bab 17

1474 Kata
Berita menyebar dengan cepat mengenai siapa gadis yang akan menikah dengan Reno. Meskipun awalnya adalah gadis yang berbeda, tapi saat ini hanya tahu satu hal jika gadis yang akan menikah dengan Reno adalah aku. Aku cukup canggung saat ayah Reno mengatakannya dengan begitu gembira kepada seluruh karyawan kantor. Membuatku sedikit tidak nyaman karna perlakuan mereka kepadaku. Itu menjadi satu lelucon kecil untuk mereka karna kami selalu terlihat bertengkar setiap kali bersama. Dan siapa sangka kalau kami akan menikah dan nantinya akan menjadi suami istri. Mereka tidak tahu alasan sebenarnya kenapa kami menikah. Dan itu akan menjadi rahasia kecil yang kami sembunyikan pada mereka semua. Kecuali orang-orang terdekat kita. Saat ibu dan ayahku tahu aku memutuskan untuk menikah dengan Reno. Reaksi mereka sama seperti yang intan tunjukkan waktu itu. Tapi setelah aku menjelaskan pada mereka. Akhirnya mereka mengerti dan menyetujuinya. Reno bukanlah lelaki lain. Dia adalah cinta pertamaku sekaligus teman masa kecilku. "Kau masih bisa membatalkannya sebelum hari pernikahan kita tiba." Aku menoleh ke arah Reno yang sedang berjalan disampingku. "Tidak akan, Reno." Ucapku tegas. Langkah Reno terhenti seketika. Aku ikut berhenti, berbalik menghadap Reno. Hingga kami saling menatap satu sama lain. Reno mendekatiku. Menundukkan kepalanya tepat ke wajahku. "Apa kau begitu inginnya menikah denganku, hana?" "Aku tahu kau begitu mencintaiku. Tapi, ini masalah yang berbeda karna sebentar lagi aku akan menjadi suamimu. Itu artinya kita bukanlah teman masa kecil yang akan bersikap seperti biasanya." Alisku bertautan. "Lupakan Reno. Aku sudah terlalu sering kau sakiti. Jadi itu tidak membuatku takut lagi." Cibirku. Aku menggembungkan pipiku, mengalihkan pandanganku ke arah lain. Reno terkekeh kecil. Mengangkat kembali kepalanya. "Aku sedang tidak membahas hal itu Han.... Kau tahu pasti, apa yang akan terjadi setelah antara wanita dan lelaki menikah." Bisiknya. Kemudian, Reno mendekati telingaku dan berbisik. "Aku tidak sabar menunggu malam pertama kita nanti, Han...." Aku termangu. Tak mampu bergerak apalagi berkata-kata. Yang bisa ku lakukan hanyalah menatap kepergian Reno dengan seringainya. "Reno! Awas kalau kau melakukannya padaku!" Teriakku histeris. Setelahnya, ku dengar suara gelak tawa Reno yang penuh dengan kemenangan. Lelaki itu sudah berhasil membuatku tak berkutik sama sekali. *** Setelah Reno selesai rapat. Aku yang sengaja menungguinya sampai waktu pulang. Akhirnya, kami bisa kembali ke rumah dan memutuskan untuk tinggal dirumah Reno untuk beberapa hari. Ini semua karna bibi mengatakan jika akan lebih baik kalau aku menginap dirumah Reno agar waktu bersama kami lebih banyak. Dan lagi, kami harus mempersiapkan baju dan juga cincin untuk pernikahan kami. Jadi Reno tidak akan kelelahan karna bolak-balik ke rumahku hanya untuk membahas hal ini. Apalagi dia masih sibuk dengan urusan kantor yang belum selesai. Aku memahaminya. Menerima usulan dari bibi untuk tinggal bersama. Ini juga memungkinkan aku untuk tetap memantau kesehatan bibi yang sebelumnya drop karna masalah yang menimpa mereka waktu lalu. Ibu dan ayahku yang mengetahuinya juga setuju. Mereka bilang jika sebentar lagi aku dan Reno akan menikah. Jadi, aku bisa beradaptasi dengan semuanya dan tidak akan canggung menghadapi Reno nantinya. Tapi ku pikir itu bukan masalah rumit. Karna Kami sudah berteman sejak kecil. Aku rasa aku bisa beradaptasi dengan baik mengenai kehidupan Reno. "Jadi kau menginap dirumah Reno sampai pernikahan kalian tiba?" Aku hanya berguman saat intan menanyakan berbagai pertanyaan setelah ku beritahu kalau aku akan tinggal dirumah Reno untuk beberapa hari. "Kenapa kau menyetujuinya? Reno itu. Ya ampun Hana..., jangan membuatku khawatir dengan tinggal di kandang Iblis!" Aku agak terkekeh mendengar ucapan intan kepadaku. Intan selalu mengatai Reno seperti iblis karna sikapnya yang terlampau dingin dan kejam. Tapi meskipun begitu, Reno bukanlah orang jahat yang akan menyakiti orang. Yah, em. . . Meskipun terkadang dia melakukannya. "Jangan begitu. Aku kan tinggal tidak hanya dengan Reno. Ada bibi dan juga paman. Kami juga tidak tidur satu kamar, intan. Jangan berfikiran negatif pada Reno." Ucapku menepis semua pernyataan yang diberikan Intan. "Kau tidak ingat, apa yang dilakukan Reno padamu saat kalian dirumahku? Kau tidak melupakannya, kan Han...." "Aaa. . ." Aku hanya mengguman pelan. Ya. Tentu saja aku sangat ingat perlakuan tak terduga, yang dilakukan Reno kepadaku. "Tapi, semua itu karna Reno sedang dalam keadaan yang tertekan. Semua lelaki akan seperti itu setiap kali dia merasa tertekan." "Ini berbeda Hana.. Meskipun, kalian sebentar lagi akan menikah. Bukan berarti kau bisa percaya begitu saja pada Reno! pokoknya, kau harus mengunci pintu kamarmu. Dan bawa sesuatu untuk berjaga-jaga kalau Reno melakukan kejahatan lagi padamu!" Aku kembali terkekeh. Mendengar suara intan yang begitu tajam dan serius. Aku tahu apa yang dia lakukan, semata-mata karna dia peduli padaku. "Iya, intan. Aku tahu." Ucapku lembut. Kemudian kami mengakhiri perbincangan kami. Menaruh ponselku dimeja dekat ranjangku, dan bersiap-siap untuk tidur. Tapi, pintu kamarku tiba-tiba ada bunyi ketukan dan suara Reno yang memanggil namaku. Dahiku berkerut saat tahu orang yang ada dibalik pintu kamarku adalah Reno. Kenapa Reno kemari? tanyaku dalam hati. Lantas, aku langsung beranjak dari ranjangku. Berjalan menuju pintu untuk membukanya. "Reno?" Saat ku buka pintu kamarku. Ku lihat Reno tengah berdiri dengan wajah resah. "Ada apa? Apa kau butuh sesuatu?" Tanyaku kemudian, aku sedikit khawatir melihatnya seperti itu. mungkin, dia masih ingat soal pembatalan pernikahannya dengan gadis itu. Reno pasti sangat menyukai gadis itu sampai dia tidak rela pernikahannya dibatalkan. Aku jadi ingin sekali melihat wajah gadis itu secara langsung. "Kau sedang berbicara dengan seseorang?" Dahiku kembali berkerut saat ku dengar Reno menanyakan diriku. Mungkinkah dia mendengar percakapanku, Jadi dia datang kemari? "Oh, iya. Aku sedang mengorbol dengan intan ditelpon. Maaf kalau itu menganggumu. Lain kali aku tidak akan melakukannya." Ucapku kemudian. Aku jadi merasa bersalah karna sudah menganggu malam Reno. Aku tahu dia sulit untuk tidur. Dan butuh suasana agar dia bisa tidur dengan nyenyak. "Aku tidak mempermasalahkan itu, Han... Aku hanya sulit tidur, dan entah kenapa kakiku berjalan kemari." Reno melenguh. Memalingkan wajahnya ke arah lain. Lucu, saat melihat sikap canggungnya. Membuat seulas senyum kecil mengembang di bibirku. "Masuklah," aku mempersilahkan Reno masuk kedalam kamarku. Membiarkan Reno tidur dipangkuanku. Sama seperti yang kami lakukan dulu saat kami masih kecil. Mengelus rambutnya dengan lembut, aku seperti seorang ibu yang tengah menidurkan anak tersayangnya dikala sulit tidur. Memperhatikan wajah Reno yang damai dengan kedua matanya yang terpejam. Hatiku serasa damai melihatnya. Ingin sekali melihatnya terus seperti ini, tanpa melihat ekspresi wajahnya yang marah ataupun sedih. Hatiku seakan menjerit dan berkata. Aku akan melakukan apapun demi melihat Reno bahagia. Meskipun, itu artinya aku sendiri yang akan menanggung semua lukanya. Ini semua karna cinta. Awal dan akhir dari sebuah cerita didalam kehidupan. "Hana. . ." Aku menoleh menatap Reno yang memanggil namaku. Ku pikir dia sudah tidur. Ternyata belum. "Ya, Reno?" "Kau serius ingin menikah denganku?" Mataku mengerjap. Memandangi Reno yang kini telah membuka matanya perlahan. Memperlihatkan mata hitam sekelam malam. "Ku katakan ini sekali lagi padamu Hana.. sebagai teman kecilmu. Aku juga ingin kau mendapatkan lelaki yang baik untuk menjadi pendampingmu." Reno terdiam sejenak. Menelan ludahnya dalam- dalam. "Aku bukanlah lelaki yang baik. Aku selalu menyakiti hatimu. Dan bisa saja, setelah menikah nanti. Aku akan lebih menyakitimu dengan sikap kasarku. Aku mengatakan ini sebagai teman kecilmu, yang peduli padamu Han...." "Meskipun kau mengatakan itu. Aku akan tetap menikah denganmu, Reno. Menerima semua konsekuensi atas semua pilihanku. Aku akan bertahan demi pernikahan kita nanti." "Mengertilah hana. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Apalagi akulah orang yang menyakitimu." Guman Reno. Tangannya terulur ke arahku dan mengelus lembut wajahku. "Jangan keras kepala, dan lakukan apa yang ku katakan." Aku meraih tangan Reno. "Kau yang harusnya jangan keras kepala Reno. Lakukan semua yang ku katakan." Ucapku mengulang kalimat yang dikatakan Reno. "Tidurlah, dan jangan pikirkan hal lainnya lagi. Aku tidak mau melihatmu jatuh sakit seperti kemarin." Ucapku dengan senyum tulus. Reno hanya diam saja. Menjatuhkan tangannya untuk kemudian menutup kedua matanya. Tidur dalam pangkuanku. Ini kedua kalinya kami berbicara tanpa sebuah pertengkaran yang menghiasi perbicangan kami. Benar kata banyak orang. Kami terlihat begitu baik saat kami tak bertengkar dan berdamai seperti sekarang. Tapi, sepertinya itu sulit karna kami memanglah sudah seperti ini sejak dulu. Selalu bertengkar dan tak mau mengalah satu sama lainnya. Hobi mengejek dan menindas. Terutama Reno. *** Mencari cincin dan baju pengantin bukanlah hal yang mudah ternyata. Apalagi tidak ada keikutsertaan dari sang mempelai lelaki yang tengah sibuk mengurus perusahaan. Renoa bilang, aku boleh memilih apa saja asalkan masih dibatas wajar. Tidak berlebihan ataupun aneh karna Renk sama sekali tidak menyukai hal-hal seperti itu. Menurutnya, pernikahan bukanlah cincin atau baju yang mewah. Tapi sakralnya janji suci yang saling mereka ucapkan diatas altar. Karna Reno tidak ada. Jadi Aku dan juga intan, didampingi adam tengah mencari cincin dan juga baju pengantin yang hendak kami gunakan diacara pernikahan nanti. adam bilang jika tidak ada sosok lelaki akan sulit saat nantinya akan mencari ukuran yang pas untuk Reno. Karna ku pikir mereka punya jari dan tubuh yang hampir sama. Meskipun sedikit kurusan Reno. Aku meminta adam untuk menemaniku bersama dengan intan juga. "Kau suka ini?" adam menunjuk sebuah cincin yang bagus. Tapi sebelum mengatakan ya. Apakah Reno menyukainya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN