Bab 2. Gejolak Hati Vanilla

1095 Kata
Suara bell terdengar berkali-kali di apartemen Vanilla. Gadis itu baru saja selesai mengenakan mantel panjangnya, wajah terlihat pucat karena kurang tidur. Mata sembab karena terlalu banyak menangis, tapi pandangannya tetap terlihat tegas. Dengan langkah pelan, Vanilla membuka pintu. Di ambang pintu, berdiri Harrison White. Penampilannya terlihat tampan, modis dan rapi seperti biasa. Pria itu memakai setelan jas mantel berwarna biru tua yang membalut tubuh sempurnanya yang tinggi dan kekar, lengkap dengan syal wol dan jam tangan mahal di pergelangan tangan kirinya. Harisson mengamati Vanilla dari ujung kepala hingga kaki. “Siap?” tanyanya singkat. Vanilla hanya mengangguk tanpa suara. Harrison tidak menawarkan senyum atau ucapan basa-basi. Dia berbalik dan berjalan menuju mobil sport hitamnya yang terparkir lobby apartemen Vanilla. Sopir sudah menunggu dengan mesin menyala. Sepanjang perjalanan menuju bandara, keduanya nyaris tak berbicara. Vanilla hanya memandangi jendela, sedangkan Harrison sibuk dengan ponsel karena mengecek email. Sesekali, mata biru Harrison melirik gadis di sebelahnya. Dia tak bisa memungkiri pesona Vanilla. Gadis itu terlihat tenang, bahkan di tengah badai yang sedang menghancurkan harga dirinya. Yang membuat Harisson semakin kagum pada Vanilla karena setelah kesepakatan memalukan kemarin, gadis itu tidak tampak menyedihkan seperti orang yang terlihat kalah. Tidak ada tatapan pasrah di mata cokelat indah milik Vanilla. Yang ada justru keteguhan yang terasa menantang. Seolah gadis itu sedang menelan bara, tapi menolak untuk berteriak meminta pertolongan. Dan bagi Harrison, Vanilla lebih memikat dari pada para wanita yang pernah dia bayar sebelumnya. Begitu sampai di bandara pribadi milik perusahaan keluarga White, petugas langsung membuka pintu mobil mereka. Harrison keluar lebih dulu, lalu menoleh ke arah Vanilla. “Kita akan ke Tokyo. Aku ada konferensi dengan investor di sana.” "Jika ini perjalanan bisnis di mana Sekretaris Jonathan?" tanya Vanilla pelan. "Kenapa dia tidak ikut terbang bersama kita?" "Jonathan memang tidak kusuruh mengikutiku," balas Harrison santai dengan senyum tipis di wajah tampannya. "Jadi, apa kali ini saya berperan sebagai sekretaris Anda menggantikan tugas Mister Jonathan?" tanya Vanilla memastikan. "Yah, bisa dibilang begitu," jawab Harrison enteng, lalu melangkah lebih dulu tanpa menoleh. "Selama 7 hari, kamu akan menjadi sekretarisku ... sekretaris double job." Langkah Vanilla refleks berhenti, matanya menatap punggung Harisson dengan campuran ras muak, bingung, dan penasaran. Dia menarik napas panjang lalu kembali melangkah mengikuti Harrison menaiki jet pribadi yang sudah siap melayang di udara. Begitu pesawat lepas landas, barulah Harrison membuka suara lagi. "Semoga kamu menikmati 7 hari bersamaku, Vanilla." "Saya akan berusaha menikmatinya, Sir." Vanilla memaksakan diri untuk tersenyum. "Senang bekerjasama dengan Anda." Interior jet pribadi itu terlihat mewah dengan kursi kulit putih yang empuk, minibar elegan, meja kerja dengan perangkat digital canggih, dan lampu-lampu yang memberi kesan eksklusif. Vanilla sangat kagum dan nyaris lupa kalau dia sedang menjual harga dirinya demi dolar. Gadis itu duduk di kursi seberang Harrison, menatap jendela kecil sambil menggenggam tangannya sendiri. Lalu, seorang pramugari berseragam hitam elegan datang menghampiri mereka dan membungkuk sopan. "Selamat pagi, Tuan Harrison White, apakah Anda ingin sarapan?” “Ya. Kopi hitam dan croissant,” jawab Harrison singkat, tanpa menoleh. “Bagaimana dengan Anda, Nyonya?" ucapnya ramah menatap ke arah Vanilla. "Jangan panggil saya, Nyonya! Tolong panggil nama saya saja! Namaku Vanilla, dan saya tidak lapar, jadi kamu tidak perlu menyiapkan sarapan untuk saya. Terimakasih." Harrison tersenyum tipis, tapi matanya tajam. “Kamu harus sarapan, Vanilla!" "Jangan mengatur saya, Sir Harrison." Vanilla mencengkeram sandaran kursi. "Sudah saya bilang kalau saya tidak lapar." "Aku berhak mengaturmu, Vanilla." Harrison menyilangkan kaki. “Jangan lupa jika kita berdua sudah terikat kontrak meski tidak tertulis. Kamu sendiri yang meneleponku, kan? Kamu sendiri juga yang menetapkan harga. Jadi aku harap kamu menuruti semua perkataanku mulai detik ini!" Vanilla menelan salivanya. “Saya melakukan itu semua karena keadaan yang memaksa saya, Sir. Dan ini hanya soal sarapan. Perut saya benar-benar tidak lapar dan saya memang tidak terbiasa sarapan.” Harrison mendengus kesal, mata birunya menatap pada Vanilla. “Dan aku tidak peduli! Semua orang yang bekerja denganku harus tunduk padaku, Vanilla. Apalagi kamu sudah aku beli, jadi jangan pernah lagi melawanku!" Vanilla menggigit bibir bawahnya. Mata mulai memerah, tapi air matanya tidak tumpah. Dia hanya menatap lurus ke arah Harrison, tak lagi bicara dan tak lagi membantah. Keheningan di antara mereka terasa menusuk, begitu dingin, meskipun suhu kabin terasa hangat. Pramugari yang masih berdiri di samping mereka tampak salah tingkah, menunduk dengan gugup sebelum akhirnya pamit dan mundur perlahan. “Silakan hubungi saya kalau ada yang dibutuhkan, Vanilla,” ucapnya pelan sebelum pergi. Harrison masih menatap Vanilla, tapi kali ini tanpa kata-kata. Ada sesuatu dalam sorot mata gadis itu yang terasa menusuk. Tatapan Vanilla tidak kosong, tidak pula terlihat takut. Seolah gadis itu sudah mati rasa, dan bagi Harrison, untuk pertama kalinya dia merasakan rasa ina sekaligus rasa bersalah. Pria itu bersandar di kursi dan menutup matanya. “Sial!” gumamnya pelan, jadi Vanilla tidak bisa mendengarnya. Sementara Vanilla kembali melihat pemandangan di jendela, sembari membatin dalam hati untuk menyemangati diri sendiri, "Tujuh hari, hanya tujuh hari, Vanilla. Setelah itu semuanya selesai. Kamu akan kembali lagi ke New York. Dan kamu bisa melupakan semuanya. Anggap saja tidak terjadi apa-apa di antara kamu dan Harrison!" Kemudian dia membuka tas kecil di pangkuannya dan mengeluarkan ponsel. Saat layarnya menyala, di pojok kanan atas, tidak ada bar sinyal seluler seperti biasa. Tapi, yang membuatnya heran karena ada ikon Wi-Fi yang menyala kuat. “Eh, kok bisa ada Wi-Fi di sini?” gumam Vanilla pelan dengan kening berkerut. “Tentu saja ada." Harrison mendongak, menatapnya datar. Apa kamu kira aku ini orang kelas ekonomi?” Vanilla memilih tidak membalas ucapan Harrison. Dia buru-buru membuka aplikasi pesan dan melihat notifikasi yang belum sempat dibaca. Ada voice note dari Vandella – sang adik. Hal itu jelas membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menarik napas panjang sebelum menyambungkan earphone-nya dan menekan tombol play. "Kak, Ibu masuk ICU. Dokter bilang kalau penyakit Ibu ternyata bukan asam lambung, tapi Ibu terkena gagal ginjal. Aku harus bagaimana, Kak? Aku bingung ... Aku udah berusaha hubungin Ayah, tapi dia nggak bisa dihubungi, Kak. Terus, bagaimana cara kita membayar tagihan rumah sakit Ibu, Kak? Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Suara adiknya terdengar bergetar, diselingi suara isak tangis. Vanilla menutup mata rapat-rapat, tangannya menggenggam ponsel kuat-kuat, nyaris gemetar. Gadis itu tahu, dia harus bernegosiasi dengan Harrison lagi sekarang, dan dia juga tahu jika pria di hadapannya pasti akan semakin mempersulit hidupnya dengan pertukaran yang lebih gila. “Masalah keluarga?” tanya Harrison setelah mengamati expresi Vanilla beberapa detik. "Ya, Sir ...." Suara Vanilla nyaris berbisik, dia menelan salivanya sebelum melanjutkan, "Saya ingin Anda menaikkan bayaran saya, bukan dua kali lipat, tapi ... 10 kali lipat."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN