Update setiap dua hari sekali. Betah-betah, ya.
***
Pohon akasia yang menenangkan, akhirnya Rainy dan Ardan mendapatkan salah satu bangku kosong yang berada di sudut rumah sakit. Orang yang duduk di bangku ini sebelumnya sudah pergi. Mungkin sudah puas menghirup oksigen yang disumbangkan oleh pohon akasia yang paling rindang ini. Sejuk dan tenteram langsung masuk ke dalam batin Rainy. Inilah suasana yang ia suka, damai.
“Nah, sampai!” seru Ardan riang. Lalu, ia berpindah ke hadapan Rainy dan bersimpuh di depannya. “Jadi Rainy mau duduk bersebelahan dengan aku di bangku ini,” ujarnya seraya menepuk bangku yang ada di sampingnya. “Atau tetap duduk di kursi roda?” sambungnya.
“Di- ….”
“Eh, sebentar, aku sebenarnya ada penawaran yang lebih menarik,” ujar Ardan, memotong kalimat yang ingin diucapkan Rainy. “Bagaimana kalau kamu duduk dan menetap di hatiku saja?” ujarnya, lalu tersenyum manis.
“Hobi kamu memang suka tersenyum, ya?” tanya Rainy. Pertanyaan yang muncul karena keheranannya pada laki-laki yang selalu tersenyum saat ia selesai berbicara.
Ardan menggeleng, “Enggak, enggak semua orang bisa menikmati senyum aku, Rain. Aku enggak tahu alasannya kenapa aku suka sekali tersenyum saat berbicara denganmu,” terangnya. “Wajah kamu itu mempunyai aura untuk membuat orang-orang di sekitarmu tersenyum. Kamu pakai pelet minyak-minyak gitu, ya?” tanyanya. Rainy mengernyit. “Minyak-minyak yang bisa buat perempuan jadi cantik itu.” Ardan tertawa saat mengakhiri kalimatnya.
Bayu juga pernah berkata seperti itu, batin Rainy. Gadis itu menunduk.
***
“Rain,” panggil Bayu. Saat ini mereka tengah duduk di taman sekolah, melihat bunga mawar yang dengan indahnya sedang memekar. “Kamu tahu enggak kenapa aku suka senyum?” tanyanya.
Rainy menolehkan pandangannya, “Saya enggak tahu. Apa?” tanyanya antusias.
“Coba tebak.”
“Karena mawar-mawar ini sedang mekar?”
Bayu menggeleng, “Salah.”
“Karena langit cerah?”
“Tetap salah.”
“Karena kamu dapat banyak uang?”
Bayu tertawa, lalu ia merangkul bahu kekasihnya itu dengan beribu rasa sayang. Lalu, dengan semena-mena ia mencubit hidung Rainy. Membuat gadis itu menggembungkan pipinya. “Karena wajah bahagia kamu yang selalu buat aku pengen senyum terus-terusan, Rain, aku bangga memiliki kamu,” ujar Bayu. Rainy dibuat senyum mesem karenanya.
***
“Tapi Ardan enggak cubit hidung kamu, Rain,” gumam Rainy.
“Hah?” Rainy tersentak, ia lupa kalau saat ini ia sedang bersama Ardan. Ternyata nama Bayu masih saja sukses membuatnya mengalihkan dunia. “Kamu bilang apa barusan?” tanya Ardan.
“Enggak bilang apa-apa.”
Ardan memandangi Rainy sebentar, lalu tersenyum lagi. “Okay, I have question for you! Mau jawab, enggak?” tanyanya.
“Apa?”
“Kenapa akasia ditanam di taman rumah sakit ini?”
“Karena yang ditanam bukan pohon beringin,” jawab Rainy random.
Ardan tertawa kencang. “Seorang Bentang Samudera membalas pertanyaan retorika yang aku ajukan dengan jawaban yang sukses membuat aku menyemburkan tawa,” sindirnya.
Rainy terperangah, dari mana laki-laki ini tahu tentang Bentang Samudera? Ia memandangi Ardan yang masih asyik tenggelam dalam tawanya. Laki-laki di hadapannya ini ternyata memiliki sedikit lesung pipi yang menambah kadar manisnya, dua gigi gingsul, alis yang tebal, bulu mata yang lentik dan mata yang tajam.
“Aku tahu siapa itu Bentang Samudera, sosok penulis yang berhasil mengemas bukunya yang berjudul ‘Rinjani, Temui Saya di Dini Hari’ dengan begitu apik, hingga sukses membuat aku emosi membacanya. Sosok yang saat aku baca di bagian profil penulisnya yang isinya cuma ‘Bentang Samudera, manusia yang saat ini sedang mencoba untuk mengajukan proposal perdamaian dengan semesta’ dengan foto yang hanya nampak belakang tubuhnya,” terang Ardan seraya menatap Rainy. Tatapan yang selalu dalam.
Rainy dengan berani membalas tatapan itu, tatapan yang masuk ke dalam panca indra dan menggema di dalam ingatannya. Jika sedang membahas bukunya, ia bisa menjadi orang yang berbeda. Gadis itu tersenyum hanya untuk membalas senyuman Ardan.
“Senyum yang manis!”
“Memangnya siapa Bentang Samudera?”
“Rainy Hulya Arrum.”
“Oke, tebakan kamu benar. Kenapa kamu bisa tahu itu saya?”
“Bahasa kamu di tulisan-tulisan kamu dan di dunia nyata ini relate banget, Rain. When aku mendengar suara kamu saat pertama kali kamu minta difotokan sama aku itu, langsung menyentak hati aku. Langsung muncul di pikiran aku: ini penulis yang berhasil buat aku terbuai dalam karyanya,” terang Ardan bersemangat.
Satu bunga akasia jatuh ke pangkuan Rainy. Bunga akasia yang sempurna, kuning yang tak terlalu menyala dan putih yang bisa mengimbangi. Indah dan menawan. Mungkin inilah alasan yang membuat pihak komite rumah sakit menanam pohon akasia di taman rumah sakit: pohon dan bunga dari pohon akasia mampu membuat pemandangnya menjadi tenang dan tentram. Ia menaruh bunga akasia itu di bangku taman.
“Mungkin kamu enggak bakal percaya kalau aku bilang aku sangat jatuh cinta sama gaya bahasa baku yang kamu bubuhkan di tulisan kamu. Gaya bahasa yang jarang aku temui di tulisan-tulisan sejenis novel lainnya, tapi kamu melakukan itu. Kamu punya dua novel dan kamu berhasil mempertahankan ciri khas kamu di sana, tidak ikut arus penulis lain yang lebih memilih menggunakan bahasa gaul atau kalimat yang lebih mudah tercerna.”
“Karena saya bukan penulis lain,” jawab Rainy.
PROK PROK!
Ardan bertepuk tangan dan berdiri dari duduknya, “Great! Kamu selalu mempunyai jawaban yang sempurna, sesempurna tulisan kamu.”
“Di tulisan saya itu ada kerja keras editor, keringat penata letak, semangat para penjual buku dan distributor, doa penerbit dan semua orang yang ada di dunia kepenulisan. Artinya, kamu bukan cuma jatuh cinta dengan tulisan saya,” jawab Rainy.
Ardan menyilangkan tangannya di d**a, berpikir sejanak, lalu menjentikkan jarinya. “Kamu benar, aku mungkin enggak cuma jatuh cinta sama tulisan kamu, tapi kalau aku jatuh cinta sama kamu bagaimana?” tanyanya.
Satu lagi bunga akasia yang mampir di pangkuan Rainy. Ia mengambil bunga itu, memandanginya dalam. Tidak seperti bunga akasia yang tadi, kali ini bunga akasianya berwarna kuning penuh, lebih kecil dan lebih menarik. Akasia yang romantis, berbeda bunga yang digugurkannya, berbeda pula makna yang Rainy terima.
“Sepertinya pertanyaan kamu enggak perlu saya jawab,” ucap Rainy, lalu jemarinya menaruh bunga akasia yang ia pegang di bangku taman. Di samping bunga akasia yang gugur pertama kali.
“Semut dan pohon akasia, kamu tahu cerita itu, Rain?” tanya Ardan, ia tak mau ambil pusing dengan jawaban Rainy.
“Semut dan pohon akasia yang memiliki hubungan timbal balik saling menguntungkan, biasa di sebut simbiosis mutualisme. Dan hal yang unik adalah, tinggi rendahnya kualitas hubungan dipengaruhi besar atau tidaknya ketergantungan kedua makhluk hidup. Seperti manusia satu dengan manusia lainnya, saling membutuhkan dan saling menguntungkan,” jawab Rainy.
Jawaban Rainy berhasil menerbitkan senyuman di wajah Ardan, senyum yang terbit berkali-kali. “Selama ribuan tahun, pohon akasia telah menyediakan sumber makanan dan perlindungan bagi koloni semut agresif. Sebaliknya semut-semut tersebut juga melindungi pohon akasia dari serangan satwa-satwa yang menyukai daun-daun akasia, seperti jerapah dan gajah,” sambung Ardan.
Rainy mengangguk, “Pohon akasia yang tidak terancam pemangsa justru pertumbuhannya terganggu dan menghasilkan nektar yang lebih sedikit. Karena nektar sedikit, semut yang datangpun berkurang,” terangnya.
“Namun, fatal akibatnya bagi akasia sebab semut yang biasanya hanya mengisap nektar menjadi beringas hingga merusak dahan dan daun akasia. Kalaupun tidak, serangga lain yang suka merusak batang pohon, misalnya kumbang kayu, dengan leluasa akan datang. Di sini mungkin bagian yang jahat, karena saat semut-semut itu tidak mendapatkan apa yang dia butuhkan, dia justru merubah sikapnya kepada akasia. Dan, ini adalah salah satu contoh sikap manusia, ‘kan?” tanya Ardan, Rainy mengangguk sebagai persetujuan.
“Tentang semut dan akasia itu adalah tentang manusia dan semesta lebih tepatnya. Saat manusia mendapatkan apa yang dia inginkan, maka ia akan berterima kasih dengan penuh kepada semesta. Namun, ketika semesta tidak mengabulkan apa yang dia pinta, manusia dengan tidak sabarannya merusak dan memerotes semesta,” jawab Rainy. “Dan, salah satu manusia itu pasti saya.”
“Dan aku,” sambung Ardan. “Rain, kita mempunyai semut dan pohon akasia yang sama,” ujarnya pelan.
Rainy menengadah untuk menatap mata Ardan karena laki-laki itu masih setia dengan posisinya yang berdiri. Ia mencoba membaca makna yang laki-laki itu sampaikan, menelaah dan menerjemah dengan baik: Ardan memiliki cerita yang sama dengannya.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.