Melihat wajah Tian setelah aku mengatakan tidak ada jatah selama sebulan sebenarnya tidak tega ditambah pikiran mengenai hadirnya jalang di pernikahan kami nanti, aku tahu Tian memiliki nafsu yang besar mungkin sama seperti papa tapi sekali memberikan pelajaran bukan masalah ditambah aku ingin melihat sejauh mana Tian. "Sayang, kamu gak kasihan sama aku?" tanya Tian ketika kami berada di kamar tapi aku hanya diam "beberapa hari ini aku mandi air dingin terus ini" memberikan wajah sedihnya "nanti kita bulan madu lagi, kamu mau ke mana?" "Gak usah" jawabku singkat "kalau bulan madu dihabiskan di kamar buat apa? buang uang namanya" aku berdiri melangkah keluar. "Ke mana?" pertanyaan Tian menghentikan langkahku. "Kamar Boy" jawabku melanjutkan langkah. "Tidur di sana lagi?" aku tidak meng

