Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya.
***
Ardan sedang menjelaskan tentang Makam Bung Karno yang ia ketahui. Mulai dari sejarah Bung Karno selagi masih hidup, serta perjuangannya, tidak lupa tentang istri-istri Bapak Proklamator tersebut. Saat mereka berjalan menuju makam, di sisi jalan akan terlihat relief tentang perjuangan Bung Karno. Di relief tersebut juga terpahat wajah-wajah pahlawan Indoneisa.
Di sisi satunya terdapat pilar-pilar yang menjulang tinggi, lalu di tengah-tengah ada kolam yang di pinggirnya dihiasi pot tanaman. Saat berjalan di sana, kita akan disuguhi banyak pemandangan tentang perjuangan-perjuang Bung Karno untuk Indonesia.
“Mas Aar?” Ardan mengernyit saat mendengar suara yang ia hapal, tetapi sudah lama tak ia dengarkan. Suara itu mengganggu penjelasan yang sedang ia berikan pada Rainy dan Astri.
Mata laki-laki itu menelisik ke sekitar, mencoba untuk menemukan sumber suara yang memanggilnya dengan panggilan khasnya. Ardan menemukan sosok perempuan berkulit sawo matang, rambut panjang yang dikepang dua, bulu mata lentik dan senyum yang manis. “Kasih?” ujarnya.
Perempuan itu mengangguk, sangat anggun sekali. “Iya, ini Kasih, Mas,” ujarnya. Kasih mendekat ke arah Ardan dan memeluk laki-laki itu erat. “Kasih kangen sekali sama, Mas Aar,” akunya di telinga Ardan. “Sudah lama kita ndak ketemu.”
Rainy dan Astri yang sedang mendengarkan penjelasan Ardan mengenangi makam Bung Karno hanya mengernyit tidak mengerti. Saat ini, mereka bingung harus melakukan apa. Saat enak-enak mendengar, tiba-tiba perempuan bernama Kasih ini muncul di antara mereka. Sepertinya menarik penuh atensi Ardan.
Rainy menggamit Astri, “Kita pergi, Tri, kayaknya mereka butuh privasi,” ajaknya.
“Iya,” balas Astri.
Lalu, mereka berdua pergi ke spot lain yang ada di Makam Bung Karno. Mencoba mencari teman-teman mereka yang lainnya, karena mereka takut hilang dari rombongan. Mereka menaiki tangga yang disediakan untuk menuju makam Bung Karno, di sana sudah banyak orang dan rombongan Lyla juga sudah sampai di sana.
“Eh, Rain!” panggil Mira. Astri yang tidak senang dengan perempuan itu langsung memasang muka masam dan juteknya.
“Ya?”
“Siapa cewek yang melukin Ardan?” tanya Mira tepat pada poinnya, ia malas basa-basi. Baginya basa-basi untuk Rainy sudah terlanjur menjadi bahasa yang benar-benar basi.
“Saya enggak tahu, kenapa tidak menanyakannya sama Ardan?” balas Rainy kalem.
“Oh, enggak, aku pikir kamu itu istimewa buat Ardan. Ternyata enggak ada apa-apanya, cewek yang meluk Ardan aja kamu enggak tahu!” seru Mira sewot.
Astri ingin mencakarnya sekarang juga. “Itu mantannya Ardan kali, akrab banget!” ujar Mira lagi, berniat memanas-manasi Rainy. “Mending mundur deh, Rain,” sambungnya. Perkataannya sudah berhasil mencuatkan kekesalan di batin Astri.
Rainy tersenyum, tetapi ia bingung. “Mundur?” ulangnya. “Memangnya saya pernah maju, ya?” tanyanya. Mira mendengus keras.
Astri menggamit tangan sahabatnya, “Udah, Rain, di sini panas! Ngejauh, yuk!” ujarnya seraya memasang wajah jijik.
***
“Kasih, maaf,” ujar Ardan dingin seraya melepaskan pelukan Kasih dari dirinya. Ia belum menyadari bahwa Rainy dan Astri sudah hilang.
“Maaf, Mas, Kasih kangen banget sama Mas Aar. Semenjak Mas tamat sekolah, sudah jarang, bahkan tidak pernah kita bertemu, ‘kan?” tanya Kasih. “Kita duduk di situ yuk, Mas!” ajaknya seraya menunjuk bangku yang ada di dekat patung Bung Karno. Patung yang menjadi ikon awal saat memasuki kawasan Pemakaman Bung Karno.
“Ya sudah,” balas Ardan ragu. Sekarang ia sudah sadar dengan ketidakberadaan Rainy dan Astri, tetapi dia mencoba tenang. Bagaimana mungkin mereka berdua bisa hilang, ‘kan?
Kasih menampilkan senyum manisnya saat Ardan duduk di sampingnya. “Kata Mama, Mas Aar kuliah di Malang, ya? Universitas sama jurusan apa, Mas?” tanyanya.
“Universitas Negeri Malang, Teknik Sipil,” jawab Ardan sekadarnya.
Kasih ber-oh ria, “Kasih enggak kesampaian sekolah di sana, jadinya Kasih nunda satu tahun, hehe.” Ardan hanya merespon dengan anggukan kepala. “Mas Aar sehat-sehat di sana, ‘kan?” tanyanya lembut. Kasih sudah amat lama tidak bertemu dengan laki-laki baik yang menjadi cinta pertamanya di masa kecil hingga sekarang ini.
“Aku baik, Sih, enggak ada yang buruk selama Rainy masih baik-baik saja.”
Kasih mengernyit, lalu menatap ke arah Ardan yang tak melihat ke arahnya. “Rainy siapa, Mas?” tanyanya bingung. Ada batu yang tiba-tiba menabrak relung hatinya.
“Dua perempuan yang tadi bersamaku salah satunya adalah Rainy.”
“Dia siapamu, Mas?” tanya Kasih dengan bibir yang bergetar. Ia sadar hati yang selama ini ia jaga sudah menemukan hati yang baru. Dirinya juga sadar, hadir yang selama ini ia pinta pada Tuhan, ternyata sudah menemukan senyuman yang baru.
Ardan tersentak, ia salah bicara. “Bukan siapa-siapa, maksudku …,” ujarnya tercekat. Ia tiba-tiba saja tergugu.
“Bukan siapa-siapa bagaimana, Mas? Perempuan itu sudah membuat kamu tidak memandang Kasih saat berbicara. Siapa dia, Mas?” ujar Kasih tercekat, matanya sudah panas. “Apa dia istimewa untukmu? Lalu, bagaimana dengan penantianku?”
Ardan menggeleng, “Kasih, aku mohon buatlah semuanya jadi sederhana. Kita sudah pernah membahas ini, tidak ada bagian hatiku yang siap menerima hadirmu jika lebih dari seorang teman masa kecil.”
“Mas Aar!” bentak Kasih. “Mamamu yang meminta Kasih untuk tetap menantimu, Mas.” Ia sudah menumpahkan air matanya.
“Kasih, maaf. Mamaku tidak pernah menemui perempuan lain sebagai temanku selain kamu,” jawab Ardan. Sukses dengan telak menikam hati Kasih.
“Apa karena perempuan yang bernama Rainy itu, Mas?” tuntut Kasih. Dia sekarang sudah berdiri. “Apa karena dia penantianku kamu sia-siakan?”
“Aku tidak pernah memintamu untuk menanti. Aku sudah pernah bilang padamu tidak ada bagian hatiku yang siap menyimpanmu sebagai nama yang istimewa, Kasih,” terang Ardan. “Maaf jika ini melukaimu. Aku mohon agar kamu berhenti membuat penantian untuk laki-laki gila sepertiku ini,” sambungnya.
Ardan juga ikut berdiri, memberikan gadis yang ada di hadapannya ini sebuah pelukan hangat, pelukan yang menenangkan sebagai seorang teman. “Aku menyayangimu, tetapi itu hanya berhenti dalam lingkup pertemanan. Sekali lagi maafkan aku, Kasih,” ujarnya. “Semoga pertemuan tanpa sengaja ini bisa memberikan kamu kesimpulan,” sambungnya, lalu ia pergi meninggalkan gadis itu.
“Mas Aar!” teriak Kasih nyalang. “Kamu enggak bisa giniin Kasih, Mas,” gumamnya.
***
“Aku kepo deh sama perempuan yang tadi menemui Ardan. Dia punya panggilan spesial untuk anak itu, Rain. Mas Aar, tidak mungkin kalau dia bukan orang istimewa, ‘kan?”
“Sayangnya saya tidak kepo, Tri,” sahut Rainy.
Terdengar dengusan keras dari Astri, “Eh, kamu mikirnya sampai sini enggak, kenapa bisa Ardan menawarkan untuk pergi ke Blitar? Bisa jadi karena dia ingin menemui perempuan itu, Rain!” terkanya.
Rainy menghela napasnya, “Bilapun Ardan mau bertemu dengan perempuan itu, dia bisa pergi ke sini kapan saja, Tri, enggak perlu menunggu jadwal jalan-jalan sekelas,” balasnya santai.
“Jadi kamu enggak cemburu?”
Rainy mengernyit, kenapa pula suara Astri berubah menjadi suara Ardan? Ia memutar tubuhnya dan tepat laki-laki itu berjarak dua jengka darinya. Sangat dekat, pantas saja tadi suaranya terdengar menggema di telinga. Rainy terlonjak kaget, ia mundur ke belakang. Hampir saja terguling di tangga kalau saja Ardan terlambat menangkapnya.
“Apakah kamu tidak bisa kalau muncul itu enggak tiba-tiba!?” tanya Rainy saat ia sudah bisa mengatur keseimbangan tubuhnya.
Ardan mengerlingkan matanya jenaka. “Kamu lupa kalau aku ini punya sayap, Rain?” tanyanya.
“Saya enggak lupa kalau kamu itu ternyata laki-laki gila!” ketus Rainy.
Astri kali ini tidak mengambil percakapan, tidak mengeluarkan suara atau omelan. Ia hanya memindah-mindahkan pandangannya seiring dengan urutan antara Ardan dan Rainy berbicara. Melakukannya hingga kepalanya pegal. Lalu, dirinya akan capai dan mendengus sebal.
“Ciri-ciri perempuan sedang cemburu yang pertama ialah menjawab pertanyaan dengan ketus. Kamu sedang cemburu, Rain!” terka Ardan. Bukan menerka, melainkan sebagai tuduhan.
Rainy menggembungkan pipinya, tidak terima atas tudingan Ardan. “Apa alasan terlogis saya kalau harus cemburu?”
“Karena kamu sudah tertarik denganku.” Ardan berbicara dengan nada sombongnya, menarik kadar kekesalan Rainy hingga bertambah.
“Eh, saya permisi dulu, deh. Enggak mau nguping. Du du du!” pamit Astri dan berjalan menjauhi mereka.
“Astri! Jangan tinggalkan saya!” seru Rainy, lalu ia melangkahkan kakinya untuk menyusul Rainy. Namun sayang, Ardan dengan tangkas menangkap tangannya, mencegatnya. “Lepas, Ardan! Apaan, sih?”
“Kamu harus mendengarkan penjelasanku dulu.”
“Enggak mau, enggak penting!”
“Kamu harus punya cara untuk menghentikan kecemburuanmu, caranya adalah mendengarkan penjelasanku. Sini!” ajar Ardan seraya menarik lengan Rainy menuju salah satu bangku yang kosong di dekat tangga. “Duduk!” titahnya.
Rainy melipat keningnya, ia malas berdrama seperti ini, tetapi ia juga malas terjebak duduk berdua dengan Ardan. “Enggak!” jawabnya.
“Duduk, Rain!”
“Enggak mau! Kamu kenapa memaksa saya, sih?”
“Kamu sudah punya banyak pertanyaan kepada semesta yang pasti belum kamu temukan jawabannya. Maka dari itu, aku enggak mau menambah daftar pertanyaan kamu,” jelas Ardan. Rainy bungkam, laki-laki ini terkadang selalu punya cara untuk membungkamnya. “Sekarang duduk! Biarkan aku menjelaskannya sama kamu.”
Rainy mendengus, lalu menghempaskan pantatnya ke kursi. “Awh!” Setelahnya ia melenguh kesakitan.
“Itu kursi kayu, kamu enggak bisa lihat menggunakan mata?” tanya Ardan. “Lagi pula kalau cemburu tidak perlu sampai segitunya, Rain.”
“Enggak dengar!”
“Kasih itu teman masa kecilku, kita satu kampung di pinggiran Gresik. Rumahnya tepat berada di sebelah rumahku. Dia anak tunggal dan aku anak pertama. Masa kecil kami dipenuhi dengan pengalaman yang seru.”
“Enggak mau dengar!”
“Tetapi sayang ternyata dia menyimpan perasaan untuk aku di saat aku sudah mempermanenkan nama dia sebagai seorang saudara di hatiku. Pengakuan pertamanya adalah saat kami kelas dua SMA dan itu mengejutkan. Namun, aku tetap berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan dia. Sayangnya lagi, dia malah menganggap itu sebagai respon aku menerimanya. Dia menambah kadar harapnya.”
“Enggak peduli!”
Ardan gemas sendiri melihat tanggapan Rainy, tetapi dia harus tetap menjelaskan semuanya. Jangan sampai ada pertanyaan yang timbul di otak Rainy. “Setelah aku tahu dia tambah berharap, akhirnya perlahan aku menjauhinya, dengan tujuan dia berhenti menaruh rasa padaku. Namun, Mama justru mendukung dia untuk menantiku. Hingga saat ini, hingga bertemu di sini, dia masih mengatakan bahwa dia masih menanti. Namun, sudah aku jelaskan supaya dia berhenti,” terangnya. “Ada yang mau kamu tanyakan, Rain?”
“Ih, ada suara, saya jadi takut.”
Ardan yang sudah tak bisa menahan rasa gemasnya justru mencubit kedua pipi Rainy, lalu menekannya. Ekspresi kaget Rainy digabungkan dengan bentuk wajah seperti ikan gembung akhirnya membuat Ardan tertawa dan menyadari bahwa gadis di depannya ini bisa menjelma menjadi gadis yang benar-benar menggemaskan. Lalu, setelah puas ia melepaskan tangannya dan berlari menjauhi Rainy. Takut jika tiba-tiba perempuan itu berubah menjadi singa dan memangsanya.
“Ardan sinting!” seru Rainy kesal. Sekarang mungkin pipinya sudah memerah akibat tangan nakal Ardan.
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.