Jam olahraga baru saja dimulai, kami melakukan pemanasan dengan dibimbing ketua kelas, namanya Galih, menurtku Galih adalah orang yang tepat untuk jadi ketua kelas, selain dia sangat tegas, dia juga penuh dengan jiwa pemimpin, dia juga gesit kalau masalah kerajaan. Dia gak suka menunda waktu
Masalah Shaka, kita yang memang awalnya gak kenal, berlaku selayaknya sekarang, sudah satu minggu sejak kejadian itu dan hidupku dengan cepat kembali tentram, gosip itu menguap dengan sendirinya. Intinya aku kembali menjadi siswi yang biasa saja, yang pergi sekolah ya hanya untuk sekolah
"Eh Sien"
"Apa?"Aku merenggangkan tanganku dengan menariknya keatas sambil berjinjit, sementara Nala, dia malah tampak tersenyum dengan bahagia, aku gak tau apa yang buat dia senang
"Lo tau kak Aldo gak?"tanyanya antusias, kalau aku boleh tebak, aku rasa Nala sedang menyukai cowok bernama Aldo itu, aku gak tau kalau Nala bisa secepat itu menyukai cowok, sementara aku. Aku gak kepikiran sama sekali untuk suka sama cowok, untuk sekedar berfikir merasakan jatuh cinta dimasa SMA. Aku gak tau sih itu beneran asik atau tidak, aku pernah tanya bang Dion soal itu, dan dia bilang kalau aku belum merasakan cinta dimasa SMA, aku belum ngerasain yang namanya hati hidup, secara gak langsung bang Dion ngatain kalau hatiku ini mati. Aku rasa tidak, aku masih suka cowok kok, tapi aku rasa belun ada yang buat aku sebahagia yang kak Dion bilang kalau orang lagi jatuh cinta.
"Aku gak tau"
Nala mendesah sebal"aduh, susah deh. Lo gak tau ketua osis kita. Sumpah deh, kekuperan lo itu udah parah banget"Nala bergerak gusar dengan dramatis
"Memang kenapa sih Nala?"
"Kayaknya gue bakal suka sama dia. Dia ketua osis, dia juga ganteng. Gak mungikin dong kak Nic ngelarang gue buat pacaran sama kak Aldo"Nala tersenyum antusias, aku yakin Itu masih bayangan Nala, karena aku yakin, dia belum mengenal kak Aldo lebih dari seorang ketua osis
"Itu baru hayalan kamu kan Nal?"raut wajah Nala berubah, dia kemudian mengangguk, aku tersenyum "gapapa, nanti kalau memang dia suka kamu pasti kalian akan pacaran"
Nala mengangguk dengan semangat"nanti lo pulang bareng gue dan kak Nic ya, di rumah mama buat kue bolu, katanya dia juga kangen sama lo"
Aku memang pernah beberapa kali main ke rumah Nala, dia punya mama yang asik, walaupun umur beliau sudah bukan remaja lagi, aku pernah liat dia lagi senyum-senyum sendiri pas nonton drama Goblin, dan aku fikir kalau mamanya Nala itu cukup tau soal drama korea, kadang aku juga suka nonton bareng dengan tante Helen, karena katanya Nala kurang suka sama drama korea, dia lebih suka film barat, yang bergenre fiksi atau action. Menurut Nala itu lebih menarik, tapi menurutku, aku bisa nonton film barat ataupun film korea, aku suka keduanya.
"Iya, nanti aku ke rumah kamu, tapi gak sama kalian. Aku sama bang Dio, soalnya bang Dio udah bilang mau jemput aku"
Nala mengangguk"oke sip"
"Kamu ini, jadi siswa tuh yang bener. Apa yang kamu dapat dari tawuran itu. Gak ada kan. Lihat muka kamu, kamu tadinya seganteng bapak. Tapi sekarang"
Tatapanku beralih pada Pak Suketi yang tengah mengomeli Shaka, cowok itu masih berjalan dengan wajah datarnya, seolah tidak berminat sama sekali untuk mendengar omelan Pak Suketi, aku bisa lihat kalau wajah Shaka ada banyak lukanya, ada garis luka di sudut matanya, bibirnya yang berwarna kebiruan, aku rasa Shaka tidak mengurus luka itu dengan baik, aku kira dia gak memeberikannya kompres atau sekedar obat merah bahkan plester
"Tuh kan, kak Shaka tawuran lagi"seru seseorang, aku menengok menemukan Tia yang berseru dengan heboh
"Gue denger dia bukan tawuran, katanya dia ngelabrak satu siswa sekolah sebelah doang"Rina membenarkan
Tia dan Siska menggeleng ngeri"gila ya kalau berurusan sama kak Shaka tuh ngeri banget bawaannya. Parah sih dia"
Aku terdiam, aku gak tau harus perduli atau tidak, nyatanya aku ingin tau yang mana yang benar, dan kalau Shaka tawuran itu pasti punya alasan bukan?
"Lari keliling lapangan sepuluh kali untuk pemanasan, setelah itu kalian baru bisa main basket!"suara teriakan Pak Budi mengintrupsi lumunanku, kami membuat barisan kemudian berlari mengelilingi lapangan
••••••
"Kita jadi ke kantin kan?"Nala melirik kearahku yang tengah membereskan pakaian olahragaku setelah betganti pakaian di toilet sekolah bersama Nala
"Iya, mau pergi sekarang?"Nala mengangguk dengan antusias, aku dan Nala berjalan keluar kelas, tadi di kelas memang sudah sepi, karena teman-temanku sudah pergi lebih dulu ke kantin, aku rasa mereka kelaparan
Nichol melambaikan tangannya kearah kami, Nala tersenyum senang, aku harus memuji betapa akur dan kompak kedua kakak beradik itu, aku gak iri, karena menurutku bang Dion juga sangat menyayangiku, dia dulu pernah nangis semalaman karena aku kena tipes, dan menurutku bang Dion itu terlalu berlebihan, tapi aku mengerti, dia mengemban amanah dari papa untuk menjaga mama dan aku ketika papa pergi bekerja, papaku itu seorang pilot, jadi aku fikir dia akan sangat jarang berada di rumah, aku kadang kasihan sama mama yang setiap malam pasti meluk guling
"Hai Sien"sapa Nichol dengan senyum ramahnya, Nichol ini orang yang ramah dan sangat humble menurutku, aku bisa lihat dari senyumnya ke semua orang, dia juga dewasa, terbukti ketika Nala yang marah dan terus berteriak karena hal kemarin, Nichol yang menenangkannya
"Hai kak"aku balik tersenyum
"Kalian mau ke kantin?"
Nala mengangguk"kita barengan aja kak, oh iya kak nanti gue mau ajak Sien main ke rumah. Katanya mama kangen sama nih anak"
Nichol menaikkan sebelah alisnya"siang ini mama mau kondangan kan Nal, nih kunci rumah gue yang pegang"
Nala memberenggut"kok gak ngasih tau gue?"
"Situ kan molor"ketus Nichol, aku bisa akui sih kalau kebiasaan molornya Nala itu parah banget, dia bisa tidur berjam-jam kalau gak ada yang bangunin, kamarnya pasti juga di kunci kalau dia mau tidur. Dan kalau aku tanya pas bangun dia pusing atau enggak jawabannya malah dia malah bisa tidur lebih lama
"Dirumah nanti yang masak makan siang siapa?"
Nichol tersenyum"beli aja kan gampang"
Aku rasa itu emang yang paling gampang"kalau kalian mau aku bisa masakin kalian"tawarku
Mata Nichol melebar"lo bisa masak? Sumpah?"aku gak tau ekspresi Nichol bakal se antusias itu, aku hanya mengangguk, aku memang sedikit bisa, mama yang mengajariku, dia bilang cewek itu gak bisa disebut cewek seratus persen kalau belum bisa masak, dan aku setuju
"Wahh Sien-ku keren banget"Nala mengacungkan kedua jempolnya
"Makanya Nal lo belajar"ejek Nichol, wajahnya sudah tengil sekali ketika menatap Nala, Nala hanya memberenggut
Kami bertiga duduk di tengah meja kantin, keadaan kantin tidak terlalu ramai, entah kenapa mungkin karena aku yang datang telat atau apa, atau karena ada Shaka dan tiga cowok yang gak aku tahu namanya sedang duduk sambik merokok di pojok kantin
"Kalian mau apa, biar gue yang pesenin"Nichol menawarkan dirinya dengan senyum ramahnya
"Yang biasa aja kak"jawab Nala
Aku masih diam memperhatikan orang yang duduk di meja pojok itu"jangan di liatin Sien"Nala menepuk bahuku pelan
Aku menoleh menemukan wajah Nala yang serius menatapku, serius juga tentang larangannya barusan"aku mau tanya tiga cowok itu siapa?"
Nala tampak berfikir sejenak"kalau gak salah, namanya Riki, David sama Tian"
"Mereka siapa?"
Nala menatapku curiga, aku gak tau apa yang harus dia curigakan dari pertanyaanku barusan"aku cuma penasaran Nala"
Nala mengangguk"kadang itu, rasa penasaran itu yang ngebuat lo terjerumus makin dalam Sien. But gue akan jawab, sebagai teman gaul lo, yang tau setiap hal di sekolah ini, termasuk hantu di toilet--"
"Nal"selaku cepat, Nala hanya terkekeh geli
"Mereka cowok yang mau gabung sama Shaka, otomatis jadi bawahan Shaka, mereka juga wajib hukumnya ikutan tawuran kalau diminta sama Shaka"
Aku menaikkan sebelah alisku bingung"serius, maksudku kenapa mereka mau gabung sama Shaka?"
"Lo tau gak, kalau yang gabung sama Shaka otomatis akan sama ditakutinnya sama kayak orang takut ke Shaka"
Nala menepuk pundakku"sesering ini gue kasih tau lo, tapi gue gak bosen. Lo harus benar-benar dengar kali ini. Tapi please jangan berurusan lagi sama Shaka"
Aku gak bereaksi apapun, aku hanya merasa ini sebuah asumsi yang tak beralasan, kayak semua orang nge judge Shaka hanya karena apa yang mereka lihat, belum tentu Shaka melakukan itu karena dia memang barandal, atau menurutku, apa yang Shaka lakukan pasti beralasan
Beberapa saat kemudian Nichol kembali, dia bilang pesananya akan diantar, lalu tak lama setelah Nichol datang Mpok Wati datang dengan nampan berisi pesanan kami
"Kalian ngomongin apa?"Nichol menoleh kerahaku
"Bukan apa-apa"
Nichol hanya mengangguk
"Astaga"Nala berseru tiba-tiba, membuatku menoleh kearahnya spontan, begitupun dengan Nichol
Aku mengikuti arah pandangan Nala, disana ada seorang siswi yang masih berdiri dengan mematung, sementara Shaka ikut berdiri dan menatap malas pada siswi itu. Aku gak tau apa yang terjadi, tapi aku bisa lihat kalau Shaka benar-benar marah, bajunya berwarna orange sebagian, aku rasa siswi itu tak sengaja menumphkan jus jeruknya ke baju Shaka, bukannya aku ingin melihat sisiwi itu menderita, tapi aku ingin lihat kemarahan Shaka
"Maaf kak, saya gak sengaja"siswi berkacamata itu menunduk, ia meremas jarinya takut, sementara Shaka masih tetap menghunus dengan pandangannya yang tajam, dan saat itu aku merasa kalau suasana kantin ini sangat sunyi
Shaka hanya diam, aku tau dia emosi, dia lalu membuka seragamnya, aku sempat menarik nafasku, aku kira aku akan lihat Shaka yang tak memakai baju didalamnya, tapi dia memakai kaos berwarna biru tua, dia lalu melempar seragamnya kearah siswi itu
"Ganti"hanya itu yang Shaka ucapkan, nada suaranya terkesan dingin, siswi itu memungut seragam Shaka yang jatuh dibawah kakinya
"I-iya kak"
"Sebelum bel pulang, lo harus kasih gue seragam baru"aku melongo, siswi itu bisa beli di Kopsis, tapi aku gak yakin dia punya uang jajan lebih
Wajah siswi itu pias"sa-saya gak punya uang kak"
Shaka masih tetap dalam mode tenang menakutkannya"gue gak perduli"
Siswi itu mengangguk dengan takut, ia lalu berjalan menjauh masih dengan wajah tertunduk, pandanganku beralih pada Shaka, cowok itu hanya diam, sementara keadaan kantin berangsur kembali riuh
Nichol menghela nafasnya"gue bakal cari cewek tadi"
Nala melotot"mau ngapain"desisnya
"Kasian Nal, gue yakin uang jajanya gak cukup"Nichol lalu berjalan menjauh, pergi mencari siswi itu. Aku berdiri dengan cepat lalu berlari mengerjar Nichol
"Sien mau kemana lo!?"Nala berteriak dengan lantang hingga aku yakin sekarang perhatian sebagian orang beralih padaku atau pada Nala yang sudah berteriak
"Kak Nic tunggu!"Nichol akhirnya berbalik lalu memandangku heran
"Ngapain Sien?"tannya heran
"Aku juga mau ikut"
Nichol mengangguk cepat, lalu kami berjalan beriringan menuju Kopsis, tempat yang kami duga adalah tempat pertama yang cewek itu tuju
"Mmm kak Nic"
Nichol menoleh kearahku"kenapa?"
"Shaka memang sering kayak gitu ya?"
Nichol tersenyum"kenapa? Lo ngeri. Menurut gue iya dan enggak, dihari pertama masih banyak yang ganggu dia, disana dia sering marah kayak tadi. Tapi sekarang, agak jarang. Semuanya udah tau reputasinya. Gue rasa siswi tadi masih kelas sepuluh, makanya dia gak tau seseram apa Shaka"
"Ngomong-ngomong, Shaka itu kakak kelas lo juga. Lo aja manggil gue embel-embelnya pakai kakak. Lo harus manggil dia kakak juga"
Aku mengangguk, entah kenapa aku lupa kenyataan kalau Shaka itu satu tingkat diatasku, aku bahkan gak kepikiran untuk manggil Shaka dengan embel-embel kakak sama seperti aku manggil Nichol
"Aku lupa"Nichol hanya tersenyum, tangannya terulur mengacak rambutku
"Gue baru sadar kalau lo lucu juga"
"Hah?"Nichol kembali tertawa
Dia tak menjawab kebingungan ku , Nichol malah mnghampiri siswi tadi yang sedang duduk di salah satu kursi panjang didepan Kopsis, Nichol berdiri dihadapannya, aku melangkah lalu berdiri disamping Nichol, siswi itu masih memegang seragam Shaka, wajahnya masih menunduk, sepertinya dia gak sadar kalau kami ada dihadapannya, Nichol berdehem cukup keras, barulah siswi itu mendongak, ia sedikit terkejut
"Kak Nicholas"cicitnya, aku rasa Nichol memang cukup terkenal, terbukti siswi ini langsung mengenali Nichol
"Mana bajunya Shaka?"Nichol mengulurkan tangannya, siswi itu terlihat kebingungan
"Ini biar gue yang beliin dia di kopsis"
"Aku gak punya uang kak"siswi itu memperbaiki letak kacamatanya yang merosot
"Lo pinjem uang gue dulu, nanti lo ganti. Terserah lo mau ganti kapan aja"
Mata siswi itu melebar"kak Nicholas serius?"
Nichol tersenyum, tangannya meraih seragam Shaka, ia mengangkatnya didepan wajah siswi itu
"Lo tunggu disini, gue ke Kopsis. Sien lo temenin dia ya?"
Aku segera mengangguk, dengan cepat Nichol berjalan menjauh menuju Kopsis, aku duduk disamping siswi itu"kamu tenang aja"
"Makasih ya udah nolongin aku"
"Nama kamu siapa?"
"Aku Mia"dia mengulurkan tangannya, aku menerima uluran tangannya
"Aku Siena"mata Mia terlihat membulat dibalik kacamatanya
"Kamu yang di gosipin pacarnya kak Shaka?"dia sedikit takut, entah kenap dia terlihat lucu, aku terkekeh
"Itu cuma gosip, aku bahkan ketemu Shaka cuma dua kali, mungkin dia kasihan sama aku waktu itu makanya dia ngasih aku tumapangan"
Mia mangut-mangut"tapi kamu gak takut sama dia, kak Shaka kan serem banget. Tapi aku heran, kok bisa kak Shaka kasihan sama kamu. Apalagi sampai ngasih kamu tumpangan"aku tau Mia benar-benar bingung, tapi sebenarnya aku juga gak ngerti kenapa Shaka ngasih aku tumpangan kalau memang dia gak pernah membiarkan orang untuk sekedar ada diatas motornya
Aku menaikkan bahuku"mungkin muka gue terlalu memprihatinkan"Mia tertawa, yah memang mungkin itu alasannya
Nichol terlihat berjalan dengan seragam yang masih terbungkus plastik, entah dikemanakannya seragam Shaka yang satunya, dia lau menyodorkan seragam itu pada Mia
"Ini"
Mia menerimanya dengan senyum sumringah"makasih banyak ya kak"Mia lalu berjalan menjauh, mungkin dia ingin menemui Shaka, bukannya tinggal beberapa jam pelajaran lagi lalu pulang, aku rasa Mia memang benar-benar takut dengan ancaman Shaka
"Kak Nic, tapi ini ukurannya bener kan?"
"Tenang aja postur tubuh gue dan Shaka sama. Baju Shaka yang udah kotor gue buang, tenang juga Shaka gak akan nyari baju yang udah kotor, dia palingan punya berlusin seragam dilemarinya"
Dahiku mengernyit"kak Nic tau sedatail itu?"
Nichol tersenyum"kita teman sekelas, gue tau kalau Shaka itu anak orang kaya, baju seragam rusak satu, sama sekali bukan masalah buat dia. Bokapnya kalau gak salah pemilik perusahan terbesar di Indonesia gitu"
"Oh begitu"
"Hai kak Nicholas"dua orang perempuan tersenyum ramah kearah Nichol, sudah kuduga kalau Nichol memang sepopuler itu
"Hai"dengan ramah Nichol balik tersenyum kearah kedua perempuan itu
"Pacarnya kak Nic ya?"tanya salah satu dari mereka
"Oh bukan, dia temen gue"Nichol hanya tersenyum menanggapinya
Kedua cewek itu akhirnya tersenyum mengerti, mereka berlalu setelahnya
"Kak Nic populer juga ya"
"Gue gak berharap jadi populer kok, cuma ya gatau juga"
Aku hanya mengangguk"kak Nic"seruku panik, Nichol akhirnya menoleh kearahku dengan dahi terangkat
"Nala gimana?"kami berdua sempat bengong setelah akhirnya tertawa, membayangkan Nala yang mengamuk karena kami tinggal kurasa itu akan seditikit lucu
A|N: this is part 3. Selemat membaca, semoga suka. Amin.