Bab 3. Menjadi Milik Harrison

1336 Kata
"Selamat datang di Tokyo, Tuan dan Nyonya," sambut petugas bandara dengan membungkuk sopan saat pintu jet pribadi terbuka. Udara dingin menyergap wajah Vanilla saat dia melangkah turun dari pesawat. Lampu-lampu malam tampak indah mewarnai langit kota. Tokyo terlihat megah dari kejauhan, tapi semua terasa begitu asing dan menyeramkan baginya. Vanilla masih bisa merasakan denyut jantung yang tak beraturan. Perjalanan panjang di udara tadi diisi ketegangan saat bernegosiasi ulang yang membuat hidupnya berakhir dramatis. “Sepuluh kali lipat," ucap Vanilla saat itu dengan suara parau. Harrison menatapnya tajam dalam waktu yang cukup lama, lalu menyesap wine-nya sebelum menjawab dengan tenang. “Oke, aku akan memberimu sepuluh kali lipat. Tapi, kamu milikku selama ... satu tahun penuh.” Vanilla hanya bisa terdiam, dia tahu betul jika dirinya baru saja menyerahkan hidupnya ke tangan seorang iblis yang mengenakan setelan jas mahal. Satu tahun, dua kata itu terdengar mengerikan, bagai mendapat vonis hukuman menginap di penjara. Tapi Vanilla tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Dan kini, Vanilla dan Harrison melangkah bersama keluar dari area VIP bandara. Mobil mewah sudah menunggu, sopir membukakan pintu untuk mereka. Vanilla masuk lebih dulu, lalu Harrison menyusul, duduk di sampingnya. Mobil melaju mulus melewati jalanan Tokyo yang ramai. Cahaya warna warni dari papan reklame memantul di kaca jendela. Mulut Vanilla diam sambil memandang ke luar jendela, tetapi pikirannya sangat berisik. “Malam ini,” ujar Harrison tiba-tiba, memecah keheningan. “Kita akan tinggal di salah satu penthouse. Jangan berpikir kamu akan punya kamar terpisah dariku, Vanilla. Ingat, esepakatan kita jika kau harus memuas—" "Saya ingat, Sir," timpal Vanilla cepat karena malu dengan supir yang sedang fokus di kursi pengemudi. "Terimakasih karena Anda sudah mau membayar mahal harga diri saya sehingga saya tidak punya ruang atau pun waktu untuk bisa bernapas bebas lagi.” “Good girl.” Harrison menyeringai, lalu meraih ponselnya. "Aku suka kamu yang seperti ini ... pasrah dan tidak melawanku." Vanilla mengepalkan tangannya di pangkuan, dan di dalam hati, dia bersumpah, "Satu tahun ... setelah semua berakhir, aku akan pergi jauh dari hadapan Harrison!" Begitu sampai di penthouse, Vanilla berdiri terpaku di tengah ruangan yang terasa bagaikan surga untuk orang biasa seperti dirinya. Lantai marmer putih berkilau, lampu gantung kristal, dan dinding kaca besar yang menyuguhkan pemandangan malam kota Tokyo dari ketinggian. Semuanya sempurna, tapi d**a Vanilla tetap terasa sesak dan sakit. “Waktumu cuma satu jam,” ucap Harrison tanpa menoleh, meletakkan koper kecilnya di sofa lalu berjalan santai menuju minibar. “Pilih salah satu gaun di lemari. Jangan yang terlalu vulgar, tapi tetap menarik. Kita harus tampil pantas malam ini.” Vanilla hanya mengangguk, saat dia baru saja mulai melangkah ke arah kamar .... “Oh ya,” sambung Harrison sebelum meneguk minumannya, “Aku tidak suka menunggu. Jadi jangan bergerak lambat seperti kura-kura!" "Saya paham, Sir." Vanilla Ialu melangkah cepat masuk ke kamar. Saat lemari besar terbuka, terlihat deretan gaun malam yang memajang. Semua gaun itu terlihat indah, seperti yang biasa dikenakan para sosialita dan artis papan atas. Tangan Vanilla meraba kain satin, tulle, dan renda yang menggantung rapi, dia yakin jika dibandingkan dengan harga dirinya, baju-baju itu pasti lebih mahal, dia tersenyum kecut. Vanilla menghela napas panjang. “Ini bukan dunia milikku. Tapi selama satu tahun, aku harus bergelut dengan dunia memuakkan ini.” Dia memilih gaun hitam dengan potongan simpel, tapi terlihat anggun, dengan leher V yang tidak terlalu dalam dan belahan samping hingga paha. Tak terlalu vulgar, tapi cukup menonjolkan sisi elegannya. Dia berdiri lama di depan cermin, mencoba menyatukan napas, menahan tangis yang akan pecah. Tapi saat dia keluar dari kamar, dia tahu jika semua emosi yang dia rasakan harus terkubur dalam. "Well, aku senang seleramu cukup oke," puji Harrison setelah mengamati penampilan Vanilla dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Thanks, Sir." Vanilla memaksakan diri untuk tersenyum. "Syukurlah jika Anda menyukai baju yang saya pilih ini." "Ayo kita pergi sekarang!" perintah Harisson lalu berbalik dan berjalan ke arah pintu. Vanilla berdiri setengah langkah di belakang Harrison, seperti bayangan yang sengaja tidak diberi cahaya. Gaun hitam yang membalut tubuhnya tidak mampu menghapus kenyataan bahwa dia hanya seorang sekretaris dengan tugas tambahan yang memalukan. Harrison berbicara dengan para tamu penting, sesekali menyebut nama perusahaan, nilai investasi, dan peluang ekspansi. Vanilla hanya diam. Mengangguk jika perlu dan tersenyum sopan saat dipandang. Tiba-tiba suasana ballroom yang ramai, jadi senyap. Seperti ada gravitasi yang berubah arah saat seorang wanita masuk. Wanita itu tinggi, cantik, elegan. Gaun hitamnya menjuntai sempurna mengikuti gerakan tubuh yang indah dan tampak percaya diri. Rambut panjang pirang disisir ke samping, bibir merah darah membentuk senyum lembut yang tidak bisa disebut ramah. Di belakangnya, dua pria berpakaian formal mengikuti seperti pengawal pribadi. Wanita itu melangkah ke Harrison dan Vanilla, lalu menyapa, “Still making grand entrances, Harrison?” Suaranya terdengar halus, lembut, sekaligus tegas. “Nice to see you,” jawab Harrison singkat, menyambutnya dengan anggukan kecil. Vanilla menatap wanita itu, matanya berkedip pelan, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang terasa familiar. Kemudian, senyuman wanita itu kini tertuju pada Vanilla. “Dia siapa, Harrison?” tanyanya, mengamati Vanilla dari kepala sampai kaki. “Sekretarisku, dia menggantikan Jonathan." Harrison melirik ke arah Vanilla. "Tolong berikan penghormatan pada Michelle Brown dan perkenalkan dirimu padanya!" Vanilla langsung menunduk sopan dan tersenyum manis. “Selamat malam, senang bertemu dengan Anda, Nyonya. Nama saya Vanilla." "Ah, Vanilla." Michelle juga tersenyum. “Namamu sangat unik dan manis.” "Nama Anda juga sangat cantik dan unik, Nyonya. Terimakasih atas pujiannya," balas Vanilla kembali menunduk sopan. Setelah obrolan basa-basi dengan Harrison, akhirnya Michelle melangkah menjauh untuk menyapa para tamu lain, menyisakan aroma parfumnya yang elegan dan tatapan-tatapan dari beberapa orang yang kini masih tampak memperhatikan ke arah Harrison dan Vanilla. Senyum palsu di wajah Vanilla perlahan menghilang saat pikirannya mulai berkata, "Eh, Michelle Brown? Aku baru ingat, dia ... dia bukannya calon tunangan Harrison ya? CEO Brown Grup yang terkenal dengan pesona kecantikan dan kecerdasannya?" Vanilla menelan ludah pahit. Tangannya diam-diam mengepal di balik clutch kecil yang dia genggam lalu pikirannya kembali berkata, "Kenapa Harrison tidak menyuruh Michelle saja untuk menjadi teman tidur selama perjalanan bisnis? Kenapa dia malah membawaku?" "Ayo kita kembali ke mansion!" perintah Harrison, suaranya tegas dan dingin. Vanilla hanya menunduk dan mengikuti langkah pria itu seperti bayangan tanpa nyawa. Selama perjalanan, tak ada satu kata pun yang terucap. Dunia luar bersinar terang oleh lampu kota Tokyo, tapi dunia di dalam hati Vanilla terasa seperti jurang hitam yang semakin lebar dan dingin. Begitu pintu besar mansion tertutup, suara kunci terdengar nyaring seolah menandai terkuncinya kebebasan Vanilla untuk selamanya. Tanpa peringatan, Harrison menarik pergelangan tangannya, menyeretnya menuju lantai atas. Vanilla tidak bicara. Tidak bertanya. Tidak meronta. Dia hanya berjalan, seperti tubuh tanpa jiwa, seakan sudah tahu ke mana arah cerita ini bermuara. Langkah mereka berhenti sebentar di depan pintu kayu tinggi. Harrison membukanya dengan satu tangannya, lalu menarik Vanilla masuk, dan pintu tertutup kembali pintu di belakang mereka. Vanilla tahu, mulai detik ini, tak ada jalan pulang dan tak ada lagi tempat untuk berlindung, dia hanya bisa pasrah. Dalam diam, Harrison mendekat. Napasnya teratur, tapi sorot matanya menyala aneh. Tangannya menyentuh punggung Vanilla, lalu jemarinya perlahan menarik turun resleting gaun dari bagian belakang. Suara resleting yang bergesekan terdengar begitu nyaring di tengah heningnya malam. Dingin kulitnya merayap sampai ke dasar hati, membuat tubuh Vanilla seolah membeku. Vanilla memejamkan mata, dalam pikirannya hanya ada satu kalimat. “Inilah harga yang harus kubayar ... demi Ibu ... demi Vandella." Ketika gaun yang ada di tubuh Vanilla meluruh, bukan hanya kain yang jatuh ke lantai, tapi juga kebebasan, harga diri, dan mimpi-mimpi gadis itu. Tangisnya tak bersuara. Hanya matanya yang basah oleh luka yang tidak akan sembuh selamanya. Dan, saat malam menyelimuti tubuhnya, Vanilla tahu jika tubuhnya kini bukan lagi miliknya sepenuhnya. Dia telah menjadi milik seorang pria arogan yang sangat dia benci. Namun, di balik keheningan dan luka yang tak terucapkan itu, Vanilla bersumpah dalam hati. “Aku tidak akan pernah hancur ... tidak malam ini ... tidak karena Harrison White. Aku kuat, aku harus bertahan ... demi Ibu dan Vandella.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN