Segala Seuatu Yang Pelik Bisa Diringankan Dengan Peluk

996 Kata
Tiba saatnya Stephan Chana menjemput putri semata wayangnya, ia bergegas meninggalkan semua pekerjaannya dan segera pergi ke sekolah Putrinya, namun apa yang ia dapat beberapa menit menunggu putrinya tak ia dapati, bahkan ia jadi pusat perhatian dan siswa-siswi berdesas-desus menyebut nama putrinya sayup terdengar obrolan mereka kurang mengenakan, Dimana Hilary? Apa yang mereka bicarakan? Siapa yang menjual diri dan jadi simpanan? Batin Sthepan, ia mendial nomor putrinya. "Hallo Dad" di ujung sana Hilary menjawab. "Kamu dimana?" Tanya Stephan. "Aku di Sky Caffe, sebentar lagi pulang Dad sama Gio." Jawabnya tak ada kebohongan. "Nggak usah Daddy aja yang kesana." Sejuta tanya di benak Stephan, sejak kapan anaknya menjadi 'liar'? Sejak kapan anaknya suka bolos? Apa benar yang mereka katakan tentang anaknya? Di sisi lain, Laura dan teman-temannya sudah lebih dulu tiba di Caffe dan melihat Hilary bersama Gio. Muncul amarah dalam benak Laura dan ia semakin ingin menghancurkan Hilary, ia mempunyai ide buruk dan mengajak teman-temannya menghampiri Hilary dan Gio, ia berniat untuk mempermalukan mereka. "Hai cupu, nggak nyangka kita ketemu disini?" Ucapnya. Gio menghela nafas sebagai tanda tidak suka. "Lo ngapain disini?" Tanya Gio. "Suka-suka gue lah, ini kan tempat umum lo sama si Cupu aja bisa kesini kenapa gue enggak?" Jawab Laura. Stephan yang baru sampai mendengar suara ribut-ribut dari arah atas Caffe tiba-tiba ia dihampiri seseorang. "Hai, Om Sthep." "Hallo, ini Caffe kamu?" Tanya Stephan. "Iya om. Kalau boleh tahu ada apa om kemari." Tanya pemilik Caffe, yaitu kakak dari Gio. "Saya mau jemput anak saya." Jawab Stephan. "Oh, yang mana Om diatas banyak anak-anak soalnya. Mari saya antar." Sementara di atas Laura masih terus memojokan Hilary. "Ouh, Kenapa? Nggak suka gue kesini? Kenapa lo Cupu? Takut ke gep lagi di b*****g?" Ucapan Lauran sungguh tidak pantas. "Diem lo!" Bentak Gio. "Ada apa ini?" Kakak Gio melerai. "Hilary?" Stephan Kaget dengan apa yang ia lihat dan dengar. "Hohohoho benar juga si Cupu janjian loh teman-teman sama om-om, Baru tau gue Gio lo g****nya si Cupy yah?" Laura makin tak terkendali. "Apa maksudnya ini Gio? Siapa si Cupu?" Bentak Stephan. "Daddy" Hilary Terisak. "Ouhhh, sudah Official rupanya loh Cupu mengakui kalo Sugar Baby om ini? Ahhhh Daddy hiks hiks hiks." Laura dengan gerakan seolah-olah menangis. "Hahahahah" Plak...! Satu tamparan mendarat di pipi mulus Laura datang dari sang pemilik Caffe. "Gue laporin lo!" "Gue yang bakalan laporin lo!" Bentaknya tak kalah geram. Stephan menghampiri Hilary dan memeluknya. "Siapa nama kamu?" Tatapan Stephan seolah ingin menguliti Laura. "Apa? Mau belain sugar baby nya yang cuman anak pembantu? Yakin nggak bakalan malu?" Jawab Laura kurang ajar. "Nggak ada yang boleh menyentuh anak saya seujung rambut pun, apalagi mengolok-ngoloknya, ini sudah keterlaluan." Stephan dengan penuh penekanan. Laura masih saja berulah setelah mendengar kata-kata Stephan. "Begitu pun ayah saya, saya akan segera memastikan ayah saya akan menuntut kalian semua atas perlakuan kalian kepada saya." Ucapnya sambil berlalu pergi. "Saya yang akan pastikan ayah kamu tidak akan memiliki apa pun lagi untuk selalu memanjakanmu!" Ucap Stephan. Setibanya di rumah tak ada sepatah kata pun dari Stephan mau pun Hilary, Stephan tidak percaya ada yang berani menghina anaknya. Ia selalu memastikan kenyamanan anaknya apa pun itu, keinginan anaknya yang utama. Waktu makan malam pun tiba, Hilary tidak turun untuk makan, Istrinya belum pulang, Stephan baru menyadari kalau ia merasa sangat gagal sebagai ayah dan sebagai seorang suami. Di panggilnya Bi Inah. "Nah" "Iya, bujuk Hilary ada masalah tadi di sekolahnya." "Kepana nggak abang yang bujuk? Dia kesepian selama ini bang."Jawab Bi Inah. "Kali ini aku terlalu malu untuk berhadapan dengan Hilary." Jawab Stephan lesu. "Ada masalah apa?" Tanya Bi Inah penasaran. "Dia di permalukan temannya, di kira anak pembantu sampai jadi simpanan om-om." Jawab Stephan, Bi Inah kaget bukan kepalang. "Kalau begitu aku tidak akan jadi pembantu lagi, aku akan mengambil peran sebagai tantenya. Mungkin mereka mengira Hilary anak aku, selama ini aku yang selalu mengurus apa pun tentang Hilary. Karena Ibu sambungnya entah selalu keluyuran kemana tidak ada waktu untuk Hilary" Bi Inah berani menghasut Stephan "Entah lah, bujuk lah dia. Buat dia makan." Ucap Stephan lesu dan Bi Inah mengangguk seraya naik ke atas menuju kamar Hilary. Tok, Tok, Tok. "Siapa?" Tanya Hilary dari dalam sana. "Saya Non." Ucap Bi Inah "Masuk Bi." Ucapnya, "Non bibi masak udang asam manis, mau nyicip nggak?" Bujuk Bi Inah "Mau bi, nanti aku turun yah." Jawab Hilary "Sekarang yuk." Ajak bi Inah kembali, "Masih ada Daddy yah?" Tanya Hilary "Biar kita makan bareng." Bi Inah dengan lembut terus mencoba membujuk Hilary, "Aku malu sama Daddy, Daddy pasti marah sama aku." Ucap Hilary lesu, "Kenapa harus marah sama anak secantik dan semanis kamu?" Jawab Bi Inah dan Hilary mulai terisak mengingat semua kejadian yang terjadi siang tadi. "Hei, kenapa nangis?" Bi Inah mulai memeluk Hilary, pelukannya terasa sangat tulus sehingga Hilary nyaman di buatnya. Hilary terus menangis, dan menceritakan semua yang dia rasa kepada Bi Inah. Bi Inah merasa sangat gagal, ia merasa paling tahu soal Hilary nyatanya ia tidak tahu apa-apa. Ia rela menjadi pembantu di rumah tangga mantan kakak iparnya demi menjaga Hilary, namun ia hanya dapa memastikan keponakannya makan dengan lahap, tidur dengan nyenyak, dan baju nya rapih. Ia tidak pernah mengetahui apa yang terjadi dan apa yang ia rasakan selama ini, ia ngerasa paling tahu tentang keponakannya nyatanya ia tidak tahu apa-apa. Hilary melepaskan pelukannya dan menyeka air matanya, "Maafin aku bi, jadi cerita semuanya ke Bi Inah." Ucap hilary sambil mengusap air matanya, "Jangan ragu untuk ceritakan semuanya, Bibi siap mendengar semua keluhanmu." Bi Inah kembali memeluk Hilary. Pelukan ini adalah pelukan ternyaman, apakah seperti ini rasanya pelukan yang orang katakan pelukan Ibu? Kepana aku harus merasakannya dari orang lain bukan dari Mommy? Entah mengapa setelah di peluk Bi Inah seperti ini rasanya sangat nyaman dan beban di hatiku menghilang, apa memang segala sesuatu yang pelik memang dapat di ringankan dengan peluk? Pelukan hangat? Pelukan yang seharusnya di berikan Mommy dan Daddy bukan Bi Inah. Rasanya aku tak bisa jauh dari Bi Inah, dia seperti ibu bagiku. Batin Hilary.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN