bab 16

911 Kata
"Bibi, tolong ambilkan minuman ya?" Aku langsung menyuruh pelayan untuk membawakan minuman. Tak lama kemudian, intan datang dengan nafas yang memburu. Reaksinya tak kalah terkejutnya dariku saat tahu Ibu Reno jatuh lemas dilantai. "Bibi, kau baik-baik saja?" Tanyaku kemudian. Nafas bibi begitu terengah-engah. Sepertinya, dadanya sakit melihat tangannya terus memegangi dadanya yang terasa sesak. Bukan hal yang ringan saat seorang ibu tahu anaknya tidak jadi menikah padahal semuanya sudah disiapkan dan hampir selesai. "Ya, hana.Aku hanya perlu istirahat." Ucapnya susah payah. "Bi-biar ku antar ke kamar saja." Intan nampak memberikan kode agar aku memikirkan Reno dulu ketimbang ibunya. Dengan terpaksa. Aku menyerahkan bibi pada intan untuk dibawa ke kamar. Sementara aku beranjak mendekati Reno. "Reno. . ." Ku raih tubuh Reno dan memeluknya dalam dekapanku. Yang bisa ku lakukan hanyalah membuatnya merasa nyaman saat dirinya diguncang masalah yang begitu berat. Gadis yang membatalkan pernikahannya dengan Reno. dan juga, perusahaan Ayahnya yang terancam bangkrut. Siapa yang bisa tahan dengan semua itu? Air mataku mengalir begitu saja. Entah Reno merasakannya atau tidak. Aku juga terluka saat melihat Reno terluka. "Katakan padaku Reno. Apa yang bisa ku lakukan untuk membantumu melewati semua ini." Tangisku pecah. Terisak dipelukan Reno. Bodohnya aku disaat seperti ini, aku masih bisa bersikap cengeng di hadapan Reno. Reno melepaskan pelukannya dariku. Mengusap air mataku yang terus menetes sejak tadi. "Berhentilah menangis. Aku tidak apa-apa. Ini bukanlah masalah yang berat untuk ku hadapi." "Tapi perusahaan ayahmu yang sudah dibangun sejak dulu, akan terancam bangkrut. Aku. . . aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku kalau melihatmu terluka, Reno." "Ssst~ Sudah ku bilang berhentilah menangis. Kau sangat jelek saat menangis." Ku tinju d**a Reno dengan kasar. Setengah tertawa, saat ku lihat sikap Reno yang masih bisa bercanda disaat seperti ini. "Jangan bercanda disaat seperti ini! Aku sangat mengkhawatirkanmu, Reno." Aku terisak. Mengingat kembali ucapan intan saat dirumah sakit tadi. Wajahku menengadah ke atas. Menatap mata Reno dengan begitu intens. "Akan ku lakukan apapun untuk membantumu Reno. Termasuk menggantikan gadis itu sebagai calon istrimu."Ku rasakan tubuh Reno menegang setelahnya. Matanya begitu fokus melihatku. Mencari jawaban yang ingin sekali dia dengar. "Aku sudah tahu semuanya, Reno. Tentang pernikahanmu. Mereka sudah menyebarkan berita kalau kau akan menikah. Dan 3 minggu lagi kalian akan menikah, tapi gadis itu tega membatalkannya begitu saja. Keluargamu pasti akan menanggung malu Reno. Karna itulah, aku. . ." Suaraku tercekat. Tak mampu melanjutkan kalimat yang begitu menyakitkan. Menjadi seorang pengganti yang tak di inginkan? Serendah apapun itu. Aku akan tetap melakukannya demi Reno. "Tidak. Kau tidak bisa melakukan itu." Suara Reno begitu tegas. Aku menggeleng mantap. "Aku akan tetap melakukannya, Reno. Kalau tidak, keluargamu, perusahaan. Semuanya akan-" "Sudah ku katakan tidak, hana!" Aku tertegun, saat Reno menolaknya dengan tegas. Lelaki itu membentakku sampai aku terlonjak kaget. "Apa aku seburuk itu?" tanyaku penuh parau. Reno meraih wajahku dengan kedua tangannya. Membingkainya hangat dengan pandangan yang mendalam. "Bukan itu hana. Kau lebih dari baik. Justru akulah yang terlalu buruk untukmu. Selama ini aku terlalu menyakitimu. Dan aku tidak mau semakin menyakitimu dengan menjadikanmu istriku Hana. Aku tak sanggup melihat diriku sendiri menyakitimu. Aku tak sanggup han...," Aku menggeleng. "Meskipun kau mengatakan hal itu. aku akan tetap melakukannya. Mungkin, kau tidak pernah menyukaiku sebagai seorang gadis. Tapi, sebagai seorang teman?" Aku tersenyum tipis. "Kau bisa menganggapku sebagai teman. Meskipun kita sudah menikah. Aku juga akan memberikan kebebasan lebih untukmu agar bisa mencintai gadis yang kau sukai. Karna itu Reno. Biarkan aku melakukan sesuatu yang berguna untukmu." "Han ......kau tidak mengerti!" "Kalau begitu katakan padaku agar aku bisa mengerti Reno!" Teriakku tak kalah keras. "Aku akan tetap melakukannya. Dan aku akan mengatakannya pada ibumu mengenai hal ini." Langsung ku langkahkan kakiku menuju tangga. Hendak mengatakan semuanya kepada Ibu Reno. Tapi, tangan Reno menarik lenganku kuat. "Untuk kali ini saja Reno. Ku mohon, biarkan aku melakukan balas budi atas kebaikan yang selama ini kau lakukan kepadaku." Ku lepas tangan Reno dengan lembut. Tersenyum tipis kepadanya sebelum aku kembali beranjak pergi. *** "Bibi. . ." Aku mendekati bibi yang terbaring diatas ranjang. Menggenggam tangannya lembut, kemudian tersenyum tipis. "Hana...Bagaimana Reno? Apa dia baik-baik saja?" "Bibi tidak perlu mengkhawatirkan Reno, dia baik-baik saja. Saat ini, Bibi hanya perlu beristirahat agar keadaan bibi bisa lebih baik." Gumanku pelan. "Bagaimana bibi tidak mengkhawatirkannya, hana. Aku tidak peduli tentang perusahaan ataupun terancamnya bangkrut. Bibi hanya khawatir mengenai masa depan Reno. pernikahan yang batal. Semua orang akan menganggap Reno bermasalah. Dan tak akan ada satupun gadis yang mau dengannya." Aku tersenyum lembut. "Bibi tidak perlu memikirkan hal itu. Aku sudah membicarakannya dengan Reno, kalau kami akan menikah." Bibi dan intan terlonjak kaget. Menatapku secara bersamaan dengan pandangan bingung. "Sudah ku putuskan. Aku akan menggantikan gadis itu untuk menjadi mempelai wanitanya Reno bibi." "Hana. Apa kau gila? Pernikahan bukanlah permainan yang bisa kau mainkan sesuka hatimu." "Aku tahu inta, karna itulah aku akan melakukannya dengan segenap hati. Apa bibi akan merestui pernikahan kami?" Tanyaku kemudian. Bibi hanya memandangiku dengan wajah yang berbinar. Tak lagi memperlihatkan raut wajah sedihnya seperti tadi. "Ya hana. Menyerahkan Reno pada gadis baik seperti dirimu. Bibi sangat lega mendengarnya. . ." Aku tersenyum. Sesekali menatap intan yang masih tak menerima keputusan yang ku ambil saat ini. Tapi ini sudah menjadi jalan yang ku pilih. Menyelamatkan nama baik keluarga Reno. Dan Reno sendiri. Semuanya tidaklah sepandan dengan apa yang akan terjadi nanti. Karna ini keputusanku. Semua yang akan terjadi kelak. Akan ku tanggung, dan tak akan pernah mengeluh meskipun itu akan menyakitkan. Aku akan menerimanya. Semuanya demi Reno. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN