The Great Moment

1064 Kata
Caffe pilihan Mommy memang tidak bisa di ragukan, suasananya nyaman, adem, namun tetap private. Aku harus menguratakan semuanya, kesempatan seperti ini sangat jarang terjadi.  Batin Hilary. Aku ingin selalu seperti ini, keluarga yang seperti ini yang ku inginkan, anak yang selalu ceria, istri yang selalu ada dan aku yang menjadikan mereka segalanya. Batin Stephan. Sepertinya semua anggota keluarga kecil ini merindukan moment-moment seperti ini, saat mereka makan bersama, hanya makan tak ada perdebatan, tak ada urusan pekerjaan, yah jangan salah di moment santai mereka ada para assisten dan sekertaris yang berkorban, yang sibuk meng-handle semua urusan mereka. Senyum mengembang di bibir cantik dan sexy Mommy, jangan tanya perasaannya saat ini sudah pasti ia sedang berbunga-bunga. Sambil menunggu pesanan datang Hillary sedikit bercerita tentang perasaannya saat ini. "Mom, Dad aku bahagia banget hari ini. Aku lega ternyata Mom dan Dad masih sangat menyayangi aku." Ujarnya. "Apa yang kamu pikirkan sayang? Kami selalu menyayangi kamu." Ucap Stephan. "Sebenarnya aku mencari tahu sesuatu, aku merasa aneh dengan sikap Omah Farida kepadaku Mom, orang lain Omah dari ibu lah yang selalu memanjakan cucu nya, dan lebih dekat dengan cucunya tapi Omah Farida seperti itu terhadapku. Dan Mom, really love you, I sure Mom. And for me only you are my Mom no one any more. Walau aku tidak pernah lahir dari rahim mu." Hilary menahan air mata jangan tanya Jane, Mommy nya ia sudah berlinang air mata dan memeluk Hilary seketika gadisnya itu selesai berbicara. "Dari mana kamu tahu?" Stephan terkejut. "Inah?" Lanjut Stephan. Hilary menggeleng sambil tersenyum. "Mommy sayang kamu sungguh, sejak bayi kamu bersama Mommy, kamu anak Mommy nggak ada yang lain percaya sama Mommy. Jangan bicara kamu bukan anak Mommy. Soal Inah,..." Ia menjeda kata-katanya. "Aku juga sudah tahu dari dulu mas, tapi aku tidak mempermasalahkannya aku menganggap dia pembantu memang dia yang menginginkan hal itu kan? Dan aku tahu dia hanya berbicara denganmu. Bahkan mungkin sedikit banyaknya dia menghasut kamu. Tapi aku melihat dia memperhatikan kebutuhan Hilary aku pun bisa apa? Dia tantenya kan?" Lanjutnya kembali panjang lebar, Stephan terbelalak ternyata dua wanitanya ini menyeramkan mengetahui semuanya tapi pura-pura tidak tahu apa-apa. "Dad merinding, ternyata Dad tinggal dengan dua wanita yang menyeramkan." Ucap Stephan "Daddy!" Bentak Hilary. Aku melewatkan moment apa saja? Aku melewatkah hal apa saja? Kenapa aku tidak tahu mereka semua tersiksa karena aku yang selalu sibuk bahkan waktuku hanya sedikit untuk mereka. Batin Stephan. Tercipta senyum di bibir indah nan sexi sang istri Jane, atas ucapan suaminya. Makanan pun siap dan sudah di hidangkan. "Dan juga banyak pertanyaan untuk kalian berdua wanita-wanita menyeramkam di hidup Dad, tapi kita makan dulu saja." Stephan mempersilahan "Kamu juga belum makan kan, aku yakin kamu melewatkan sarapan kan karena terburu-buru ke Sekolah tadi?" Stephan memperhatikan istrinya. Lagi-lagi Jane tersenyum, membuat Stephan terpesona. dan ia pun menyunggingkan senyuman termanisnya. "Eheemmm aku masih ada di sini." Ucap Hilary yang memperhatikan gestur mom and Dad nya. Keluarga kecil ini makan dengan penuh khidmat seolah sangat menikmatinya, sambil sesekali saling memperhatikan satu sama lain. Setelah selesai semua hidangan di santap dengan tanpa menyisakan secuil pun Stephan membuka percakapan kembali, "Jadi kita mau bicara serius apa sayang?" Tanya nya pada Hilary, "Apa gang kamu inginkan? Apa yang akan kamu lakukan sekarang dan apa yang membuatmu nyaman atau sebaliknya? Kamu adalah prioritas Daddy mulai sekarang, Daddy minta maaf sudah banyak melewatkanmu selama ini." Lanjutnya panjang lebar. Hilary tersenyum dan beralih menatap mommy nya. Tatapan Mommy pun seolah mengisyaratkan pertanyaan yang sama dengan Daddy nya. "Aku mau mulai dari awal Dad, aku mau Home Scholing aja, aku mau mempersiapkan untuk kuliahku ke luar negri, Dad, Mom, semakin aku berfikir, semakin aku sering melihat teman-teman Mom and Dad, semakin dewasa teman yang benar-benar teman itu hanya sedikit bahkan mungkin hanya satu, aku bahkan berfikir if you have at least one person genuinely supporting you, you're blessed Dad. Jadi jangan paksa aku buat masuk ke sekolah seperti sebelumnya dan bergaul dengan anak dari rekan-rekan Mom and Dad Please." Tutur Hillary. Sang Mommy mengusap kepala anaknya, "Maafin Mom sayang, kalau ternyata kamu tidak nyaman selama ini." Ucapnya. "Lalu apa lagi sayang, soal Home Schooling Mom yang akan mengurusnya kamu jangan khawatir." Lanjutnya kembali. "Thank You." ucap Stephan tulus. Jane hanya mengangguk. "Jika aku memulai kembali hidupku jauh di lubuk hatiku paling dalam aku ingin bersama dengan kalian, namun aku yakin Mom and Dad juga perlu memulai kembali bukan? Selama ini aku cukup tersiksa melihat Mom and Dad saling menyakiti satu sama lain, aku ingin Mom and Dad bahagia juga. Jika memang Mom and Dad sudah tidak bisa bersama aku tidak apa-apa Mom, Dad, aku baik-baik saja....." Hilary menahan tangis begitu pun Jane. "Namun, jika memang kalian bisa bicara baik-baik, luangkan waktu berdua mungkin bisa Mom and Dad perbaiki semuanya, atau apa pun itu agar Mom and Dad tetap bersama namun harus bersama-sama dengan bahagia bukan seperti sekarang." Lanjut Hilary sambil terisak. Stephan menggeleng. Jane memeluk Hilary ia tak menyangka jika selama ini membuat anaknya sangat tidak nyaman bahkan terluka, ternyata anaknya sangat menginginkan kebahagian untuknya dan Stephan. "Dad akan mengusahakan yang terbaik buat kamu, dan Dad janji mulai saat ini Dad akan selalu berusaha membahagiakan kamu. Untuk urusan Dad and Mom sepertinya kamu benar beri kami ruang untuk berdua yah sayang, setelah ini Mom and Dad akan bicara baik-baik, maafkan Mom and Dad selama ini membuatmu terluka dengan ke egoisan kami." Janji Stephan. Waktu pun berlalu begitu cepat dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah bersama. Hilary terlihat sangat lega namun Jane dan Stephan masih memikirkan kata-kata anaknya mereka tidak menyangka kalau anaknya akan berfikir demikian. Sesampainya di rumah Hilary di sambut oleh Inah, Hilary tersenyum seperti biasanya. Saat Inah menghampiri Stephan dan mengambil jas nya ia di tahan oleh Jane, "Biar aku saja." Ucapnya. Inah membungkuk dan tersenyum seraya mempersilahkan Nyonyanya. "Mom, aku ke kamar dulu yah." Ucap Hilary. "Iya sayang."Jawab Jane, Stephan menangkap kilatan mata tak senang yang datang dari Inah, namun ia membiarkannya untuk kali ini. Jane dan Stephan menuju lantai dua beriringan, Inah memperhatikan mereka dan dalam benaknya ia berkata, Pemandangan yang Indah, akankah selamanya indah? Kita lihat saja nanti, tidak ada yang boleh menjadi Nyonya di rumah ini selain kakakku, Ibu kandung Hilary yang bahkan tidak pernah menikmati sedikit pun hasil jerih payah suaminya, wanita iblis mana yang sekonyong-konyong datang merebut segalanya, anaknya, suaminya, hartanya, kemawahannya, semantara kakakku harus di kubur dalam-dalam bersama dengan semua angannya terhadap suaminya, adilkah ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN