"Ini cukup simpel. Kau bilang, reno tidak suka yang berlebihan, kan? Mungkin dia akan menyukainya. . ." Benar juga apa yang dikatakan Adam. Tapi tetap saja aku merasa seperti ada yang kurang.
"Lihat, ini juga sangat pas dijariku." Melihat adam memakai cincin itu. aku merasa seperti adam lah yang akan menikah denganku. Terbesit sebuah kekecewaan dihatiku.
Tidak boleh! Aku menggelengkan kepalaku. Seharusnya aku cukup bersabar menghadapi hal ini. aku bahkan belum berada pada titik masalah yang lebih besar, tapi aku sudah berani mengeluh seperti tadi.
"Han... kau baik-baik saja?" Adam terlihat khawatir melihat sikapku yang aneh. Aku hanya tersenyum tipis.
"Iya, aku hanya sedang berfikir." Gumanku.
"Bagaimana, kalau yang ini?" Ucapku sambil menunjuk sebuah cincin yang lainnya. Adam hanya tersenyum menanggapi perkataanku.
"Bagaimana?" Tanyaku lagi. "Bagus." Jawab adam.
Aku melirik ke arah intan yang sejak tadi diam memperhatikan kami.
"Lumayan." Jawabnya singkat.
Ukurannya sangat pas dengan jariku dan jari adam. Ku harap, semuanya sesuai dengan keinginan Reno. Aku tidak mau membuatnya kecewa.
Setelah lama memilih Cincin, kami pergi ke butik teman adam. Mereka menyediakan banyak sekali gaun pengantin yang indah. Dan sebelumnya, adam sudah membicarakannya pada temannya. Jadi temannya sudah menyiapkan beberapa baju untukku. Dan kami tinggal melihatnya, dan memilih gaun mana yang akan ku sukai.
Pertama kalinya aku datang kesana. Ke tempat dimana berisi banyak sekali gaun pengantin. Aku merasa sangat senang. Seperti ingin membeli semua gaun pengantin disana yang tampak sangat indah-indah.
Ku pilih salah satu dari sekian gaun yang ada dan mencobanya pertama kali. Agak susah awalnya, karna itulah aku menyuruh teman adam untuk membantuku memakai gaun pengantinnya.
Aku tertegun, menatap diriku lama didepan cermin. "A-apa ini aku?"
Tanyaku tergagap. Teman adam hanya tersenyum tipis. Kemudian keluar tanpa mengatakan apa-apa.
Astaga, aku begitu gugup hanya untuk keluar dari balik tirai dan memperlihatkan gaun yang ku kenakan saat ini. Dalam hatiku yang paling kecil. Aku masih berharap Reno ada disini. Melihatku memakai gaun yang akan ku pakai nantinya.
Dan melihat ekspresi wajahnya. Mengetahui bagaimana komentar dari Reno mengenai penampilanku saat ini.
Ku hela nafasku panjang untuk menenangkan diriku. Perlahan ku buka tirai panjang yang ada dihadapanku.
Wajahku memerah padam saat ku lihat intan dan adam memandangiku tanpa berkedip. "A-apa aku terlihat aneh?" Tanyaku gugup.
Adam berjalan ke arahku. "Kau. . . sangat cantik," Ucapnya lembut. Aku semakin tersipu saat ku lihat tangan intan mengacungkan jempolnya ke arahku. Ikut memberikan penilaian mengenai gaun pengantin yang saat ini ku pakai.
"Terima kasih. Tapi, apa ini tidak terlalu berlebihan?" Tanyaku. Adam berjalan memutariku dengan tangan berada di dagu. Seperti seseorang yang pandai dalam hal ini. Adam memperhatikan setiap lekuk tubuhku. Dari atas hingga bawah. Dari samping kiri, dan samping kanan.
"Ini sangat perfect. Benar kan, intan?"
"Sangat perfect." Tambahnya.
Aku hanya tersenyum tipis. Sebelum ku dengar suara pintu butik terbuka begitu keras. Aku dan yang lainnya reflek melihat siapa tamu yang juga ingin membeli gaun pengantin.
Sampai ku dengar derap langkahnya yang tergesa-gesa. Aku semakin penasaran. Hingga Reno muncul dengan nafas terengah- engah.
Mataku melebar sempurna. Memandangi Reno yang masih dengan setelan jas kantornya. Wajahnya dipenuhi dengan peluh keringat yang begitu banyak.
"Reno? Apa yang-" Ucapanku terhenti. Mendadak aku seperti sebuah patung yang tak mampu melakukan apa-apa saat Reno berlari ke arahku. Menarik lenganku dengan cepat dan meraihnya didekapanku.
Aku hampir saja terjatuh karna gaun yang ku pakai begitu panjang. Sampai aku harus berpegangan pada tubuh Reno. Aku semakin menatap Reno kebingungan saat Reno menatap adam dengan wajah tak suka.
Apa lagi ini? kenapa Reno bisa ada disini, dan sikapnya yang seperti orang marah kepada adam. Jikapun Reno marah. Tapi itu tidak mungkin. Sejak awal, aku sudah mengatakan pada Reno jika aku akan pergi dengan adam dan intan. Meskipun pada awalnya raut wajahnya berubah tidak suka. Tapi, pada akhirnya Reno menyetujuinya.
"ren..reno. . ." Panggilku parau. Takut saat Reno menatap adam dengan tajam. Memelototinya seakan ingin sekali menghajar adam seperti dirumah sakit kemarin.
"Hari ini aku yang akan menemanimu mencari baju dan juga cincin." Reno menatapku. Sebelum dia kembali memandangi adam. "Dan kau bisa pergi sekarang juga." Ucapnya penuh nada dingin.
"Reno. . ."
"Diamlah han..! Dan kenapa kau masih ada disini? Kau sudah tidak dibutuhkan lagi, adam."
"Reno hentikan! Kau terlalu kasar pada adam." Tanganku meraih lengan adam, "adam, maafkan perkataan-"
"Pergilah." Nada bicara Reno begitu dingin. Menepis tanganku yang menyentuh lengan adam dengan kasar. Aku tidak tahu kenapa dia bisa seperti ini. Tiba-tiba marah pada adam tanpa sebab yang jelas.
adam terlihat tersenyum. Membuatku semakin khawatir kalau perasaannya terluka dengan sikap kasar yang ditunjukkan Reno padanya. "Okay. Seperti yang kau minta, aku akan pergi." Ucapnya.
"adam...." Aku kembali menyebut namanya dengan sedih. Sangat merasa bersalah pada adam. Tapi Dia hanya tersenyum kembali padaku. tak memperlihatkan wajah kesalnya.
"Tidak apa-apa. Sejak awal, memang Reno lah yang harus menemanimu memilih cincin dan baju pengantin." Ucap adam sambil menepuk pundakku pelan. "Aku pergi dulu, sampai ketemu nanti han."
Aku mendesah. Menatap kepergian adam dengan wajah menyesal. Ingin mengejarnya, tapi tak bisa karna sejak tadi Reno memegangi tubuhku dengan sangat kuat. Tak mau melepaskanku barang sedetik.
Kesal melihat sikap kasar Reno. Aku langsung menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggiku sampai Reno menjerit kesakitan. Memegangi kakinya yang memerah akibat ku injak.
"han!" Tak ku perdulikan teriakan Reno yang marah kepadaku. Aku hanya menatapnya dengan jengkel. Ingin sekali ku pukul wajahnya saat itu, tapi aku cukup tahu diri saat teman adam dan intan menatap kami secara bersamaan.
"Kau menyebalkan! Sikapmu tadi sungguh keterlaluan pada adam." Ucapku setengah berteriak. Langsung ku dorong tubuh Reno hingga menjauh dariku. Kemudian ku tutup tirai tadi. Saat itu ku dengar Reno memanggil namaku dengan keras. Menyuruhku untuk keluar dari balik tirai.
"han!"
"Diamlah! Aku sedang mengganti pakaianku. Awas kalau kau berani masuk!" Ancamku dengan tegas. Setelah itu, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Aku kemudian mengganti gaun pengantinku dengan kesal. Beberapa menit kemudian, ku buka kembali tirainya. Menatap Reno yang sudah menungguiku sambil berdiri. Menatapku dengan wajah kesalnya.
Tak ku perdulikan. Aku melenggang pergi, meraih lengan intan dan membawanya keluar dari butik. Tapi, tangan Reno meraih lenganku.
"Hey, mau kemana kau?"
"Pulang!" Bentakku kasar. "Tidak bisa. Kau bilang kau ingin mencari cincin dan baju pengantin. Aku sudah ada disini, jadi ayo kita cari bersama."
Aku tepis tangan Reno dengan kasar. Biarlah dia akan mengamuk seperti apa nantinya. Aku sudah terlalu bersabar melihat sikapnya yang selalu marah setiap kali melihatku bersama dengan adam.
"Kau terlambat! Aku sudah mendapatkan semuanya. Dan aku mau pulang. Kita pergi intan."
"Eh-" intan melepas tanganku. Kemudian menatapku dan Reno secara bergantian. "Begini ya han. Reno, kan sudah ada disini. Jadi kalian pergi berdua saja. Aku tidak mau menjadi orang ketiga diantara kalian berdua." Aku mendelik. Dahiku berkerut saat mendengar ucapan intan yang tidak masuk akal.
"Apa maksudmu? Kau mau melarikan diri dan membiarkanku bersama dengan Iblis ini begitu?" Aira mengangguk. Memandangiku dengan cengirannya. Aku hanya menghela nafasku pasrah saat Reno tersenyum penuh kemenangan.
Ku hentakkan kakiku kesal. Meninggalkan intan dan Reno duluan. Sampai pada akhirnya, aku pergi bersama Reno untuk mengembalikan cincin tadi dan menggantinya sesuai dengan keinginan Reno. Sang penjaga yang tadinya melayani kami sempat bingung saat aku kembali menukar cincin bersama dengan lelaki lain. Aku jadi merasa malu, pasti pegawai tadi berfikir kalau adam tadi adalah kekasihku.
"Maaf, kami ingin mengganti cincin yang ku beli tadi." Ucapku penuh rasa malu. Pegawai itu terus memandangiku dan Reno dengan wajah bingung. Ada raut kagum saat melihat wajah tampan Reno yang begitu alami.
"Ya, tentu saja. Dimana pasangan anda tadi?"Aku tergelak saat pegawai toko menanyakan soal adam kepadaku. Ku lihat raut wajah Reno nampak kesal mendengarnya.
"Apa maksudmu? Aku adalah orang yang akan menikahinya. Apa kau tidak bisa melihat itu?" Reno menggeram. Sontak, membuat pegawai tadi menunduk merasa bersalah.
"Maafkan aku tuan. Ku pikir tuan yang tadi adalah kekasih nona ini. Mereka terlihat serasi, dan tuan tadi begitu ramah kepadanya." Aku terkekeh mendengarnya. Memperhatikan raut wajah Reno yang semakin kesal dibuatnya.
"Kau pikir aku tidak ramah padanya?!" Reno setengah membentak. Membuat pegawai tadi semakin ketakutan dibuatnya.
"Reno. Sudahlah, kau membuatnya takut." Ku raih tangan Reno untuk membuatnya tenang. Ya. Meskipun berhasil, tapi itu tidak menghilangkan rasa sebalnya kepada gadis pegawai tadi.
"Reno, bagaimana dengan yang itu?" Tunjukku pada sebuah cincin berwarna perak.. Ada desain garis putih berbentuk persegi panjang yang melingkar. Dibagian tengahnya ada sebuah permata berwarna saphire.
"Terserah kau saja."
Aku menghela nafasku. Cukup sabar menuruti tingkah Reno yang seenaknya. "Kami pilih yang ini, tolong dibungkus ya.." Ucapku lembut.