bc

BRANDAL M*SUM ITU SUAMIKU

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
friends to lovers
kickass heroine
stepfather
drama
sweet
lighthearted
kicking
enimies to lovers
like
intro-logo
Uraian

Berawal dari Sena yang sering memergoki Bryan yang sedang m***m. Membuat Bryan kesal dan dendam, seperti mendapatkan keberuntungan Bryan tertemu dengan Sena di sebuah klub malam. "Lo harus ngerasain saat mau keluar tapi ga jadi." ucap Bryan tersenyum menyeringai.Bryan tak tau kalau apa yang dia lakukan malah membawa Praha baru.

chap-preview
Pratinjau gratis
kepergok
Seorang wanita cantik dengan wajah blesteran kini masih terlelap di tempat tidur empuknya, bahkan waktu sudah memasuki jam 7 tapi gadis ini masih saja terlelap. "Sena bangun." teriak Sara. Setelah anak-anak besar, teriakan Sena semakin kencang saja. Apalagi jika harus membangunkan Sena. "Ya Tuhan, untung salah satu anakku di Palembang. Bagaimana jika semuanya ada bisa cepat Tua aku." gerutunya. Sara mencari kunci cadangan kamar anak gadisnya, Sena sudah berusia 17 tahun, dia bersekolah di sekolah internasional. Gadis itu selalu bangun siang dan di hukum di sekolah karena selalu telat. ceklek Sara berhasil membuka kamar Sena, gadis itu masih terlelap dengan iler yang mengalir dari sela bibirnya yang terbuka. "SENA BANGUN." teriak Sara. Sena langsung mengerjap dan terduduk saat teriakan sang Mommy begitu menggelegar. "Mommy apaan sih pagi-pagi sudah teriak-teriak." ucapnya sambil mengelap Iler dan beleknya. "Bangun udah siang, kamu kan mau sekolah." "Emang ini jam berapa?" tanyanya santai. "Ini jam 8 Sena, cepat bangun dan mandi." teriak Sara kesal. "Hah apa.' sena langsung berlari ke kamar mandi. Sekarang hari senin sudah pasti ada guru BK yang mengawasi setiap dinding tempat dia melompat masuk ke dalam kelasnya. Setelah siap, Sena mengambil sarapannya dan masuk ke dalam mobil. Suasana rumah sudah sangat sepi karena Daddy sudah berangkat bekerja dan Dion. Iya Dion, dia adik Sena yang lahir 9 tahun lalu. Dia sangat kesal saat kembali mendapati adik laki-laki. Bahkan dia merajuk tidak makan dua jam ya kira saja tidak makan seharian. Dia kan dulu masih sangat kecil saat Dion lahir. Mobil yang Sena tumpangi berhenti di depan sekolah. "Sudah sampai Nona." Sena melihat sekeliling ternyata memang sudah sampai. Dia keluar dari mobilnya, setelah supirnya pergi dia mencari tembok tempat dia masuk ke dalam sekolah. "Aman gak ada orang." ucapnya. Sena mulai memanjat, saat sudah berada di atas tembok teriakan melengking yang Sena kenalin memekik gendang telinganya. "Heh mau ngapain kamu." teriaknya 30 meter dari tembok. Laki-laki dengan tubuh gempal itu kembali memergoki Sena yang sedang memanjat tembok. "Ampun Pak, gak lagi." Sena langsung melompat dan lari terbirit-b***t. Laki-laki yang di sebut guru Bk pun langsung mengejar Sena. "Sena berhenti kamu." teriaknya. "Nggak nanti bapak ngehukum saya lagi." sahutnya sambil berteriak. Sena terus saja berlari menelusuri lorong sekolah. "Pak jangan kejar Saya lagi. Saya cape." Sena menghentikan langkah kakinya dengan tangan seperti mengstop seseorang yang masih mengejarnya. Replek guru BK itu pun ikut berhenti. "Ehh kenapa Saya juga ikutan berhenti." monolognya. Imron atau biasa di sebut guru hakim itu kembali menatap ke depan, ternyata Sena sudah tidak ada. "Dasar gadis itu, awas saja kalau ketemu." Sena memang pintar berlari, lari dari kenyang. Tidak ko, dia bahkan tidak lari pergi saat Rey terus saja menolaknya dia malah semakin gencar mengejar laki-laki kaku itu. Sena membasuh wajahnya di wastafel toilet sekolah, nafasnya masih memburu karena lelah berlarian. "Pak Imron tubuhnya gendut juga tapi larinya gencar banget, anjir cape banget." Sena merapihkan bajunya yang sedikit acak-acakan lalu berjalan menuju kelasnya. langkahnya berhenti saat mendengar lenguhan seseorang di dalam toilet itu. "Itu suara apa ya." Sena mencari sumber suara itu, semakin dia dekat suara itu semakin kencang. Sena mendorong pintu toilet itu sedikit, mulutnya mengangga tak percaya melihat siapa yang di dalam sana. Mata seseorang di dalam sana langsung menghunus Sena yang sedang menatapnya. Sena langsung berlari keluar dari toilet, matanya ternodai dengan kegiatan orang di dalam Sana. Apalagi Sena melihat tangan laki-laki itu sedang memainkan area sensitif wanita yang bersamanya. "Emang gak ada akhlak, gak punya duit apa buat nyewa hotel." gerutunya kesal. Sena langsung masuk kedalam kelasnya, dia membanting tasnya asal. "Wihhh baru datang lo." ucap Zio. "Iyaa nih, cape abis di kejar pak Imron" sahutnya. Sena langsung mencari Rey, Sena senang karena Sean tidak satu sekolahan dengannya jadi tidak ada yang menegurnya lagi. "Mau kemana Lu?" teriak Zio tapi tidak di hiraukan Sena. "Hai Rey, udah sarapan?" tanyanya. "Udah." sahutnya dingin. "Emmm padahal aku belum, ya sudah deh nanti makan siang bareng ya." ucapnya. Pintu kelas kembali terbuka, Sena langsung menoleh dia menatap laki-laki yang baru saja masuk ke dalam kelas. Dia adalah Bryan, laki-laki yang tak kalah nakal dengannya. Bisa di bilang laki-laki itu banyak di gilai wanita di sekolahnya. Bryan tersenyum menyeringai melihat Sena, lalu duduk di kursinya. Sena duduk di kursinya saat guru datang dan mulai memberikan pelajaran. Waktu begitu cepat berlalu, tenggorokan Sena begitu kering dia sangat haus karena mengikuti semua pelajaran. Sena sedang duduk di depan pos menunggu jemputan. "Sendirian aja nih ratu telat." ucap seseorang yang baru saja datang. Tapi Sena tak meresponnya. "Mau ngapain lo." sahutnya ketus. "Awas ya lo kalau lo nyebari tentang apa yang lo lihat tadi." ancamnya. Ternyata laki-laki itu Bryan,. Orang yang Sena lihat sedang m***m di dalam toilet. "Ckk emang lo siapa ngancem-ngacem gue." sahutnya. "Awas ya. kalau lo nyebarin bakal gue kasih pelajaran." ucapnya sambil melenggang pergi meninggalkan Sena. "Ck dasar laki-laki m***m, mau ngapain juga gue nyebarin aib lo gak ada gunanya juga." dengus Sena sebal. Sena semakin sebal karena supirnya ngaret menjemputnya. "Ini kemana sih yang jemput." kesalnya. Setelah cukup lama Sena menunggu di depan pos, supir pun datang. "Maaf Non, bannya tadi kempis." "Udah cepetan kita pulang." supir membukakan pintu mobil untuk Sena. *** Sesampainya di rumah Sena langsung merebahkan tubuhnya karena lelah. tok tok "Masuk" Sena yang sedang tengkurep melihat siapa yang mengetuk pintunya yang ternyata ada Mommy nya. "Mommy mau kemana?" tanyanya saat melihat sang Ibu sudah rapi dengan pakaian pestanya. "Mommy sama Daddy mau datang ke pesta yang ada di bandung, kemungkinan kami akan nginap kamu dan Dion gapapa kan kalau di tinggal." ucap Sara. "Gapapa ko My." sahutnya. Senyuman kecil kini muncul di sudut bibirnya. "Awas ya kamu nakal apalagi balapan liar, mommy titip Dion dan juga bangun tepat waktu jangan telat terus." nasehatnya. "Siap Mom." Sara pun pergi meninggalkan anaknya. "Bagaimana sudah?" tanya Leon yang sudah ada di dalam mobil. "Sudah Mas." Sahutnya. Leon pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan mansion. Sedangkan Sena dia langsung menghubungi Zio. "Halo Zi, lo lagi dimana?" tanyanya antusias. "Di rumah, kenapa emangnya." "Kita ke sirkuit malam ini." "Serius lo." sahutnya di sebrang sana. "Iya nanti gue jemput." ucap Sena sambil mematikan sambungan teleponnya. Sena sangat senang kalau orang tuanya tidak ada di rumah, dia akan leluasa mengikuti balapan. Tentu saja orang tua Sena sangat melarang karena itu sangat berbahaya tapi Sena yang sangat nakal tidak mendengarkannya. Sena keluar dari kamarnya, perutnya sudah berdemo minta di isi. Sena pun langsung duduk di meja makan, sudah banyak jenis lauk yang tersaji di sana. "Kak teman aku mau kesini boleh." ucap Dion yang baru saja datang. "Siapa?" tanya Sena. "Biasa yang suka ke sini, mau main game bareng." ucap Dion. "Hemmm asal jangan malem-malem tidurnya." ucap Sena. "Asik makasih Ka." Setelah makan Sena menuju garasi, di sana berjejer berbagai jenis mobil kesayangan Ayahnya. Sena membuka penutup motor kesayangan. Si merah yang sangat menggoda. Sena tersenyum menyeringai. "Rambo i'm coming." Sena begitu senang karena bisa kembali menunggangi kuda besinya. Leon tak pernah mengizinkan Sena naik motor setelah dia terjatuh dan masuk rumah sakit. "Salallalalala." Sena memakai helmnya lalu menyalakan motor, bodyguard penjaga rumah langsung mencegat Sena. "Anda mau kemana Nona." ucapnya sambil menghalangi Sena. Sena mendengus sebal, sangat tidak enak ya ini jadi orang kaya. Kemana-mana gak bebas dengan alasan berbahaya. "Mau beli nasi goreng." ucapnya asal, ya kali aja beli nasi goreng padahal dia punya cheff restoran bintang lima di rumahnya. "Anda bisa.. " Sena buru-buru melanjutkan ucapanya sebelum orang yang menghalangi jalannya bicara. "Bosan, Aku mau nasi goreng rasa melon yang sedang viral." ucapnya seakan tau apa yang sang bodyguard mau ucapkan. ya kali aja ada nasi goreng rasa melon, kalau pun ada dirinya tak mau memakannya. "Anda tidak bisa keluar Nona, silahkan kembali masuk." Sena mendengus sebal, mana mau dia kembali lagi membawa si Rambo. "Ehh itu apa putih-putih lewat." tunjuk Sena kearah belakang. Reflek sang bodyguard pun menoleh, Sena tak menyia-yiakan kesempatannya dia langsung tancap gas meninggalkan bodyguardnya. "Nona jangan pergi." teriaknya. "Bodo amat jangan pergi." "Ohh ya ampun, dia pasti ngehubungin temannya yang berjaga di depan gerbang. "Ini lagian rumah sama gerbang jauh amat sih," gerutu Sena sambil memacu motornya mendekati gerbang. Benar saja Sena kembali di hadang di depan, sepertinya malam ini dia tak bisa membawa Rambo keluar. Jalan satu-satunya ya minta jemput Zio.. Dengan langkah lesu Sena masuk kembali kedalam rumahnya, dia mengutuk sang Ayah yang kaya raya dan membuat dia tak bebas. "Gak jadi Kak keluarnya?" tanya Dion yang sedang main game dengan teman-temannya. "Kaga, boro-boro. Emang ya daddy lo tuh Ion bikin gue gak bisa keluar. Udah mah rumah sama gerbang jauh bodyguardnya berjaga dimana-mana." gerutu Sena sambil memakan apel. "Ya mau bagaimana lagi, kita ini berlian berharganya jadi Daddy gak tau kalau ada yang lecet sedikitpun apalagi sekarang Daddy sama Mommy lagi gak ada. Tambah ketat. " sahutnya sambil fokus dengan tv di depannya. *** Di lain tempat suara marah begitu menggelegar dengan seorang laki-laki yang hanya diam saja. "Dasar tak tau di untung, kamu tuh harusnya bersyukur masih bisa sekolah di sekolah bagus jangan hanya membuat saya malu saja." bentaknya. "Mau jadi apa kamu bulak balik masuk kantor polisi, hah!!. Kamu itu tidak seperti kakakmu hanya bisa saja menyusahkan dan membuat malu saja." Sudah di marahi kini malah di banding-bandingkan. "Harusnya kamu itu tidak hidup, Andai saja kamu mati mungkin Istri Saya tidak akan meninggal."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Video Pernikahan Papa

read
12.5K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook