Serah dan Terima

1240 Kata
Rendra tak habis pikir, baru kali ini mengapa Kevin susah sekali dihubungi. Padahal ada sesuatu yang sangat penting yang harus dia sampaikan. Tania bertemu sama Kevin nggak ya di kampus? pikir Rendra.  Rendra pun segera beranjak dari kamarnya menuju kamar Tania. Ah, kebetulan sekali, kamar pintu kamar Tania tengah terbuka.  “Dik, kamu sudah bimbingan lagi nggak sama Kevin minggu ini?” “Harusnya sih ada jadwalnya Kak, Cuma nggak tahu kok jadi nggak jelas.” “Nggak jelas kenapa?” “Pak Kevin nggak bisa dihubungi, chat dan telpon, nggak dibalas-balas!” “Oh, gitu,” respon Rendra pendek. Rendra berpikir, berarti sama. Ada apa ya? “Emang kenapa gitu Kak?” “Jadi kakak ada perlu sama dia untuk urusan dakwah kampus. Biasanya kalau untuk urusan dakwah dia selalu fast respond, tapi kali ini beda. Kenapa dia ya?” “Mungkin dia sedang ada urusan mendadak, dan tidak sempat mengabari kali Kak.” Tiba-tiba ponsel Tania berdering.  Saat dicek, ternyata panggilan dari Kevin. “Barusan diomongin, Kak. Ini dia calling!” Setelah mengucapkan salam, suara di seberang membalas salam itu. “Oh iya nggak apa-apa, Pak. Kapan kira-kira?” tanya Tania. Rendra penasaran, apa yang lagi dibicarakan Kevin dan Tania. Apa mungkin jadwal bimbingan? pikir Rendra.  “Baik, Pak.” Kevin memberikan kode, agar jangan dulu ditutup. Dan Tania langsung paham. “Pak, ini Kak Rendra ada perlu...” Tania pun segera memberikan ponselnya kepada Rendra. “Vin, gimana kabarnya?” “Alhamdulillah baik! Maaf chat dan panggilan nggak terangkat. Beberapa hari kemarin aku sakit.” “Syafakallah akhi, semoga Allah lekas memberikan kesembuhan, Bro,” ucap Rendra. “Sakit apa, Vin?” “Sakit biasa, cuma kecapaian aja,” balas Kevin dari seberang.  “Vin, begini, kalau kamu sudah baikan. Sudah kuat dan bisa beraktivitas lagi, bisakah kita ketemu. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan.” “Siap. Hari ini sudah sehat lagi kok. Aku udah ke kampus lagi.” “Alhamdulillah kalau gitu. Oke, hari ini kita ketemu di masjid kampus aja ya. Habis Shalat Zuhur ya.” “Insya Allah.” Percakapan pun ditutup.  “Makasih, Dik,” ucap Rendra sambil menyerahkan ponsel adiknya. “Oh iya, kamu tadi janjian bimbingan kapan?” “Hari ini, rencananya aku nyerahin hasil revisi dan draft akhir skripsi.” “Semoga lancar ya. Wah bentar lagi kamu sidang dong.” “Iya, Kak. Mudah-mudahan lancar. Kakak sidang tesis kapan?” “Rencananya sih bulan depan. Mudah-mudahan kita bisa bareng wisuda ya...” jawab Rendra semangat. “Aamiin!” *** Masjid Ad-Daulah, Masjid Kampus Di luar sana siang ini amat terik. Usai Shalat Zuhur, jamaah yang hampir memenuhi setengah ruangan utama masjid mulai berkurang. Sebagian terlihat ke kantin kampus. Kantin tampak mulai penuh. Ada juga yang balik ke kelas.  Sementara sebagian lagi, memilih duduk-duduk di teras masjid untuk melakukan kajian membentuk lingkaran kecil atau diskusi tentang materi perkuliahan.  Di antara kerumunan jamaah, Kevin dan Rendra saling mencari. Keduanya mengedarkan pandangan ke beberapa arah. Tak lama kemudian, akhirnya keduanya berhasil ketemu. Kevin dan Rendra bersalaman dan cipika-cipiki. “Wah lama sekali rasanya nggak ketemu hehe,” ucap Rendra. “Iya, ya. Padahal nggak ketemu cuma kurang dari seminggu.” Semenjak aktif di organisasi yang sama, keduanya memang sangat akrab. Bahkan sudah seperti saudara sendiri.  “Kamu sudah makan siang?” Kevin menggeleng. “Ada jadwal ngajar lagi siang ini?” “Ada sampai sore. Lumayan padet hehe.” Rendra pun mengerti dengan kesibukan Kevin. Akhirnya dia menawarkan ide. “Biar nggak terlalu menyita waktu. Gimana kalau kita ngobrolnya sambil makan siang aja?” Kevin mengacungkan jempolnya, “Ide bagus, ayo kalo gitu buruan.” Keduanya pun melangkah ke kantin. Ketika tiba di sana, mereka pesan dengan menu yang sama. Soto ayam dan nasi setengah porsi. Benar-benar kompak! Keduanya memang cocok, dan banyak memiliki persamaan. Saat pesanan sudah terhidang, Kevin dan Rendra mulai menyuapkan nasi dengan menu soto ayam. Menu minuman makan siang mereka juga sama, air mineral botol.  “Vin, aku mau berbagi tugas dakwah padamu.” “Siap, apa amanah dakwah yang harus kutunaikan?” “Setelah aku data para mahasiswa baru yang mulai gabung ikut kajian, ternyata yang baru-baru hampir semua dipegang sama kamu kan ya...”  Rendra menghirup napas sejenak.  “Nah. Biar aktivitas kajian berjalan dengan efektif. Erlangga karena dia masih baru dan perlu gabung dengan kelompok yang kamu pegang. Aku putuskan hal itu biar dia ada teman dan lebih semangat ngajinya.” Kevin bengong sesaat. Whaat? Harus megang dia lagi? Apa aku nggak salah dengar? Sebelumnya aja aku udah sampaikan ke dia kan menganggapku ngarang? Kevin berusaha tetap, tenang. Dia menahan degup jantungnya yang berpacu cepat. Ada rasa sakit. Dia pegang pelan-pelan dadanya, dengan hati-hati, biar Rendra tidak bertanya. Namun tetap saja, Rendra mengetahuinya. “Vin, kamu masih sakit ya?” tanya Rendra sambil memegang bahu Kevin. Kevin menggeleng. “Tenang aja, cuma sakit dikit...” ucap Kevin lirih. “Ren, aku nggak yakin Erlangga mau gabung. Kamu tahu sendiri kan, dia orangnya gimana. Dulu aku sempat ketemu waktu kamu pertama ngisi kajian dia. Waktu itu kamu sudah pulang. Aku sudah bilang padanya, bahwa aku diminta sama kamu untuk mengisi kajiannya, eh respon dia malah tertawa. Dia nggak percaya.” “Iya, aku paham. Vin. Aku kan sudah coba mengisi kajian pertama dia. Aku sudah memberikan pengertian padanya. Nasihatin dia soal kuliahnya juga. Kelihatannya sih dia dengar. Aku melihat dia potensial untuk berubah. Sama halnya seperti kita dulu bukan? Sebelum kita ikut kajian bukankah kita juga sama seperti Erlangga, tidak tahu Islam dengan baik?” Hati Kevin sedikit melunak. Benar juga, manusia itu sejahat apapun, seliar apapun masih punya kesempatan untuk menjadi lebih baik, pikir Kevin. Dirinya bisa seperti saat ini pun tentu dengan proses. Dirinya saat ini pun masih belum baik dan terus berproses agar makin baik. “Baiklah, aku bersedia,” kata Kevin, “Pada dasarnya dakwah itu kan nggak boleh pilih-pilih. Peluang apa pun yang bisa dilakukan, ditunaikan dengan optimal.” “Good, inilah yang aku suka dari kamu. Tidak semua orang berprinsip kayak kamu. Insya Allah keputusanmu ini akan mendapatkan pahala besar di sisi Allah ya.” Kevin tersenyum, “Aamin.”  Dosen muda itu tetap tersenyum sekalipun hatinya perih, dadanya sakit dan remuk. Kalau mau terus mengikuti perasaannya, sedari dulu dia tidak akan pernah mau lagi berinteraksi dengan Erlangga. Hati kecilnya, dia iri pada Erlangga. Lelaki itu selalu unggul. Unggul karena bisa memenangkan hati Tania. Sementara dirinya kalah, dan punya tempat sedikit pun di hati Tania.  Dan kini dia dihadapkan pada kondisi yang mau tidak mau harus ketemu lagi dengan Erlangga. Dia harus hadapi itu, karena inilah konsekuensi jalan dakwah yang telah dia pilih. Dia harus bisa menaklukkan perasaannya demi kesuksesan amanah dakwah yang baru saja dia emban dari Rendra. Di benak Kevin, terbersit kilasan masa lalu, saat dirinya bersama Erlangga yang saling bersaing untuk mendapatkan Tania. Dulu mereka bertiga pernah dalam kondisi yang tidak mengenakkan. Erlangga membawa coklat. Kevin membawa bunga. Pada saat yang sama keduanya menyerahkan apa yang mereka bawa kepada Tania. Tania lebih memandang Erlangga dengan tatapan penuh cinta, dan mengambil coklatnya. Sementara Tania, sama sekali tak memandang Kevin. Tania mengabaikannya. “Kamu kok nggak dihabisin sotonya, Vin. Kok malah ngelamun sih?” ucapan Rendra membuyarkan lamunan Kevin. Kevin gelagapan. “Eh, iya aku habiskan. Dikit lagi.” Kevin buru-buru menyuap. “Ya, sudah aku tunggu. Punyaku sudah habis. Hari ini aku yang traktir.” “Makasih, Ren,” ucapan Kevin di sela-sela suapan terakhirnya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN