Bukan aku yang mulai melukai, tapi anda yang coba mengkhianati. - Radit
•••
Suasana sore itu masih terasa dingin. Dengan Radit di sana, dan Fara di hadapannya. Sejak tadi Fara berusaha meluluhkan hati Radit. Berusaha berbicara selembut mungkin agar anaknya itu mengerti. Tapi sepertinya sejak awal Radit memang sudah menyiapkan perlawanan.
"Harus berapa kali aku bilang, Ma? Aku gak akan ninggain rumah itu buat tinggal sama mama!" Ucap Radit. Dia masih berusaha mengatur emosinya.
Sejak awal dia berhadapan dengan mamanya, seakan emosi yang coba dia reda melonjak begitu saja. Bahkan dia bosan mengulang kata-kata yang sama untuk membalas semua kata-kata mamanya.
"Apa susahnya sih, Dit? Kamu kan gak harus susah jadinya. Ada mama yang akan bantu kamu." Fara masih berusaha bersikap selembut mungkin meluluhkan anak sulungnya.
"Bantu aku mama bilang? Bantu aku untuk pisah sama adik aku?" Kini Radit mulai meninggikan nada suaranya.
"Mama gak akan pisahin kamu sama Revin kok. Kan mama bilang kalian, sayang."
"Rival?" Radit menatap tajam ke arah mamanya, yang sontak membuat wanita itu terdiam. "Dari awal aku udah bisa tebak. Mama mau aku pisah sama Rival kan? Mama nyuruh aku ninggalin adik aku kan?!" Lanjutnya.
"Dia bukan adik kamu Radit!" Fara meninggikan nada suaranya. Telunjuknya kini sudah berada di depan wajah Radit. Wanita itu ikut terpancing emosi.
"Kalau gitu aku juga bukan anak mama. Karena sampai sekarangpun, Rival itu adik aku!"
"Kamu lebih milih anak itu dari pada mama?"
Fara mulai beranjak, ikut menatap tajam kearah Radit yang masih terduduk.
"Dia punya nama, ma. Maaf, namanya Rival." Kini Radit memelankan suaranya. Sadar bahwa seisi cafe kini menatap kearahnya.
Fara masih tidak terima, dia segera mengambil tasnya. Dia kira setelah basa-basinya yang manis saat baru bertemu tadi, bisa meluluhkan hati Radit. Tapi ternyata gagal. Anak itu malah menyudutkannya.
"Urusan mama sekarang bukan sama kamu! Tapi sama anak itu!" Kata Fara lalu beranjak pergi.
Radit masih terdiam. Sama sekali tidak berniat melukai hati wanita yang sudah melahirkannya. Hanya saja keputusan dan sikap mama tetap bertentangan dengan keinginannya.
Dan untuk kata-kata mamanya tadi, dia sepertinya harus lebih menjaga Rival. Radit yakin mamanya tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.
••
Revin masih terfokus dengan tugas kuliahnya. Sedangkan Amel sibuk dengan pekerjaannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9.15 malam, tapi Amel belum beranjak pulang. Alasannya karena dia memang akan menunggu Radit.
Amel sangat yakin bila kekasihnya itu pasti sedang tidak baik-baik saja setelah bertemu dengan mamanya. Bahkan selalu seperti itu. Walau Radit hanya berhubungan melalui telepon.
"Malam. Lho, Mel, kok belum pulang?" Tanya Radit yang baru saja datang. Dia langsung berjalan mendekati Revin dan Amel di ruang tamu.
"Nunggu kamu." Jawab Amel.
"Kasihan Kak Amel sampai pulang malam gara-gara nunggu lo. Kemana aja sih? Seneng banget pulang malam." Kata Revin.
Radit menyandarkan tubuhnya di sofa, lalu menarik nafasnya dalam. "Ketemu mama." Jawabnya pelan.
"Apa? Lo ketemu mama??"
Seketika Radit beranjak dan menutup mulut Revin, "jangan keras-keras, nanti Rival denger."
"Lagian lo, ngapain sih ketemu mama?"
"Terpaksa. Kalau enggak, dia ngancem bakal datang ke sini. Gue gak mau." Jawab Radit dengan nafas berat. "Oh ya, Rival mana? Udah tidur?" Kini pandangannya sudah memutar ke seluruh arah. Lagi-lagi anak itu tidak ada saat dia pulang.
"Udah tidur. Tadi demam, tapi udah aku kasi obat kok." Jawab Amel dengan senyuman.
Radit balas tersenyum lalu mengangguk, "makasi ya. Maaf aku jadi ngerepotin." Ucapnya.
"Vin.." Kini pandangan Radit beralih pada adik keduanya. "Gue takut setelah ini Rival dalam bahaya, tolong bantu jaga ya. Mama bilang bakal berurusan sama Rival setelah ini."
Revin mengangguk ragu. Dia tentu tidak mau adiknya berurusan dengan mama. Bahkan untuk bertemupun tidak akan dia biarkan. Dia menyayangi Rival, sungguh. Itu sudah cukup menjadi alasan, mengapa dia tidak mau adiknya jatuh pada hal yang tidak baik.
"Aku anter pulang, ya?" Ucap Radit pada Amel di sebelahnya.
"Enggak usah, kamu pasti capek. Lagi pula rumah aku gak jauh lho, kalau kamu lupa. Sekarang cek aja keadaan Rival, kalau masih sakit mending di ajak ke rumah sakit aja." Balas Amel lalu bangkit.
Radit mengangguk, lalu berjalan mengekori Amel yang sudah bersiap akan pulang. Setelah berpamitan dengan Revin, Amel langsung melangkah keluar. Tanpa berpamitan dengan Rival, karena takut anak itu akan terbangun lagi.
Setelah memastikan mobil gadis itu hilang dari depan rumahnya, langkah Radit dibawa menuju kamar Rival. Ingin melihat sendiri kondisi adiknya. Entah mengapa, belakangan ini dia selalu memikirkan anak itu. Ada perasaan aneh yang tidak dia mengerti.
Suasana kamar Rival terlihat sunyi. Bahkan lampu tidurnya tidak dia hidupkan, hingga gelap memenuhi ruangan.
Radit duduk di sisi ranjang Rival. Memandang lekat wajah adiknya setelah dia menghidupkan lampu kecil di sebelah ranjang Rival. Hingga sentuhan tangan Radit berhasil mengusik tidur Rival.
"Maaf, gue jadi buat lo bangun ya." Ucap Radit saat melihat Rival kini membuka sedikit matanya dan memandangnya.
"Lo baru pulang?" Tanyanya dengan suara serak.
Radit mengangguk, "bengkel ramai." Bohongnya. "Gimana? Kata Kak Amel demam."
"Sedikit. Capek aja mungkin." Balas Rival yang kini sudah kembali menutup matanya.
"Besok ke dokter aja gimana?" Tanya Radit.
"Enggak."
"Kalau gitu istirahat di rumah, ya?"
"Enggak, bang. Udah sana gue ngantuk banget, sumpah. Lo juga istirahat sana udah malam. Jangan lupa makan." Ucap Rival lalu kembali menarik selimutnya dan berbalik memunggungi Radit.
Radit hanya tersenyum. Mengusap pelan rambut adiknya, lalu beranjak. Meninggalkan Rival yang sepertinya sudah mulai tertidur.
Walau sesungguhnya yang Radit tidak tahu, adiknya sedang menahan sakit yang kini mulai menyerangnya lagi. Mengganggunya saat tubuhnya ingin beristirahat.
"Sakit, bang."
••
Aldi masih menatap Rival yang sedang tertidur di sebelahnya. Sejak jam terakhir dimulai, sahabatnya itu memang asik dengan mimpinya. Tidak mendengarkan sama sekali penjelasan guru di depan.
Hingga guru mata pelajaran terakhir mengakhiri pengajarannyapun, Rival seakan tidak terusik sama sekali.
"Val, bangun. Bu Vera udah pergi tuh. Pulang yuk." Aldi mengguncang pelan bahu Rival. Membuat anak itu mengangkat kepalanya, walau matanya masih setengah terbuka.
"Pulang bareng gue, atau sama Bang Revin?" Tanya Aldi lagi.
"Mau istirahat di rumah lo, ya?" Ucap Rival lalu merapikan peralatan tulisnya.
"Nanti di cari abang lo. Udah ijin?"
Rival menggeleng, "Bang Radit pulang malam. Bang Revin mana peduli lagi sama gue."
Aldi baru saja ingi menjawab, tapi melihat Rival bangkit, dia mengurungkan ucapannya. Hanya mengangguk, menyetujui ucapan Rival.
Hingga perhatian Aldi dan kedua temannya kini kembali mengarah pada Rival yang kembali duduk, saat baru akan berjalan keluar. Anak itu seperti menahan sakit. Mereka bisa melihat wajah Rival yang memang lebih pucat hari ini.
"Kenapa, Val?" Tanya Fandi.
"Sakit banget perut gue." Ucapnya pelan.
"Seriusan? Gue telpon abang lo deh, ya?" Tanya Aldi. Dia masih berusaha menahan paniknya. Rival pasti tidak suka itu.
Rival menggeleng pelan, "ke rumah lo aja, ya? Orang tua lo masih di luar negeri kan?"
Akhirnya Aldi kembali mengangguk. Membantu Rival bangun dan segera berjalan menuju parkiran. Sejak dulu, Rival memang anaknya keras kepala. Paling bisa menutupi semuanya agar terlihat baik-baik saja.
Rival sudah tertidur di ranjang Aldi. Menekuk lututnya, untuk mengurangi rasa sakit yang sedari tadi tidak kunjung hilang. Walau kini sudah membaik setelah meminum teh hangat.
"Khawatir gue." Gumam Fandi pelan. Matanya masih menatap Rival yang kini sudah tertidur.
"Telpon aja abangnya." Timpal Reza. Tapi Fandi menggeleng. Tidak mau mengambil resiko bila Rival marah karena mengambil keputusan tanpa seijinnya.
"Udah gak usah segitunya. Pikir postif aja, salah makan kali tu anak." Ucap Aldi. Walau sejujurnya dia tidak kalah khawatir seperti teman-temannya.
••
Revin tidak henti-hentinya menekan nomber telpon untuk menghubungi adiknya. Telpon Rival mati. Bahkan ketiga sahabatnya juga tidak mengangkat panggilannya. Ini sudah pukul 7 malam dan Rival belum juga pulang.
Kesal. Pasti.
Dia hanya tidak ingin terjadi apa-apa pada Rival. Mengingat ucapan Radit semalam, yang mengatakan Rival sedang dalam bahaya. Bagaimana bila mama menemui Rival? Mengatakan semuanya, hingga anak itu tidak mau pulang lagi.
Revin mengacak rambutnya frustasi. Bahkan dia sudah mengabari Radit. Dan kakaknya itu juga akan segera pulang.
Hingga suara dari pintu membuat Revin dengan cepat menoleh. Mendapati Rival dengan wajah tidak bersalahnya masuk.
"Darimana aja?" Bentak Revin.
Rival tidak menjawab, dia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Rasanya ingin segera merebahkan kembali tubuhnya. Padahal dia baru saja bangun sebelum pulang tadi.
"Rival Ragata Pratama! Gue ngomong sama lo!!"
Teriakan Revin sontak membuat Rival terhenti dan menoleh. "Ini yang gue malesin kalau pulang, denger ocehan lo!"
"Lo duluan yang mancing emosi gue! Makanya kalau pergi itu ijin, telpon jangan di matiin!"
"Hp gue lowbat. Gue dari rumah Aldi, istirahat di sana. Puas?? Kalau lo nunggu gue cuma buat marah sama gue, mending tenaga lo di simpen aja." Ucap Rival.
Revin baru saja ingin menjawab, namun terhenti saat melihat Radit sedikit berlari memasuki rumah.
"Ini kenapa ribut sih?" Tanya Radit menghampiri keduanya. "Rival? Lo darimana? Kenapa baru pulang?"
"Maaf. Gue dari rumah Aldi, bang." Jawabnya dengan nada yang sudah di turunkan.
Kini sakit di perutnya sudah mereda. Hanya saja tubuhnya masih lemas. Dia kira, dia akan bisa beristirahat saat sampai di rumah. Tapi ternyata dugaannya salah.
"Bisa bilang dulu kan? Gue sama Revin khawatir, lo tahu?!"
Tidak biasanya Radit berbicara dengannya dengan nada emosi. Membuatnya semakin malas. Semakin merasa di pojokkan.
"Lo mau marah juga sama gue? Kenapa sih, gue pulang bukannya di sambut, malah dikasi omongan begini. Gue capek bang. Terserah lo semua mau percaya atau enggak. Hp gue beneran mati. Nih!" Rival meraih ponselnya dari saku celananya, lalu menyerahkan langsung pada Radit.
Setelahnya dia kembali berjalan cepat menuju kamarnya. Meninggalkan Radit dan Revin yang tidak lagi berusara.
Hingga Rival hilang dari balik pintu kamarnya, Radit langsung merebahkan tubuhnya dengan kasar di sofa. Menghela nafas berat, yang penuh dengan emosi. Tapi sebisa mungkin dia tahan. Dia tidak boleh meledakkan emosinya sekarang. Dia juga tidak seharusnya sekeras ith pada Rival, hanya karena ketakutannya akan ancaman mama.
"Siapin makan malam. Gue mau ganti baju." Kata Radit lalu beranjak menuju kamarnya.
••
Kini Radit berhasil mengumpulkan kedua adiknya di meja makan. Walau perlu perjuangan untuk membuat Rival mau makan bersama mereka.
"Gue gak akan makan, sampai kalian berdua mau ngomong." Ucap Radit.
Hening.
Revin dan Rival masih dalam mode diamnya. Tidak ada yang berusaha memulai lebih dulu.
"Sampai kapan mau diem-diem begini?"
Rival mengangkat kepalanya, menatap Radit. "Gue gak akan marah, kalau dia gak mancing emosi gue bang!" Tunjuk Rival pada Revin.
"Lo duluan kok yang mancing emosi gue!" Balas Revin tak kalah keras.
"Berantem aja lagi berantem. Gue pergi kalau gitu." Radit bangkit dari tempat duduknya, tapi Rival menahannya.
Hingga Radit kembali terduduk, pandangan Rival beralih pada Revin. "Iya udah maaf." Ucapnya pelan.
Radit tersenyum, "Revin juga minta maaf."
"Iyaa maaf." Ucapnya malas.
"Udah ya? Berarti berantemnya selesai kan?" Tanya Radit menatap kedua adiknya.
Rival mengangguk, "asal Bang Revin jangan asal ngomong yang nyakitin gue lagi."
"Oke! Lo juga jangan bohong lagi!" Balas Revin.
"Siapa juga yang bohong." Gumam Rival pelan. Tapi berbasil masuk dalam telinga Radit.
"Val..." Radit kembali manatap tajam adiknya.
"Iya bang iya." Ucapnya malas.
Kini Radit sedikit lega. Melihat adiknya sudah kembali akur setidaknya mengurangi sedikit bebannya.
Suasana kembali hening saat semua kembali sibuk dengan makanannya. Walau tidak dengan Rival. Dia hanya mengaduk pelan makanannya, lalu menyuapnya sedikit. Hanya sedikit, di ujung sendoknya.
"Makan, Val. Gak baik makanan di aduk begitu." Kata Radit.
"Gak pengen bang. Mau teh anget aja, boleh?" Tanya Rival sedikit ragu. Takut Revin akan kembali menjawabnya dengan jawaban yang memojokkannya.
Tapi sepertinya Revin memang sudah ingin berbaikan dengannya. Kakaknya itu malah tidak menjawab sama sekali, hanya melirik sebentar Rival sebelum kembali dengan makanannya.
"Kenapa? Masih sakit?" Tanya Radit khawatir.
Sungguh, yang paling Rival benci adalah tatapan khawatir Radit. Dia takut membebani kakaknya.
"Dikit." Jawabnya pelan.
"Yaudah, istirahat. Gue bikinin teh anget." Radit menjeda sebentar ucapannya, memandang lekat wajah Rival yang tampak sayu. "Mau ya kita ke dokter? Besok gak usah sekolah dulu. Sekali aja, gue minta tolong nurut sama gue, ya?"
Rival tidak tega bila harus melihat Radit memohon seperti ini. Hingga akhirnya Rival mengangguk, "tapi sore aja ya, bang. Gue besok ada ulangan, jadi mau sekolah dulu." Ucap Rival.
Radit mengangguk, "iya. Lo kabarin gue kalau udah pulang."
"Iya, bang. Gue ke kamar ya. Maaf makanannya gak gue makan." Kata Rival lalu beranjak. Kini pandangannya beralih pada Revin. Kakaknya itu hanya diam. Hanya saja Rival tahu, Revin pasti mendengar percakapannya. "Malam bang." Ucap Rival akhirnya.
Setelahnya Rival langsung berbalik, kembali melangkah menuju kamarnya. Revin yang terkejut dengan ucapan Rival langsung menoleh. Masih bisa melihat seulas senyum kecil di wajah pucat adiknya. Membuat hatinya kembali merasa bersalah.
Sejak kemarin adalah salahnya. Tidak peduli dan terlalu keras pada adiknya.