Pulang

1463 Kata
Update setiap dua hari sekali. Betah-betah, ya. *** Terdengar tepuk tangan yang menggema. “Oh iya bagus! Mojok di sini berdua, enggak kelihatan sama khalayak ramai, ya, bagus!” seru Astri yang mengagetkan untuk Rainy dan Ardan. “Aku keliling dunia mencari kalian, takut si Rainy diculik alien, sampai nyasar ke kamar mayat, tapi ternyata kalian malah asyik-asyikan pandang-pandangan di sini, bagus!” omelnya panjang, setelahnya ia ngap-ngapan karena kecapaian. “Ganggu aja sih, Tri, ah!” runtuk Ardan. Astri membelalakkan matanya, “Eh, Anak Kecil! Kamu pikir aja deh, ya, aku nangis kejer waktu ini anak enggak sadar-sadar,” ujarnya, menunjuk ke arah Rainy. “Takut banget ini orang tiba-tiba hilang nyawa, apalagi ribet ngirim mayat ke Bengkulu pakai pesawat.” “Kamu cuma tinggal bilang khawatir sama saya, Tri,” sambar Rainy. Astri menggembungkan pipinya, “Ya, aku khawatir banget-banget. Aku kira kamu kenapa-kenapa, atau apa, sawan gitu, pingsan, koma atau apalah tiba-tiba. Pikiran aku udah buruk banget, Rain. Eh, ternyata kamu lagi sama ini bocah berduaan di taman rumah sakit,” omelnya lagi. “Kamu juga, Ardan, aku telpon kenapa enggak diangkat-angkat?” “Bagaimana aku bisa mendengarkan bunyi telepon kalau bunyi jantung aku lebih kencang? Kamu tahu, Tri, sahabatmu itu menyedot duniaku.” Ekspresi ingin muntah sukses diperagakan dengan baik oleh Astri, sementara Rainy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Satu lembar daun akasia yang sudah menguning jatuh ke telapak tangannya, menempel dan indah. Rainy ingin mengambil gambar daun akasia yang estetik ini, sayang telponnya ia tinggal di ruang rawatnya. Mengabaikan pertengkaran antara Ardan dan Astri, Rainy tenggelam dalam lamunannya memandang daun akasia. *** “ARGH!” Rainy meraung kencang saat malam sebelum hari pernikahannya, Bayu tak kunjung memberikan kabar padanya. “KAMU KEMANA!?” PRANG! Parfumnya yang masih terisi penuh sukses ia banting hingga retak seribu. Buku-bukunya ia lempar ke sekeliling kamar, berserakan, seperti hati yang dia punya. Bunga-bunga yang sudah tersusun di kamar pengantin ia tanggalkan, ia hamburkan, seperti hatinya yang saat ini sudah tidak karuan. “SEMESTA, KAMU HARUS BUAT SAYA PATAH BERAPA KALI LAGI, HAH!?” raungnya. Dadanya sesak bukan main, hatinya rusak tak bisa diajak main-main. Ia kecewa pada dirinya sendiri, kecewa pada jalan cerita hidupnya yang tak semulus orang-orang. Ia baru saja ingin berdamai dengan kesalahan yang baru saja dia lakukan, tetapi semesta justru tak mengijinkan. Semesta menambah kadar ujian yang harus dilewatinya. Menambah level patah hati yang harus dilampuaui oleh Rainy. Ia merasa kali ini semesta memang tak lagi berpihak padanya, semesta membencinya, semesta membuat orang-orang mengucilkan dirinya. “Apa enggak cukup kesakitan didiamkan oleh Ayah, tidak dilihat oleh adik, dikucilkan tetangga dan dijauhi teman-teman yang harus saya rasakan. Kenapa justru malah ditambah dengan hilangnya orang yang semula saya harapkan sebagai tempat untuk berpangku tangan?” lirihnya. “Apa tidak cukup menyedihkan melihat Ibu berjalan ke rumah tetangga-tetangga hanya untuk meminta maaf atas perbuatan saya. Mengatakan: Bu, Pak, jangan malu bertetangga dengan saya, ya. Apa enggak cukup?” ujarnya, tangisnya sudah menganak sungai. Membasahi pipi, baju hingga masuk ke dalam relung hatinya. TOK TOK! “Nak.” Itu suara Ibunya, suara yang sudah serak tak terkira. “Boleh buka pintu untu Ibu?” pinta Ibunya. Rainy menggeret kakinya hingga ke pintu, menyentuh knop dan memutarnya. Muka pucat dan mata sembab sang Ibu langsung masuk ke netranya. Rainy menghambur ke pelukan Nur, memeluk kencang wanita paruh baya itu. Menangis sesenggukan, mengadu akan betapa rapuhnya dirinya saat ini. *** “Rain.” Rainy tersentak dari lamunannya. “Kenapa menangis? Ada yang sakit?” tanya Astri khawatir. “Ada semut yang gigit kamu?” sahut Ardan. Sahutan yang sukses mendapatkan pijakan keras Astri di kakinya. “Saya enggak apa-apa,” balas Rainy, ia berusaha untuk menampilkan senyumnya. Ardan tiba-tiba saja mengempaskan pantatnya ke bangku taman, “Eh Ardan Pinter, sakit juga!” serunya sembari meringis. Rainy tertawa pelan dan Astri sudah tidak bisa dikondisikan lagi volume tertawanya, mungkin dia lupa kalau sekarang dia sedang ada di rumah sakit. “Kacau banget kamu, Ar, asli!” seru Astri. “Ini adalah bentuk respon yang refleks atas kalimat perempuan dengan unsur ‘enggak apa-apa’,” jawabnya. Jawaban yang berhasil membuat kadar tawa Astri menjadi lebih kuat oktafnya. “Tri, ini rumah sakit,” ingat Rainy. Hening seketia. “Ups,” sahut Astri seraya menutup mulutnya. “Lagian si Ardan kok ya enggak jelas banget,” sindirnya. “Kamu itu ganggu banget, Tri. Enggak bisa apa munculnya enggak tiba-tiba kayak gitu?” Ardan masih kesal dengan kemunculan Astri yang tiba-tiba. Astri menepuk jidatnya. “Astaghfirullah, aku foget, Rain!” serunya. Rainy bergumam dan Ardan mendengus sebagai respon dari seruannya. “Anak kelas sama tutor kita ada di ruangan kamu, mereka jenguk kamu. Tadi saat kamu enggak ada di ruangan, aku izin ke mereka buat cari kamu. Aduh!” “Makanya, jangan kebetahan ngomel,” sambar Ardan. “Nyambar aja kayak tiang korslet!” sungut Astri. Lalu ia bergerak ke belakang Rainy, memegang handle bar kursi rodanya dan mendorong kursi roda itu agar segera sampai ke ruangan Rainy. Ardan membelalakkan matanya, “Terus aku ditinggalkan? Astri, kamu harus tahu kalau sahabat kamu itu nyaman sama aku! Dia bisa menangis kalau jauh dari aku!” serunya yang hanya mendapatkan cibiran dari Astri. Gadis itu memutar kepalanya, dan menjulurkan lidahnya untuk Ardan. “Itu anak benar-benar gendeng deh, Rain,” bisik Astri saat sudah jauh dari Ardan. “Sama, kamu juga,” sahut Rainy. “Ish, apa-apaan.” *** “Rain!” seru Lyla saat kursi roda yang membawa Rainy sudah kembali ke kamarnya. “I miss you so much, ih beneran!” sambungnya, lalu menghambur dan memeluk Rainy. Di kelas mereka, selain dekat dengan Astri yang menjadi sahabatnya. Rainy juga dekat dengan Lyla, gadis dari Bojonegoro yang ceria dan penuh energi. Tuti juga berlari dan memeluk Rainy, “Iya, ih, kamu kok liburnya lama banget, Rain. Enggak tahu, deh, rasanya kelas sepi tanpa kamu. Padahal kamu orangnya enggak terlalu heboh kayak Lyla,” ujarnya, lalu bingung sendiri. “Ms. Rain, are you okay? Sudah feel better, ya?” tanya Mr. Noah lalu menyalami Rainy. “Feel better, Mr., seperti yang bisa dilihat sekarang,” jawab Rainy, lalu tersenyum. “Lagian Rain aneh, masa hujan-hujanan tengah malam, sih?” tanya Kinan gemas. Ia mendapatkan informasi ini dari siapa lagi kalau bukan Astri. Rainy hanya meringis mendapatkan pertanyaan itu. “Ms. Rain, I miss you so much, you know? Without you I feel pusing seven keliling, cause your friends always confussing with their vocabulary. And, enggak ada kamu yang bisa bantu saya menambah vocab mereka,” keluh Ms. Leya yang disambut tawa oleh yang lainnya. “I hope you will get well soon, Ms. Rain. I am very fully need you,” sambungnya. Alasan dia mengatakan itu karena memang selama ini Rainylah yang membantu dia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ringan mengenai vocabulary. Ms. Leya mendapatkan jitakkan dari Mr. Up. “You need her because she menguntungkan for you, I know about your brain, Leya,” ujarnya. Mr. Up adalah tutor pronunciation mereka. “But, you don’t know ‘bout my heart, Up,” balas Ms. Leya yang membuat mereka semua tertawa. “Kita sekarang sedang ingin menjenguk Ms. Rain, ‘kan? Atau, melihat Leya dan Up berkelahi, lagi dan lagi?” tanya Ms. Jihan, di antara tutor-tutor mereka, Ms. Jihanlah yang paling bijaksana. Seorang tuto grammar yang disiplin dan baik hati. “Enggak apa-apa, Ms., lagian jarang-jarang kita lihat para tutor berantem, ‘kan?” tanya Arga. Pertanyaan yang berhasil membuat isi ruangan tertawa riang. Senyum yang manis terbit di wajah Rainy. Wajah pucat yang mulai menampakkan cahayanya kembali itu, menatap satu persatu orang-orang yang ada di ruang rawatnya. Ia menemukan kehangatan baru di sini, keluarga dan jenis-jenis manusia yang baru. Cerita dan pengalaman baru sudah terukir di bagian lain Indonesia. Hati Rainy perlahan berbaikan dengan keadaan sakitnya yang dulu. “By the way, where is Ardan? Itu anak bungsu memang sering hilang-hilangan, ya!” seru Mr. Noah. BRAK! “Oh my God!” Itu teriakan Ardan yang mengejutkan, mereka semua tidak tahu apa yang sudah dilakukan laki-laki itu. Setelah sepersekian menit, muncullah wajahnya yang tanpa salah di hadapan mereka. “I am sorry, forgive me. Aku menjatuhkan diriku sendiri di lantai, hehe,” ujarnya. “HAHAHAHAHA!” “I bawa goodnews for you, guys,” ujar Ardan, mengheningkan tawa yang sudah menggema. “Kalian penasaran?” “Ish, apaan sih, Ardan!” “Kasih tahu, cepetan!” “Sabar kali.” “Timpuk, nih!” “Iya-iya.” “Ya, bilang!” “Besok Rain boleh pulang,” ujar Ardan. “Tadi aku ke ruangan dokter dulu untuk menanyakan status Rain di hidup aku, eh, maksudnya menanyakan kapan dia boleh pulang. Dan, dokter bilang Rain sudah boleh pulang besok pagi. Nah, para fans Rainy dipersilakan bahagia!” sambungnya. Rainy mengembangkan senyumnya saat teman-temannya menghambur dan memeluknya lagi. Berbagai macam ekspresi bahagia tertangkap oleh indra penglihatannya. Senyum ceria milik Lyla, gigi gingsul satu milik Dea, tawa riang milik Kinan, seruan bahagia dari Tuti dan masih banyak ekspresi lainnya. Semua itu terekam dengan baik dan menjadi memori yang indah untuk Rainy. Semesta, terima kasih sudah menghadirkan mereka di tengah-tengah orang-orang yang menolak saya. Terima kasih karena konspirasimu yang akhirnya membawa saya berjalan menuju tempat ini. Berjalan menuju kisah baru, yang menghadirkan kisah yang lebih seru di dalamnya, batin Rainy. Satu air matanya sukses menetes. Air mata bahagia. *** Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN