya sendiri, “Saya?” Ardan mengangguk. “Saya mau apa?”
“Iya, kamu mau apa? Mau aku atau mau ke taman?”
“Ke taman dengan kamu,” jawab Rainy kikuk.
Ardan tersenyum, “Cie mau pergi ke taman sama aku!” serunya.
“Terus sama siapa lagi? Kamu ‘kan satu-satunya orang yang ada di sini?” tanya Rainy. Ia tidak mengerti kenapa laki-laki di depannya ini sangat suka memamerkan senyum.
“Tidak apa-apa menjadi pilihan terakhir untukmu, Rain,” ujar Ardan. Rainy menyipitkan mata kirinya, sebagai tanda kalau dia sedang bingung. “Yuk, ke taman!” ajak Ardan. Lalu, ia keluar dan kembali dengan kursi roda.
“Saya pakai kursi roda?”
Ardan mengangguk, lagi-lagi tersenyum. “Iya! Kondisi kamu masih lemah, Rain. Takutnya kalau kamu berjalan, kamu malah semakin kecapaian. Jadi, memakai kursi roda aja, ya?” tawar Ardan.
Rainy mengangguk, lalu berjalan ke arah kursi roda yang sudah tersedia. Ia duduk dengan baik sembari memegang infusnya. Ardan membantu untuk memindahkan infusnya agar bisa dicantolkan pada tiang yang sudah tertempel di kursi roda. “Terima kasih,” ujarnya.
“Terima kasihnya jangan diucapkan sekarang, Rain. Nanti-nanti aja, kamu kumpulin aja dulu.” Rainy hanya bergumam tidak mengerti. “Iya, kamu kumpulkan. Nah, nanti kamu keluarkan dengan kalimat: Ardan, terima kasih untuk segala hal yang kamu lakukan untuk saya. Begitu, biar aku merasakan kalau aku berharga untuk kamu.”
Rainy menutup mulutnya dengan tangan. Laki-laki yang ada di dekatnya ini ada-ada saja kalimatnya. “Kita tidak jadi ke taman?” tanyanya.
“Okay, Ms. Firdaus, I’ll pick you up to go around the world, tapi nanti, hehe,” kelakar Ardan.
“Ms. Firdaus?”
“Firdaus is my last name,” ujar Ardan. Lalu dia tertawa saat melihat Rainy menepuk jidatnya dengan tangan. Gadis itu lucu dan tertutup serta mempesona secara bersamaan. Ardan mendorong kursi rodanya untuk menuju ke taman rumah sakit.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.