Hasna sangat terkejut melihat kedatangan Arga yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu seraya menatapnya dengan tajam. Dia sungguh tak menyangka jika bosnya itu akan menyusulnya.
“Maaf, Pak. Tapi ini bayi saya.” Hasna menutupi bagian dadanya yang putih mulus dan terbuka.
Arga syok mendengar perkataan Hasna, karena dia mengira jika Hasna adalah seorang gadis yang masih lajang. Dia tidak percaya bahwa bayi itu adalah bayinya. “Jangan bercanda, Hasna!"
"Saya nggak bercanda, Pak. Saya berbicara apa adanya bahwa ini emang benar bayi saya! Nggak mungkin kalau saya gak mengakui darah daging saya sendiri!" Hasna berkata dengan tegas dan mata berkaca-kaca.
Arga merasa tidak enak hati saat mendengar Hasna mengatakan itu, tapi dia masih tidak yakin dengan apa yang dikatakan oleh wanita tersebut. Matanya mengedari sekeliling kontrakan Hasna.
Dia sedang mencari petunjuk tentang Hasna apakah benar sudah memiliki suami atau tidak. Matanya sedang mencari foto pernikahannya, tetapi tidak ditemukan. Keraguan Arga pun kian bertambah.
“Kalau benar ini bayimu, lalu di mana suamimu? Kamu jangan bercanda!” Arga menegaskan. "Dan kalau emang kamu udah menikah, mana foto pernikahanmu? Aku sedari tadi mencarinya, tapi gak ada!"
"Pak, saya nggak bercanda. Benar ini bayi saya. Suami saya lagi gak ada di rumah! Dan masalah foto pernikahan, itu privasi saya, Pak!" Suara Hasna mulai meninggi. "Jadi, Bapak nggak punya hak mempertanyakan hal pribadi semacam itu!"
Wajah Arga memerah mendengar perkataan Hasna. Dia sungguh tak menyangka jika wanita tersebut akan berbicara seperti itu. Namun, rasa penasaran dan juga keraguannya kian memuncak.
"Gak! Aku gak percaya sama kamu! Ayo, perkenalkan aku pada suamimu agar aku percaya kalau kamu benar udah punya suami dan anak!" Arga berkata dengan tegas.
Setelah berkata begitu, Arga pun segera meninggalkan kontrakan Hasna. Perasaannya hancur. Rasanya tidak mungkin jika Hasna telah memiliki anak, tetapi tadi jelas-jelas matanya melihat secara langsung saat Hasna menyusui seorang bayi.
Arga terlihat melamun dan bingung. Kepalanya sakit memikirkan itu semua. Ia berpikir, benarkah Hasna sudah mempunyai suami dan anak? Lalu, bagaimana dengan perasaannya yang tanpa terasa sudah bersemi terhadap Hasna?
Arga jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Hasna, wanita misterius yang disangka masih gadis, tetapi dipergoki tengah menyusui bayi. Apa yang harus dilakukannya jika benar Hasna sudah bersuami?
Arga mengemudikan mobil sambil terus melamun. Pikirannya melayang jauh memikirkan perkataan Hasna tadi. Kepalanya semakin berdenyut nyeri.
'Benarkah Hasna udah nikah dan punya anak? Lalu, siapa suaminya? Kenapa aku belum pernah melihatnya bersama suaminya? Apakah Hasna seorang janda, sehingga sekarang dia menjadi orang tua tunggal? Atau pria paruh baya tadi adalah suaminya?' Arga bertanya-tanya di dalam hati.
Setelah itu, Arga membawa mobilnya untuk pergi ke klub, dia ingin menenangkan pikirannya. Arga memesan minuman yang mengandung alkohol. Dia meminumnya dengan rakus hingga berbotol-botol.
Bayangan saat Hasna tengah menyusui bayi, terus menghantui pikirannya. Ia terus menenggak minuman haram tersebut hingga tak sadarkan diri.
Keesokan harinya, seperti biasa Hasna diantarkan oleh Taufik berangkat bekerja. Dan pada saat itu ketika baru sampai di depan kantor, dia bertemu dengan Arga yang baru saja datang. Arga memandang Hasna yang diantar oleh Taufik. Wajah Arga tampak kusut.
'Apakah benar ini suami Hasna? Tapi nggak mungkin, karna laki-laki ini udah sangat tua. Ah, mungkin dia ayahnya.' Arga terus memikirkan Hasna.
Sementara Hasna bergegas masuk ke kantor dan menjalankan tugasnya. Dia teringat perkataan Arga kemarin yang mengatakan bahwa sejak saat itu dia hanya melayaninya saja.
Hasna kemudian menuju ke dapur dan membuatkan kopi untuk Arga. Sementara Arga bergegas mengejar Hasna untuk berbicara dengannya.
“Pak, ini kopinya, silakan diminum.” Hasna meletakkan cangkir kopi di meja kerja Arga.
Sementara Arga menatap wajah Hasna yang hanya menunduk. "Hasna, kamu belum menjawab pertanyaanku! Di mana suamimu? Aku mau ketemu sama dia. Jangan bohong sama aku!"
"Aku tau kalau kamu masih gadis! Kamu masih lajang! Jadi, kenapa kamu harus berbohong dan mengakui bahwa kamu udah nikah dan punya anak? Katakan padaku, siapa bayi itu?!" Arga terus mendesak Hasna.
Seketika Hasna mendongak, matanya berkaca-kaca menatap Arga. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa sangat sedih dan sakit mendengar perkataan Arga tersebut. Air mata tak bisa dibendung lagi dan kini mengalir di pipi mulusnya. Bahunya bergetar karena menangis.
“Hasna, kenapa kamu menangis? Tolong mengerti perasaanku ini untukmu, Hasna. Aku mencintaimu!”
Betapa terkejutnya Hasna mendengar perkataan Arga. Dia mengangkat wajah, sehingga matanya bertemu dengan mata Arga yang menatapnya lekat. Mereka berdua saling menatap dengan pikiran berbeda.
"Hasna, aku minta maaf. Tapi aku mengatakan yang sebenarnya padamu ... beginilah perasaanku padamu. Katakan sejujurnya jika kamu belum memiliki suami, aku menginginkanmu, Hasna.”
“Maaf, Pak Arga. Tapi saya punya suami, jadi nggak mungkin Anda mencintai istri orang!”
“Tapi Hasna, aku sangat mencintaimu sejak pertama kali aku bertemu denganmu, aku selalu memikirkanmu. Perasaanku gak berbohong bahwa aku sangat mencintaimu!"
“Aku nggak peduli meskipun kamu punya suami atau janda, aku akan tetap mencintaimu dan menerimamu. Dan aku akan menerima anakmu juga, anakmu adalah anakku juga." Arga meyakinkan Hasna.
Hasna menunduk. Pikirannya menjadi kacau mendengar kata-kata Arga. Dia sudah pusing dengan kemelut rumah tangganya, lalu sekarang ditambah permasalahannya dengan Arga.
Dia sudah tidak mempercayai cinta dan laki-laki. Dia masih tetap bertahan dengan Pasha, itu karena di antara mereka sudah ada Hanun, putri mereka.
"Lalu saya harus bagaimana? Karna saya tetap istri Mas Pasha, meskipun dia nggak menganggapku sebagai istrinya dan meskipun saya hanya istri siri. Tapi kami udah sah menjadi suami istri dan udah mempunyai anak." Hasna terisak. “Maaf, Pak Arga. Tapi saya udah punya suami, dan tolong jangan berpikir seperti itu, karna masih banyak gadis lain yang lajang dan lebih cantik, lebih segalanya dari saya. Tolong jangan lakukan itu!"
"Aku nggak peduli, Hasna! Karna aku mencintaimu dengan tulus. Aku sangat mencintaimu. Apa pun yang terjadi, aku akan melakukannya, aku bisa melakukan hal nekat jika kamu menolakku. Jangan pernah menolakku, mengerti!" Arga berkata dengan tegas dan penuh ancaman.
Hasna sangat takut mendengar perkataan Arga. Karena dia takut Arga akan berbuat buruk padanya dan bayinya. Namun, dia bingung karena posisinya sebagai istri memang benar, dia yang masih sah sebagai istri Pasha.
“Maaf, Pak. Kalau begitu lebih baik saya mengundurkan diri aja dari sini, dari perusahaan Anda, daripada hubungan kita semakin buruk!”
Arga membelalakkan mata mendengar kata-kata Hasna. Ia tidak menyangka jika Hasna akan mengakhiri hubungan kerja mereka. “Hasna, jangan bertingkah bodoh!"
"Saya rasa saya gak melakukan sesuatu yang bodoh, tapi Andalah yang melakukan hal bodoh!"
Hasna pun berkata dengan tegas. Entah mengapa kini dia berani mengatakan hal yang lebih kasar kepada Arga, padahal Arga adalah bosnya. Sementara Arga tak mau dibantah, ia meraih pinggang Hasna dan langsung memeluknya. Dia mendorong tubuhnya ke dinding.
Arga langsung melumat bibir Hasna dengan beringas. Dia tak membiarkan Hasna menghirup oksigen barang sedetik pun. Rasa cinta yang datang sejak pandangan pertama, membuatnya lupa diri.
Arga tidak membiarkan Hasna bergerak sedikit pun, dia terus berusaha meraih tubuhnya dengan brutal dan kasar. Entah mengapa keinginannya tiba-tiba menjadi liar dan menggebu-gebu pada Hasna.
"Aku sangat mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu. Jadi jangan pernah menolakku, jangan pernah tinggalkan aku dengan alasan ingin berhenti bekerja!”
Plak! Plak!
Hasna menampar wajah Arga dengan keras. Arga kaget dengan tindakan wanita pujaannya itu. Hasna merasa sangat terhina atas tindakan Arga. Dia merasa dilecehkan oleh bosnya tersebut.
"Kamu sangat kurang ajar sekali, Pak Arga! Kenapa kamu sangat berani menyentuhku? Aku ini wanita bersuami!" Hasna menangis dan berlari meninggalkan Arga.
“Aku membencimu, Pak Arga.” Hasna berteriak dan berlari. Dan kini dia sudah tidak menggunakan kata-kata formal lagi.
Arga melihat Hasna yang pergi dengan tatapan bingung. Dia memegang pipinya yang panas akibat tamparannya. Lalu, dia mengejar Hasna.
Hasna terlihat berlari menuju toilet. Saat dia hendak menutup pintu, tiba-tiba Arga sudah mendahuluinya dan menutup pintu tersebut, kemudian menguncinya.
Mata Hasna terbelalak melihat kehadiran Arga. Matanya merah karena menangis. Sementara Arga menatapnya dengan perasaan tak menentu.
“Untuk apa kamu mengikutiku ke sini, Pak Arga?!”
"Tentu karna aku ingin menyusulmu, Honey. Jadi apa lagi?"