Ucapan dari Nyonya Stephan Chana membuat semua termasuk Stephan, ia masih menahan emosinya untuk tidak menyangkut pautkan masalah ini dengan pendanaan sekolah, baginya pendanaan untuk sekolah bukan karena Hillary, namun perkataan istrinya ada benarnya juga. Sebagai pengusaha mempunyai andil untuk mendanai sebuah sekolah adalah bentuk amal yang mulia untuk ikut berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, namun kini sekolah adalah tempat berbisnis juga dimana sekolah menawarkan kwalitas maka harga berapa pun yang di minta dianggap pantas. Lalu sekolah ini? Apakah sekolah yang kepala sekolahnya saja tidak memberikan keadilan, menyelesaikan masalah dengan melihat dulu siapa yang menguntungkan untuknya maka dia akan berpihak ini adalah sekolah berkwalitas? Sungguh di ragukan, dan sangat di sayangkan.
Stephan berdiri dan menggandeng istri dan anaknya untuk keluar.
"Saya rasa sudah cukup, asisten saya yang akan mengurus prihal kepindahan Hilary." Ucap Stephan sambil berlalu pergi meninggalkan orang-orang yang masih diam membeku. Jangan lupakan Gio, dia hanya terdiam dan merasa tidak berguna.
"Hillary" Panggil Gio yang sedari tadi terlupakan.
"Tuan Stephan bisa kita bicara dulu baik-baik?" Kelala yayasan memanggil seraya memohon.
"Apalagi yang harus di bicarakan pak? Saya rasa ucapan saya dan istri saya cukup jelas." Jawab Stephan.
"Mungkin ini ada kesalah fahaman mari bicada dulu di ruangan saya." Ajaknya setengah memohon.
"Saya mau tanya pak, saat anak saya yang saya antar untuk belajar di tempat ini dan malah di tuduh sebagai wanita ja***g yang saya booking dan malah di scorsing apakah ada dari pihak sekolah yang berfikir mungkin ini salah faham. Bahkan saat anak saya berkata, saya diantar oleh Daddy saya adakah yang mempercayainya?" Ucap Stephan penuh kekecewaan.
"Masih untung saya tidak melaporkan hal ini sebagai tuduhan palsu dan pencemaran nama baik." Ucap sang istri. Dalam benak Stephan, berkata sejak kapan istriku setegas ini? Bukannya dia anak manja yang plin plan sangat bergantung pada orang tuanya? Dia hanya bisa shoping, nyalon, dan traveling, bahkan clubing. Ternyata ada sisi kejamnya.
"Maafkan kami Tuan" Ucap seseorang membuyarkan lamunannya. Teenyata itu adalah ayah dari Laura. Stephan mengerutkan dahinya tanda berfikir keras.
"Kenapa? Kenapa baru meminta maaf? Apakah sudah mendapat kabar?" Ucap sang Istri yang terus menggandeng erat Hilary. Stephan membulatkan matanya seolah bertanya kepada sang istri apa maksudnya?.
"Mohon maafkan saya nyonya." Ucapnya kembali sementara Laura hanya bengong melihat sikap ayahnya ada apa gerangan. "Laura cepat minta maaf pada Hillary," Bentaknya
"Memangnya kenapa Pah?" Ucap Laura enteng.
"Cepat, kalau tidak jangan harap kami bisa sekolah disini lagi, karena Papah tidak akan snaggup membayarnya." Ucapnya setengah berbisik.
"Maksud Papah." Laura dengan angkuhnya enggan memohon maaf.
"Cepat jangan banyak tanya atau kita akan bangkrut." Ucap laki-laki bertubuh gempal yang usianya sudah tak muda lagi, menyadarkan Laura, mata Laura terbelalak mungkin ia sangat kaget. Mendengar hal tersebut Stephan melirik istrinya, seakan bertanya apa yang kamu lakukan?
"Sayang ayo." Sang Istri menarik tangan Stephan, namun Stephan masih tertegun dengan apa yang terjadi. Saat tiba di parkiran sekolah Hilary menarik tangan ibu dan ayahnya,
"Mom, Dan boleh yah makan siang bersama hari ini saja." Hilary memohon. Stephan memandang sang istri seakan meminta persetujuan, Istrinya mengangguk.
"Baiklah biar mobil mommy di bawa sopir dan kali ini biarkan Daddy yang menjadi sopir ratunya Daddy hari ini." Goda Stephan pada Hilary. Hilary tersenyum bahagia.
"Sayang kita makan dimana?" Tanya Ssang mommy.
"Aku sih taunya Sky Caffe aja mom." Jawabnya.
"Jam seginikan belum buka, mau Daddy booking?" Timpal sang Daddy.
"Nggak usah, cari tempat yang enak buat ngobrol aja deh." Jawab Hilary.
"Anak Mommy mau ngobrol apa tumben nih?" Tanya sang mommy. Hilary hanya menjawab dengan senyuman. "Kalau begitu di tempat langganan Mommy aja deh yah, Dad di depan belok kiri yah." Lanjut sang mommy kembali.
Kali ini aku harus bicara pada Mom and Dad aku ingin kita semua memulai kembali, yah aku akan memulai kembali masa SMA ku mungkin di tempat baru yang entah Daddy atau Mom yang akan memilihkan. Dan Daddy juga Mommy jika memang mereka tidak bisa bersama aku akan ikhlas mereka untuk memulai kembali kehidupan mereka dengan cara mereka masing-masing. Namun jika memang mereka memutuskan untuk tetap bersama aku ingin mereka mengurai kembali benang yang terlanjur kusut diantara mereka. Walau ujungnya enyah dimana karena terlanjur kusut, apakah tidak bisa mereka menggunting bagian kusut itu? membuangnya jauh-jauh dan meluruskan kembali benang yang baru untuk dirajut menjadi lebih indah? Bantin Hilary
"Hai anak Daddy kok bengong?" Suara barithon sang Daddy membuyarkan lamunannya.
"Enggak, siapa yang bengong." Jawab Hilary.
"Jangan-jangan gara-gara Gio nya nggak diajak yah?" Ucap sang Daddy membut wajah Hilary memerah.
"Apaan sih Dad!" Sang Daddy tertawa lepas ada rona kehangatan yang menyertai wajahnya, entah karena apa. Mungkin karena moment ini, ia merasa keluarganya lengkap dan melupakan semua kesalah fahaman yang ada setidaknya untuk saat ini.