Di tempat lain Gio pun sama ia termenung, bahkan matanya enggan untuk terlelap, ia terus teringat akan Hilary. Yah, dia mencuri semua perhatiannya dan ia sangat kesal saat ini pada sosok Laura yang dengan tidak tahu malunya terus mengejar-ngajer Gio dengan terus mengirimkan pesan yang tidak ada henti-hentinya.
Kamu dimana? Satu pesan yang masuk melalui aplikasi chat dari Laura, Gio abaikan.
Kamu sedang apa? Satu pesan kembali masuk.
Gio...Bales dong! Terus menerus hingga ratusan pesan. Hingga Gio langsung mematikan Handphonenya.
Besok gue harus beli SIM Card baru, dasar cewek aneh. Batin Gio. Tapi nanti Hilary gimana kalau mau menghubungi aku? aahhh... dia seharian ini aja nggak ada kabar? Ups, sejak kapan kami bertukar kabar? Ya ampun Hilary.... ahhhhhgggg Gio terus menerus merubah posisi tidurnya yang tak kunjung terlelap.
Besok pagi aku ke rumah Hilary kan motorku masih ada di rumah Hilary, yah benar sekelian ajak Hilary jalan besok kan weekend. Baru matanya mulai memejam, entah otaknya sudah dapat berfungsi kembali sehingga dapat merasakan kantuk dan mulai terlelap dengan kata-kata motivasi 'besok akan mengajak Hilary jalan' ah sungguh manis tindakan Gio ini.
***
Jam menunjukan pukul 08.00 WIB Hillary turun menuju ruang keluarga, bi Inah menyapanya dengan hangat,
"Non baru bangun, mau sarapan sekarang?" Yah, setiap weekend tuan dan nyonya juga anak manjikannya sekaligus keponakannya ini selalu bangun dan sarapan lebih siang dari biasanya karena memang mereka menjadikan weekend ini ajang untuk beristirahat.
Bukannya menjawab pertanyaan bi Inah Hillary malah balik bertanya,
"Mommy and Dad belum turun bi?"
"Tadi Daddy Non yang turun membawa sarapan mereka ke atas Non, mungkin kaki Nyonya tidak bisa di gerakan atau mungkin sifat manja nyonya keluar lagi Non kalau sakit hehehehe" Bi Inah terkekeh entah apa maksudnya. Hilary mengerutkan dahi, Maksudnya apa bi Inah ngomong kayak gituh mau bilang Mommy manja? Emang lukanya parah apa ini yang Mommy maksud bi inah sering ngehasut Daddy? Obrolannya seolah obrolan ringan tapi menjatuhkan Mommy. Jadi selama ini issu perceraian yang selalu bi Inah katakan kepadaku jangan-jangan tidak benar atau Mommy yang sering ke klub Malam jangan-jangan bohong juga? Itu upaya bi Inah buat ngerusak keluarga kita? Batin Hillary.
"Non kenapa bengong?" Tanyanya kembali.
"Eh enggak, Mommy sama sekali tidak turun bi?" Tanya Hillary memancing bi Inah.
"Iya Non semenjak pulang dari Rumah Sakit, hanya Tuan yang bolak balik ke bawah ngambilin keperluan mereka? Denger-denger nih Non Nyonya minta perawat khusus yah?" Jawab bi Inah panjang lebar. Mulai lagi, batin Hilary.
"Heump kalau yang aku tahu sih Deddy yang mau, kalau Mommy kayaknya bakalan cocok nya di rawat sama bi Inah deh." Jawab Hillary sekenanya, Hillary juga sepertinya ingin tahu bagaimana reaksinya.
"Non bisa aja mana mau Nyonya di sentuh bibi, lagi sehat aja Nyonya sepertinya nggak suka sama bibi, selama bibi kerja disini bisa di hitung berapa kata Nyonya menyapa bibi. Lagian yah, Nyonya pasti kasian sama tuan kalau terus menerus seharian ngurusin dia yang agak sedikit manja jadi kalau ada perawat khusus bisa di suruh-suruh deh." Jawab bi Inah. Lama-lama sebel juga dengernya. Batin Hillary.
"Hillary!" Sapa seseorang sambil menuruni anak tangga, yaps itu Ayahnya.
"Dad, gimana Mommy?" Tanya Hillary. Terlihat bi Inah tersenyum melihat tuannya turun, entah apa dalam fikirannya.
"Mommy butuh istirahat, walau dia sedikit brisik, nggak nurut kata-kata Daddy." Jawab sang Ayah.
"Emang sifat nyonya begitu kan tuan" Jawab Inah sambil terkekeh.
"Emang Daddy nyuruh apa ke Mommy?" Hillary kembali bertanya menghiraukan ucapan bi Inah yang terkesan aneh itu.
"Mommy mau nge hubungin Guru les yang mau bantuin kamu belajar di rumah, tapi Guru les nya nggak menjawab jadi mommy mu yang keras kepala itu mau menyusul ke lembaga penyedia les nya, ppadahal kondisinya seperti itu." Ujar sang Ayah panjang lebar.
"Ya ampun Mommy sampai segitunya." Jawab Hillary.
"Emang nggak betah di rumah aja kali Non, yang biasa keluyuran kan bakalan sumpek kalau di suruh istirahat." Bi Inah lagi-lafi nyamber.
"Maksudnya apa? Toh istri saya selama ini kerja kan? Bahkan ia masih bertanggung jawab mengurus pendidikan Hillary. Tidak seperti seseorang sudah salah tidak merasa bersalah sama sekali." Jawab Sang ayah, Hillary menyembunyikan senyumannya saat melihat raut wajah kecewa bi Inah. Tiba-tiba bel berbunyi membuyarkan suasana yang kurang mengenakan.
"Saya buka pintu dulu tuan," Terdengar seoerti mendecit, mungkin menahan rasa kesal atau malu entahlah. "Non ada temennya." Ujarnya suaranya sudah mulai kembali.
"Siapa pagi-pagi begini nak?" Tanya sang Ayah, Hillary mengangkat bahunya sebagai tanda tidak tahu. Gio pun masuk sambil menyapa,
"Selamat pagi om, selamat pagi Hillary."
"Ngapain kamu?" Tanya Hillary. Deg... bathin Gio serasa di hantam batu besar, ia kikuk otaknya berputar cari alasan, Iya yah ngapain gue pagi-pagi ke sini, eh iya... motor yah motor.
"Aku mau bawa motor aku soalnya aku mau jalan, kamu mau ikut?" Ia nyengir seperti kuda terlihat sedikit kikuk, aduh ini mulut kenapa langsung maen ajak-ajak aja?
"Nggak bisa Hillary hari ini ada jadwal les, kebetulan hari ini hari pertama Hillary, kamu mau ikutan Les?"Jawab Stephan.
"Nggak bisa yah?" Gio garuk-garuk kepala.
"Dad kan tadi Gio mau jalan, kan nggak mungkin Gio jalan sendirian pasti udah pada janjian kok di ajakin les sih Dad, aku les sendiri aja nggak apa-apa." Jawab Hillary.
"Kalau begitu om saya permisi" Gio sambil tersenyum dan berlalu.
"Gio tunggu!" Cegah Hillary. Hillary menatap ayahnya seolah menunggu persetujuan, sang Ayah hanya menganggu seolah mengizinkan.
"Ngobrol sebebtar yah Dad." Hillary sambil tersenyum setengah berbisik.
"Hai, pagi-pagi banget udah mau pada jalan? Sunmori yah?" Tanya Hillary basa-basai. Gio terlihat makin kikuk.
"Sebenernya cuman mau ngajak kamu jalan aja sih, tapii kamu nya udah punya jadwal." Jawab Gio jujur.
"Kapan-kapan aja yah, jangan jalan jauh-jauh kita joging bareng atau apa lah yah kontek-kontek aja." Jawab Hillary
"Beneran? Tapi kayaknya aku bakalan ganti nomor ada yang terus-terusan neror aku sih" Jawab Gio
"Blok aja apa susahnya heheh, nomor aku kan tetep kamu hubungin aku duluan aja!" Jawab Hillary.
"Beneran boleh? Nggak bakalan ganggu kamu kalau aku kontek kamu duluan?" Gio terdengar girang.
"Apaan sih? biasa aja kali, yah enggak lah aku nggak se sibuk itu kali." Jawab Hillary.
"Makasih yah" Jawab Gio.
"Hillary, Mommy nyariin kamu tuh," Stephan Chana memanggil anaknya tepat di daun pintu.
"Oh iya aku masuk dulu yah daah..."
"Om aku permisi dulu" Gio berpamitan.
Hillary segera naik ke atas melalu anak tangga, namun tepat di pintu kamar teedengar isakan sang Ibu, ayahnya yang mengekor Hillary dari belakang juga kaget di buatnya dan langsung membuka pintu.
"Apa yang terjadi?"
"Steph...!" Sang Mommy menunjukan genangan air di bawah tempat tidurnya dan pecahan gelas.
"Mommy" Hillary menahan langkahnya saat mendekati pecahan gelas dan genangan air ia menjauhi pecahan gelas tersebut dan berjalan memutari tempat tidur sang Mommy.
"Kenapa kamu menangis? Kamu terluka?" Terlihat Wajah Stephan yang cemas. Sanf Mommy hanya menggeleng.
"Nak boleh keliar dulu?" Sang Mommy dengan suara paraunya.
"Nggak Mom aku sudah dewasa aku mau denger juga ada apa? Kenapa?" Jawab Hillary.
"Bukanya tadi Inah yang kesini membawakan air ini? dan katanya kamu mau ketemu Hillary? Makanya aku panggil Hillary buat masuk" Tanya Stephan, sang Istri hanya menggeleng sambil menyeka air matanya.
"Mom, ...!" Hillary memeluk ibunya.
"Steph aku cape kini aku mau tanya kamu lebih memilih aku ataubperempuan itu?" Ucap sang Mommy membuat Hillary membelakan mata tak percaya dan tak mengerti apa yang di maksud sang Mommy.
Stephan yang sedang memungut pecahan kaca segera berdiri dan memeluk sang istri tanpa berkata apa-apa.