Update setiap dua hari sekali, betah-betah, ya.
***
Perjalanan dari Stasiun Kota Kediri ke Stasiun Gebang, Blitar, memakan waktu sekitar dua jam melewati banyak perkebunan tebu dan persawahan yang ada di Kota Kediri. Rombongan mereka berangkat pukul delapan pagi dengan perkiraan mereka akan sampai di Stasiun Gebang, Kediri, pada pukul sepuluh.
Mereka duduk berhadapan-hadapan di kereta. Ardan membuat ia dan Rainy duduk berhadapan dan sama-sama duduk di dekat jendela. Di samping Rainy tentu saja adalah Astri dan di samping Ardan adalah Arga. Teman-temannya yang lain juga duduk seperti itu, tetapi malang bagi Trias dia justru kedapatan duduk seorang diri. Duduk di samping ibu-ibu yang tidurnya ngorok. Itu tampak dari ekspresinya yang pias.
Pemandangan Kota Kediri di pagi hari yang dilihat dari kereta cukup menakjubkan. Hamparan sawah yang masih hijau sangat luas, di mana ada petani yang sedang menjaga padinya agar tidak dimakan burung-burung. Juga tampak dari mata penumpang, hamparan kebun tebu yang luas dan menyegarkan mata. Memang, sekali-kali kita perlu keluar untuk mengetahui bahwa dunia ini memanglah indah.
“Rain,” panggil Ardan memecahkan lamunan Rainy. Ia bosan hanya diam saja, dia ingin mengobrol, Arga malah tidur.
Rainy menolehkan pandangannya dari pemandangan di samping jendela kereta menuju Ardan, meskipun pemandangan di luar sana jelas lebih menarik. “Kenapa?”
“Satu tambah satu, berapa?”
“Dua.”
“Kalau aku ditambah kamu jadi kita, boleh enggak?” ujar Ardan. Lalu laki-laki itu mengerlingkan matanya.
Rainy memain-mainkan tangannya, seolah berpikir, padahal dia hanya ingin mencoba mencari jawaban yang bisa membuat Ardan terkejut. Ingin membalaskan dendamnya karena apa yang diucapkan laki-laki itu selama ini membuat dirinya terkaget-kaget.
“Kenapa diam?” celetuk Ardan. Ia sekarang bingung kenapa Rainy justru memandangnya lebih lama.
“Sedang berpikir.”
“Apa?”
“Sedang berpikir cara supaya kamu diam.”
Hening. Ardan benar-benar bungkam. Ia dapat memastikan bahwa perjalanan ini akan sangat membosankan untuknya. Matanya berkeliaran ke sekeliling, melihat Trias yang sudah menjadi sandaran ibu-ibu di sampingnya. Wahyu yang mendapatkan tempat duduk di samping Mira dan di depannya ada Kinan dan Dea. Lyla yang duduk dengan Tuti di bangku ujung. Serta Ruri dan Pita yang duduk di dekat pintu masuk. Dan, teman-temannya itu sudah tidur. Astri dan Arga juga sudah tidur. Hanya dia dan Rainy yang tidak tidur, tetapi gadis itu terlalu asyik berenang dalam lamunannya.
“Ardan.”
“Alhamdulillah, akhirnya dipanggil. Kenapa, Sayang? Eh,” ujar Ardan, lalu ia berpura-pura menutup mulutnya.
Rainy mengernyit, “Tidak jadi.”
“Yah!” keluh Ardan. “Rain, masa enggak jadi? Aku mau diajak ngobrol daripada diam-diam begini.”
“Tapi saya suka diam.”
“Tapi aku enggak.”
“Karena saya bukan kamu, ‘kan?”
Ardan bersungut, mukanya sekarang sudah berekspresi sangat kesal. “Ish!”
“Buku saya yang Biru itu based true story,” ujar Rinjani, tidak mempedulikan ekspresi kesal laki-laki di depannya. “Kisah teman saya di Bengkulu,” sambungnya.
Ardan sumringah, ini topik menarik untuknya. “Pantas, emosi di dalam cerita itu tidak berlebihan, pas.”
“Dia punya kekasih, lebih tepatnya teman yang sangat detail. Dan, laki-laki itu bipolar. Satu sisinya sangat mencintai teman saya, sisi lainnya sama sekali tidak mengenalinya.”
“Menarik, Rain, cerita itu benar-benar menarik. Lalu, apakah ada novel yang kamu buat itu adalah cerita hidup kamu?”
Hamparan persawahan sekarang sudah berganti dengan rumah-rumah warga, tetapi tetap enak dipandang. Rainy mengalihkan pandangannya ke arah Ardan, pertanyaan yang diajukan laki-laki itu berhasil membuat jantungnya tersentak, lalu berdegub kencang. Ia memegangi dadanya, merasakan getaran jantungnya. Lalu, Rainy mengembuskan napasnya perlahan.
“Cerita hidup saya terlalu pahit, Ardan, saya sendiri tidak mampu menceritakannya. Saya juga tidak bisa mengurutkan cerita ini supaya jadi baik,” jawab Rainy. Sekarang, auranya sudah tidak seceria tadi. Sudah ada raut kesedihan yang tersirat di wajahnya.
“Maaf,” ujar Ardan. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, mengeksprekian kebingungannya atas apa yang barusan Rainy ucapkan. “Kamu tahu kenapa burung itu punya sayap?” ujarnya tiba-tiba.
“Karena mereka dipercayai untuk bisa terbang.”
“Aku juga punya sayap.”
“Artinya kamu burung?” balas Rainy.
Ardan tersenyum, gadis di depannya ini tidak berhenti berbicara dengannya setelah perubahan raut wajah. Jangan sampai dia salah bicara lagi. “Iya, tetapi aku adalah burung yang hanya untuk kamu. Terbang hanya untuk menemuimu.”
“Menggunakan pesawat?”
“Sebagai perantara, karena sayapku akan aku gunakan saat hanya bersamamu. Membawamu terbang.
“Rencana yang menarik,” jawab Rainy. Ardan tersenyum riang. “Tetapi saya tidak tertarik.” Ardam mengembuskan napasnya kesal lagi dan lagi.
***
Stasiun Gebang ternyata cukup ramai saat mereka sampai. Ada yang berlarian seraya menggendong ransel mereka saat kereta mulai membunyikan peluitnya, nyaris terlambat. Ada juga yang turun dengan seabrek kardus dan tas ransel, mungkin berisi oleh-oleh, mungkin juga isinya adalah pakaian kotor. Tempat-tempat di Pulau Jawa ini rata-rata adalah tempat sibuk, untuk sekali lagi Rainy dibuat takjub.
“Rain, sini tas kamu aku bawakan,” tawar Ardan.
Rainy menggeleng, “Ini cuma ransel.”
“Bawain tas aku aja, Ardan,” sambar Mira. Sambaran yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Ardan. “Ih!” serunya.
“Blitar panas, ya?” tanya Dea, ia sudah berkali-kali menyeka keringat di dahinya.
“Enggak, dingin,” sahut Ardan. Mata ke sepuluh temannya langsung menyoroti dirinya, kecuali Rainy dan Astri yang memilih tidak peduli. “Karena di sini ada hujan.”
“Apaan, sih!” sungut Kinan.
“Rain, Rainy,” jawab Ardan seraya melihat ke arah Rainy, lalu tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya.
“Ketawain, Wei! Kasihan, masih muda,” sungut Wahyu. Lalu, dengan kompak teman-temannya tertawa. Lebih tepatnya menertawai Ardan.
***
“Woah, keren!”
Tempat pertama yang mereka datangi ialah Makam Bung Karno yang ada di Blitar. Keberadaan makam Bung Karno di Blitar menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yang datang berkunjung. Setiap hari kompleks makam seluas lebih dari 1,8 hektare ini selalu ramai dikunjungi. Apalagi setelah adanya perpustakaan dan museum kecil yang terbuka untuk masyarakat umum, pengunjung pun bisa mendapatkan informasi yang lebih banyak mengenai perjuangan Bung Karno. Tempat ini juga dilengkapi dengan fasilitas musala dan pendapa paseban sebagai tempat pengunjung yang ingin beristirahat.
Kompleks makam Bung Karno ini terletak di Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sanawetan Kota Blitar, tepatnya di Jl. Slamet Riyadi. Pusara Bung Karno dan kedua orangtuanya ditempatkan di sebuah bangunan berbentuk joglo, ciri khas bangunan masyarakat Jawa, yang disebut dengan Cungkup Astana Mulyo. Nisan Bung Karno yang terbuat dari batu pualam besar berwarna hitam, bertuliskan: “Di sini dimakamkan Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden Pertama Republik Indonesia, Penyambung Lidah Rakyat”.
Mereka masing-masing memisahkan diri menjadi berkelompok-kelompok. Astri dan Rainy juga menepi, mereka akan merasa lebih nyaman jika mereka berjalan berdua saja. Namun sayang, Ardan yang baik malah memilih membuntuti mereka. Akhirnya, mereka bertiga. Dan kesepuluh teman yang lainnya terbagi menjadi tiga kelompok.
“Kamu sama Astri mau aku fotokan di sini enggak, Rain?” tawar Ardan saat mereka sudah sampai di patung Bung Karno, patung yang dijadikan patung pembuka.
“Boleh,” jawab Astri. Lalu, ia menarik tangan sahabatnya itu dan berpose tepat di depan patung Bung Karno.
“Rain, kalau foto sama aku, mau?” tawar Ardan dengan hati-hati.
Rainy ragu-ragu, sesungguhnya dia tidak terlalu suka berfoto ria. “Udah, ih, sana!” dorong Astri, juga mendorong tubuhnya. Rainy hanya meringis.
“Satu … dua … tiga ….”
Ceklek!
“Rain, ini kok kamu menutup muka, sih?” tanya Astri saat melihat hasil fotonya. “Ulang!”
“Enggak mau!” jawab Rainy cepat.
“Ih, biar bagus, Rain,” pujuk Astri. “Masa kamu cuma punya foto bagus waktu sama Bayu doang, sih?”
Rainy merubah ekspresinya setelah ia membesarkan mata. Kenapa lagi-lagi selalu ada nama laki-laki itu di perjalanannya? Kenapa Astri tidak pernah berhenti menyebut nama Bayu, padahal gadis itu sudah tahu dengan kisahnya. Sekarang, Rainy sudah sangat kesal dengan Astri.
Ardan membaca muka gadis yang ada di dekatnya itu, menangkap ada sesuatu yang pahit di sana. “Yuk, kita pindah lokasi, yuk!” ajaknya, menarik tangan Rainy.
“Heh! Tungguin!” seru Astri. Namun sekarang, ada rasa bersalah yang menyisip di hatinya. Kenapa pula mulut latahnya ini terlalu suka menyebut-nyebut nama Bayu?
***
Terima kasih karena sudah membaca cerita ini.
Salam sayang,
Rumy.