Aku menghembuskan nafasku. Mengatur deruan jantung yang terus berdebar sejak tadi. Ayahku sudah siap memegangiku. Berdiri dengan gagah disampingku.
"Kau siap?" Aku mengangguk. Tersenyum penuh bahagia. Dan sedetik kemudian. Pintu terbuka lebar. Memperlihatkan semua orang tengah berdiri memandangi kami penuh kagum.
Wajahku tersenyum penuh binar saat semua orang yang ku kasihi berada disana. Berdiri dengan anggun dan seulas senyum khusus untukku. Aku berjalan beriringan dengan ayahku. Mengantarkanku melewati jalan dengan karpet merah yang ditaburi bunga mawar.
Wajahku tersipu. Semakin jelas saat melihat sosok Reno yang memakai setelan jas berwarna putih. Senada dengan gaun pengantinku. Berdiri tegap menungguku yang tengah diantarkan oleh ayahku. Aku terhenti sejenak. Dilepaskannya tanganku dari ayahku untuk kemudian tangan Reno teulur kepadaku. Menggantikan ayahku dan membawaku ke atas altar. Mengucapkan janji suci kami dihadapan penghulu. Kami saling bertukar cincin dan pada akhirnya kami saling berciuman. Meninggalkan sebuah tepukan yang meriah dan gelak tawa yang membuatku ikut berbahagia.
***
"Haah~" Aku kembali menghela nafasku. Entah sudah berapa kali aku melakukan hal ini sejak aku pergi ke kamarku. Aku masih merasa resah dengan ucapan adam kepadaku.
Haruskah aku melakukan apa yang dia katakan tadi? Tapi, bagaimana kalau hasilnya berakhir buruk. Sama saja aku akan mempermalukan diriku sendiri. Lebih buruknya lagi, justru akan membuat hatiku terluka.
Oh, Astaga! Aku memukul kepalaku sendiri. Mengomel tak jelas karna jengkel dengan perasaanku sendiri. Kenapa aku bisa sebodoh ini dan begitu percaya dengan ucapan Reno selama ini. Sebagai teman kecilnya, seharusnya aku tahu kalau selama ini Reno telah berbohong padaku.
Saat diriku tengah sibuk mengeluh -ku dengar pintu terbuka. Reno kembali dari pesta dengan jas yang sudah dia lepas. Wajahnya terlihat begitu kelelahan.
"Kenapa cepat sekali?" Tanyaku kemudian. Ini masih jam sembilan.
Dan ku pikir, Reno akan lama dipesta sampai tengah malam. lagipula, tidak enak saat aku sudah meninggalkan pesta. Dan Reno juga melakukan hal yang sama.
"Aku lelah." Reno hanya berguman pelan. Berjalan menghampiriku dan duduk tepat disampingku.
Keheningan muncul tiba-tiba diantara kami. Tak ada kata yang keluar selain kegiatan kecil yang kami lakukan masing-masing. Reno sibuk dengan melepas dasinya, dan aku sibuk bermain dengan jari-jariku
-hal yang sering aku lakukan setiap kali aku gugup ataupun takut.
"Eh, kau mau ku ambilkan minuman? Atau kau mau. . ." Suaraku bergetar. Cukup membuat Reno tahu kalau aku sedang gugup. Ucapanku bahkan belum selesai karna aku merasa begitu malu saat kedua mata kami saling bertemu. Mulutku seakan terkunci melihat pandangan mata Reno yang begitu dalam terarah kepadaku.
Hari ini, dia nampak berbeda. Lebih terlihat gentle dan juga sangat tampan. "Kenapa? Apa ada sesuatu diwajahku?"
"Tidak ada!" Aku langsung menggeleng cepat. Mengalihkan pandanganku ke arah lain. Sebaik yang ku bisa. Aku beranjak dari ranjang. Saat ini aku butuh ruang sendiri untuk menenangkan hatiku yang sedang bergemuruh tak jelas. Tapi sepertinya itu sulit karna Reno sudah meraih tanganku. Memeganginya dengan lembut saat melihatku hendak pergi.
"hanna. . ." Oh ya tuhan. Suara lembutnya membuatku terhanyut.
Aku menoleh. "Ya Reno?"
"Hari ini kau sangat cantik." Wajahku memerah. Tersipu malu saat Reno dengan jelas memuji penampilanku hari ini. Tak tahu apa yang harus ku katakan, aku hanya menundukkan kepalaku. Menyembunyikan semburat merah yang begitu jelas.
Ku rasakan, Reno menundukkan wajahnya ke wajahku. Memandangi wajahku yang sejak tadi bersemu merah. "Sangat cantik."
Kemudian, dikecupnya bibiku lembut. Melepaskannya kembali dengan senyum manis.
Aku mendongak. Menatap Reno penuh cinta. Mataku dipenuhi dengan binar-binar kebahagiaa. Pertama kalinya ku dengar Reno memujiku cantik. Aku sungguh tersanjung dibuatnya.
Keberanianku seakan muncul. Membuatku ingin sekali melakukan apa yang dikatakan adam kepadaku. Merasa begitu tertantang, ingin tahu apa reaksi Reno saat aku melakukannya pada Reno.
Entah marah, atau senang. Aku akan mencobanya, agar aku tahu apa yang telah Reno sembunyikan padaku selama ini.
"Renn...." Bisikku lembut. Tanganku sibuk membelainya, sedangkan tubuhku mengarah pada Reno. Duduk tepat dipangkuannya dengan lembut. Aku menyunggingkan senyum lembut saat Reno menatapku penuh bingung. Meskipun begitu, aku tahu Reno tak menolaknya. Dia menginginkannya, hal normal yang selalu pria rasakan.
Mataku yang sejak tadi menatap mata Reno, kini teralihkan pada kemejanya yang masih dikancingkan. Dengan berani, kedua tanganku melepas semua kancing kemeja Reno hingga tubuhnya terekspor bebas. Melepasnya dengan kedua tanganku sampai dia bertelanjang d**a.
Jujur saja, dalam hatiku aku tak pernah melakukan hal memalukan seperti ini dalam hidupku. Apalagi berfikir tentang menggoda lelaki yang sejak dulu aku sukai.
"Reno..." Kini, aku memandangi matanya. Menatapnya penuh menantang, seakan mempersilahkan diriku untuk dimakan oleh Reno. Aku hanya diam merasakan, saat kedua tangan Reno meraba pinggangku. Mendekatkan diriku lebih kepadanya sampai bisa ku rasakan hembusan nafasnya yang begitu teratur. Aku menelan ludah.
"Kau tahu, aku tidak suka digoda." Ucapnya mengejek. Aku hanya tersenyum kecil. Malu sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi.
Dikecupnya dahiku lembut, kemudian hidungku dan berakhir dibibirku. Aku melenguh saat Reno menggigit bibir bawahku penuh nafsu. Melepaskannya kembali dengan seringainya yang menakutkan.
Aku harus kuat. Ini semua demi kebenaran yang selama ini aku inginkan.
"Kau bilang, Jika kau tidak akan membiarkanku menyentuhmu meskipun kita sudah menikah. Apa itu sudah tidak berlaku lagi, han..?"
Aku tersenyum. "Aku hanya melakukan tugasku sebagai istri, Reno. Egois jika aku membiarkanmu tersiksa saat keinginanmu tak ku penuhi."
"Keinginanmu, atau keinginanku?" Goda Reno. Aku tersipu.Mencubitnya gemas, hingga membuat Reno terkekeh.
"Aku harap, kau tidak akan pernah menyesalinya, han...."
"Tidak, kecuali dengan satu syarat, Reno." Reno mendelik. Alisnya bertaut penuh tanya.
"Kau mencintaiku?" Tanyaku kemudian. Bisa ku lihat raut wajah Reno berubah. Semakin kebingunan saat ku tanyakan pertanyaan paling membahayakan baginya.
"Selama ini, kita berdua sama-sama tahu kalau aku sangat mencintaimu. Tapi, aku tidak pernah tahu apakah kau mencintaiku atau tidak." Aku terdiam sejenak. "Akan ku lakukan semua kewajibanku sebagai seorang istri, termasuk melayanimu Reno. Asal kau menjawab pertanyaanku yang satu ini. Tapi dengan jujur. . ." Reno terdiam. Wajah beratnya yang seakan sulit untuk menjawab membuatku semakin panik. Aku tahu dia tidak mencintaiku, tapi. . . setidaknya aku bisa mendengarnya langsung dari mulutnya.
Ku dengar Reno mendecah kesal. Kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. Membisikkan sesuatu yang membuatku syok, sampai Reno menciumku dengan cepat. Penuh nafsu dan hasrat yang terbelenggu sejak dulu. Tangannya meremas punggungku.
Lama kami berciuman. Ciuman yang sebenarnya sepihak, karna Reno seakan mendominasi setiap ciuman demi ciuman yang dia berikan. Tanganku beringsut mendorong tubuh Reno sampai aku menindihnya. Tapi tak butuh waktu lama sampai Reno membalikkan tubuhku hingga giliran dia yang menindihku. Ku remas rambutnya saat dia semakin memperdalam ciumannya.
Hanya ada suara lenguhan, desahan dan panggilan nama Reno yang selalu ku sebut disetiap sentuhan-sentuhan lembut yang Reno berikan.
Hingga kami melewatkan malam penuh cinta kami disepanjang malam. Tanpa salah satu yang berniat untuk menghentikannya.
***
"Pagi sayang," aku menggeram. Merasakan tangan Reno mengelus rambutku sambil menyapaku dengan senyum lembut.
Tak memperdulikan sarapan pagi Reno. Aku justru lebih mendekatkan diriku ke d**a Reno. Mencari sebuah kehangatan yang lebih untuk menghangatkan diriku yang kedinginan.
"Kalau kau melakukan ini, mungkin kita tidak akan keluar dari kamar sampai sore nanti." Aku hanya menjawabnya dengan gumanan.
Merasakan tangan Reno meraih pinggangku dan memeluknya dengan lembut. Aku ingin dimanja, tak mau keluar dari kamar meskipun ini sudah terlihat begitu pagi.
Di ciumnya puncak kepalaku penuh kasih. Bibirku menyunggingkan sebuah senyuman. Rasanya seperti ada ribuan bunga yang berada di sekelilingku. Membuat keharuman dan kesejukan yang tiada tara..
Aku kembali menggeram saat ku dengar suara pintu kamar kami diketuk. Mataku yang masih setengah terbuka menatap Reno. Dia hanya menatapku sebelum dia menoleh ke sumber suara.
"Tidurlah lagi. Aku akan melihatnya." Reno mengecup dahiku lembut sebelum dia beranjak dari ranjang. Aku kembali beringsut pada selimut hingga menutupi hampir seluruh tubuhku. Memejamkan mataku yang masih mengantuk karna kegiatan melelahkan yang baru kami lakukan.
Tak lama aku tertidur, kembali ku rasakan tubuh Reno yang sudah ku jadikan penghangat tubuhku. Tangan kanannya sibuk memelukku, sedangkan tangan kirinya mengelus rambutku penuh kasih.
"Siapa?" Gumanku, masih dengan kedua mata yang tertutup. "Ibu. Dia hanya menawarkan sarapan pagi untuk kita. Tapi, aku sudah bilang kalau kita akan makan nanti."
Aku melenguh. Semakin mendekat, dan ku rasakan Reno ikut merapatkan tubuhnya kepadaku. Membiarkanku kembali tertidur didekapannya yang begitu hangat. Sampai aku tak sadar kalau aku sudah tertidur sampai siang hari. Saat aku merasa Reno tak lagi disampingku.
Aku menoleh kesana kemari. Mencari sosok Reno yang tak ada dimanapun. Aku mengangkat tubuhku yang terbalut oleh selimut. Mengerjapkan mataku berkali-kali untuk mengumpulkan nyawaku.
Apa ini mimpi? Pikirku dalam hati. Konyol, saat aku memikirkan jika pernikahan yang kami lakukan kemarin adalah mimpi belaka.
Jika memang itu hanyalah mimpi. Tidak mungkin, aku bisa berada dikamar Reno dengan bertelanjang d**a.