Kami berada di ruang keluarga dengan mama Tian duduk depan kami dengan bersedekap menatap kami tajam, sial dua kali beliau melihat keadaan kami hampir melakukannya. Aku menunduk tidak berani menatap wajah beliau, tangan Tian menggenggam tanganku erat seolah memberikan kekuatan. “Jadi” ucap mama Tian masih menatap kami “astaga kalian melakukan dengan Boy ada disini?” sambil menggelengkan kepala lalu menghembuskan nafas kasar “kalian harus menikah” aku melotot mendengarnya “kapan?” menatap Tian tajam. “Malam ini” jawab Tian santai “mama siap?” “Bagus, lebih cepat lebih baik karena kalian sudah melebihi batas lagian Boy sudah setuju dengan hubungan kalian berdua jadi semua baik-baik saja” ucap mama Tian dengan santai “bagaimana apa kalian bisa?” menatapku lembut. Aku menatap Tian yang han

