5. Kenapa Kamu Ganteng

2717 Kata
Keesokan paginya, aku masih merasakan ngilu dikakiku, jam weker bertema boneka beruang milikku terus saja berbunyi nyaring, suaranya membuat kepalaku semakin pusing saja. Aku sudah bangun sebenarnya, tapi malas saja untuk membuka mata. Rasanya malas juga untuk pergi mandi, atau apa aku tidak usah mandi saja lalu pergi ke sekolah. Toh, tidak ada yang sadar kan kalau aku mandi atau tidak. Palingan mereka akan sadar kalau ada bau tidak sedap saja. "SIENA KAMU APAIN MOTOR ABANG, YA ALLAH ASTAGFIRULLAH SIENA, SI JAMILAH KAMU APAIN SAMPAI PENYOK GINI!" mataku terbuka lebar, ah ya aku hampir saja melupakan masalah semalam, dimana aku jatuh dari motor karena Shaka yang datang dari antah berantah mana. Ngomong-ngomong Jamilah itu nama motor matic milik bang Dion. Dasar bang Dion, kejadiannya semalam teriak hebohnya hari ini Tiba-tiba saja pintu kamarku terbuka dengan suara yang cukup kasar, bang Dion berdiri dengan berkacak pinggang diambang pintu "Sien, Jamilah kok bisa penyok gitu, memang kamu jatuhnya parah banget!?" Aku berdecak, kemudian bergerak duduk diatas kasur "ya lumayan bang, kaki aku aja masih nyut-nyutan" Wajah bang Dion berubah khawatir "aduh adeknya abang, beneran kaki kamu masih sakit. Apa kamu gak usah ke sekolah aja, nanti biar abang yang buatin surat izin sekalian abang anterin ke sekolah kamu" "Engga usah bang, aku kan baru masuk SMA masa udah izin gak masuk aja. Aku mau mandi dulu. Abang anterin aku pakai mobil di garasi aja" Bang Dion mengangguk patuh, kemudian ia menutup pintu kamarku pelan. ___ Kaki kananku benar-benar terasa pegal, secara ketimpa badan motor pasti sakit juga rasanya, bang Dion sendiri masih setia menatap jalanan kota Jakarta, dia benar-benar mengantarku dengan mobil. Kalau seandainya abangku tau Jamilah penyok gara-gara Shaka dan anjing belum kawin itu, aku yakin bang Dion akan memarahi Shaka habis-habisan. Tidak mungkin dia bersikap welcome seperti semalam. "Kamu diam, biar abang yang bukain pintu"tanpa kusadari ternyata kami sudah sampai didepan sekolah, bang Dion memutari mobil, kemudian beralih membukakan pintu untukku, ia mengulurkan tangannya membantuku berdiri Romantis dan perhatian sekali memang abangku ini. "Nanti kalau pulang sms abang" "Aku nanti pulang bareng sama Shaka. Boleh?" Tampak bang Dion berfikir sejenak, kemudian kepalanya mengangguk sekali"oke, boleh. Abang berangkat ke kampus dulu. Hati-hati kalau kamu mau jalan. Besok, kalau kaki kamu masih sakit kita ke dokter aja" "Lebay ah bang, bentar lagi paling sembuh" Bang Dion berdecak"aduh gak bisa dong Siena. Kamu lecet seujung upil aja abang tuh udah panik" Mataku dengan refleks memutar malas"iya deh, yaudah abang berangkat sana. Nanti telat" Bang Dion mengangguk, ia mengelus puncak kepalaku kemudian mengecupnya "Abang, aku bukan anak kecil lagi, malu tau, ini tuh didepan sekolah" "Bodo amat, kalau ada yang macam-macam sama kamu bilang sama abang, biar dia berurusan sama abangmu ini. Yaudah abang ke kampus dulu" Bang Dion memasuki mobilnya kemudian menjauh dari area sekolah, aku mendesah lelah, kenapa sih abangku itu selalu susah dibilangin, selalu seenaknya. Bagaimana kalau ada yang mengira aku dan abangku sendiri pacaran. Oh itu gak lucu sama sekali. Bagaimanapun juga aku tetap ingin punya pacar waktu SMA. "Siena"aku menoleh ke sumber suara, menemukan Nichol dan Nala yang berjalan menghampiriku, aku menarik seulas senyum untuk menyapa keduanya "Pacar lo?"aku tergelak ketika Nichol langsung bertanya seperti itul, aku menggeleng "Bukan, dia bang Dio, abang aku"jelasku, Nichol hanya mengangguk, dengan sedikit senyuman yang aku tak tau apa artinya "Kok lo jalannya pincang gitu?"aku memperhatikan raut wajah Nala yang nampak kebingungan "Oh aku jatuh dari motor. Jadinya gini deh" "Kak Nic bantuin Siena jalan"Nala mentitah kakaknya itu untuk membantuku berjalan Aku tergagap, gugup"eh gapapa aku masih bisa jalan sendiri" Nala menggeleng protes"gak bisa, kak Nic bantuin Siena" Akhirnya Nichol membantuku berjalan, dia menuntun tanganku untuk merangkul bahunya yang lebar itu, rasanya gugup sekali, aku tidak pernah dekat dengan cowok selain bang Dion "Hati-hati"Nichol melepaskan rangkulan tanganku ketika aku dan Nala sudah sampai didepan kelas "Makasih ya kak" "Sama-sama. Gue mau ke kelas dulu"Nichol berjalan menjauh, memasuki kelas yang sama dengan kelas Shaka. ___ Hari ini benar-benar hari yang melelahkan, aku harus berjalan ke kantin atau toilet dengan kaki yang masih terasa sakit ini, aku juga tak enak dengan Nichol, dia terus membantuku berjalan ketika melihatku kesulitan, ekspresi Nala malah membuatku makin bingung, dia malah kelihatan kegirangan waktu Nichol terus membantuku berjalan Kali ini juga sama, Nichol mengenggam tanganku dengan erat, katanya dia takut aku tiba-tiba jatuh atau apa, aku, Nala, Nichol, Gino dan Bastian berniat manyaksikan pertandingan basket antara kelas sebelas IPA 2 dengan kelas sebelas IPS 1, Nala terus memaksaku untuk menonton pertandingan basket, dimana tentunya yang bertanding disana adalah kelasnya Nichol juga, wajar kalau Nala sangat bersemangat "Wahhh Nic, udah move on dari Trisa nih, udah gandeng cewek aja lo" ketika kami sampai di lapangan basket, seorang cowok yang berseragam basket menatap kearahku dengan gerlingan mata seakan menggoda, aku menarik kesimpulan dari ucapan cowok itu, bahwa Nichol mungkin baru saja putus dari cewek bernama Trisa atau mungkin tidak bisa move on dari cewek itu Nichol hanya mendelik"Jor, jangan bawa-bawa Trisa, dia ini temannya Nala, namanya Siena. Oke"jelas Nichol Cowok yang dipanggil Jor itu terkekeh geli"oke, artinya gue boleh PDKT sama Siena dong" Cowok itu mengulurkan tangannya"nama gue Jordan" "Siena kak"aku membalas uluran tangannya "Jor!, Nic. Cepetan elahh!"Bastian dan Gino yang sudah lebih dulu memasuki lapangan berteriak cukup keras "Tai lo Bas, gue lagi PDKT nih!"balas Jordan dengan berteriak pula "Pending dulu!" Jordan berdecak"Siena, kakak main dulu, kalau gue masukin bolanya ke ring nanti lo teriak paling kenceng ya"Jordan mengedipkan sebelah matanya Nichol berdecak"masuk Jor, atau gue hukum lo push up" "Iya kapten!"dengan ogah-ogahan Jordan sedikit berlari memasuki lapangan Nichol beralih menatapku"Jordan itu playboy, lo cewek polos. Jangan kemakan rayuannya oke" Aku hanya tersenyum, Nala berdehem cukup kuat, membuat Nichol terlihat menggaruk belakang kepalanya kemudian tanpa kata lagi berjalan memasuki lapangan, Nala menarikku duduk di pinggir lapangan, menikmati sorak sorai penonton yang di d******i oleh kaum hawa sejak peluit tanda dimulainya pertandingan. Aku bisa melihat dengan jelas bahwa disini Nicchol lah yang jadi sorotan, beberap perempuan meneriaki nama Nichol dengan semangat. Aku juga kagum dengan kegesitan Nichol, dia seperti kapten yang baik, dia tidak bermain sendiri, dia punya kerjasama yang bagus. Keringat mulai membanjiri pelipis dan leher Nichol, pria itu melompat dan dengan mudah memasukan bola kedalam ring dengan gerakan yang indah "Kak Nichol!" "Nichol!" "Anjir kak Nichol ganteng abis!"aku melirik gadis disampingku yang masih berbisik tentang Nichol Tatapanku beralih, ketika suara dering ponselku mengintrupsi perhatianku, aku merogoh ponsel yang ada di saku seragam, keningku mengernyit ketika dilayar tertera nomor baru Aku melirik Nala yang tampak bersemangat menonton"Nala!"panggilku sedikit berteriak "Ha, kenapa Sien?" "Aku mau ke toilet dulu" "Yaudah gue temenin"aku langsung menggeleng "Aku bisa sendiri, kamu nonton kak Nichol aja"Nala mengangguk mengerti, dengan berjalan tertatih aku menjauh dari kerumunan, berdiri ditengah koridor yang cukup jauh dan sepi "Halo"akhirnya aku mengangkat panggilan dari nomor tak dikenal itu "Ke parkiran sekarang" aku menatap bingung pada ponselku sendiri, aku sudah memastikan aku tak mengenali nomor baru ini, tapi entah kenapa suaranya terkesan familiar "Kamu siapa?" "Gue Shaka. Lima menit dari sekarang" dia sedikit mengaskan nada suaranya, tunggu, darimana Shaka mendapatkan nomor ponselku? "Gue ga suka nunggu" aku mengerjab, panggilan itu dimatikan setelah ucapan bernada ketus itu, dengan langkah cepat sedikit terseok aku berjalan menuju parkiran, aku akan memberitahu Nala kalau aku pulang duluan, dan akan sedikit berbohong sepertinya. Aku gak mungkin bilang kalau aku pergi bersama Shaka, Nala sudah terang-terangan melarangku dekat dengan cowok itu Tapi posisiku, aku dan Shaka punya urusan. Kami sudah janjian dan aku gak berani bilang Shaka aku dilarang Nala dekat-dekat kamu Atau kata seperti Emmm Shaka, katanya kamu jahat, aku kayaknya takut sama kamu Gak mungkin, aku pasti udah gila kalau aku bilang begitu. Aku mengedarkan pandangan kemudian berhenti pada sosok jangkung, Shaka tengah bersandar diatas motornya, dia memutar-mutar ponselnya dengan lihai "Shaka"dia menoleh sebentar, lalu kembali menatap layar ponselnya, matanya yang tajam menatap kearahku "Lo, telat 35 detik"tegasnya Aku menunduk"maaf" "Skors jump" Spontan aku mendongak, dia tak bercanda, jelas raut wajahnya saja serius begitu, aku menghela nafas pelan, kemudian menaruh kedua tanganku dibelakang leherku, melakukan gerakan skors jump "Aduhh"kakiku terasa kembali berdenyut terlebih kaki kananku, Shaka yang semula masih duduk di motornya langsung berjongkok dihadapanku "Lo kenapa?" "Kaki aku sakit" Raut wajahnya berubah tak percaya"terus kok lo skors jump" "Kan kamu yang nyuruh" Shaka menggelengkan kepalanya beberapa kali, seolah tak percaya atas apa yang aku lakukan"lo tuh cewek perpaduan polos apa g****k sih" Aku melotot tak percaya, dia baru saja mengataiku g****k. Cowok ini kenapa dia kasar banget Dia mengulurkan tangannya, membantuku berdiri, Shaka manaiki motornya, aku mengambil helm dibelakang motor Shaka, kemudian menaiki motornya Sekarang, aku malah bingung harus pegangan dimana, dibelakang motor, tidak itu akan kelihatan aneh, atau lebih buruknya dipinggang Shaka, itu mengerikan, nanti dia kira aku modus Aku melirik kerah jaket yang dipakai Shaka, dengan gugup tanganku berpegangan pada kerah jaketnya, Shaka langsung terbatuk-batuk ketika mungkin aku menariknya dengan kuat "Lo mau ngebunuh gue!"dia berbalik menatapku, bukannya memperbaiki keadaan Shaka malah membuatku makin gugup karena wajahnya yang terlihat jelas ketika dia menoleh kebelakang "Terus aku harus pegangan dimana" Shaka menjambak rambutnya frustasi, dia memegang kedua tanganku kemudian mengarahkannya untuk melingkar dipinggangnya, gila, wajahku rasanya langsung memanas "Di sini" Aku menunduk malu, Shaka menstarter motornya "Kita mau ke mana?" "Bengkel, gue udah nyuruh orang buat ngambil motor lo" "Terus kenapa aku harus pulang bareng kamu, kalau motornya udah dibengkel" "Bawel, lo diem aja. Kita ngomong sama temen gue, bayarnya berapa. Paham" Aku hanya diam, begitupun Shaka. Kita berhenti di sebuah bengkel pinggir jalan yang cukup besar, Shaka menyuruhku turun lebih dulu "Wess ma bro, Shaka"seorang pria dewasa kisaran umur duapuluhan menghampiri Shaka kemudian melakukan tos ala anak gaul yang sering aku lihat, oke, Shaka kelihatan kenal dengan montir ini "Gimana motornya Dan, beres?" "Kalau lecet gitu doang mah kecil, lo tenang aja. Ngomong-ngomong cewek nih?" tatapan cowok itu beralih padaku, aku tersenyum tipis padanya "Dia yang punya motor"jelas Shaka "Nama gue Danu"Danu mengulurkan tangannya padaku, ia terkekeh geli melihat tangannya yang kotor terkena oli yang sudah mengering ditangannya "Maaf tangan gue kotor" "Gapapa"aku menyambut uluran tangannya"namaku Siena" "Motor lo udah oke. Lo mau bawa sekarang?" Bagaimana aku bisa membawanya, kakiku saja sakit begini"Dan, lo aja yang anterin ke rumahnya, nanti gue kasih tips buat lo" Danu mengangguk"oke, lo terima beres aja" Shaka kemudian menarikku menuju motornya "Biar gue yang anterin lo pulang"jelas Shaka, cowok itu manaiki motornya, aku kembali gugup ketika harus berpegangan pada pinggangnya, seandainya itu pinggang bang Dion aku gak mungkin segugup ini "Berapa biaya yang harus di bayar?" "Lo gak perlu pikirin itu. Gue yang akan bayar" Shaka memang serius saat bilang mau bertanggung jawab atas kerusakan motor bang Dion Motor Shaka keluar dari area bengkel, kemudian entah kenapa laju motor Shaka terasa pelan,karena sebelumnya dia ngebut Ah itu gak penting bukan? Motor Shaka tiba-tiba saja berhenti secara mendadak, ada tiga cowok dengan tampilan urakan menghadang motor Shaka, yang ditengahnya tampak seperti yang paling berkuasa, dia merokok, sesekali tersenyum sinis, sedangkan dua pria disampingnya berdiri sedikit dibelakang cowok yang ada ditengah, mereka kelihatan masih seumuran dengan ku atau Shaka, dan bukan itu yang kutanyakan, melainkan siapa mereka? Shaka memilih turun dari motornya, dia menatapku serius"tetap dibelakang gue" Aku tak tau kenapa aku harus tetap dibelakangnya, seperti dia adalah pelindungku, dan aku harus berlindung dibalik punggung tegapnya itu. Tapi entah kenapa, aku merasa kalau harus menuruti ucapan Shaka. "Masih berani ketemu gue lo bertiga hah"tangan Shaka tiba-tiba saja meraih tanganku dan menarikku untuk bersembunyi dibelakangnya, hingga yang bisa aku lihat hanya tengkuk Shaka saja "Kenapa gue harus takut, karena lo punya seorang papa yang punya banyak duit untuk ngebela lo. Shaka Shaka, lo itu ngerusak rencana gue aja, kebetulan, gue liat lo ada cewek tuh. Asik kali kalau gue main sama dia. Gimana?" Tangan Shaka semakin erat menggenggam tanganku"jangan coba-coba"desis Shaka "Lo gak sadar ya, Gas. Lo itu ngebully orang yang gak bersalah. Gue cuma nolongin dia karena dia gak bisa ngelawan" Aku mengerti, jadi cowok yang dipanggil Gas itu melakukan hal seperti membully, dan Shaka aku rasa dia membela orang yang di bully itu. Pertengkaran mereka sungguh kekanakan, aku memihak Shaka, jelas dia melukan hal baik dengan membela orang tak berdaya. Meskipun gak ada yang minta pendapatku. "Ya masalahnya itu. Lo suka ikut campur udahlah, sini kita adu jotos kayak biasa aja. Cara komunikasi yang lebih kita ngerti.Gimana?" "Bagas! Oke, gue udah emosi banget. Sini lo"tangan Shaka terlepas, namun ia masih berdiri dibelakangku, jamtungku berdegup kencang, gawat. Apa aku akan melihat adegan tonjok secara langsung. Ini menyeramkan. Bugh Suara pukulan itu terdengar begitu kuat, bukan Shaka yang terkena tonjokan itu, melainkan cowok yang sejak tadi berdiri disamping Bagas Mata Shaka menajam, ia memasang kuda-kuda, kemudian menendang ke arah Bagas, ketika Bagas tersungkur Shaka kembali melayangkan tinjunya ke wajah cowok yang berniat memukul Shaka, namun dengan gesit Shaka menghindar, mungkin Shaka lupa kalau aku masih berdiri dibelakangnya hingga ketika Shaka menghindar, akulah yang terkena tonjokan itu aku langsung terjatuh dengan wajah menunduk, aku meringis, jadi seperti ini rasanya ditonjok Ini sakit banget Mataku melotot ketika aku mengusap sudut bibirku darah baru saja mengalir disana "b*****t, LO NYENTUH DIA, MATI LO SEKARANG!"aku mendengar Shaka mengumpat, Shaka menatapku sekilas dengan wajah paniknya, matanya menajam, ia berjalan cepat kearah cowok yang tadi menonjokku, Shaka melayangkan bogemnya ke arah cowok itu dengan kuat, cowok itu tersungkur, kaki Shaka bergerak cepat menendang perut cowok itu, dia terbatuk-batuk sambil memegang perutnya Shaka melirik Bagas yang bersiap menyerangnya, tangan Shaka bergerak cepat memelintir tangan Bagas, kakinya menendang s**********n Bagas hingga Bagas mengaduh kuat astaga, yang ditendang Shaka adalah 'itu' nya Bagas. Bagas didorong hingga tersungkur ketanah, Shaka beralih memberikan bogem pada cowok yang satunya, cowok itu terhempas sedikit, namun tak lama kemudian Shaka kembali memberikan tinjunya "Mampus lo b*****t! Cuihh" Shaka menarik tanganku untuk menaiki motornya, ia menggas motornya dengan kuat, membuatku semakin mengeratkan peganganku pada pinggangnya. Motor Shaka berhenti disebuah cafe, ia menyuruhku turun, Shaka langsung menatap wajahku dengan serius "Sialan, Bagas. Ada darah di sudut bibir lo"Shaka memejamkan matanya "Masuk ke cafe itu, gue mau beli obat dulu" Shaka merogoh kantung celananya, dia menyerahkan dompetnya padaku"Shaka dompet kamu" "Pakai itu, beli minuman, Siena dengerin gue. Lo harus tenang, gue bakal beli obat dulu. Sekarang masuk"dia kelihatan panik, aku menatap bingung pada dompet Shaka yang kini berada ditanganku. Aku mengikuti ucapan Shaka, aku memesan minuman kemudian memilih duduk di dekat kaca, aku sebenarnya tidak nyaman karena beberapa orang menatapku dengan pandangan yang aku gak ngerti. Seolah aku ini korban kekerasan, karena ada luka disudut bibirku, nyatanya tadi itu memang tindak kekerasan pertama yang aku lihat. Aku menghela nafasku kuat, aku memilih menyesap green tea ku agar aku lebih tenang, aku hampir berteriak tadi saat melihat betapa banyaknya uang yang ada didompet Shaka Aku beralih menatap kearah pintu masuk, tepat saat itu aku melihat Shaka berjalan dengan langkah lebar dengan kantung plastik berwarna putih "Sini"Shaka menarik wajahku, dia menatap bibir ku yang sudah tidak mengeluarkan darah "Gue gak maksud macam-macam. Gue cuma mau ngobatin lo"jelas Shaka, cowok itu mengeluarkan beberapa obat yang ia beli, kemudian mulai mengobatu lukaku Wajahnya sangat serius, sesekali ia mengerutkan dahinya entah karena apa, atau dia menggeram tanpa alasan. Aku baru sadar kalau Shaka punya hidung yang mancung dan bibir yang merah "Shaka?" "Diem Siena. Gue harus fokus" "Tapi aku mau tanya sesuatu" Shaka menatapku serius, ia melepaskan tangannya yang sejak tadi memegang daguku"apa?" "Kenapa kamu ganteng?" Wajah Shaka berubah kaku, matanya menatap kearah lain, ia memundurkan kursinya"lo lanjutin sendiri. Gue mau pesan menum dulu" Apa aku salah ngomong? A|N: Jujur aku sebagai yang menulis, kadang senyum senyum sendiri. Haha aku suka banget dua couple ini. Semoga kalian suka bacanya. Makasih yang sudah membaca, bersedia vote dan coment sebagai respectnya, terhadap tulisan ini. Fyi part ini part terpanjang, tapi entah kenapa aku gak capek nulisnya. Dahh, sampai ketemu minggu depan. HeyBibble here, in love❤❤?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN