Disekolah...gue jadi bahan pembicaraan banyak orang atas kejadian kemarin ketika Mas Om datang kesekolah.Andai saja gue bicara dari awal kalau jangan pernah datang kesekolah,mungkin ini tidak akan terjadi. Tapiiii, nasi sudah jadi bubur. Tidak akan pernah kembali lagi. Malahan hanya akan bisa dibuang dan di tinggalkan.
"Hey...itukan anak yang kemarin di jemput sama cogan yang depan gerbang?" Kata salah seorang murid yang gue enggak kenal siapa.
"Ya..bener..cantik ya...dia beruntung banget dapet cogan tajir lagi!!" Kata temannya yang sedang berkumpul di depan kelas.
Ingin rasanya gue pulang lagi dan tidak usah masuk sekolah, tapi tidak mungkin bila gue harus pulang lagi.
"Cantik siih...tapi dia tuh di kenal dengan nama Es batu tahu!" Terdengar lagi yang bicara, tapi kali ini membuat gue cukup tersinggung tapi, gue abaykan sajalah.
Itulah segelintir percakapan yang bisa gue dengar dari mereka.Selebihnya...gue ga tahu karena gue masang haedset di telinga.Supaya bisa meredam semua yang mereka katakan. Jujur, gue merasa risi dengan apa yang mereka katakan. Tapi tidak bisa berbut apa-apa.
Ini semua gara-gara Mas Om, gue jadi bahan gunjingan orang. Tangan gue hanya bisa mengepal dan hati menggerutu karena tidak mungkin gue berontak pada mas Om.
Iiiih...awas lo Om.Nanti gue balas!!! Kalau gue beraniii.
"Woy..kelas lo udah kelewat tuh!" Kata Naya sambil nepuk pundak gue tiba-tiba.
Sontak gue jalan berhenti dan di belakan ada Naya yang ngikutin.Alhasil dia jadi terjungkal ke belakang.
"Aww! Tega banget sih lo...sampe gue jatuh gini..!" Kata Naya sambil berdiri,setelah pantatnya mencium lantai
"Hehe...maaf..maaf..ga sengaja.Lagian lo yang bikin gue kaget!" gue cuman cengengesan tanpa merasa bersalah
"Habisnya...lo maen nyelonong ja..ga lihat apa,kalau dah kelewat kelas sendiri.Mikirin apa sih lo,sampe kaya gitu!" Naya terus saja bertanya, samapai gue merasa risih dengan gangguannya pada gue.
"Ooooh...apa mungkin karena cogan kemariiin???" Naya lihat gue sambil tersenyum mencari kebenaran tebakannya di mata gue.
Gue jengah juga dengan tebakan Naya yang selalu benar dan membuat gue akhirnya mengaku..Lagian gue sama Naya ga bisa boong satu sama
"Ya pasti lah Naaay...coba lo pikir ja,satu sekolah lihat gue...malahan sekarang banyak yang gunjingin gue tahu ga!" Gue menggerutu kesel sambil masuk masuk kelas dan duduk di bangku. Memasang wajah cemberut.
Naya malah tersenyum " baru kali ini lo ke ganggu sama yang namanya cowok.Biasanya...lo santai-santai saja.Eeemmm apa mungkin lo suka ya...sama tuh cogan...hmmm" Naya colek-colek dagu gue. Dia malah menggoda gue lagi.
"Apa sih lo! Ngasal aja.Pan lo tahu status gue kaya gimana Nay.Jadi gue harus jaga hati." Jelas gue. Sambil memukul tangannya yang terus saja tidak diam.
"Ya bener sih Lae.Tapi...mo sampai kapan lo nunggu dia.Dia pun belum tentu nunggu lo.Lagian apa salahnya sih Lae,Buat ngerasain jatuh cinta waktu sekolah." kata Naya merasa iba sama gue. Dia memeluk gie dan menenangkan supaya gue tidak makin sedih.
"Bener sih Nay...gue juga ingin merasakannya,tapi gue takut,entarnya malah bikin masalah buat keluarga gue.Itu tidak boleh terjadi Nay..." kata gue sambil tersenyum di paksakan. Padahl hati terasa sakit karena sembilu.
Naya meluk gue makin kencang memberikan kekuatan supaya gue sabar dalam menjalani hidup ini.
"Lo yang sabar yaaa...gue yakin pada akhirnya lo bakalan bahagian sobat!" Katanya sambil tersenyum
Gue tersenyum "makasih Nay...lo memang sahabat gue yang paling hebat!" Kata gue sambil meluk Naya .
♧♧♧♧♧♧♧♧
Pulang sekolah...kembali terjadi lagi.Gue di jemput sama Mas Om.tapi sekarang untungnya dia ga sampe keluar dari mobilnya.
"Gimana belajarnya??" Kata Mas Om ketika gue sudah ada di mobil dan sudah nyalamin dia.
"Baik...tapi ada yang aku ga paham.Emm...gurunya ga serius. Sebab dia main henpon terus...padahal dia lagi menerangkan pelajaran.Dasar guru tak bertanggung jawab!" Gue menggerutu tanpa menghiraukan orang di samping gue.
"Udah...keluarin unek-uneknya???" Kata Mas Om sambil megang tangan gue pake satu tangan.Karena tangan yang satunya lagi megang kemudi.
Gue melihat Mas Om dan dia lagi tersenyum sambil tetap fokus kejalan.
Tak lama kami pun telah sampe dirumah.Mas Om ga langsung keluar malah berbalik miring menghadap gue.
"Kamu harus bisa ngeluarin unek-unek kamu...supaya di sini." Mas Om megang d**a gue dengan telak tanagnya yang besar
Anjiiiir...nenen gue ke pegang ini mah...aslinya! Gue sedikit menjauh, karena ini tidak baik. Bagi jantung gue yang mulai dak dik duk enggak karuan.
"Supaya tenang...saya mau jadi tempat curhat kamu sayang...jangan segan cerita saja sama saya...jangan di pendam dalam hati...itu tidak baik sayang..." mas Om memajukan wajahnya dan tanpa aba-aba, dia mendekati kening gue. Dan memberikan kecupan cukup lama disana.
Entah kenapa, Gue merasakan kalau dia begitu mendambakan gue. Dengan sedikit ragu-ragu gue merem merapatkan mata...merasakan bibirnya di kening gue. Anjiiiii! Kaya gue sudah akad nikah sama dia sampai cium kening segala.
Ntah kenapa gue selalu merasa senang dan damai bila dekat dengan dia.Terasa hati gue ini dah terikat lama dan mendapatkan kenyamanan dekat dia. Gue yakin dengan apa yang gue rasakan. Tapi gue tetap harus menjaga hati ini. Kalau Naya tahu kalau hati gue kaya gini, pasti dia akan menertawakannya.
Pletak
"Awww! Sakiiit..." kata gue sambil ngusap kening dan cemberut. Kebiasaan banget nih orang.
"Lagian...tutup mata terus..mau yang lebih ya..." Mas Om menyeringai jail sama gue.
"TIDAK!!" Gue buru-buru keluar dari mobil. Karena merasa malu dengan apa yang barusan gue lakukan.
Dan juga, kode merah udah berbunyi dalam otak gue. Gue langsung masuk kamar dan merebahkan diri di kasur. Kejadian barusan dan pemikiran yang terlintas dalam pikiran gue tadi, membuat gue gelisah karena gue menyadari kalau ini benar-benar salah.
"Kamu harus bisa ngeluarin unek unek kamu,biar tenang.Saya siapa jadi tempat curhat mu"
Kata-kata Mas Om tadi terngiang di telinga gue.Kaya film yang sedang di putar beberapa kali sampai ini otak hapal dengan kata itu dan ekspresi ketika Mas Om mengatakannya.
"Aaaaah!!!!" Gue ngacak-ngacak rambut karena kesel dengan hati sendiri yang tidak bisa di jaga. "Apa gue harus jujur sama Mas Om supaya dia ga ganggu gue lagi, kalau sebenarny gue sudah nikah dan jangan menggoda gue.Tapi gue takut dia malah menertawakan gue karena belum tentu dia menggoda. Bisa saja, itu hanya perasaan gue saja. Nanti gue malu sendiri dong. Aaaaah..." gue mendesah bingung.
Gue tahu...dia orang asing....tapi beberapa hari dengan dia membuat gue jadi merasa nyaman dan terlindungi.
Mungkin karena sikap dia yang mengayomi..walau sering membuat gue malu karena di goda..
Tapi gue ga bisa boong,kalau gue mulai suka sama dia.Bila ada di dekatnya hati ini selalu berpacu dengan sangat kencang.Bagai telah lari maraton.GUE CINTA SAMA MAS OOOOM!
Sadar...Laeee..lo harus sadar! Ingat sesatus lo...Laeee
Gue nepok-nepok pipi...berharap pikiran kaya gitu bisa hilang dalam pikiran dan hati gue
**********
Selamat membaca...
By limuuup