"Maaf.." - Rival
•••
Revin baru saja akan beranjak saat melihat seorang gadis melambaikan tangan ke arahya. Gadis itu masih berdiri di depan kelas Revin, menunggu laki-laki itu untuk keluar.
Dengan cepat Revin menutup laptopnya dan segera berjalan menghampir gadis itu.
"Hai, Risa. Kenapa? Tumben?" Tanya Revin saat sudah berada di hadapan gadis itu.
Risa tersenyum, lalu mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya, "nih, ada oleh-oleh dari mama." Ucapnya lalu memberikan kotak itu pada Revin.
"Wah, tante Nay udah pulang? Bilang makasi ya."
"Iya udah, semalam. Mama nanya, lo kapan main ke sana lagi?" Tanya Risa, lalu mengikuti pergerakan Revin untuk duduk di kursi panjang di depan kelasnya.
"Kapan ya.. segera deh. Hehe" Jawabnya yang diikuti anggukan oleh Risa.
"Hari ini ada latihan basket ya? Boleh nonton gak?" Tanya Risa.
Revin mengangguk cepat, "boleh dong. Seneng malah."
"Yakin gue gak akan di demo sama fans-fans lo?"
"Siapa sih berani demo lo? Langsung berhadapan ni sama gue." Jawab Revin dengan tawa kecil. Hal yang selalu Risa suka.
Begitupun sebaliknya, melihat senyum manis Risa menjadi hal yang palimg Revin suka. Tapi entah mengapa statusnya kini hanya sebatas sahabat. Masih belum berani melangkah lebih jauh untuk membuat Risa menjadi miliknya sepenuhnya. Walau kadang nelihat gadis itu bersama laki-laki lain, menjadi hak yang paling Revin benci.
"Yaudah, kantin dulu yuk." Ucap Revin lalu menarik Risa pergi.
Risa hanya mengangguk, dan tetap berjalan disebelah Revin.
••
Rival masih berusaha menyelesaikan ulangan Kimianya. Walau sejak tadi perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Terlalu sakit bahkan bila Rival bergerak sedikit saja.
Hingga pada soal terakhir, Rival menyerah. Dia menjauhkan kertas ulangannya dan menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangannya.
"Gak kuat gue." Ucapnya pelan.
Aldi sontak menoleh, "kenapa? Sakit lagi?"
Rival hanya mengangguk, tanpa berniat menjawab lagi.
Aldi menarik kertas ulangan Rival. Menulis jawaban yang baru saja selesai dia kerjakan di kertas milik Rival. Semoga tidak terlihat bahwa ada perbedaan tulisan di sana.
"Al, nanti ambilin minyak kayu putih." Ucap Rival.
"Iya, sekalian ngumpul ulangan." Jawab Aldi, lalu kembali menoleh kearah Rival. "UKS aja ya?"
Rival tidak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya. Dia masih berusaha kuat untuk tinggal di kelas. Tidak mau menjadi pusat perhatian karena tiba-tiba lemah seperti ini.
"Sakit lagi?" Tanya Fandi pada Aldi yang baru saja datang, setelah mengambil minyak kayu putih di kotak P3K di depan kelas.
Bu Tifani juga sepertinya sudah beranjak akan meninggalkan kelas. Jadi semua siswa sudah bebas dan tidak tinggal di bangkunya masing-masing.
Aldi mengangguk, lalu mendekati Rival dan memberikan minyak kayu putihnya. Dengan ringisan pelan, Rival bangkit dan menyandarakan tubuhnya di kursi.
"Sakit banget ya?" Tanya Reza.
Rival mengangguk, sambil mengusap pelan perutnya dengan minyak. "Gak ngerti, sakit banget. Padahal maag gue gak lagi kambuh." Jawabnya.
"Udah, ke UKS aja, minta obat di sana, ya?" Bujuk Fandi.
Hingga akhirnya Rival menyerah. Dia mencengkram erat tangan Aldi, tanda sakitnya sudah tidak bisa dia tahan.
"Arrgh.. Sakit, bange-et Al."
Aldi sontak terkejut. Lalu mendekat ke arah Rival. "Iya, gue bantu ke UKS ya."
Akhirnya Rival mengangguk, membiarkan ketiga sahabatnya membantunya bangun. Sungguh, rasa sakitnya kini di luar kendalinya.
Dengan susah payah, Rival berjalan. Sangat pelan, seakan sedikit pergerakan saja rasa sakitnya menjalar hingga seluruh tubuhnya.
"Fand, gak kuat! Sumpah!" Ucap Rival pada akhirnya, saat mereka baru saja keluar dari kelas.
"Biar gue gendong deh. Gak ada malu-malu lagi kalau udah gini." Ucap Fandi lalu berjongkok di depan Rival.
Rival hanya mengangguk. Menyerahkan sepenuhnya dirinya pada Fandi. Dia hanya ingin cepat sampai di UKS. Tidak peduli dengan pandangan heran anak-anak satu sekolah.
"Telpon Bang Radit atau Bang Revin?" Tanya Fandi setelah selesai membantu Rival meminum obat nyeri yang diberikan oleh petugas UKS.
Rival menggeleng. "Jangan dulu." Ucapnya lalu memejamkan matanya.
Dia bisa rasakan sakitnya sedikit menghilang setelah meminum obat itu. Walau tidak benar-benar hilang dan masih membuat Rival kepayahan. Sejujurnya, bila boleh menentang, dia tidak ingin ke rumah sakit. Takut ada hal serius yang akan membuat kedua kakaknya khawatir.
Hingga jam pulang sekolah, sakit di perutnya tidak juga hilang. Bahkan kini semakin sakit, setelah efek dari obat yang dia minum tadi hilang. Tapi sebisa mungkin Rival menahannya. Dia tidak ingin kembali membuat teman-temannya khawatir.
"Gue anter? Atau mau di jemput Bang Revin?" Tanya Aldi.
"Bentar, gue telpon Bang Revin dulu." Jawabnya.
Aldi mengangguk, lalu membiarkan Rival menghubungi kakaknya. Panggilan pertana gagal. Revin tidak menjawab. Panggilan keduapun sama. Hingga Rival berpikir, mungkin Revin belum benar-benar memaafkannya. Tapi saat panggilan ketiga, panggilannya terhubung.
"Halo.." Sapa gadis dari seberang sana. Membuat Rival langsung terkejur. Seingatnya dia benar menghubungi nomber Revin.
"Emm, siapa ya? Bang Revin ada?"
"Lagi latihan basket. Adeknya Revin ya? Gue temennya. Mau gue panggilin Revin?"
"Enggak usah kak. Maunya minta jemput, tapi gak jadi. Gue sama temen aja. Makasi ya."
"Iya sama-sama."
Rival menutup telponnya dan kembali menatap kearah Aldi, "bareng lo aja." Kata Rival.
••
"Serius gak mau kita temenin sampai abang lo datang?" Tanya Reza yang kini sudah menatap Rival yang mulai turun dari mobil Aldi.
"Serius, gue mau istirahat." Jawabnya.
"Tapi kalau ada apa-apa kabarin ya." Ucap Fandi dan langsung mendapat anggukan cepat dari Rival.
Rival masuk setelah memastikan mobil Aldi meninggalkan rumahnya. Dengan bertumpu pada apapun yang ada di sampingnya, Rival berusaha mencapai ruang tamu dengan susah payah. Dia tidak mengerti mengapa tubuhnya menjadi sangat lemas, dan perutnya semakin sakit.
Hingga langkahnya hanya bisa sampai pada meja makan. Rival meremas kuat perutnya. Menekan titik yang menjadi sumber rasa sakitnya. Berharap dengan itu dapat mengurangi sakit yang dia rasakan. Tapi gagal. Apapun yang di lakukan rasanya percuma.
Kini yang bisa Rival lakukan hanya menenggelamkan kepalanya diatas lipatan tangannya. Beraharap Radit ataupun Revin segera datang dan membantunya. Bahkan dia tidak bisa untuk sekedar mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kakaknya. Bergerakpun sepertinya sudah tidak sanggup. Dan yang Rival bisa hanya pasrah.
Rival sempat tertidur sebentar, namun kembali terbangun saat sakit itu kembali menekannya dengan sangat kuat. Hingga sayup-sayup terdengar suara telponnya yang entah dimana dia letakkan. Ingin sekali mengambilnya. Itu pasti kakaknya. Tapi sungguh, dia tidak sanggup.
Sedangkan di seberang sana, Radit sedikit bingung karena adiknya lagi-lagi tidak mengangkat telpon. Tapi kali ini, telpon Rival aktif. Dan hal itu menambah kekhawatiran Radit.
"Lo dimana lagi sih, Val." Gumamnya pelan.
Tadi dia sempat menghubungi Revin, dan kata Revin dia sedang latihan basket. Kemungkinan Rival pergi dengan teman-temannya, atau sendiri di rumah?
Padahal Rival sudah berjanji menghubunginya bila sudah sampai di rumah. Dan lagi-lagi anak itu mengingkarinya. Membuat Radit khawatir setengah mati.
"Fan, gue balik duluan ya. Kalau ada apa-apa hubungin gue." Ucap Radit pada Irfan yang sedang melayani customer.
Irfan hanya mengangguk. Ingin menjawab, tapi Radit sudah lebih dulu berlari menuju mobilnya.
Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Radit melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bayang-bayang ucapan mamanya kemarin terus memenuhi kepalanya. Takut mama akan datang saat Rival sedang sendiri.
Hingga sampai di rumahnya, Radit segera berlari masuk saat melihat pintu rumahnya terbuka.
Pandangannya langsung tertuju pada Rival yang terlihat tertidur di meja makan. Dengan cepat Radit membawa langkahnya mendekati adiknya.
"Hey? Kenapa tidur di sini?" Tanya Radit pelan sambil mengusap pelan punggung Rival yang sedikit panas. Bajunya sudah basah oleh keringat.
Rival dengan sekuat tenaga mengangkat kepalanya, menatap lemah kakaknya. "Ba-ngg."
"Lo kenapa?" Radit memeraih tubuh Rival dengan cepat, saat tubuh adiknya kembali terhuyung.
"Ba-ngg saa-kitt." Lirihnya. Rival berusaha keras menahan kesadarannya.
"Kenapa gak hubungin gue tadi? Hp lo dimana?" Tanya Radit panik.
Rival hanya menggeleng, "saa-kit." Ulangnya lagi. Bahkan dia sudah tidak sanggup untuk mencerna semua kata-kata kakaknya.
"Iya, iya. Kita ke rumah sakit sekarang. Lo tahan, jangan tidur, oke?"
Rival tak lagi menjawab. Dia menyerahkan sepenunya tubuhnya pada Radit. Kini dia tidak bisa berjanji apa kesadarannya akan tetap terjaga hingga sampai di rumah sakit nanti.
Radit langsung menggendong tubuh adiknya, berlari keluar menuju mobilnya. Hingga syukurnya, mobil Revin datang tepat saat Radit baru saja keluar.
"Rival kenapa bang?" Tanya Revin panik lalu berlari menghampiri kakaknya.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Lo kunci pintu dulu." Jawab Radit.
"Iya bang. Langsung pakai mobil gue aja." Balasnya.
Radit mengangguk, lalu segera berjalan menuju mobil Revin.
Saat perjalan, Radit merasa tubuh Rival semakin melemah. Tapi anak itu tetap mencengkram erat lengan Radit. Tetap memeluknya erat.
"Sa-kit, ba-ng."
Bahkan kata-kata Rival itu sudah dia ucapkan berulang kali. Hanya agar dia bisa mempertahankan kesadarannya. Semakin lama wajah Radit semakin memudar, tapi sebisa mungkin Rival tetap memandang kakaknya. Sumber kekuatannya.
"Lo boleh ngeluh, boleh pukul gue, bule cubit gue. Terserah lo. Tapi jangan tidur oke?" Ucap Radit. Tangannya masih memeluk adiknya erat, sambil mengelus puncak kepala Rival pelan. Berharap adiknya dapat tenang. "Vin, fokus nyetir aja. Jangan panik." Lanjutnya yang kini sudah mengalihkan pandangan pada Revin yang sedari tadi tampak gelisah.
Padahal jauh dalam lubuk hatinya, Radit jauh lebih panik. Bahkan rasa takut dan khawatirnya kini menjadi satu. Membentuk rasa yang susah untuk dia jabarkan.
"Adek abang kuat." Ucap Radit pelan. "Abang di sini, yang kuat, dek."
Bahkan rintihan adiknya mampu meruntuhkan dunia Radit begitu saja. Bagaimana bisa, bila Rival adalah alasannya untuk kuat, kini dia harus melihat adiknya selemah ini. Radit bahkan selalu lemah bila Rival sakit. Dan kini, nyawanya seakan sudah tak di raga saat melihat adiknya kesakitan dalam pelukannya.
Sama dengan Revin yang begitu kacau. Setahunya, Rival bukan anak yang suka mengeluh bila sakit. Dia anak yang pandai berbohong, pun dengan kondisinya. Tapi untuk kali ini, Revin tidak melihat kebohongan dalam wajah pucat adiknya. Bahkan Revin merasakan seperti ada pisau yang menyayat hatinya saat Rival mengeluhkan semua rasa sakitnya.
Apa sesakit itu? Bodoh! Harusnya Revin tahu bahwa adiknya sakit sejak kemarin. Dan berujung seperti ini sekarang.
Bila boleh meminta, dia ingin mengulang waktu. Walau hanya sehari. Setidaknya dia tahu bagaimana dia harus bertindak, hingga kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Revin menolehkan pandangannya pada kaca di depannya. Menyaksikan bagaimana hancurnya Radit di sana. Sejak dulu dia tahu Radit yang paling protektif pada Rival. Walau hanya demam, atau maag anak itu kambuh, Radit bisa langsung meninggalkan kegiatannya. Dan kini dia bisa melihat bagaimana Radit menahan sedihnya dengan terlihat tenang saat menenangkan Rival dalam dekapannya. Hingga suara Radit yang sangat pelan terdengat di telinga Revin.
"Maaf, pa.."
Saat itu juga air mata Revin yang sedari tadi di tahannya jatuh. Radit akan selalu menyalahkan dirinya atas apapun yang terjadi pada adik-adiknya.