Surat dari Ardan

1126 Kata
Update Selasa dan Sabtu. *** “Sudah kamu baca suratnya, Rain?” tanya Astri, dia sudah selesai mandi, tetapi sahabatnya itu masih saja betah bercengkerama dengan baju-bajunya sendiri. Astri heran, ia adalah perempuan yang memakan waktu lama saat mandi, tetapi sahabatnya ini belum juga menyelesaikan lipatannya. Rainy melakukan apa saja selama dia mandi? “Eh, iya! Saya lupa, Tri. Terlalu asyik tenggelam bersama lamunan,” jawab Rainy. Sekarang, Astri sudah mendapatkan jawaban kenapa lipatan pakaian sahabatnya itu tidak selesai-selesai juga. Tentunya jawaban yang menyebalkan. “Tapi suratnya di mana?” tanya Rainy bingung. Ia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Di dalam lubang WC!” jawab Astri. “Lagian tadi kamu lempar ke mana setelah aku kasih sama kamu?” sambarnya sebelum Rainy sempat menjawab. “Enggak tahu, ‘kan saya langsung melamun!” balas Rainy. Astri membesarkan matanya, bagaimana bisa sahabatnya ini menjawab seperti itu? Bagaimana bisa Rainy hilang kesadarannya? Bagaimana bisa Rainy menjelma menjadi gadis aneh sekaligus mengagumkan dalam satu waktu. Apa masalahlah yang membuat pribadinya menjadi terlalu sukar terbaca? Astri menggaruk kepalanya frustasi. “Hobi kok melamun, sih, Rain!” “Hobi saya ‘kan menulis, Tri.” “Itu hobi kedua kamu, hobi pertama jatuh kepada melamun! Yeay!” seru Astri, lalu dia mendengkus. Ada-ada saja tingkah sahabatnya ini. “Cari suratnya!” “Kamu bilang di dalam lubang WC?” tanya Rainy, ia menampilkan wajah bingungnya yang terlalu polos. Terlalu polos untuk menjadi korban cakaran Astri yang sudah terlampau gemas. “RAIN!” bentak Astri. “Kamu jangan buat aku melakukan hal yang iya-iya, deh!” sungutnya. Rainy cengengesan, sekarang lipatan cuciannya sudah selesai. Cepat juga, padahal rambut Astri juga belum kering. Korelasi yang sangat tidak ada sambungannya. “Eh, di sini!” serunya saat melihat amplop surat yang berwarna merah muda itu. “Saya ingat! Tadi saya tar- ….” Astri menaruh jari telunjuknya ke bibirnya sendiri. “Sttttt, baca sana! Aku enggak butuh penjelasan kamu!” serunya sebelum Rainy menyelesaikan ucapannya. “Huh!” keluh Rainy, lalu keluar dari kamar mereka. Astri hanya tertawa melihat tingkah sahabatnya yang terlalu menggemaskan kali ini. *** Rainy menyeret langkah kakinya untuk pergi ke rooftop lagi, setelah sore tadi ia habiskan untuk merenung di sana. Kali ini, sepucuk surat ada di dalam genggamannya. Surat yang membuat ia dan Astri hampir jambak-jambakkan rambut. Tangannya mengangkat surat itu, memandanginya sejenak. Di depannya sudah ada tertanda: Untuk Hujan yang menarik penuh hatiku. –Ardan. Rainy tersenyum membacanya, laki-laki itu sebenarnya termasuk ke dalam katagori laki-laki puitis yang ia kenali. Ia membuka amplop tersebut dan sekarang sudah ada dua lembar kertas surat di tangannya. Dia memilih untuk duduk di tempatnya tadi, tempat favoritnya. Untuk Hujan yang menarik penuh hatiku, gadis yang bernama Rainy Hulya Arrum. Meski aku punya niat untuk menggantikan namanya menjadi Rainy Hulya Firdaus. Sudah membaca niatku? Bagaimana, apakah kamu setuju? Rainy tertawa, tertawa lepas. Baginya pembukaan yang Ardan torehkan di suratnya cukup menarik dan lucu. Dirinya selalu menanti sebuah kabar dari matahari yang terbit di ufuk timur, matahari yang tenggelam di ufuk barat, bahkan hingga matahari itu terbit lagi. Kabar bahagia yang pada akhirnya membuatnya tertawa. Namun, hati yang ia miliki terlalu takut untuk membaca kabar-kabar itu, menerka ada apa dengan maksudnya. Rainy juga sudah melewati musim yang berganti berulang kali, tetapi kabar yang ia harapkan tidak juga muncul di sisi. Sekarang, setelah tiga tahun berhasil ia lewati, dia sebenarnya sudah tak yakin lagi, terlebih pada hatinya sendiri. Namun, Ardan berhasil hadir dan berangsur-angsur merubah apa yang sudah tertanam di hatinya. Rainy berhasil tertawa lepas, lagi. Kamu boleh tertawa saat mendengar niatku, Rain. Tertawamu untukku adalah kebebasan dari penjara bagi nara pidana, sebuah keberuntungan. Untuk kalimat yang ini, kamu cukup untuk menyunggingkan senyummu saja. Senyum manis yang aku doakan agar hanya menjadi milikku saja. Rainy benar-benar menyunggingkan senyumnya. Sebenarnya, jika dia bisa menyadari dengan baik kondisi hatinya, hatinya selalu menghangat atas apapun hal yang dilakukan oleh Ardan. Kalau kamu mengira surat ini adalah surat ungkapan hati, kamu salah, Rain. Hehe. Karena surat ini adalah surat ajakan, atau boleh kunamakan sebagai undangan? Bagaimana kalau undangan dari Ardan untuk Hujan agar bisa mengguyurnya setiap waktu? Atau, undangan dari Ardan untuk Rainy yang sudah membuatnya berkali-kali mengalihkan waktu. Aku sudah persis menjadi pria-pria roman picisan belum, Rain? Atau, aku menggunakan bahasa saya saja, ya? Seperti Biru dan Mahameru yang ada di ceritamu? Agar bisa menjadi pria yang selalu hadir di pikiranmu …. “Kamu enggak perlu menjelma jadi orang lain, kamu cukup jadi Ardan saja.” Tanpa sengaja Rainy bergumam. Gumaman yang seharusnya ia paham sebagai kondisi hatinya. Yap! Aku akan tetap menjadi Ardan untuk seorang Rainy. Hehehe …. Aku kok hehe-hehe terus dari tadi, ya, Rain? Rain, aku mau bertanya, nih. Kalau kamu membaca surat ini, apakah suaraku ada di otakmu? “Iya.” Kalau jawabannya adalah iya, artinya kamu sudah merindukan aku. Hehe. Maaf, ya, karena selama seminggu ini aku mendiamkanmu. Aku sengaja! Supaya kamu punya jarak untuk merindukan aku. Bukan hanya itu, aku harus beritahu kamu ternyata dalam seminggu tidak berbicara dengan kamu, kadar kagumku justru bertambah. Bagaimana? Kamu tanggung jawab, dong! “Katanya tadi ini surat undangan?” Oh iya, hampir lupa! Ini ‘kan surat undangan. Kalau saat membaca ini kamu ada di samping aku, pasti kamu sudah protes, ‘kan? Ah, kalau kamu di sampingku, mungkin surat ini tidak akan pernah aku buat, Rain. Hmmmm …. Kita masuk ke inti surat ini, jadi aku ingin mengundang kamu ke hatiku. Eh, tapi udah masuk, ding! Ganti, aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat. Enggak jauh-jauh, tapi kamu harus aku boncengin pakai sepedaku. Mau, ya? ‘kan besok hari Minggu. Memangnya kamu tidak bosan bermesraan dengan laptop dan mendengarkan omelan Astri? Aku saja bosan menghabiskan waktu dengan Nenek Lampir itu meski hanya satu detik. Jawabannya harus mau! Rainy mengernyit, “Pemaksaan!” Kalau enggak dipaksa, mana bisa berhasil aku, Rain! Sudah, ah, aku akhiri surat ini dengan kalimat: hei, apapun masalahmu, percayalah aku memilih untuk tetap menjadi ada. -Ardan, atau sudah boleh kutuliskan menjadi Ardanmu? Rainy tidak menyadari bahwa pipinya sudah basah. Surat sederhana dari Ardan ini ternyata dengan begitu mudah berhasil membuatnya menangis, meski Rainy lagi-lagi tidak bisa menerjemahkan arti luruhnya air matanya ini. Tiba-tiba saja ia seperti disergap aroma rindu, dikurung agar ia segera sadar siapa sosok yang sudah berhasil membuatnya rindu. Rainy mengusap air matanya saat dia sadar bahwa dia sedang menangis menggunakan punggung tangannya. Dia menatap lagi surat itu, surat yang ditulis Ardan dengan tangannya sendiri dan perkatanya laki-laki itu pikirkan dengan otaknya sendiri. Sekarang, aroma hujan bersamaan dengan elegi rindu merasuki relungnya. Rindu pada kerecehan yang selalu Ardan pertunjukkan. “Kenapa aku jadi merasakan rindu pada laki-laki delapan belas tahun itu?” ***    Terima kasih karena sudah membaca cerita ini. Salam sayang, Rumy.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN