Bab 4. Menjual Tubuh Bukan Hati

1067 Kata
Saat cahaya matahari menembus celah tirai, Vanilla membuka mata perlahan, tubuhnya terasa berat seperti batu yang tenggelam di dasar samudra. Setiap helaan napas terasa seperti mengiris d**a. Dia menyadari jika dirinya sedang terbaring di atas ranjang mewah, di tempat yang exclusif, tapi, tak ada satu pun kemewahan itu bisa menyembuhkan luka di hati dan tubuhnya. Perlahan, dengan tubuh yang gemetar, Vanilla merangkak turun dari ranjang. Kaki dan tangannya nyaris tak mampu menopang berat badannya, tapi dia tetap berjuang menyeret dirinya menuju kamar mandi yang terletak tak jauh dari sisi tempat tidur. Begitu pintu kamar tertutup, dia mengunci diri di dalamnya. Cermin di hadapan perempuan yang baru saja kehilangan status kegadisannya itu memantulkan bayangan perempuan malang. Rambut kusut, lehernya dan d**a penuh noda merah, serta sorot mata yang hampa. Tanpa berkata apa-apa, Vanilla membuka shower. Air dingin mengucur deras, menghantam kulitnya yang sudah penuh luka tak kasatmata. Vanilla menjatuhkan diri ke lantai kamar mandi, lalu mulai menggosok tubuhnya. Keras, kasar. Seolah ingin menghapus luka semalam, menghapus jejak tangan dan bibir dari pria arogan yang kini berkuasa atas dirinya. Tubuh gemetar dan tangisnya pecah. “Kotor … aku kotor … aku kini menjadi jalang,” bisik Vanilla lirih berulang-ulang, seperti mantra yang tak kunjung menyelamatkannya. Sabun di tangannya berganti busa, akan tetapi busa itu tak bisa membawa pergi rasa jijik yang menempel pada kulit dan jiwanya. Vanilla menggosok bahu, punggung, leher, bahkan lengan hingga kulitnya memerah. Diaa terus menggosok, semakin keras, seolah berharap ada lapisan yang bisa terkelupas dari tubuhnya. Tetapi rasa kotor itu tetap saja melekat, menempel sampai ke tulang. "Aku bahkan tak bisa menangis semalam," pikirnya getir. "Tapi sekarang ... kenapa aku tak bisa berhenti menangis?" Setelah lebih dari setengah jam terkunci di kamar mandi, Vanilla akhirnya keluar. Rambut sebahunya basah, mata sembab, dan wajahnya pucat pasi. Dia mengenakan salah satu dress sederhana yang ada di lemari besar, lalu melangkah pelan ke ruang makan tempat Harrison sudah duduk dengan rapi sambil menikmati kopi dan roti panggang. Aroma kopi memenuhi ruangan, tapi Vanilla sama sekali tidak lapar. Dia hanya duduk diam di kursi, menunduk dan menggenggam kedua tangannya erat-erat di pangkuan. Sementara Harrison sedang menatapnya lekat. Pria itu mengaduk kopinya perlahan, lalu menyeringai. "Kau habis menangis?" tanya pria itu, suaranya terdengar tenang tapi entah kenapa terasa sedang mengejek. Vanilla tidak menjawab, dia tetap menunduk, menahan diri agar tak menatap pria itu. “Kenapa?” Harrison menyandarkan punggung ke kursi. “Bukankah semalam kau terlihat menikmati permainanku? Kau bahkan mengerang dan mendesah kenikmatan sampai-sampai punggungku terasa perih karena kamu cakar dan pundakku terasa sakit karena kamu gigit berulang kali saat kamu mendapatkan klimaksmu.” Kata-kata itu menusuk seperti pisau, Vanilla mengepalkan tangannya. Rahangnya mengencang, tapi dia memilih tetap diam. “Kenapa kamu terus diam?” Harrison menyeringai. “Kenapa kamu tak berani menatapku? Apa kamu sudah jatuh hati padaku, Vanilla?" "Tidak!" bantah Vanilla mengangkat wajahnya. “Saya tidak akan pernah jatuh hati pada pria arogan seperti Anda, Sir." "Benarkah? Kau yakin Vanilla?" Harrison mengangkat alis, lalu tertawa. “Kalau iya bagus. Tetaplah seperti itu, Vanilla. Karena aku lebih suka ketika kita bercinta tanpa ada rasa cinta di antara kita.” Harrison meneguk kopinya sampai habis, lalu meletakkan cangkir itu di meja dengan bunyi yang cukup nyaring. Dia berdiri perlahan, lalu menatap Vanilla dari atas ke bawah. “Sudah cukup drama pagi ini. Kau punya waktu tiga puluh menit untuk mengganti bajumu. Pakai setelan formal. Kita akan bertemu dengan investor dari Jepang.” “Saya ... menemani Anda bertemu investor?” Vanilla mengerjap. "Apa Anda yakin, Sir?" “Ya,” jawab Harrison sambil berjalan ke arah jendela besar. “Kau sekretarisku, bukan? Lakukan tugasmu sebagaimana mestinya. Aku tak peduli siapa kau semalam, siang ini kau harus berdiri di sampingku sebagai seorang profesional. Aku tidak suka image-ku tercoreng hanya karena asisten pribadiku terlihat lemah dan rapuh.” Vanilla menelan ludah, menahan emosi yang membuncah di d**a. Dengan berat hati, dia bangkit dari kursinya dan berjalan ke kamar, tubuhnya masih terasa sakit, tapi dia tahu tak ada waktu untuk mengeluh. Di dalam lemari, dia memilih setelah blazer dan rok berwarna putih. Rambutnya dia ikat sederhana dan wajahnya hanya dia poles dengan bedak tipis dan lipstik nude, sekadar agar terlihat layak di hadapan publik. Begitu keluar dari kamar, Harrison sudah menunggunya di depan pintu. “Bagus. Ternyata kamu tahu caranya berkamuflase.” "Saya hanya menjalankan tugas saya, Sir." “Bagus, ayo kita pergi sekarang!" ulang Harrison. "Ingat, Vanilla, kamu jangan pernah melakukan kesalahan dan membuatku malu di hadapan rekam bisnisku.” Vanilla tidak menjawab. Dia hanya mengikuti langkah kaki pria itu ke mobil yang sudah menunggu di depan, dia menarik napas panjang, memejamkan mata, dan membatin untuk menguatkan dirinya sendiri. “Kamu pasti bisa, Vanilla. Satu tahun, itu sebentar!" Setelah perjalanan sekitar lima belas menit, mobil mereka berhenti di depan sebuah gedung pencakar langit bergaya modern. Logo perusahaan Jepang yang mewakili salah satu jaringan industri teknologi terpampang elegan di lobi kaca. Vanilla berusaha menegakkan tubuh dan menstabilkan napasnya saat dia turun dari mobil, lalu mengikuti Harrison yang berjalan di depan tanpa menoleh sedikit pun. Langkah mereka berdua disambut resepsionis dan langsung diarahkan ke lantai paling atas. Lift yang hening membuat detak jantung Vanilla berdentum keras di telinga sendiri. Tangannya gemetar memegang folder yang tadi dia bawa dari dalam mobil, sekadar pelengkap peran seorang sekretaris, meski dia tidak tahu pasti apa yang harus dilakukan nanti di hadapan sang investor. Begitu pintu lift terbuka, seorang asisten perusahaan Jepang membungkuk sopan. "Selamat pagi, CEO kami sudah menunggu kedatangan Tuan White di ruang rapat." Vanilla masuk beberapa langkah di belakang Harrison. Pandangannya menelusuri interior ruangan yang luas dan terang, dipenuhi cahaya matahari dari dinding kaca besar. Di ujung meja rapat panjang, ada seorang pria yang duduk dengan setelan jas berwarna abu tua yang rapi dan mahal. Tapi yang membuat Vanilla tertarik melihat wajah pria itu bukan karena penampilan perlente pria itu, melainkan sorot mata yang juga sedang menatapnya begitu dalam. "Sepertinya ... aku pernah melihatnya, tapi ... di mana ya?" batinnya merasa ragu. Apalagi pria itu tiba-tiba berdiri, senyuman menggembang di wajah tampannya, dan berjalan mendekati Vanilla, melewati Harrison begitu saja, lalu dia berkata dengan suara yang terdengar bergetar. "Vanilla, kamu ... Vanilla kan? Benar kan? Syukurlah ... akhirnya aku bisa menemukanmu." Vanilla terkejut, napasnya tercekat. Dia menatap pria itu tanpa berkedip, mencoba mencari kejelasan di wajah yang familiar, hingga akhirnya bibirnya refleks berkata dalam bahasa Indonesia. "Kakak ... tunggu ... kenapa Kakak bisa ada di sini?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN