Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya.
***
Malam yang dingin memilih bersahabat dengan suara jangkrik dan lengkingan kodok, menghasilkan bunyian yang menenangkan jiwa untuk Rainy. Ia memilih menepi di ujung teras, memandangi pohon jambu yang ada di halaman rumah ini. Mereka memilih untuk tinggal di guest house sederhana selama empat hari tiga malam. Guest house yang terdiri dari lima kamar. Satu kamar untuk Ardan, Arga, Wahyu dan Trias. Dan empat kamar sisanya untuk para wanita, dibagi-bagi agar cukup.
Sementara dirinya sedang sibuk melamun, teman-temannya yang lain ada yang sedang bermain gitar dan mengiringi lagu. Ada yang sedang sibuk menyelesaikan skripsinya, Wahyu, meskipun begitu ia juga dengan senang hati menyumbangkan suara, ada yang bergosip. Dan, yang terakhir adalah Ardan yang mendapatkan tipukkan sandal yang berasal dari Astri, laki-laki itu dengan sengaja menarik rambut Astri yang terkuncir rapi.
“Ardan gila!” teriak Astri. Sementara yang diteriaki sedang berusaha menghindar dari timpukkan sendalnya.
“Karena sahabatmu!” jawab Ardan. Setelah kalimat itu keluar dari mulutnya, macam-macam ekspresi ia dapatkan dari teman-temannya. Ekspresi yang paling banyak muncul, atau dinamakan dengan modus, adalah ekspresi ingin muntah. Rainy hanya menggeleng-gelengkan matanya. Kembali masuk ke dalam lamunannya.
***
Suara bayi menggema di ruangan operasi berukuran empat kali empat persegi tersebut. Rainy hampir saja memejamkan matanya saat tiba-tiba perutnya kontraksi lagi. Sakit di perutnya sekarang lebih sakit dari yang pertama. Matanya sudah membengkak karena menangis, tubuhnya sudah amat lemas, tenaganya sudah terkuras.
“Satu anak lagi, Bu,” ujar dokter yang menanganinya. “Satu lagi, semangat, Bu,” sambung dokter tersebut. “Sus, siapkan satu tempat lagi.”
Rainy sudah kehilangan napasnya, sudah tidak tahu lagi bagaimana bernapas. Ia bingung, kenapa anaknya tidak keluar-keluar. Langit-langit menjadi objek terbaik untuk dia lihat, menetralisir, mencoba mencari tenaga baru. Sekarang, di langit-langit sudah tercetak perjalanan hidupnya selama ini. Tentang Ibunya yang lembut dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Ayah yang tegas dan selalu memenuhi kebutuhannya. Ola dan Ina yang selalu menanyakan sesuatu kepadanya. Ia mendapatkan semangat, ia harus berhasil, ia harus tetap hidup.
“Satu … dua … mengejan, Bu!”
“AAAAAAA!!” teriak Rainy panjang hingga tarikan napasnya habis.
“Oek … oek ….” Suara bayi menangis yang kedua menggema di seluruh ruangan, disusul dengan saudaranya yang lahir duluan. Rainy tersenyum, ia kehabisan tenaga. Matanya menghitam, ia hilang kesadaran.
***
“Kenapa kamu suka melamun?”
Rainy sadar akan sesuatu saat suara itu masuk ke indera pendengarnya: laki-laki yang bernama Ardan ini ternyata sangat suka menginterupsi lamunannya, mengusik khayalannya. Rainy menatap ke arah langit, gemintang sedang dengan baiknya memunculkan pementasan yang indah di sana. Satu senyum terbit di wajah Rainy.
“Kamu punya senyum yang manis. Apa boleh senyum itu aku miliki, Rain?” tanya Ardan. Ia selalu terpesona saat melihat Rainy tersenyum.
Rainy menatap Ardan sejenak, lalu kembali menatap langit. “Saya akan menjawab pertanyaan kamu yang pertama saja,” ujarnya. “Kenapa saya suka melamun? Karena saya menemukan dunia saya di sana, Ardan,” jawabnya.
“Dunia yang seperti …?”
“Seperti saat kamu bertemu dengan satu orang yang kamu cintai, kamu selalu ingin bertemu dengannya, berbincang dan banyak hal yang kamu lakukan untuk tetap berada di sana. Dan, itulah lamunan saya, ada dunia saya, saya sudah dijatuhkan pada dunia yang sepi itu. Dunia yang hanya saya seorang yang bisa memasukkinya,” terang Rainy. Lalu ia menunduk dan mengambil ranting yang ada di dekat kakinya. Melukis di tanah, tetapi ia tidak tahu apa yang ia lukis.
“Artinya aku sedang jatuh cinta, Rain.”
“Hmmm?”
“Aku selalu ingin bertemu denganmu, ingin berbincang dan selalu ingin berada di dekatmu. Kamu duniaku, artinya begitu, ‘kan?” tanya Ardan.
Rainy menggembungkan pipinya, lalu mengedikkan bahu. “Itu bukan hak saya untuk menjawabnya, Ardan,” ujarnya. “Eh, iya!” seru Rainy tiba-tiba sebelum Ardan sempat membalas pernyataannya.
Ardan menjengit, ia hampir terlonjak kaget. “Apa?”
“Apa yang kamu sukai dari matahari?”
“Bijinya.”
“Kalau yang barusan menanyakan itu adalah Astri dan kamu dengan cerdas menjawab seperti itu, mungkin kamu akan dilempar dengan sandal lagi, Ardan,” ujar Rainy.
Ardan tertawa, “Dan, untung kamu bukan Astri, ‘kan?” tanyanya.
Rainy melengos, kesal. “Matahari yang sebenarnya, bukan dalam bentuk bunga.” Lalu, dia melemparkan ranting yang tadi dipegangnya ke sembarang arah. Namun sayang, ternyata lemparan tanpa sengaja itu mengenai korban.
“MIAWWWW!” Lalu, dua ekor kucing keluar dari balik tumpukkan kayu, tempat Rainy mendaratkan rantingnya.
Sebenarnya, tempat mereka menginap ini berada di pinggir Blitar, di pedesaan yang rindang dan asri. Dikelilingi sawah dan rumah-rumah warga yang sederhana. Trias yang terlampau kreatif serta iritlah yang berhasil menggiring mereka ke sini. Laki-laki itu juga berhasil menyewa satu mini bus dengan harga yang miring, tetapi justru membuat mereka khawatir, kalau-kalau saja mini bus tersebut bertingkah di perjalanan mereka. Namun, lagi-lagi Trias berhasil meyakinkan mereka, terutama Astri yang cerewet bukan main. Sekarang, mini bus tersebut sedang terparkir di bawah batang jambu.
“Eh, kucing, maaf!” seru Rainy kaget. Ia langsung menutup mukanya, malu.
“Kamu mengganggu mereka sedang bermesraan, Rain!” sambar Ardan, lalu ia menyemburkan tawanya. Lucu, ia bisa membayangkan betapa kesal muka kucing-kucing tersebut, terutama yang jantan. Apalagi ditambah tingkah Rainy yang tiba-tiba menutup mukanya.
“Ya, saya ‘kan enggak tahu,” ujar Rainy membela dirinya. Ia juga sebenarnya ingin tertawa seperti Ardan, tetapi ia hanya berhasil mencapai level mengulum senyumnya.
Ardan berdeham, berusaha membulatkan suaranya. “Aku akan menjawab pertanyaan kamu tadi,” ujarnya setelah berhasil memberhentikan tawa. “Mungkin akan sama dengan jawaban orang-orang lainnya, karena matahari bisa tetap bersinar, walaupun dia seorang diri.”
“Saya ingin mendengarkan jawaban dari seorang Ardan, bukan jawaban orang-orang lain,” ujar Rainy berprotes.
Ardan berpindah ke hadapan Rainy, duduk di depan gadis itu. Lalu, ia sedikit mendongak karena duduknya Rainy lebih tinggi. “Yang aku sukai dari matahari adalah aku bisa melihat kamu tersenyum dengan jelas, karena ketika matahari bersinar senyumanmu juga turut bersinar, Rain. Kalau sedang gelap, kamu lebih banyak melamun begini. Aku tidak suka, karena tidak ada matahari.”
“Jawaban yang lain.”
“Karena kamu adalah matahariku.”
“Ah, Ardan!” keluh Rainy.
“Mari kita sambut Ardan dan Rainy!” Teriakan dari Trias menginterupsi pertengkaran mereka berdua, dalam waktu yang sama mereka saling pandang, mengernyit, lalu menoleh. “Nah, ekspresi kalian cocok sekali,” sambung Trias.
“Enggak!”
“Enggak!”
“Wuih, menolak bersamaan. Ayo, Rain, kita bukannya enggak tahu kalau suara kamu itu bagus, ya,” pujuk Dea. “Informasi ini kita dapatkan dari Astri,” sambungnya. Rainy langsung mendelik ke arah Astri yang sedang cengengesan.
Ardan menggenggam tangan Rainy, “Yuk!” ajaknya tanpa rasa beban.
“Ardan, nanti tangan kamu gatal!” seru Mira.
Astri mendengus, “Kalau yang Ardan genggam adalah tangan lo, mungkin tangan dia udah korengan, terus ada belatungnya!” serunya. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat tidak menyukai sikap buruk Mira terhadap sahabatnya. Dan di dalam hati Mira, ia ingin segera mencakar mulut comel Astri. Mereka berperang di dalam hati masing-masing.
“Lagu apa, Rain?” tanya Ardan setelah mengambil alih gitar dari Arga. Rainy hanya mengedikkan bahunya. “Okay, Terpesonanya Glenn Fredly, gimana?” tawar Ardan pada Rainy, tetapi yang mengangguk justri teman-temannya yang lain.
“Aih, bisa banget si Ardan milih lagu,” goda Arga.
“Arga, diam deh!” seru Dea. Argam mingkem seketika.
Ardan mulai menyesuai chord gitarnya, memainkan intro seraya menatap lurus ke arah Rainy yang hanya menundukkan kepalanya. “Ho oo oo … Saat kita jumpa … ada rasa di dalam d**a … kau tersenyum manja … membuatku terpana …,” ujarnya menyanyikan lirik lagu, seraya mengenang beberapa waktu lalu, saat pertemuan pertamanya dengan Rainy.
Rainy semakin menundukkan kepala, setelah ini adalah giliran suaranya. “Akupun tak kuasa … menahan gejolak diri … ingin kukatakan … aku menyukaimu …,” nyanyinya malu-malu.
“Suara Rain keren!” seru Dea. Lupa atas seruan dia untuk Arga tadi.
“De, diam, merusak suasana tahu enggak!?” sungut Kinan. Dea bungkam seketika. Karma dengan secepat itu berlaku.
“Hanya dirimu ….”
“Hanya dirimu … ho oo oo ….”
“Yang aku suka ….” Rainy memejamkan matanya.
“Terpesona ku pada pandangan pertama … dan tak kuasa menahan rinduku ….” Ardan bernyanyi sendirian karena Rainy sudah tak mengeluarkan suaranya. “Semua!” teriaknya.
Teman-temannya kompak membuka mulut, termasuk Rainy di dalamnya. “Senyumanmu … selalu menghiasi mimpiku … ingin kupeluk dan kukecup keningmu … oh indahnya ….”
“Ingin kurasakan … getaran cinta dalam d**a ….”
“Kuingin bersama … untuk selamanya ….” Rainy mengeluarkan suaranya lagi.
“Hanya dirimu ….”
“Hanya dirimu … ho oo oo ….”
“Yang aku cinta ….”
“Semua!” Jeng jeng jeng! “Terpesona ku pada pandangan pertama … dan tak kuasa menahan rinduku … Senyumanmu … selalu menghiasi mimpiku … ingin kupeluk dan kukecup keningmu … oh indahnya ….”
JENG JENG JENG!
PROK PROK PROK!
“Cocok, keren!” puji Lyla. “Tapi Rain masih malu-malu.” Semua temannya mengangguk setuju.
“Dia enggak bakal malu-malu kalau nyanyinnya cuma berdua sama aku,” sebut Ardan, ia bangga pada dirinya.
“Tapi imbalan yang harus didapatkan Rain itu berat, Ar, harus didorong ke kolam sama Mira,” sembur Astri. Semua mata yang tidak mengetahui tragedi kolam renang langsung menatap Mira dengan tatapan tajam.
“Biasa aja kali, kenapa juga mesti menatap aku kayak gitu?” ujar Mira.
“Lagian kamu pintar banget deh, Mir,” ucap Lyla. Ia juga sebenarnya kesal dengan Mira yang terlalu menganggap Rainy saingannya.
“Iya, kamu itu gi- ….”
“Sudah,” ujar Rainy. “Kita di sini enggak untuk berkelahi dan saling menyalahkan, ‘kan? Yang berlalu, ya sudah, biarlah dia berlari. Kita ciptakan kenangan baru di sini. Masa lalu biarlah hanya menjadi kenangan, kita sama-sama harus berdamai,” sambungnya. Tetapi sampai saat ini sayapun tidak memiliki cara bagaimana berdamai dengan masa lalu, berkali-kali proposal pengajuan perdamaian saya ditolak, sambungnya lagi di dalam hati.
“Iya,” sambung Wahyu, ia sudah mematikan laptopnya. “Mending sekarang kita nyanyi-nyanyi lagi, gue yang ngiringin,” sambungnya. Semua bertepuk tangan dengan riang, karena mereka tahu suara dan petikkan gitar Wahyu lebih mendingan dibandingkan Ardan ataupun Arga, apalagi Trias.
Malam dihabiskan dengan banyak tawa bahagia, membiarkan suara jangkrik yang semakin malam kian melengking. Mereka sama-sama larut dalam haru, tidak menyangka perjalanan kebersamaan mereka sudah terjadi dua minggu lebih. Artinya, dalam satu bulan setengah lagi mereka akan sama-sama menyelesaikan periode dua bulan yang mereka ikuti. Waktu terasa berlalu begitu cepat dan kenangan dengan silih berganti bercetak.
“Gue mau ngomong sesuatu, deh,” ujar Wahyu, ia menghentikan petikkan gitarnya setelah lagu ke tujuh sudah mereka nyanyikan.
“Apaan, deh!” seru Ardan.
“Gue speechless sama kita, it’s like, gila gue ketemu sama orang-orang yang sama sekali enggak ada di daftar pikiran gue. Gue ketemu kalian di sini, di Pare, kalian yang berasal dari banyak daerah dan membawa banyak ragam bahasa dan tingkah laku. Dan, kalian melengkapi perjalanan gue. Beneran, deh, gue sayang sama kalian. Terkadang gue mikir, ini beneran gue bertemu dengan orang-orang enggak jelas gini?” tanyanya sendiri, hening, semuanya larut dalam suasana malam ini. “Dan bener, gue bener-bener ada di antara kalian, di antara kita bertiga belas.”
“Gue mau nangis, Kambing!” seru Arga saat Wahyu sudah menghentikan kalimatnya. “Lu ngomong kayak gitu udah kayak kita mau pisah aja!”
“Karena semua hal yang ada di dunia ini memang memberikan kita pelajaran dan kenangan, saya sayang kalian semua.”
Dan malam itu habis dengan ungkapan dari hati mereka masing-masing, juga ada yang mengeluarkan uneg-uneg, keluh kesah dan lain sebaganya. Setelah semua hal sudah tersampaikan, mereka langsung meminta dan memberikan maaf. Membiarkan semua kejadian menjadi bumbu-bumbu di pertemanan mereka. Malam habis dengan air mata, juga tawa bahagia.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.