“Papa, mau istirahat duluan ya,” kata Pak Kusuma meminta izin kepada Rendra dan Tania.
“Hmmm mata papa udah merah, iya, ayo lekas istirahat,” ujar Tania sambil menatap wajahnya dengan penuh rasa sayang.
“Ren, Papa minta tolong, jangan lupa sebelum tidur, pastikan dulu pintu dan jendela sudah terkunci ya.”
“Siap, Pa. Jangan kuatir. Itu sudah jadi tugasku.”
“Sip, Papa cuma ngingetin aja, takut kamu lupa.”
Malam memang sudah agak larut. Namun Tania masih berkutat di depan laptop. Dia masih disibukkan dengan revisi skripsinya.
Pak Kusuma sudah berlalu. Dia sudah masuk kamar.
Di ruangan keluarga itu tinggal Rendra dan Tania.
“Dik, btw gimana ngajimu, lancar?” Rendra menatap adiknya yang masih fokus ke monitor laptop.
Sejenak, Tania menghentikan jemarinya yang menari di atas keyboard. Dia menatap ke arah kakaknya sambil tersenyum manis.
“Alhamdulillah Kak. Aku sekarang ngaji sama Kak Atifa. Lebih rame, banyak teman-teman, nggak kayak dulu, sepi. Sendirian aja.”
“Oh gitu, syukurlah.”
Rendra berpikir, mengira-ngira sosok Atifa yang dimaksud oleh adiknya.
“Atifa... Atifa ketua baru divisi Muslimah?” tanya Rendra.
“Seratus persen bener, Kak Rendraku yang ganteng,” jawab Tania sambil mengarahkan dua jempolnya kepada sang kakak. Kemudian Tania kembali menatap laptopnya.
“Menurutmu, dia baguskah cara menyampaikan materinya?” tanya Rendra lagi.
Iiih, kakak dech aku jadi nggak fokus, nanya mulu ah, Tania menggerutu. “Ah Kakak Rendra mulai kepo lagi dech. Tapi, kakak ini kepoin aku apa kepoin Kak Atifa ya. Ah jangan-jangan... ”
Tania menggoda kakaknya. “Ya kepoin adikku lah, apa hubungannya aku sama Atifa?”
Rendra mencoba bersikap cool. “Dik, maksudku, Kakak perlu pastiin kamu bener ngajinya...”
“Aah, kakak ngeles dech. Nggak apa-apa kok Kak. Menurutku, Kakak sama Kak Atifa cocok kok...”
“Lho ... lho, kak kamu jadi kayak biro jodoh sih, Dik.” Rendra berusaha menahan senyumnya.
“Oh iya, aku jadi keingetan sama Kevin dan Erlangga....”
“Kakak jangan ngalihin topik dech, Kak,” Tania buru-buru menyela. Hatinya menjadi tak biasa ketika kedua nama itu disebut oleh Kakaknya.
“Dik, kamu masih bimbingan dengan Kevin?”
“On going. Mungkin minggu ini revisi terakhir. Minggu depan aku sidang.”
“Oke semoga lancar, Dik.”
“Aammin, Kak. Makanya Kakak jangan ngajak becanda mulu. Aku sekarang lagi revisi. Kalau kakak becanda mulu, kerjaanku nggak kelar-kelar,” Tania berkata dengan nada tinggi, pura-pura galak di depan kakaknya.
Rendra malah nyengir. “Kan kamu multitasking, Dik. Heheh. Sambil ngobrol juga, kerjaanmu revisi skripsi pasti kelar. Sambil merem juga, bangun-bangun udah kelar.”
“Hah, dasar Kak Rendra,” ucap Tania sambil memukul bahu kakaknya yang bidang.
“Dik, si Angga dia udah ngaji lho...”
“Siapa yang nanya? Aku nggak nanya Kak,” Tania tiba-tiba jadi ketus. Salah satu tabiat lamanya muncul.
“Lha, kok kamu jadi sewot, bukannya seneng ya...”
“Apa untungnya buat aku, Kak?” Tania menarik napas. “Dia ngaji nggak ngaji juga kan amalan dia. Kalau dia ngaji, terus ikhlas, dia dapat pahala. Kalau dia nggak ngaji juga, dosa dia yang nanggung. Nggak ada urusannya sama aku.”
Dalam kondisi seperti itu, Rendra paham. Dia nggak bisa meneruskan percakapan dengan Adiknya. Kalau emosi sang adik kurang bagus dia lebih memilih diam.
Rendra hanya bertanya-tanya, apakah sikap dan perasaan adiknya sudah berubah pada Angga? Kamu beneran sudah move on, Dik. Sudah benar-benar melupakan Angga?
“Ya udah deh. Daripada aku nggangguin kamu terus, kakak mau istirahat dulu. Kamu kelarin revisiannya tanpa nggangguan Kakak ya. Assalamualaikum...” ucap Rendra sembari mengusap kepala adiknya yang tak mengenakan kerudung. Memang begitulah, kalau di dalam rumah seorang muslimah dibolehkan melepaskan kerudung dan gamisnya selama di rumah itu tidak ada nonmahram atau lelaki asing.
Tania tidak terlalu merespon ucapan Kakaknya. “Waalaikumussalam,” jawab Tania singkat dengan nada sangat datar.
Rendra pun berlalu. Sebelum masuk kamar, seperti biasa dia berkeliling dulu, memastikan, pintu depan rumah, pagar, pintu belakang, dan jendela-jendela sudah terkunci.
Setelah beraktivitas seharian, saatnya Rendra rebahan. Dia merebahkan tubuhnya yang terasa pegal-pegal dan lelah di tempat tidur.
Namun suara notifikasi chat w******p (WA) terdengar. Dia lupa mematikan mobile data. Biasanya kalau sudah malam begini dia akan mematikannya agar istirahatnya tidak terganggu.
Rendra segera mengambil smartphonenya yang tergeletak di nakas.
Pesan di WA rupanya dari Atifa.
Assalamualaikum
Saya mau mengabarkan terkait info acara. Afwan, sebelumnya saya mengirimkan pesan agak malam. Kurang lebih 3 hari lagi, Divisi Dakwah Muslimah akang mengadakan acara talkshow dan seminar islami.
Untuk kelancaran acara tersebut, kami mau meminta bantuan dari ikhwan untuk keperluan logistik. Mungkin dua atau tiga orang untuk membantu kami setting tempat dan mempersiapkan kursi-kursi di auditorium universitas.
Syukran, ditunggu kabar baiknya.
Usai membaca pesan itu, Rendra mulai berpikir, menerka-nerka siapa kira-kira yang tepat bisa membantu. Agak lama dia berpikir, hingga sampai lupa membalas chat yang baru saja dia baca.
Dalam suasana yang lelah seperti itu, Rendra, belum dapat membayangkan, siapa orang yang bisa ditugaskan. Namun dia berniat untuk membalas pesan dari Atifa terlebih dahulu.
Dia mulai menimbang-nimbang kalimat yang tepat.
Waaalaikumussalam Warahmatullah.
Baik, saya akan koordinasikan dengan teman-teman ikhwan. Segera saya kabari updateannya.
Rencananya, Rendra akan menghubungi teman-temannya besok hari.
Syukran katsir.
Rendra kembali menyimpan gadgetnya ke nakas. Dia kembali rebahan. Sebelum tidur dia membaca doa terlebih dahulu, membaca beberapa surat seperti Surah An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlas, dan ayat kursi.
Rendra mengingat-ngingat, apakah dirinya masih suci? Seingat dia sejak Isya tadi dia belum BAB, BAK, atau kentut. Jadi, berarti dia masih suci. Sudah menjadi kebiasaan dia, sebelum tidur dia selalu memastikan dirinya dalam keadaan suci. Memang seperti itulah yang dianjurkan oleh syariat Islam.
Di antara sadar dan tak sadar, terlintas dalam pikirannya sikap Tania barusan. Ada apa? Kenapa Tania menjadi ketus ketika nama Angga disebut?
Padahal, Rendra ingin mempersiapkan segalanya yang terbaik untuk Tania. Jika Erlangga benar-benar berubah, ngajinya konsisten, dan bisa menuntaskan kuliahnya, sungguh Rendra benar-benar bahagia jika adiknya hidup berumah tangga dengan lelaki itu.
Namun, kenapa Tania tiba-tiba seolah benci kepada Erlangga, di saat Erlangga sudah mulai menjadi pribadi yang baik?
Entah mengapa Rendra jadi memikirkan Tania terus. Menit-menit berlalu, dia belum juga bisa tidur dengan lelap, sekalipun rasa kantuk sesekali menyergap.
Tiba-tiba dia terbersit ide untuk masa depan adiknya. Seandainya Tania tak mau pada Erlangga, kemungkinan terbesar, dirinya akan menyiapkan skenario baru.
Skenario apakah itu?
Ya, Kevin.
Selama ini, Rendra sudah sangat dekat dengan Kevin, bahkan sudah seperti saudara sendiri. Dia juga sudah memahami karakter Kevin. Dengan segala kelebihannya, Kevin memang benar-benar layak menjadi Kekasih Impian Tania.
Dik, maukah kamu menerima Kevin menjadi pendamping hidupmu? Aku pasti akan melakukan apapun yang terbaik demi kebahagiaanmu.
Bersambung...