Hasna menatap nanar wajah tampan Arga. Bahunya terguncang hebat, perasaannya menjadi tak menentu. Mengapa di saat hidupnya sudah hancur oleh Pasha yang tidak bertanggung jawab, Arga baru hadir menjadi dewa penolongnya?
“Maafkan aku, Pak Arga. Tapi kamu tau kan, kalau aku ini wanita bersuami. Aku masih terikat pernikahan sah, jadi gak mungkin kalau aku menikah denganmu.” Hasna menunduk.
“Kamu bisa berpoliandri, Hasna. Kamu bisa punya dua suami. Gak apa-apa kalau aku jadi suami keduamu.” Arga menjawab dengan enteng.
Mata Hasna tebelalak. “A-apa maksudmu?”
“Maksudku adalah ... kamu bisa menikahi dua lelaki sekaligus. Aku rela menjadi suami keduamu, aku rela menjadi madu dari Pasha.”
“Astaghfirullah, Pak Arga. Sadarlah. Apakah kamu nggak sadar dengan apa yang kamu ucapkan ini? Ini sangat nggak dibenarkan dalam agama, maupun dalam negara kita.”
Arga tersadar dari lamunan. Sepertinya dia mengatakan itu karena mengikuti hawa nafsu. Namun, rasa cintanya yang begitu besar pada Hasna, membuatnya seperti itu. Dia rela menjadi pebinor dan juga dipoliandri.
Baru kali ini dia sampai bersikap seperti orang bodoh begitu. Karena baru Hasna-lah wanita yang telah mampu menggoyahkan hatinya dan membuatnya tak waras.
“Baiklah, maafkan ucapanku. Ayo, kita kembali ke kontrakanmu. Kasihan anak kita menunggu kedatangan kita.” Arga membantu mengangkat tubuh Hasna, lalu mereka berjalan bersama.
Di sana terlihat Meli yang sedang menggendong Hanun. Wanita paruh baya itu sejak tadi melihat pertengkaran yang tengah terjadi di antara Hasna, Arga, dan Pasha.
“Anak papa, sini, biar papa yang gendong.” Arga mengambil alih Hanun.
Hanun tertawa tanpa henti. Dia terlihat sangat bahagia ketika digendong oleh Arga. Tangannya yang mungil menggapai wajahnya. Arga tersenyum dan mendekatkan wajahnya. Dia menciumi wajah mungil Hanun dengan sangat gemas. Hanun tertawa tanpa henti. Kedekatan di antara mereka semakin terlihat.
Hasna terpana melihat kedekatan antara sang putri dan bosnya itu. Bahkan Pasha yang merupakan ayah kandungnya, tidak pernah sedekat itu dengan Hanun. Tanpa disadari, butiran air bening membanjiri pipinya. Arga menyadari hal itu, dia langsung menatap Hasna dengan rasa kasihan.
“Ma, kemarilah. Lihat putri kita, dia manis sekali.”
Mata Hasna semakin berair mendengar perkataan Arga. Hatinya sedih sekaligus terharu karena Arga yang hanya orang lain, justru menganggap putrinya sebagai anaknya, sedangkan Pasha justru tidak pernah menganggap Hanun sebagai putrinya. Arga memahami bahwa saat ini Hasna sedang sedih dan terharu. Dia berjalan ke arahnya.
“Putri papa cantik seperti Mama. Ayo, semangati Mama agar tersenyum dan ceria lagi.” Arga berbisik pada Hanun, tapi Hasna mendengarnya.
Hasna menyeka air mata, dia memaksakan bibir untuk tersenyum. “Hanun, Sayang. Kemarilah bersama ibu. Om Arga pasti lelah menggendongmu.”
Arga memandang Hasna dengan cemberut, wajahnya yang tadinya ceria kini berubah muram. "Om?"
“I-iya, Om.” Hasna terbata-bata.
"Tapi aku bukan omnya, aku papanya!"
"Hah?!" Hasna sangat terkejut mendengarnya.
Sejak saat itu, hubungan antara Arga dan Hasna semakin dekat. Arga selalu mengantar jemput Hasna setiap hari. Dan kini dia membawa Hanun ke kantor dan menyewa baby sitter.
“Pak Arga, aku ngerasa gak enak karna bekerja di kantor ini sambil membawa serta bayiku,” ujar Hasna.
Arga dan Hasna saat itu sedang menikmati makan siang di kantor. Mereka sedang berbincang-bincang ringan, sedangkan Hanun diasuh oleh Santi, sang baby sitter.
"Sayang, kamu ngerasa gak enak sama siapa?" tanya Arga.
“Tentu saja sama semua orang di perusahaan ini, Pak. Aku ngerasa gak profesional dalam bekerja.”
"Hey! Kamu adalah calon istriku, dan aku adalah calon suamimu. Jadi kamu jangan pernah berpikiran seperti itu, oke?!"
"Maaf, Pak. Tapi aku wanita yang udah bersuami. Berapa kali aku harus menjelaskan hal itu kepadamu."
Arga yang sedang mengunyah makanannya tiba-tiba berhenti. Dia tiba-tiba merasa kenyang. "Aku udah kenyang, kamu lanjutin aja makan siangmu, aku mau keluar sebentar."
Arga bergegas meninggalkan Hasna. Hasna menatap kosong kepergian Arga, matanya sudah dipenuhi air mata. Dia pun tiba-tiba merasa kenyang. Akhirnya Hasna membereskan makanannya.
Hasna berjalan menuju dapur kantor. Sesampainya di sana, sekelompok pegawai perempuan yang berada di pantry terang-terangan bergosip tentang dirinya.
“Enak banget ya, hidupmu! Kamu cuma kerja sebagai office girl, tapi kamu juga bisa membawa anakmu ke perusahaan ini!” kata salah satu karyawan.
"Hey ... taukah kalian apa pekerjaan sebenarnya office girl ini? Tentu aja dia bekerja sebagai simpanan Pak Arga," timpal seorang pegawai.
"Iihhh! Dasar p*****r! Kamu gak punya rasa malu dan harga diri!"
"Bukankah dia masih istri orang, ya?"
"Aku kira dia seorang janda? Kalau begitu, itu artinya dia berselingkuh dong!"
Berbagai perkataan yang melukai hati Hasna terus terlontar. Hasna tidak tahan lagi mendengarnya, dia pun segera meninggalkan pantry. Air mata sudah mengalir di pipinya yang putih mulus.
'Ya Tuhan, ini yang aku takutkan karna orang-orang pasti akan berpikir buruk dan negatif tentang aku.' Hasna terus berjalan menuju toilet, dia sudah tidak kuat lagi menahan air matanya. 'Apa yang harus aku lakukan, Tuhan? Aku benar-benar bingung. Haruskah aku berhenti dari pekerjaanku ini? Tapi kalau aku berhenti, bagaimana aku bisa mencari nafkah?'
Setelah puas menangis, Hasna membasuh wajahnya agar tidak terlihat sembab. Setelah itu dia kembali ke ruangan kerja Arga. Ternyata Arga sudah duduk di kursi kerjanya, tapi kedatangan Hasna tidak dihiraukannya. Hati Hasna semakin sakit dan sedih melihat Arga mengabaikan dan tetap mediamkannya.
Hasna memilih untuk membersihkan ruang kerja Arga. Ia berusaha tegar dan tabah. Arga diam-diam memperhatikannya, dia tahu jika Hasna sedang menangis. Dia menarik napas dalam-dalam.
"Hasna —"
Hasna tersentak, ia menghapus air matanya agar tak diketahui oleh Arga. Dia segera membalikkan badan dan menghadap Arga, tapi sambil menundukkan wajah. Arga terus memandangi wajahnya.
"Ada apa denganmu, kenapa kamu menangis?" tanya Arga.
Hasna terdiam. Namun, sekeras apa pun dia berusaha menutupi tangisnya, ternyata Arga tetap mengetahuinya. Arga hanya menggelengkan kepala, lalu meraih dagu Hasna dan mengangkat wajahnya. Kini mata mereka saling beradu pandang.
Mata Hasna memerah, dia berusaha sekuat mungkin menahan air matanya agar tidak keluar lagi, tapi air mata itu terus berjatuhan. Arga tak tega melihatnya dan langsung meraih kepala Hasna, kemudian memeluknya.
“Jangan menangis. Aku di sini selalu bersamamu. Maafkan aku kalau aku terbawa emosi dan mengabaikanmu. Tolong maafkan aku.” Arga mengecup kepala Hasna.
“Pak, aku hanya ingin berhenti bekerja.”
Seketika Arga melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Hasna. Ibu jarinya membelai pipi Hasna yang putih mulus.
“Mengapa dan ada apa denganmu? Kenapa kamu tiba-tiba mau berhenti kerja? Apa karna perbuatanku tadi karna aku meninggalkanmu di saat kita sedang makan siang dan karna aku mengabaikanmu?"
Hasna menggelengkan kepala, dia melepaskan tangan Arga dari wajahnya. Dia berjalan kesana-kemari sambil memilin jari-jemari. Arga yang memperhatikan hal itu tahu bahwa Hasna sedang mengalami masalah serius.
“Hasna, beritau aku, ada apa?”
"Bukan apa-apa, Pak. A-aku h-hanya, aku hanya —"
"Baiklah, kalau kamu gak mau ngasih tau aku, aku akan mencari tau sendiri!"
Arga yang merasa curiga pada Hasna segera duduk di kursi kerjanya. Dia segera membuka laptop dan memeriksa CCTV. Karena dia mengetahui bahwa tadi Hasna dari office pantry, jadi dia memilih untuk memeriksa CCTV pantry tersebut.
Betapa terkejutnya Arga ketika melihat bagaimana para pegawai kantor menghina dan mengejek Hasna. Tangannya terkepal erat dan buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi.
'Kurang ajar! Ternyata merekalah yang udah mengganggu calon istriku. Mereka udah ngehina wanita yang kucintai. Betapa kurang ajarnya mereka!' Arga menghela nafas berat. 'Aku akan memberi mereka pelajaran dan akan membuat mereka menyesal seumur hidup!'
Tiba-tiba Arga berdiri dan menghampiri Hasna. "Hasna, tunggu sebentar. Ada yang harus aku urus."
Tanpa merasa curiga, Hasna menganggukkan kepala, kemudian Arga bergegas keluar. Hasna memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, sedangkan Arga langsung menuju ke ruangan HRD. Dia sengaja menghampiri HRD, karena jika berbicara lewat telepon atau pesan, pasti Hasna mengetahuinya. Maka dari itu dia lebih memilih berbicara langsung dengan HRD.
"Bu Desti, aku mau kamu memecat pegawai yang menghina Hasna. Kamu bisa memeriksa sendiri siapa yang menghinanya! Kamu bisa melihatnya melalui rekaman CCTV!”
“Aku mau kamu memecat mereka dengan secara tidak hormat dan memasukkan mereka ke dalam black list agar semua perusahaan tidak menerima mereka lagi!"