"Dia akan tetap menjadi orang yang paling berharga, lebih dari nyawaku.. - Radit" ••• Radit masih menunggu dengan gelisah di depan UGD. Berharap saat dokter keluar nanti, tidak akan ada kabar buruk tentang adiknya. Sedangkan Revin, hanya mampu terduduk diam di kursi tunggu. Masih terbayang bagaimana raut kesakitan adiknya, bagaimana wajah pucat adiknya, dan bibirnya yang membiru. "Maaf." Ucap Revin pelan. Tapi berhasil mengalihkan perhatian Radit. "Seharusnya dari awal gue percaya kalau dia sakit. Bahkan harusnya gue percaya kalau dia bolos waktu itu karena alasan sakit, bukan malah marah dan nuduh dia yang enggak-enggak. Maaf bang, gue yang salah di sini." Lanjutnya lagi. Radit terdiam, dia sama sekali tidak tahu bahwa adiknya bolos karena sakit. Saat itu Revin hanya mengatakan bahw

