6. Plester

1965 Kata
Pantulan diriku dikaca kali ini cukup buruk, akibat tonjokan yang aku dapat semalam dari cowok yang bahkan gak aku kenal sama sekali, tadi malam aku juga hampir kelimpungan. Karena mama maupun bang Dion, membrondongiku dengan berbagai pertanyaan yang membuatku harus setia berbohong. Tidak mungkin kan aku bilang aku habis di tonjok oleh segerombolan cowok yang notabenenya adalah musuh Shaka, sepertinya. Bang Dion malah bilang dengan konyolnya aku itu ikut tauran pelajar, gila aja. Mana berani aku ikut begituan. Shaka sebenarnya berniat untuk menjelaskan yang sebenarnya pada mama dan bang Dion, tapi aku larang. Masalahnya, aku yakin 100% kalau persoalannya akan tambah runyam kalau Shaka yang menjelaskan. Apalagi untuk pertama kalinya aku kena tonjok begini. Pagi ini bekasnyapun malah berubah menjadi keunguan, Shaka sudah memberi obat semalam, tapi dengan bodohnya aku malah mencuci muka. Aku memilih menutupinya dengan plester, aku berdecak. Hasilnya malah aku terlihat seperti preman yang baru kena pukul, akhirnya aku melepas kembali plester itu, kemudian meraih masker untuk menutupinya. "Huh, ini lebih baik" setidaknya aku akan dikira sedang flu bukan?, lebih baik ketimbang mereka lihat bekas keunguan ini Bang Dion tidak akan mengantarku kali ini, dia sedang menginap di rumah temannya setelah menungguku pulang. Aku melirik kebawah, dimeja makan ada mama yang tengah menuang segelas susu "Ma, bisa dibikin bekal aja gak sandwichnya?" Mama menoleh, menghentikan pergerakannya yang tengah menyusun sandwich"tumben?" "Mmm, aku malas ke kantin ma. Banyak tugas"ya ampun maaf ma, aku harus bohong, pagi-pagi gini udah buat dosa aja "Ya udah"mama beralih mengambil kotak bekal berwarna pink, lalu mengisinya dengan sandwich "Mama tau kamu bohong soal luka itu Siena, ini. Jangan lupa dimakan" kutundukkan kepala saat aku sadar mana mungkin aku bisa membohongi mama sola luka ini, bagaimnapun juga mama itu peka banget, aku mengambil kotak bekalku kemudian memasukkannya kedalam tas, aku melangkah mendekati mama kemudian menyalimi tangannya "Berangkat dulu ya ma" "Hati-hati" ___ Rasanya sangat aneh, iya aneh karena aku memakai masker seperti orang penyakitan hanya untuk pergi ke sekolah. Hari ini rasanya aku akan tetap memakai masker ini, tapi kalau di depan Nala? Sahabat yang super cerewet seperti Nala pasti akan banyak bertanya bukan? Baru saja aku memikirkan Nala, sekarang Nala malah sudah berdiri didepan kelas dengan wajah clingak clinguk entah mencari siapa. Aku menghampiri Nala kemudian menyapanya, ekspresi Nala malah terlihat kebingungan, ah ya, tentu saja aku kan sedang memakai masker, oleh karena itu Nala tak mengenaliku "Aku Siena, Nal"ucapku setela aku berdiri didepannya Mata Nala membulat"hah! Kok lo pakai masker Sien, sakit?" Aku mengangguk, tuh kan aku bohong lagi. Huft, Dan mulailah Nala membrondongiku dengan banyak sekali pertanyaan yang bisa aku anggap tidak terlalu penting. __ Jam pelajaran baru saja berakhir membuatku menghela nafas karena pelajaran tentang hitung menghitung ini berhenti membuatku pusing, sejak Bu Andri datang dan berdiri diambang pintu, guru matematika itu sudah membuatku pusing sejak awal kedatangannya. Nala apalagi, cewek itu langsung mendesah kuat lalu berteriak kegirangan, aku mengemasi buku dan peralatan menulis lainnya. Suara ribut didepan kelas membuatku mendongak spontan aktifitasku terhenti, tiba-tiba saja Dani seperti didorong hingga kembali masuk ke dalam kelas, Dani berdiri tegak, ia menatap cowok dengan rambut berantakan di ambang pintu, seketika suara-suara di dalam kelas terhenti berikut dengan aktifitasnya "Panggilin gue cewek yang namanya Siena"Shaka menatap datar kearah Dani, konyol, Shaka sekarang tentu bisa melihatku yang sedang duduk bersama Nala didalam kelas, Shaka hanya perlu berjalan menghampiriku bukan? Lalu kenapa dia harus memanggilku lewat Dani sebagai perantaranya, akupun bisa mendengarnya kok. Difikirnya aku budeg apa. Dani menoleh kearahku"Siena, lo dipanggil kak Shaka"aku kasihan sekali melihat Dani yang menatapku dengan pandangan memelas seolah meminta diselamatkan dari kukungan Iblis, dan sayangnya mana ada Iblis seganteng Shaka? Eh!? Oke-oke aku gak boleh munafik, Shaka itu memang benar-benar ganteng, semua cewek yang lihat pasti membenarkan kalimat itu "Aku dengar Dan, kenapa kak?"aku harus membiasakan diri memanggil Shaka dengan embel-embel kakak, setelah beberapa hari lalu Nichol mengingatkanku Shaka tak melirik kearahku, dia malah menatap tajam kearah Dani"suruh dia keluar" Aku menghembuskan nafas jengah, kenapa sih cowok itu tidak mau menatapku, malu? Atau males lihat mukaku? Aku gak ngerti Shaka itu jenis cowok kayak apa. Dani hampir membuka mulutnya, dengan cepat aku menyela, sekarang aku benar-benar kasihan pada Dani "Aku dengar kok Dan"akupun berdiri, mengabaikan tatapan Nala yang mungkin tengah kebingungan setengah mati saat ini Shaka berjalan keluar lebih dulu, dia berdiri dengan punggung bersandar di tembok "Ada apa kak?" "Tumben panggil kakak, udah punya sopan santun sekarang?"keningku berkerut "Maaf, tapi kak Shaka kenapa sih ngadep samping terus. Maaf ya kak tapi gak sopan loh gak natap orang kalau lagi bicara" Shaka menghembuskan nafasnya jengah, ia berdiri dengan tegak lalu meraih sesuatu di kantong celananya, Shaka beralih menatap maskerku, aku tersentak ketika dengan tiba-tiba dia menarik maskerku lalu membuangnya di tong sampah Refleks aku menutup bibirku dengan kedua tanganku, Shaka menyingkirkan kadua tanganku secara paksa, lalu dengan hati-hati menempelkan plester itu ke bibirku, aku membeku, merasakan tangan Shaka menyentuh pipiku sementara tangannya yang satu mengelus plester itu agar tertempel sempurna. Dia menarik tubuhnya mundur. "nih"dengan gerakan cepat Shaka meraih satu tanganku kemudian meletakkan satu bungkus plester yang sama disana "Kalau lo pakai masker, gue ga bisa liat muka lo" Setelah itu dia berlalu, membiarkanku kebibgungan dengan rasa panas yang tiba-tiba terasa, suhu tubuhku meningkat drastis bersamaan dengan detak jantungku yang mulai menggila. Aku mendengus, cowok itu. Kenapa dia seenaknya meningalkanku ditengah tatapan orang-orang yang gak aku mengerti ini. Ini benar-benar gila. ___ "Sien, gimana rasanya liat wajah kak Shaka dari dekat?"Nala bertanya antusias, ia melupakan mulutnya yang tengah mengunyah bakso dan akhirnya ludahnya muncrat kemana-mana Aku mengusap wajahku yang terkena cipratan kuah dari Nala"Nal, kamu telan dulu deh makanannya" Nala tersenyum malu "Jadi gimana?"tanyanya sekali lagi "Aku gak tau" "Ah payah lo!"Nala mendengus, aku hanya terkekeh pelan Suara ribut dari arah luar kantin tiba-tiba membuat ku dan Nala menoleh "Eh eh Pipit! Pit!"Nala berteriak heboh menyebut nama Pipit, cewek dengan rambut dikuncir kuda langsung menoleh kearah Nala "Eh Nal, masih makan lo, orang pada heboh lo masih makan?" "Ada apaan emang ribut banget?" "Kak Shaka, berantem lagi katanya" Aku langsung menatap serius kearah Pipit "Dimana?"Nala mendadak berdiri "Di kelasnya, berantem sama kak Oliver, tapi udah di bawa ke ruang BK sih katanya"Pipit ikut duduk di samping Nala, ketika ia melihatku ia membuka mulutnya seolah terkejut "Lo bukannya cewek yang dianterin kak Shaka pulang itu?"bukannya gosipnya udah lama nih, masa mau dibahas lagi sih Aku hanya mengangguk canggung Dia menepuk tanganya lalu tertawa heboh"jadi gimana rasanya di boncengin sama kak Shaka?"dia tipe cewek kayak Nala. Fix. Cerewet, kepo dan heboh. "Gak tau"aku rasa itu jawaban yang tepat "Nal, aku ke kelas duluan deh ya"sebenarnya aku tidak memakan apapun meskipun aku ke kantin, masalahnya aku baru ingat kalau aku bawa sandwich yang dibuat mama. Jadi aku rasa aku akan memakan itu sebagai makan siangku, lagipula kayaknya jam pelajaran selanjutnya itu kita gak belajar, soalnya ada rapat mendadak gitu "Oh ya udah" ___ Aku berjalan dengan kotak bekal berwarna pink ditanganku, aku akan memakannya di taman sekolah kurasa Langkahku terhenti, ketika aku melihat Shaka tengah meringis sambil menyentuh sudut luka dibibirnya, kalau dilihat-lihat aku ini sedang berhenti didepan kelas Shaka "Kak"dia menoleh, tangannya turun berhenti mengusap sudut bibirnya Aku meletakkan tanganku di tembok lantai dua, dimana aku bisa lihat dibawah ada banyak sekali siswa siswi yang tengah melakukan berbagai aktifitas, dan ada Nichol yang tengah bermain basket seperti biasa kalau memang ada jam kosong seperti saat ini "Apaan, minggir lo sana, jangan deket gue!"ucapnya ketus Bukannya minggir aku malah meraih satu tangannya kemudian memaksanya memegang kotak makanku, dia sempat melotot dan semakin melotot ketika aku menempelkan plester yang Shaka berikan kepadaku "Kamu udah kayak preman kak, babak belur sana sini"aku terkekeh Kulihat wajah Shaka berubah santai lagi, matanya sudah berhenti melotot, kini dia hanya memandangku lurus, mulutnya terbuka "Lo bawa plesternya?" Aku mengangguk"soalnya di kelas banyak yang minta, bukanya aku pelit. Tapi kan ini pemberian kak Shaka" Wajah Shaka terlihat geram, bibirnya terkatup rapat, membentuk satu garis tipis yang entah bagaimana bisa malah membuatnya berkali-kali lipat lebih tampan "Terus lo kasih?" "Cuma Nala kok kak"jawabku jujur "Bego"aku mendengus, dia itu tidak pernah sekalipun berbicara dengan nada lembut ya? Dia menyerahkan kembali kotak makanku, aku tersenyum berfikir untuk berbagi sandwich dengan Shaka aku rasa ide bagus "Kak, nih"aku menyodorkan sandwich isi tuna itu kepada Shaka, ia kelihatan bingung, aku tersenyum, mulutnya yang sedikit terbuka membuatku iseng dan dengan santai aku mengarahkan sandwich itu kemulutnya "Kurang ajar lo!"dia tersentak, aku hanya tertawa melihat ekspresi lucunya yang terkejut "Makanya nih"Shaka sempat ngedumel tidak jelas, padahal ujung-ujungnya dia makan juga sandwichnya Dia cowok dengan kata-kata kasar itu yang aku tangkap "Enak?"melihat Shaka mengunyah dengan lahap dan gigitan lebar membuatku tak sadar bertanya "Gak enak!"ucapnya ketus, aku tau banget kalau dia berbicara kebalikannya, kalau sandwich itu enak, astaga dia lucu banget Dengan cepat sandwich itupun habis. Kami kembali diam Shaka terlihat mengeluarkan sesuatu dari kantung celananya, permen karet. Itulah yang dikeluarkan Shaka, dengan santai Shaka mengunyahnya kemudian meniup permen karet itu membentuk balon yang kalau ukuran balon yang terbuat dari permen karet itu cukup besar "Gimana caranya buat itu?" Shaka meniup permen karetnya membentuk balon lagi, lalu suara letusan cukup keras keluar "Maksud lo ini?"katanya kembali meniup permen karetnya Aku mengangguk"lo pernah bocah gak sih, masa gini aja ga bisa. Bego banget jadi cewek. Asal lo tau gue bisa beginian pas umur gue enam tahun" Aku menghembusakn nafas kesal, kenapa kalau sama Shaka tuh bawaanya dihina terus, dia benar-benar cowok bermulut kasar "Nih"sebuah permen karet rasa strawberry dia serahkan kepadaku, aku menerimanya lalu memakannya, cukup lama aku mengunyah sesuai intruksi Shaka "Rahangku pegel"keluhku "Bacot, gitu aja pegel" Aku mendengus, kembali mengunyah tanpa berniat protes lagi "Udah sekarang gimana?"Shaka menatapku santai "Telen coba" aku melotot, bagaimana bisa dia mengajariku menelan permen, apalagi ini permen karet, gila aja ini cowok "Yang benar dong" "Oke oke, sekarang tiup" Masa sih langsung tiup gitu, pas masih ngegumpal gini, gak perlu diapa-apain dulu, aku sebenarnya curiga banget nih, tapi berhubung Shaka itu guru ku jadi aku nurut saja, aku meniupnya keras-keras dengan ekspektasi kalau niupnya keras balonnya juga akan lebih besar, sehingga permen karet itu keluar dari mulutku dan melesat mengenai cowok yang tengah berdiri di dekat Shaka, akhirnya permen karet itu mengenai tengkuk cowok itu. Aku berbalik cepat, takut-takut nanti dia melihatku kemudian memarahiku "Woy, siapa nih!!"aku mendengar teriakan cowok itu yang menggelegar menembus gendang telingaku Pandanganku beralih pada Shaka yang sudah tertawa terbahak-bahak, dia menatapku mengejek, seolah menghina "Ya ampun, lo i***t banget hahaha!"tawanya masih menggelegar, membuat sebagian orang kini menatap Shaka yang suara tawanya terlalu keras Aku benar-benar malu, bagaimana bisa aku dengan bodohnya di tipu oleh Shaka Shaka berhenti tertawa meski kulihat dia masih tersenyum mengejek padaku "Bego tau"dia menoyor kepalaku sekali, aku memejamkan mataku emosi, perlahan kuangkat sebelah kakiku kemudian menendang tulang keringnya sekuat tenaga "Aw aduh woy anjir Siena! Berani lo sama gue. Gue tonjok juga lo!" Aku tak menggubris omongan Shaka, dia benar-benar membuatku sebal dengan mulut kasarnya dan hal yang aku benci barusan. Dia menoyor kepalaku. Hal yang bertahun-tahun lalu aku lihat dilakukan seseorang pada orang yang kini sudah tenang di alam sana. Kak Nanta. A|N: who is Nanta? Baca aja oke. Hehe. Bdw ak gak tau tanggapan kalian tentang part ini atau part sebelumnya. You dont leave a coment or vote guys, so yahh. Aku kebingungan. Happy reading, enjoyed, thx.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN