Aku Tidak Punya Teman.

1282 Kata
07.00 WIB Kediaman Keluarga Chana Inah melihat istri baru mantan kakak iparnya dengan ujung mata saat ia sedang menyiapkan sarapan. Istri macam apa jam segini baru pulang? Batin Inah. "Hillary sarapan" Teriaknya sambil memegang kepala. Ish, so jadi Ibu yang baik. Batin Inah kembali saat mendengar teriakan nyonya nya. "Jangan teriak-teriak, kamu dari mana?" Suara Bariton Stephan mengintrupsi. "Bukan urusanmu mas," Jawabnya. "Hillary....!" Teriaknya kembali. Terlihat Hillary keluar kamar dengan wajah di tekuk dan mengenakan baju santai. "Hei, mana seragam mu?" lanjutnya kembali. Stephan melengos kesal. "Cih, kemana saja kamu? Sampai sesuatu terjadi pada Hillary saja tidak tahu?" Ucap Stephan. "Memangnya ada apa?" Suara istrinya meninggi. "Sudahlah, memangnya apa pedulimu?"Jawab Stephan. "Hillary ayo!" Ajak Stephan. "Hei, aku ibunya! Aku harus tahu!" Teriaknya prustasi. "Ibu macam apa yang keluyuran nggak jelas? Pergi pagi pulang pagi! Apa yang kamu cari sebenarnya? Apa? Kurang apa fasilitas yang aku beri hah?" Bentak Stephan. "Mom, Dad Stop!" Teriak Hilary, dan ia tampak mengatur nafasnya menahan emosi. Terlihat air mata membasahi pipinya, Stephan setengah berlari segera memeluk Hillary dan mengucapkan maaf berulang-ulang kali, sementara wanita yang tak lain adalah istrinya hanya memegang kepala dan menahan air mata, ia bergegas masuk ke kamar, entah apa yang ia lakukan mungkin menangis, mungkin membersihkan diri. "Dad, Mom, jika memang sudah tidak ada kecocokan antara Dad and Mom, bicarakan baik-baik, jangan lantas karena aku Dad and Mom saling menyiksa diri. Aku tidak apa-apa kok dengan segala kemungkinan buruk yang akan terjadi dengan Dad dan Mom, aku benar-benar tidak apa-apa. Aku lebih tersiksa dengan keseharian Dad dan Mom yang seperti ini." Ucap Hillary dengan di selingi isak tangis. Stephan mendekapnya dengan erat. "Ehem, tuan sarapan sudah siap." Inah mengintrupsi. "Iya, terimakasih." Ucap Stephan dan menggandeng anak semata wayangnya ke ruang makan. Tiba-tiba suara klakson motor terdengar dari arah depan. "Siapa Nah?" Tanya Stephan. "Tidak tahu Tuan." Jawab Inah, sambil seraya pergi melihat siapa yang datang. "Teman non Hillary Tuan, Mau ngajak ke sekolah bareng katanya." Ucap Inah setelah melihat siapa yang datang. "Siapa Hilary?" Tanya Stephan. Hilary hanya mengangkat bahu nya dan lanjut mengunyah sandwich kesukaan nya. "Hillary nggak punya teman kok Dad." Jawab Hillary ringan tanpa beban. Namun berbeda dengan hati Stephan ada nyeri yang bergelanyut. "Yang kemarin di Caffe siapa itu Gio bukan?" Selidik Stephan. "Ngapain dia kesini?" Tanya Hillary dingin, Stephan jadi berfikir ada yang salah dengan anaknya. "Sayang?" Tanya Stephan lembut namun dapat diartikan oleh Hilary itu adalah peringatan, "Dad, sarapan." Pinta Hillary. Stephan tercengang dengan sikap anaknya yang seperti itu. "Nah, ajak sarapan aja atau suruh tunggu di ruang tamu." Ucap Stephan. "Baik Tuan." Bi Inah kembali menghampiri tamunya, Sepertinya Gio memilih menunggu. Kenapa dia kesini? Apa dia menjemputku? Tapi kenapa? Apa dia menyukaiku? Ish jangan keganjenan! Apakah dia fikir aku benar-benar cewek gampangan seperti yang Laura katakan? Jangan-jangan dia menjemputku untuk mengolok-ngolokku, membawaku kesana-kemari dan mempermainkanku? Ish, apaan sih? Aku biarkan saja deh. Batin Hillary. "Sayang, coba kamu ceritakan bagaimana kejadian kemarin?" Pinta Stephan. "Yah begitu." Jawabnya singkat. "Kenapa sekarang kamu tidak bersiap ke sekolah? Itu temen kamu mau ngajakin kamu kemana?" Stephan makin cerewet. "Aku di Score Dad,gara-gara Daddy tahu!" Ucapnya. "Lah, kok jadi Daddy?" Stephan kebingungan, "Iya, gara-gara aku dianterin Daddy aku di sangka cewek bookingan om-om terus Laura menyebarkan photo aku keluar dari mobil Daddy dan melaporkan ke kepala sekolah. Kan sudah aku bilang mobil Daddy itu terlalu mencolok, siang-siang pake mobil merah kek gituh Daddy tuh nggak sadar umur." Stephan mengerut kan dahi, ini beneran atau nggak sih cerita anaknya kok terdengar lucu di telinganya, tapi jika beneran ini keterlaluan sampe anaknya di score. Stephan tidak tahu harus bereskpresi seperti apa, satu sisi ini terdengar lucu, konyol tapi di sisi lain ia marah ada orang yang berani merendahkan anaknya. "Sayang yang serius dong." Ucap Stephan, "Aku serius Dad emang gituh kejadiannya aku di permaluin sama Laura, gara-gara dianter Daddy. Berarti itu gara-gara Daddy." Ucap Hilary yang mengeluarkan logikanya, "Kenapa nggak jelasin sama kepala sekolahnya kalau Daddy yang anter?" Tanya Stephan kembali, "Karena aku jelasin makanya aku di score aku dituduh berbohong, katanya nggak mungkin Daddy punya anak seperti aku, aku nggak usah ngarang, aku miskin katanya." Stephan tercengang, sekolah yang ia danai menganggap anaknya miskin? Dan membeda-bedakan status sosial peserta didik? Astaga dia salah berinvestasi. "Siapa kepala sekolahnya? Boleh yah Daddy beresin?" Stephan yang tahu sifat anaknya yang kelewat low profil meminta izin membereskan kesalah fahaman ini. Hillary hanya mengangguk, dalam hati Stephan berkata tumben nih. "Dad emang aku miskin kan Dad? Aku nggak punya uang, ini semua punya Daddy kan yah?" Stephan kembali tercengang, anaknya berfikir demikian selama ini? "Harta Daddy semuanya milik kamu sayang" Jawab Stephan. "No, no, no Daddy. Aku bahkan nggak bisa beli air mineral di sekolahku. Mahal semua makanan di kantinnya." Ucap Hilary polos, "Kan Daddy kasih kamu kartu?" Stephan tak habis pikir dengan tingkah laku dan pemikiran anaknya, "Emang bisa beli apa aja dengan kartu itu?" Entahlah Hilary benar-benar kelewat polos, "Semua yang kamu mau!" Jawab Stephan, "Bahkan kamu bisa beli berpuluh-buluh karton air mineral yang kata kamu mahal di kantin sekolahmu itu," Lanjut Stephan kembali, Hillari tersenyum cerah mendengar jawaban Stepha, "Beneran kan Dad? Beli Makanan kayak yang di social media juga bisa?" Tanya Hilary kembali, Stephan hanya mengangguk . Astaga polosnya anakku, ini semua salahku. Aku tidak sempat mendidiknya dengan baik, aku bahkan kehilangan moment tumbuh kembangnya, dia sudah SMA tapi aku seolah sedang berbicara dengan anak lima tahun, yang tidak faham apa itu harta, apa itu uang, apa itu kekayaan. Batin Stephan. "Sayang siap-siap kita ke sekolah yah, Daddy mau meluruskan kesalah fahaman ini." Ucap Stephan. "Tapi kamu nyaman kan di sekolah itu? Kamu tidak mau pindah?" Stephan mencari jawaban Hilary, "Kalau boleh aku mau home schooling aja." Jawab Hillary singkat, "Kenapa? Kamu malu sama temen-temen kamu?" Tanya Stephan kembali, "Nggak kenapa-napa, sama aja kan sekolah di rumah atau di sekolah juga aku nggak punya temen. Dan aku mau menyiapkan diri biar bisa sekolah ke luar negri," Jawab Hillary. "Ya sudah Daddy akan usahakan semua yang terbaik buat kamu yah. Daddy mau nemuin tamu yang katanya temen kamu tapi kamu nggak anggap apa gimana ini?Jangan-jangan emang bukan temen tapi pacar?" Goda Stephan. "Apaan sih Daddy aku siap-siap dulu. Jangan pake mobil merah itu kalau ke sekolah yah" Pinta Hillary. Stephan hanya mengangkat bahu sambil berlalu pergi. Inah yang mendengar percakapan anak dan ayah itu membatin. Kak, jika kamu masih hidup kamu tidak akan membiarkan ini semua terjadi kan? Kamu tidak akan rela anakmu jadi korban bullying di sekolah? Anakmu tidak akan seperti sekarang ini, dimasa remajanya ia tidak punya teman, dia dikucilkan kak, padahal dia anak yang pintar, ceria, ramah, sopan. Kak, jika kakak melihatnya diatas sana, tolong kak lindungi anakmu, walau pun aku ada di dekatnya aku tidak bisa sepenuhnya melindunginya. Maafkan aku kak. Sementara di ruang tamu. Gio berdiri saat Stephan mengampirinya, "Om, selamat pagi." sambutnya. "Pagi, Gio kamu tahukan Hillary di score?" Tanya Stephan. "Iya om," Jawabnya. "Jadi kamu mau jemput Hillary buat pergi kemana?" Tanya Stephan kembali. "Ke sekolah om, aku sudah fikirkan matang-matang aku mau menemui kepala sekolah dan membersihkan nama Hillary." Jawabnya yakin, Stephan hanya tersenyum senyuman yang sulit diartikan. "Baiklah, Hillary akan ke sekolah bareng om, om juga mau menemui kepala sekolah. Kamu berangkat bareng saja, simpan saja motornya disini, kamu mau kan jadi teman Hillary?" Pinta Stephan. "Mau om!" Jawabnya tegas. Lebih dari teman pun aku kau om, aku akan menunggu Hillary. ah seneng banget rasanya jalan buat mendekati Hillary di buka langsung oleh Daddy nya. Batin Gio. Ya sudah ayo kita tunggu Hillary di mobil saja. Kamu harus punya teman walau pun hanya 1 orang, Daddy rasa Gio orang yang tepat. Daddy akan selalu melindungii kamu jika dia macam-macam Daddy orang pertama yang akan menghancurkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN