Hari yang Panjang

1347 Kata
Sesampainya di kamar Jane melatakan jas suaminya ke salam keranjang cucian, suasana masih hening mereka berdua masih berkutat dengan pikirannya masing-masing, hingga suara ketuakan pintu membuyarkan pikiran mereka. "Maaf tuan" Suara Inah terdengar saat Stephan membuka pintu kamar pribadi mereka, Jane pun menghampiri Stephan "Ada apa Inah?" Tanya Jane. "Eh nyonya di kamar ini juga? Saya hanya ingin menyiapkan air mandi untuk tuan Nyonya." Jawabnya. "Memangnya kenapa saya di kamar ini? Ini kamar suami saya kan? Nggak usah biar saya saja, terimakasih." Ujar Jane, Stephan mengerutkan dahi, Jangan bilang dia cemburu? Batin Stephan. "Iya Nah, nggak usah. Terimakasih, kamu siapkan keperluan Hilary saja." Tambah Stephan. Inah membungkuk seraya pamit dan Stephan menutup kembali pintu kamar mereka, Stephan melihat Jane dan tersenyum. "Kamu cemburu?" Ucap Stephan. "Aku? Sama Pembantu? Bukan Levelku lah, kalau kamu sampe 'maen' sama pembantu otomatis kamu pun bukan levelku." Ucapnya ketus namun Stephan malah tertawa. "Kenapa tertawa?" Tanya Jane ketus. "Enggak, kamu lucu aja kalau lagi ketus kayak gituh." Jawab Stephan. "Aku mandi di kamar lain aja, kamu siapin sendiri aja airnya!" Jane makin ketus, entah kenapa Stephan hanya ingin tertawa saat itu. "Ih ketawa terus." Jane sambil mengerucutkan bibirnya. Selesai mandi Jane langsung turun kebawah, ia tidak menyadari Stephan pun saat itu hendak turun, Jane melangkahkan kakinya ke arah dapur Stephan memperhatikan dari arah tangga, terlihat Inah menghampirinya sambil membawa teko berisi air panas, yah teko itu baru Inah ambil dari atas kompor entah untuk apa namun saat berpapasan dengan Jane teko itu terlepas dari genggaman tangan Inah, Stephan melihat dengan kepalanya sendiri ada unsur kesengajaan yang Inah lakukan saat itu entah kenapa. "Jane!" Teriak Stephan dari arah tangga, namun ia telambat air panas itu sudah menyiram kaki istrinya. Dari arah taman belakang pun terdengar teriakan Hilary "Mommy!" "Aawwww....!" Jane mengaduh. Stephan segera menghampiri Jane dan menggendongnya, ia berhenti saat gendongannya terasa berat. "Jangan pecat saya tuan, nyonya tolong jangan pecat saya maafkan saya, saya tidak sengaja tuan, nyonya maafkan saya." Inah terus melancarkan aksinya menarik tangan Stephan. "Lepaskan Inah, kamu menghalangi saya! Ada apa dengan kamu hah?" Bentak Stephan. Hilary menghampiri mereka, "Dad cepat bawa Mom ke Rumah Sakit ini menyakitkan Dad, ayo jangan lama-lama" Ujar Hilary, "Dan Bi Inah, bereskan semuanya bi. Jangan menghalangi Daddy, kalau Bibi benar-benar merasa bersalah." Ucapan Hilary membuat Inah mematung. Hilary berlari mendahului Stephan dan memanggil sopirnya ia membukakan pintu belakang untuk Mom dan Daddy nya dan ia duduk di samping sang Sopir. "Kerumah Sakit terdekat pak." Ucap Hilary. Sementara Stephan dengan sangat hati-hati menurunkan dan mendudukan Jane. "Ini panas sekali" Jane hendak menyentuh lukanya namun Stephan menghentikannya. "Jangan di sentuh, takutnya jadi inveksi." Ucap Stephan. "Mom tahan yah" Ucap Hilary. Jane terenyuh dan menitikan air mata melihat perhatian suami dan anaknya, yang selama ini ia kira tidak menginginkannya. "Kenapa nangis? Sakit banget yah?" Tanya Stephan, Hilary yang duduk di depan membalikan badannya untuk melihat sang Mommy setelah mendengar ucapan Daddy nya. "Mom," Ucap Hilary. Jane hanya menggeleng dan menyeka air matanya sambil tersenyum. Astaga dia so kuat tersenyum segala. Bantin Stephan. "Ibu kenapa pak?" Tanya sang sopir "Tersiran air panas" Hilary yang menjawab. "Maaf nih Daddy rasa itu sengaja deh, tapi kenapa?" Ucap Stephan, ia tersentak saat mata Jane dan Hilary menghakiminya, ternyata itu ucapan batinnya yang tidak sengaja ia ungkapkan. "Hei kenapa pada liatin Daddy.?" Lanjutnya kembali. "Maksud kamu apa?" Jane buka suara. "Aku ada di tangga, tepat di belakang kamu. Aku melihat gerak gerik kamu dan Inah tadi. Kamu tidak menyapanya sama sekali, kamu tidak mengeluarkan suara sama sekali tapi dia mohon agar tidak kamu pecat, aneh sekali. Dan aku melihat saat Inah membawa teko panas itu, hal itu tidak mungkin terjadi tanpa sengaja sayang." Jelas Stephan. "Apa Dad?" Tanya Hilary, "Daddy melihatnya...." Belum sempat Stephan mengulang kembali kalimatnya, "Bukan itu Dad, kata terkahir yang Dad ucapkan?" Ucap Hilary. Stephan terbelalak lalu wajahnya berubah menjadi merah, dan tersipu menahan senyum. "Apaan sih kamu?" Ucap Stephan. "Tuan, Nyonya sudah sampai." Sang Sopir mengintrupsi. Di depan ruang IGD beberapa perawat membawa blangkar menyambut pasien, Stephan menggendong istrinya dan menaikannya ke atas blangkar yang di bawa perawat lalu ia mengikuti perawat masuk ke ruang IGD namun saat Hilary dan sopirnya mengikuti perawat memberhentikan mereka tepat di depan ruang IGD, "Maaf hanya satu orang wali yang bisa masuk ke ruang IGD." Ujar sang perawat, Hilary sedikit memaksa namun ia memilih untuk mengikuti peraturan yang ada. Sepertinya kecelakaan ini ada bagusnya, ada kesempatan Mom and Dad berduaan aja, dan Dad juga ternyata sangat perhatian kepada Mom. Tapi jika memang Bi Inah sengaja ia sungguh keterlaluan, apa yang sebenarnya ia inginkan? Kenapa dia begitu? Semua pikiran-pikiran itu berputar dalam benak Hilary. Lalu ia melihat Daddy nya keluar dari ruang IGD, "Dad, bagaimana kondisi Mommy?" Tanya Hilary. "Hai sayang Daddy mau ngurus administrasi dulu, Mommy sudah di tangani dengan baik, Mommy bisa pulang setelah di beri perawatan luka bakarnya." Ucap Stephan. "Dad, seberapa parah?" Tanya Hilary kembali "Kaki sebelah kanannya dari betis ke bawah melepuh sayang, kaki kirinya sebatas jari dan telapak kaki kiri nya sedikit tapi itu butuh perawatan intensiv, Daddy nggak bisa mercayain Mommy ke Inah." Ujarnya Stephan. "Lalu?" Tanya Hilary kembali. "Daddy yang akan terus awasi, atau Daddy yang akan rawat? Atau Daddy sewa perawat saja?" Stephan tampak bingung. "Daddy, aku aja yang rawat." Ujar Hilary. "Kita bersama-sama aja yah sayang." Ucap Stephan. Setibanya di rumah Jane menolak untuk di bopong Stephan, ia meminta sopirnya untuk menurunkan kursi roda yang baru di belinya tadi, "No kali ini aku memaksa Jane." Entah apa yang ada di benak Stephan, ia seolah menunjukan kemesraannya di hadapan Inah. "Tuan bagaimana keadaan nyonya?" Tanya Inah sambil mengawasi luka dari Jane. "Tidak terlalu parah Nah." Jawab Stephan. "Biar saya yang rawat tuan." Pinta Inah. "Tidak usah tugas kamu di dapur, urusan anak dan istri saya, saya sendiri yang akan handle mulai saat ini." Ucap Stephan. "Tapi tuan..." Ujar Inah kata-katanya tertahan saat Stephan berlalu begitu saja. Tidak biasanya, dia begitu. Pasti si Iblis betina itu sudah bicara macam-macam. Dasar wanita nggak tahu malu, lihat saja nanti jika kakakku harus mati demi kamu, maka kamu pun tidak layak untuk hidup. Ucap Inah dalam benaknya. "Bi..." Panggilan Hilary membuyarkan lamunannya. "Ah iya non?" Inah sedikit terkejut. "Tolong siapkan jus dan beberapa cemilan untuk besok soalnya guru les ku mau datang besok pagi."Pinta Hilary. "Non mulai les private?" Tanya Inah "Iya mommy mendatangkan guru les buat aku sementara aku belum dapat sekolah baru." Jawab Hilary. "Oh tumben Mommy non perhatian banget ada apa gerangan?" Ucap Inah berusaha menghasut Hilary. Maksud Bi Inah apa bicara seperti itu? Hilary hanya dalam hati. "Semua ibu ingin melakukan semua yang terbaik untuk anaknya Bi." Jawab Hilary. sambil mempercepat langkahnya menuju kamar ayahnya. "Mom..." Kata-kata Hilary terhenti saat melihat Daddy nya mengecup kening sang Mommy. "Ah, rupanya aku ganggu." Hilary mundur berusaha tidak mengeluarkan suara namun suara barithon sang ayah terdengar di tujukan padanya, "Kenapa nggak jadi ngerecokinnya anak nakal?" Ucap sang ayah. "Heheheheh... aku takut ganggu." Ujap Hilary "Sini nak, bantu mommy." Panggil sang Mommy. "Mommy...." Hilary memeluk ibunya. "Ini sudah malam Hilary, kalau kamu mau tidur disini silahkan tidur dilantai." Ucap sang ayah ketus. "Apaan sih kamu." Jane mendelik. Stephan mendekati Jane dan membuka sleting belakang baju Jane. "Daddy mau ngapain? Masih ada aku disini." Hilary dengan jahil menggoda Daddy nya. "Yey, Mommy harus ganti baju pake baju tidur kan?" Jawab Stephan. "Kirain." Hilary melengos keluar dan sedikit menggoda Daddy-nya. "Kamu ini apa-apan aku bisa sendiri awas." Jane berontak dengan wajah yang memerah. "Aku bantu jangan malu-malu." Ucap Stephan. Hilary di kamarnya sudah bersiap untuk tidur sambil menatap langit-langit ia mencurahkan semua yang ada dalam angan-angannya, Sungguh hari ini hari yang panjang, satu tragedi ke tragedi selanjutnya terjadi begitu saja sejak pagi hingga malam ini, aku merasa terombang ambing dalam wahana kora-kora ingin menjerit, berteriak, menangis, namun setelahnya ada rasa lega. Aku jadi mengerti beberapa hal, seberapa dekat pun kita dengan seseorang kita tidak akan mengerti isi hati seseorang tersebut jika kita tidak membuka hati kita untuk orang itu, yah... Mom and Dad hari yang panjang ini telah kita lalui bersama, aku ingin hari-hari berikutnya kita akan terus bersama.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN