Aku memperhatikan meja makan sejenak, lalu pandanganku beralih pada mama yang menuangkan segelas s**u ke gelasku
"Mama, bang Dio belum bangun?"
"Iya, abang kamu semalem begadang deh kayaknya. Katanya ada tugas kuliah gitu"
Jadi kurasa bang Dion gak bohong soal tugas kuliahnya, aku rasa aku gak akan tega kalau membangunkan bang Dion yang pasti capek karena tugas kuliah, apalagi sampai begadang "kalau gitu, aku berangkat naik angkot atau bus aja ma. Kasian bang Dio kalau dibangunin"
Mama tersenyum kearahku"gapapa kamu berangkat sendiri?"
Aku mengangguk"kalau gitu Sien berangkat dulu" aku berdiri untuk menyalami mama
"Dahh mama"
"Dah sayang"
Aku benar-benar ke sekolah menggunakan angkot, sebenarnya ini bukan pertama kalinya buatku, bang Dion sering gak bisa mengantarku ke sekolah, karena aku juga tau kalau bang Dion juga pasti sibuk, gak selalu bisa mengantar aku ke sekolah setiap hari
"Stop bang!"
Angkot itu berhenti didepan sekolah"nih bang"aku menyerahkan uang lima ribuan
"Hai Nala!"teriakku, baru saja aku turun dari angkot berwarna merah itu, sosok Nala dan Nichol sudah memasuki pekarangan sekolah dengan kompak
Mereka tidak menyapaku balik, mereka malah menatapku dengan tatapan yang aku gak negerti sama sekali
Nala adalah orang yang menghampiriki lebih dulu, dia menarik tanganku dengan cepat menuju perpustakaan, diikuti Nichol dari belakang, aku masih bingung kenapa gak mengatakan apapun, tapi lebih memilih menarik tanganku lalu berhenti di perpustakaan yang sepi, hanya ada Bu Resi yang menjaga perpustakaan pagi ini
"Gila lo Sien"Nala hampir berteriak ketika ia sadar kalau ia sedang bearada di perpustakaan
"Biar gue yang ngomong, kalau lo yang ngomong pasti bawaannya teriak"Nichol menyela, Nala hanya menghela nafas kemudian mengangguk. Sikap kedua kakak beradik ini membuatku merasa kalau aku habis melakukan kesalahan besar dan kedua orang ini yang bertugas mengintrogasiku. Tapi, disini aku gak merasa melakukan kesalahan, aku bahkan kebingungan setengah mati sekarang
"Kemarin lo pulang bareng siapa?"tanya Nichol lebih santai, Nala malah menatapku dengan tatapan mengintimidasi
Kenapa Nichol nanya soal aku yang diantar siapa, aku jadi berfikir, apa mereka mempermasalahkan ini. Aku fikir ini bukan hal yang harus dipermasalahkan bukan
"Shaka"
Nichol mmemejamkan matanya, sementara Nala cewek itu melotot dengan garang kearahku
"Lo ada hubungan apa sama Shaka?"
Aku menduga kalau memang masalahnya memang karena itu. Iya, karena aku diantar oleh Shaka pulang. Apa itu harus dipermasalahkan?
"Gak kok, kemarin itu kebetulan aja"
Nichol menggeleng"gak mungkin Sien, gue itu temen sekelas Shaka. Seumur-umur gue kenal dia. Dia gak pernah mau ada orang yang naik motor dia. Terlebih cewek, kalau alasannya karena kebaikan, itu gak mungkin, karena banyak kok cewek yang keadaannya sama kayak lo tapi gak pernah Shaka berbaik hati kayak dia ke lo"
"Jadi gue tanya ada hubungan apa lo dan Shaka?"
Aku mendesah gusar"iya tapi aku memang gak ada hubungan apapun sama Shaka Nic"
Keduanya melotot"benar-benar gak ada?"tanya Nichol sekali lagi
Aku mengangguk cepat
"Lo tau gak Sien, kalau ada yang nyebar gosip lo itu pacarnya kak Shaka"
Aku melotot, apa kata Nala barusan, aku dan Shaka? Pacaran? Ini benar-benar gila, aku bahkan gak mengenal Shaka dengan baik. Aku bahkan ketemu dia gak lebih dari dua kali. Lalu bagaimana ceritanya aku dan Shaka pacaran
"Hah! Gimana ceritanya?"
"Gak tau. Pokoknya, ada yang liat lo ngobrol sama kak Shaka pas pulamg sekolah, terus kalian pulang bareng. Dan itu jadi gosip yang panas banget pagi ini"Nala berujar dengan heboh
"Tapi aku gak pacaran sama Shaka"
Nichol dan Nala mengangguk"kita percaya, tapi yang lain enggak. Hati-hati. Kalau gosip ini sampai ke Ruli, lo bisa jadi bulan-bulanannya"
Aku hanya diam, jadi ini yang dirasaian anak SMA, hal sesepele itu diperbesarkan, bolehkah aku minta untuk langsung ke jenjang kuliah aja?
"Terus aku harus gimana?"tanyaku pasrah
"Gapapa kita bakal bantu lo"Nala tersenyum
"Makasih"
••••••
"Siapa yang namanya Siena?!" aku mendongak dengan bingung, tatapanku yang semula tertuju pada buku yang k****a kini beralih menatap seorang cewek cantik yang berdiri diambang pintu, aku akui dia cantik, badannya juga bagus, aku rasa dia melakukan perwatan ketat untuk itu
"Dia" Lea menunjuk kearahku, aku sampai lupa kalau orang yang dicarinya itu aku, cewek itu berjalan mendekat kearahku
Dia tersenyum sinis"gue kira bakal lebih oke dari gue. Taunya mah gak ada apa-apanya"
"Gue Ruli"aku menegang ketika dia menyebutkan namanya, jadi ini cewek bernama Ruli yang suka sama Shaka, aku tiba-tiba teringat ucapan Nala yang bilang kalau aku akan jadi bulan-bulanannya kalau gosip itu sampai ketelinganya. Dan kayaknya aku bisa tebak kalau Ruli sudah mendengar gosip itu
"Lo bener pacaran sama Shaka?"suaranya benar-benar mengintimidasi, tatapannya yang sinis juga menambah parah keadaaanku, aku gak tau ekspresi Nala yang duduk disampingku. Aku bahkan gak berani noleh karena takut, tapi aku bersyukur karena kelas benar-benar sepi, hanya aku, Nala dan Lea, tapi aku yakin kalau Lea gak akan memyebar gosip. Dia menurutku tipe cewek yang malas dilibatkan dalam masalah yang gak berurusan sama dia, jadi kurasa gapapa kalau Lea mendengar ucapanku dan Ruli
Aku menggeleng"enggak kok, aku sama Shaka aja baru kenal"
Ruli tersenyum sinis"gak mungkin. Lo pasti kenal dia"
"Tapi aku benar-benar gak kenal sama Shaka"
Ruli mendorong bahuku kuat"jujur gak lo, sebelum gue pakai cara kasar sama lo!"
Aku meringis, ini sih cantiknya aja yang menang, tapi kalau kelakuan begini sih
"Aku beneran, aku gak kenal Shaka. Mungkin dia cuma kasihan sama aku"
Ruli mendekat kearahku lalu berbisik"kalau sampai gue denger lo deketin Shaka lagi. Jangan harap lo tenang sekolah disini!"Ruli menjauh, dia tersenyum penuh arti padaku, aku mengangguk cepat
Ruli lalu berjalan menjauh, aku menarik nafas lega
"Buset cantik-cantik serigala"Nala berbisik padaku, mungkin dia takut kalau Ruli tiba-tiba balik lalu mendengar ucapannya
Aku juga gak habis fikir, Ruli sampai segititunya sama Shaka
"Gue ke toilet dulu ya Nal"aku berdiri lalu berjalan menjauh
Shaka ya. Kenapa rasanya aku ingin tau banyak tentang cowok itu, rasanya ada aja yang membahas namanya, dia itu cowok pembuat onar yang aku gak pernah temui, selama ini aku ketemu cowok yang baik-baik aja, mungkin ada yang sedikit gila kayak bang Dion, selebihnya teman-temanku sejak SMP gak ada yang seaneh Shaka.
"Itu dia, yang digosipin pacaran sama Shaka"aku mendengarnya tapi rasanya aku malas untuk sekedar mengankat kepalaku
"Gak mungkin! Cantikan Ruli kemana-mana"
Sudah kubilang bukan, paras itu mempermudah segalanya
"Parah, Shaka sampai mau nganterin pulang. Kira-kira dia bayar Shaka pakai apa ya"suaranya terkikik geli, aku ingin sekali mendatanginya, mengangkat tanganku yang terkepal di udara lalu melayangkan tinjuku ke wajahnya, tapi tetap saja, aku cuma cewek penakut yang cuma bisa ngayal
Sudah cukup Siena, aku menutup telingaku rapat, sudah cukup untuk hari ini. Tak ada lagi yang boleh kudengar
Setelah keluar dari toilet, aku bukannya kembali ke kelas, malah duduk dibangku panjang yang ada dibawah pohon besar
Ini adalah hal baru bagiku, aku sebelumnya gak pernah ribut karena cowok dengan sesama gender, entah itu disebut ribut atau apa aku gak tau, masalahnya hanya Ruli yang mempermasalahkan hal kemarin. Karena menurutku itu bukan masalah sama sekali, bukannya Shaka hanya menawarkan hal baik lalu aku menerimanya
Tapi aku gak menyangka kalau masalahnya akan jadi sebesar ini, sampa-sampai ada cewek yang berani ngelabrak aku dan bilang hal yang menurutku sinis
"Ruli apain lo?"
Aku mendongak, menemukan Shaka yang berdiri disampingku dengan tangan yang dimasukkan ke saku celananya
"Kamu tau?"tanyaku heran
"Hmm, anggap ini terakhir kali kita ketemu, dan setelahnya lo boleh merasa gak kenal sama gue"
Alisku terangkat, aku gak ngerti apa maksud Shaka, dia orang yang gak terterbak"kenapa?"
"Karena kita memang gak pernah kenal, kita hanya tau nama masing-masing. Dan gue juga gak merasa perlu ngenal lo. Anggaplah yang kemarin itu karena gue kasihan sama lo"
"Tapi Shaka--"
"Gue cuma gak mau lo kena masalah karena gue. Gue gak nyakitin orang bego kayak lo"
"Maksudnya?"
"Intinya, lo dan gue mulai sekarang benar-benar orang asing. Kemarin gue khilaf ngasih lo tumpangan"
Aku hanya diam, ini agak membingungkan, aku dan Shaka seperti sedang membahas hubungam kami padahal nyatanya gak ada hubungan apapun dengan aku dan Shaka. Tapi aku menarik kesimpulan kalau Shaka baru saja bilang dia hanya gak mau aku kena masalah karena dia.
A|N: This part 2. Untuk kalian yang setia membaca semua karyaku, salam dariku. Aku gak tau kalian suka atau enggak. Tinggalkan voment kalau ada kritik dan saran, aku hanye menerima kritik yang membangun.
Selamat membaca, semoga suka. Amin.
Salam HeyBibble.