Aroma Hujan

1410 Kata
Update Selasa dan Sabtu. *** Langit berselimut gumpalan awan kelabu. Udara dingin seakan menembus kulit, kemudian melesak masuk dan menusuk ke dalam tulang. Daun-daun yang basah bergoyang ditiup angin. Ia hirup aroma sisa hujan tadi siang seraya menatap hamparan rumah-rumah yang sudah temaram. Seperti kemarin-kemarin, setiap kali hujan mereda, dia selalu duduk di sini. Di atas atap asrama, di ujung yang memiliki sudut 90 derajat. Memeluk erat kedua kakinya dengan dagu bertopang di lutut. Matanya sesekali berkedip tak lepas dari senja yang mulai menghitam, sementara bibirnya terkatup rapat, kadang-kadang membentuk senyum segaris meskipun sebentar. Dia menyukai saat hujan sudah reda, terlebih bau tanah yang sedikit basah. Lalu, ia akan berdiam lama dalam posisi yang sama, tak bergerak sedikit pun. Astri terkadang memandanginya lekat-lekat, memastikan kalau sahabatnya itu tidak berubah menjadi patung. Dan, Astri akan merasa lega jika masih melihat gerakan punggungnya yang samar naik-turun. Meski ia tak ingin membiarkan Rainy terlalu suka berdiam lama dalam udara yang dingin, tetapi ia tetap saja memberikan jeda-jeda yang selama ini Rainy upayakan. Terdengar hembusan napas di belakang Rainy. “Ada beberapa hal yang memang sudah harus kamu maafkan, Rain.” Astri sudah tiba di belakang sahabatnya itu. Mencoba meramaikan sepinya Rainy. Rainy mendengarkan suara itu, lalu memekarkan tubuhnya. Lama-lama ternyata pegal juga berdiam dalam posisi seperti itu. “Sudah berulang kali mencoba, menyerahkan seribu maaf untuk segala hal yang terjadi, Tri.” Ia menyunggingkan senyumnya. Senyum yang sudah biasa terlihat pahit dalam tiga tahun ini. Senyum yang selalu ia paksakan agar tetap bertengger di wajahnya. Senyum yang ia harapkan sebagai bulan purnama di gelap hidupnya selama ini. Astri mengerjapkan matanya berkali-kali, beberapa debu berusaha menembus masuk ke matanya karena terbawa angin. “Tadi aku bertemu dengan Ardan.” Informasi yang mungkin tidak akan dipedulikan oleh Rainy. “Bukannya setiap hari kamu bertemu dengan dia?” Rainy tersenyum lagi, senyum yang tetap saja sama kadar pahitnya. Hari ini, ternyata hatinya terlalu diliputi oleh kelu yang tak berujung. Ia sendiri tidak mengerti kenapa hujan selalu memberikan makna berbeda untuknya. Terkadang dirinya merasa bahagia saat hujan tiba, tetapi kali ini dia justru mendapatkan kegundahan saat hujan itu berhenti mengucur. Berganti dengan cucuran luka di hatinya. Rainy sama sekali tidak mengerti. Setelah menyelesaikan senyumnya, Rainy menatap ke arah atap satunya di asrama mereka, atap yang lebih tinggi, teruntuk orang-orang yang beruntung mendapatkan kamar di sana. Ada kucing yang sedang berusaha naik ke puncak atap, ia jadi ingat kucing yang dirinya dan Ardan ganggu ketika di Blitar. Kucing itu apa kabar, ya? Ardan, juga apa kabarnya? Rainy berkelahi dengan hatinya sendiri, jangan sampai hatinya memberikan atensi berlebihan untuk anak laki-laki berusia delapan belas tahun itu. “Dia menceritakan banyak hal.” Rainy mengembuskan napasnya sejenak, menarik dalam, lalu mengembuskannya lagi. Ardan memang selalu bercerita, apapun, bahkan untuk hal-hal yang selalu membuat Rainy kaget. “Tidak menarik untuk saya, ‘kan?” Hanya itu kalimat yang bisa diungkapkannya, untuk hatinya yang masih bingung menentukan arah. “Dia jatuh cinta sama kamu.” Rainy tersenyum. “Kabar yang lucu, bukan? Bagaimana pula dia dengan teganya menjatuhkan hatinya untuk saya, Tri? Menjebak dirinya untuk mencoba menyentuh hati saya, menyentuh hati yang bahkan pemiliknya pun sudah tidak memahaminya lagi.” Astri menggeleng keras, Rainy bukan tidak memahami hatinya, tetapi ia menolak untuk paham akibat rasa takut yang selama ini menghantuinya. “Bukalah hati kamu untuk dia, Rain.” “Membuka hati bagaimana? Hati saya sudah hancur berkeping-keping, Tri, enggak ada lagi sisa hati untuk dia tempati, pintunya juga sudah hilang.” Bagaimana saya bisa membuka hati, Tri? Saya sendiri sudah tidak bisa menemukan kunci hati saya. Saya sendiri sudah sering berkelahi dengan hati saya. Bagaimana bisa? Batinnya juga ikut bersuara, mendukung keteguhan ingin Rainy agar tidak menjatuhkan hatinya pada Ardan. Astri membuat Rainy menatap matanya. Ia memberikan tatapan lama kepada sahabatnya itu. Tatapan mata yang dititipkan Ardan padanya untuk Rainy. Sebuah tatapan yang menyiratkan laki-laki itu sudah menaruh atensi penuh pada sahabatnya. “Rain, aku serius.” Rainy tertawa sumbang. “Apa jawaban saya terdengar berbohong, Tri? Saya sudah tidak mau jatuh cinta.” Satu tetes air mata jatuh dari pelupuk matanya. Air mata yang tak ia ketahui apa makna atas luruhnya. Dan Astri dengan jelas menyaksikan air mata itu luruh. Dia mungkin sudah menjadi perempuan yang sama sekali tidak mengerti apa mau dari hati dan pikirannya sendiri. “Jangan egois.” Rainy mengembuskan napasnya, akhir-akhir ini sepertinya dia dipaksakan untuk mengembuskan napas itu berkali-kali, lalu ia tertawa pelan. “Ardan yang egois jika saja dia tetap menaruh hati untuk saya. Ia akan bersikap egois untuk dirinya sendiri.” “Cinta memang terkadang akan bersikap egois, Rain.” Astri menengadahkan kepalanya ke langit, tak terasa ternyata air matanya juga ingin meluruh saat ini. Dari nada dan jerinya suara Rainy sudah menafsirkan betapa takutnya gadis itu untuk jatuh cinta lagi. Astri sebenarnya sudah bisa menarik benang merah tentang perasaan yang Rainy punya, gadis itu sudah tertarik dengan Ardan. Namun, ia terlalu takut pada hatinya jika ia menjatuhkannya pada Ardan. Sahabatnya itu takut jika hatinya dirusak, kepercayaannya dihancurkan lagi. Beberapa hal ternyata sangat sukar diakui, meskipun kita sudah merasakannya sejak jauh-jauh hari. Rainy menganggukkan kepalanya, “Ya, sekarang saya sedang mencintai diri saya sendiri, saya berhak egois, ‘kan?” Ia menoleh ke samping, membuat matanya bertabrakkan dengan tatapan sendu Astri. “Jangan egois dengan diri kamu sendiri, Rain.” “Jangan jadi jahat dengan mengatas namakan cinta, Tri.” “Rain, aku mohon.” Rainy bergeming, ia tidak mengerti kenapa Astri begitu bersikukuh agar dia membuka hatinya untuk Ardan? “Tri, saya mohon kamu jangan memohonkan saya melakukan sesuatu yang tidak bisa saya lakukan. Itu akan menyiksa diri saya sendiri.” Ia berdiri, senja sudah tenggelam dan malam sudah menjadi kelam. Rainy berjalan untuk kembali ke kamarnya, meninggalkan Astri sendiri. “Aku lihat dari matanya, Rain, dia tulus. Dia bukan hanya sekedar anak laki-laki yang berumur delapan belas tahun,” gumam Astri. *** “Ada surat.” Astri menunjukkan amplop surat berwarna merah muda yang baru saja ia keluarkan dari dalam tasnya. Mengibas-kibaskan amplop itu di udara, mencoba untuk menarik perhatian Rainy. Rainy memiringkan kepalanya sebesar sembilan puluh derajat, lalu menaikkan salah satu alisnya, lebih tepatnya alis yang sebelah kanan. “Surat?” Ia mengernyit. “Pos?” Astri mengangguk, “Tapi bukan pos, orang aku posnya.” Lalu menyodorkan amplop surat itu ke arah Rainy. “Dari Ardan, tadi dia berikan kepadaku saat kami makan siang di Al Fazza. Untuk kamu.” Ia menaik-naikkan alisnya seraya memasang senyuman jahil andalannya. “Kenapa tidak sekalian dititipkan dengan tukang pos?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Rainy menggembungkan pipinya. Lalu, ia kembali kepada aktifitasnya tadi, melipat pakaian yang belum sempat ia lipat sejak kemarin. Dia terlalu lelah dengan petualangan dan banyak insiden yang terjadi di Blitar “Padahal aku sudah bilang.” Astri mendengkus keras. “Kamu sudah lupa kalau aku sudah menjelma menjadi tukang pos untuk Ardan demi kamu?” Hanya itu runtukkan yang dapat dia ucapkan di antara runtukkan hatinya yang lain untuk keanehan hubungan yang diciptakan dua orang paling mengesalkan di muka bumi ini. Rainy tertawa, lalu memeluk erat sahabatnya itu. “Ada gerangan apa kamu mau saja jadi tukang posnya Ardan?” ujarnya, lalu mencuil hidung Astri. “Kamu ternyata bisa dengan rela demi laki-laki itu,” sambungnya, lalu tertawa kembali. Astri melepaskan pelukkan Rainy, ia sekarang sedang ada dipuncak kekesalannya saat melihat respon Rainy yang seperti ini. “Ada gerangan supaya sahabatku bisa membuka hati untuk Ardan. Gerangan agar dia enggak selalu menikmati kesendiriannya bersama pahit yang selama ini dia rasakan.” Rainy melepaskan pelukkannya. Tawanya menggelegar di dalam kamar mereka. Bahkan, karena tawa yang menggelegar itulah Astri terlonjak mundur. Dia berpikir bahwa sahabatnya tiba-tiba saja kesurupan setan penunggu asrama. “Sudah akrab, Tri,” jawab Rainy sekenanya. Astri mendecap, lalu memegang jantungnya. Ia masih shock dengan tawa Rainy yang tiba-tiba. “Nih, ambil!” ujarnya lagi, kembali menyodorkan pucuk surat milik pujangga yang bernama Ardan Firdaus. “Enggak, kamu saja yang bacakan untuk saya, ya, Tri?” “Ardan menuliskannya dengan tangannya sendiri, bukan tanganku. Memikirkan isinya dengan otaknya sendiri, bukan otakku. Maka kamu, harus membacanya dengan mulut dan matamu sendiri, bukan menggunakan mulut dan mataku,” ujar Astri tegas. “Garang, deh!” kelakar Rainy. Lalu, ia ambil surat beramplopkan amplop warna merah muda itu dan mereka akhirnya sama-sama tertawa. Sekarang mereka menyadari bahwa mereka adalah dua perempuan aneh yang disatukan dalam masalah yang tak kalah aneh. ***    Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN