"Ukurannya sama?" Aku mengangguk. Menunggu pesanan kami siap sebelum kami meninggalkan toko perhiasan tadi.
Aku meminta Reno untuk kembali saja ke kantor. Lagipula, baju pengantin sudah ku siapkan tadi bersama dengan adam. Tapi Reno menolak dengan alasan yang tidak masuk akal. Dia bilang, jika baju tadi tidak cukup bagus karna adam yang memilihnya.
"Kau yang bilang sendiri, kalau baju dan cincin bukanlah hal yang penting dalam sebuah pernikahan. Yang terpenting itu adalah sakralnya janji suci diantara kita. Apa kau sudah lupa itu, Reno?"
Aku merasa Reno agak berbeda setiap kali menyangkut adam didalam pebincangan kami. Tak pernah ku mengerti kenapa Reno bisa sebenci itu pada adam. Setiap kali ku tanyakan, dia hanya menjawabnya dengan alasan sepele.
"Kenapa kau suka sekali membesar-besarkan hal sepele setiap kali ada adam? Dia hanya ingin membantu. Lagipula, dari awal kau sendiri yang mengijinkanku pergi bersamanya."
Aku mendesah, "Sebenarnya apa kesalahan adam, sampai kau sebenci itu padanya?"
"Sudah mengomelnya? Kalau kau suka padanya. Kenapa tidak menikah saja dengan adam."
Aku tertegun. Menatap Reno yang dengan mudahnya mengatakan hal itu. "Aku heran kepadamu. Kenapa setiap kali mata dan mulutmu itu terbuka, selalu membuat perasaanku terluka. Apa itu hobimu?"
"Kadang, aku bingung kenapa aku bisa menyukai lelaki kejam sepertimu." Ucapku kembali. Ku alihkan pandangaku ke luar jendela mobil. Wajahku sudah jelek karna sejak tadi terus merasa kesal dan jengkel dengan sikap Reno yang angkuh. Egois dan susah diatur.
Selalu. Dan selalu. Setiap kali Reno marah, dia akan selalu menggunakan k*******n ataupun menyakiti dirinya sendiri. sama seperti saat ini. mengemudi dengan kecepatan penuh, dan saat sampai dirumah. Dia keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan kasar. Membiarkanku yang masih berada dimobil. Menatapnya yang terus mengumpat kesal.
Aku hanya mampu menghela nafas panjang. Menyabarkan diriku atas sikap keras kepala Reno yang sulit dihilangkan.
Saat aku hendak masuk kedalam rumah. ku dengar suara bibi yang bingung melihat Reno pulang begitu cepat. Apalagi dengan eskpresi wajahnya yang kesal. Bibi kemudian menghampiriku yang sudah berada didalam rumah.
"Kenapa dengannya. Apa kalian bertengkar lagi?" aku hanya tersenyum getir. "Hanya, cekcok biasa bi. Nanti juga baikan lagi." Ucapku rendah.
Aku kemudian pamit untuk pergi ke kamarku. Memberikan cincin yang sudah kami beli tadi kepada bibi. Setelahnya, kami hanya menunggu baju pengantin untuk dikirim ke rumah kami.
Rasanya begitu lelah seharian ini. Hanya pergi mencari cincin dan juga baju pengantin ternyata membuatku merasa begitu gerah. Aku langsung melenggang pergi ke kamar mandi. Melepas semua bajuku dan berendam dibak mandi. Kuputar sebuah musik bernada ringan diponselku dan menikmatinya.
Nyaman saat ku rasakan tubuhku termanja hanya karna berendam didalam air yang di penuhi busa. Ku tenggelamkan diriku didalamnya. Menikmati kedamaian saat tak ada suara Reno yang dingin dan menyakitkan hati. Hanya ada aku, bak mandi, dan juga lagu slow yang membuatku merasa nyaman.
Terlalu asik berendam sampai membuatku tertidur. Aku langsung keluar dari bak mandi selang setelah aku terbangun dari tiduranku. Membilas tubuhku dengan air dingin untuk kemudian keluar dari kamar mandi. Berjalan mendekati lemariku dan mengambil baju yang akan ku pakai.
***
Sesuai dengan ajakan intan padaku. Aku bergegas mengganti pakaianku dengan sesuatu yang bagus. Memoles wajahku semanis mungkin sesuai dengan perintah intan. Entah anak itu mau melakukan hal apa padaku. Pagi-pagi sekali dia menghubungiku dan menyuruhku untuk datang ke Caffe adam. intan juga meminta padaku agar aku memakai baju yang bagus dan berdandan secantik yang ku bisa.
Ku perhatikan diriku dipantulan cermin. Oke. Dress panjang berwarna merah darah. Dengan sepatu yang berwarna sama dengan model tali-tali yang melilit di kaki jenjangku. Aku mengikat rambutku dan menaruhnya disebelah kanan. Sengaja aku melakukannya agar tidak terliht berlebihan. Elegan, tapi cukup sederhana.
Sibuk memperhatikan diriku didepan cermin. Ponselku berdering - menerima sebuah pesan dari intan. Aku segera bergegas pergi saat membaca isi pesan intan yang menyuruhku untuk segera datang.
Segera aku keluar dari kamarku. Berpamitan pada bibi jika aku akan pergi dengan intan sebentar. Bibi mengijinkannya asalkan aku tidak pulang terlalu malam, dengan alasan kami akan segera menikah.
"Tidak baik, kalau mempelai wanita pergi dan pulang larut malam saat hari pernikahannya sebentar lagi."
Aku mengangguk. Mengiyakan amanat dari bibi. "hana janji tidak akan sampai sore. hana, akan segera kembali." Ucapku lembut.
Melangkahkan kaki-kaki jenjangku keluar dari rumah dan menaiki mobilku. Aku melesat pergi ke Caffe adam untuk bertemu dengan intan.
Saat aku sampai diCaffe. Ku lihat intan sedang asik mengobrol dengan adam. Dahiku berkerut saat aku mengetahui satu hal. intan memakai baju biasa. Tidak seperti diriku yang sukses membuat semua mata memandang ke arahku. Entah merasa kagum, ataupun aneh melihat penampilanku. Tapi, itu cukup membuat nyaliku ciut dengan cepat.
"hana. Hari, ini kau tampak berbeda." adam tersenyum penuh arti kepadaku. Aku hanya menyapanya dengan senyuman juga. Malu, sekaligus canggung. Apalagi setelah perlakuan kasar Reno tempo hari.
"Aw!" intan menjerit histeris saat tanganku dengan kasar memukul bahunya. "Kau mengerjaiku ya?" ucapku penuh kesal.
intan hanya terkekeh kecil. Kemudian menyuruhku untuk duduk dengan menarik lenganku. Aku menurut, memasang wajah kesal yang membuat adam tertawa lucu.
"Maaf. Aku hanya ingin kita melakukan pesta kecil disini." Ucap intan.
"Pesta?"
"Sebentar lagi kau akan menikah kan? Kita akan melakukan pesta kecil disini. Hanya kau, aku dan adam." Aku sedikit berfikir tentang ajakan intan Cukup menarik untuk di ikuti, tapi kalau Reno tahu ada adam. Pasti dia akan marah lagi.
"Jangan khawatir. Aku tidak akan mengadu lagi pada Reno." Alisku bertaut. "Maksudmu?"
"Hehe, sebenarnya. Aku yang sudah membuat Reno marah saat kau sedang mencari gaun pengantin waktu itu. Aku sengaja mengiriminya pesan kalau kalian sangat serasi saat memakai baju pengantin. Tapi siapa sangka, dia akan langsung ke sana dan marah-marah pada kak adam. Hehe.. Maaf ya," Aku menggeram. Tanganku sudah mengepal kuat, gemas ingin memukul intan yang hanya nyengir tak berdosa.
"Kau ini, benar-benar ya. Kau tahu, karna kau. Aku jadi bertengkar dengan Reno. Kami bahkan belum bicara sejak kejadian waktu itu." Aku merengut. Menggembungkan pipiku kesal.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuat kalian bertengkar. Aku hanya kesal padanya, karna Reno tidak mau menemanimu dan malah sibuk sendiri."
Aku menghembuskan nafasku. "Baiklah, kali ini kau ku maafkan. Jadi, pesta apa yang akan kita lakukan?" Ucapku penuh ketertarikan. adam tersenyum senang, di ikuti intan.
Kami kemudian pergi ke lantai dua. Duduk dikursi tepat dibagian luarnya yang langsung memperlihatkan suasana ramai dijalanan dan gedung-gedung yang menjulang tinggi. adam sudah menyiapkan berbagai makanan dan juga minuman yang sangat kami gemari setiap kali kami kemari.
***
Hari istimewa adalah hari dimana kau akan menempuh hidup baru bersama seseorang yang sangat kau cintai. Begitu pula diriku. Dipoles secantik mungkin dengan gaun pengantin seputih salju yang begitu pas ditubuhku. Semua orang memujiku cantik. Memberiku sebuah ucapan selamat dan doa atas kebahagiaan yang tak ternilaikan yang saat ini telah menungguku.
Kebahagiaan memanglah sederhana. Tak lepas dari senyumku yang mengembang. Aku terus duduk di ruanganku, memegang seikat bunga yang telah dirangkai sedemikian indahnya. Tanganku yang gemetaran tak luput dari rasa gerogiku yang sudah muncul sejak tadi pagi. bahkan aku terus meminta bantuan intan untuk mengambilkan minuman kepadaku. Aku selalu merasa kehausan, dan ingin sekali pergi ke toilet. Tapi, intan terus memaksaku untuk tetap tenang agar semuanya berjalan dengan lancar.
"Dengar! Tetaplah tenang, dan tersenyumlah saat kau berjalan menuju altar. Kau mengerti?" Aku mengangguk. Meskipun rasa gerogiku masih ada. Ku paksakan diriku untuk tersenyum. Menghembuskan nafasku bekali-kali agar aku sedikit lebih tenang.
"Tunggu! Kau akan pergi sekarang?" Aku memekik. Meraih lengan intan dengan gemetaran saat melihat intan hendak pergi dari ruanganku.
"Ya. Tentu saja, aku juga ingin melihatmu disana." Aku merengut. "Tapi. . . Aku disini sendirian,"
"Memang seharusnya begitu!" intan nampak jengkel kepadaku. "Sudah, aku pergi dulu. Ingat apa yang ku katakan tadi." Aku kembali mengangguk. Menatap intan yang telah pergi sampai pintu ruanganku tertutup.
Aku menghembuskan nafasku. Tubuh yang sejak tadi tegap kini berangsur melemas. Aku tidak menyangka aku akan setakut ini menghadapi pernikahanku yang beberapa menit lagi akan di mulai.
Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Dan aku tidak akan melakukan kesalahan yang akan membuat Reno malu. Apalagi membuat keluarga Reno dan keluargaku kecewa.
***